
<p class="arab">عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ ، قَالَ : رَأَى سَعْدٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ</p>
<p align="LEFT">Dari Mush’ab bin Sa’ad, beliau berkata bahwa Sa’ad <em>radhiyallahu’anhu</em> memandang dirinya memiliki keutamaan di atas yang lainnya (dari para sahabat). Maka Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> bersabda: “Bukankah kalian ditolong (dimenangkan) dan diberi rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian?”.</p>
<h3 align="LEFT"><strong>Takhrij hadits</strong></h3>
<p align="LEFT"><span>Hadits ini </span><span><i>shahih</i></span><span>, dikeluarkan oleh</span><span>al Imam Al Bukhari, di dalam </span><span><i>Shahih</i></span><span>-nya, Kitab </span><span><i>al Jihad was-Siyar</i></span><span>, Bab </span><span><i>Man Ista’ana bidh- Dhu’afa-i wash Shalihina fil-Harbi</i></span><span>, nomor (2896) dari jalan Muhammad bin Thalhah, dari Thalhah, dari Mush’ab bin Sa’ad.</span></p>
<h3 align="LEFT"><span><b>Kosa kata</b></span></h3>
<ul>
<li>
<span>(رَأَى</span><span>), yakni, melihat atau memandang. Maksudnya adalah ظَنَّ</span><span>, yakni menyangka atau mengira. </span><span>Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat an Nasa-i.</span><sup><a href="#sdfootnote1sym">1</a></sup>
</li>
<li>
<span>(عَلَى مَنْ دُونَهُ</span><span>), yakni, di atas yang lainnya dari para sahabat Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em></span><span>, baik berupa </span><span>keberaniannya, atau kelebihan hartanya, atau pun keutamaan lainnya secara umum.</span><sup><a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup>
</li>
</ul>
<h3 align="LEFT">
<span><b>Penjelasan H</b></span><span><b>adits</b></span>
</h3>
<p align="LEFT"><span>Hadits ini, menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang yang lemah merupakan sumber kebaikan, kekuatan dan kemenangan umat Islam. Hal ini </span><span>d</span><span>i</span><span>jelaskan juga </span><span>dalam hadits </span><span><i>shahih</i></span><span> lainnya dari Abu ad-Darda’</span><span>a</span><span>, beliau berkata:</span></p>
<p class="arab">سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ</p>
<p align="LEFT"><span>Aku mendengar Nabi<i> <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em></i></span><span><i> bersabda:</i></span><span><i> “Carikan untukku orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong (dimenangkan) dengan sebab orang-orang yang lemah (di antara) kalian”<b>.</b></i></span><sup><a href="#sdfootnote3sym">3</a></sup></p>
<p align="LEFT"><span>Namun, satu hal yang perlu kita pahami dari hadits ini, bahwa tertolongnya dan menangnya kaum Muslimin bukanlah dengan sebab dzat dan kedudukan atau kehormatan orang-orang </span><span><i>shalih</i></span><span> yang lemah dan miskin dari kaum Muslimin semata. </span><span>Namun hal itu karena doa, shalat, dan keikhlasan mereka dalam beribadah kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em></span><span>. </span></p>
<p align="LEFT"><span>Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani <i>rahimahullah </i></span><span>berkata, “Ibnu Baththal berkata, penafsiran (makna) hadits ini adalah, orang-orang yang lemah itu jauh lebih ikhlas dalam berdoa (kepada Allah), dan mereka lebih </span><span><i>khusyu’ </i></span><span>dalam beribadah (kepada Allah). Karena tidak terdapat dalam hati mereka ketergantungan terhadap perhiasan dunia”.</span><sup><a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></sup></p>
<p align="LEFT"><span>Syaikh al Albani <i>rahimahullah </i></span><span>berkata,”… Hadits ini (dengan lafazh yang dikeluarkan oleh al Imam an- Nasa-i) menjelaskan bahwa kemenangan yang dimaksud, hanyalah dengan sebab doa orang-orang yang </span><span><i>shalih</i></span><span>, bukan dengan sebab dzat dan kedudukan mereka … Sehingga, dengan demikian kita bisa mengetahui dan memahami bahwa maksud dari tertolongnya kaum Muslimin dengan orang-orang yang </span><span><i>shalih</i></span><span> adalah dengan sebab doa, shalat, dan keikhlasan mereka.”</span><sup><a href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></sup></p>
<p align="LEFT"><span>Al Imam Abdur-Ra’uf al Munawi <i>rahimahullah </i></span><span>berkata: </span></p>
<p align="LEFT">(Makna hadits ini) ialah, dengan sebab doa mereka dan keikhlasan mereka. Karena ibadah orang-orang yang lemah lebih ikhlas, dengan sebab kosongnya hati mereka dari ketergantungan terhadap dunia, juga dengan sebab bersihnya hati mereka dari apa-apa yang memutuskan hubungan mereka dengan Allah. Sehingga, tujuan dan konsentrasi mereka tertuju pada satu hal saja (dalam beribadah kepada Allah). Maka, sucilah amal-amal ibadah mereka, dan dikabulkanlah doa mereka. Adapun sabda Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> “<i>dengan sebab doa mereka</i>“, hal ini sama sekali tidak berarti kelemahan dan kemiskinan menunjukkan tidak adanya kekuatan pada tubuh mereka. Juga tidak berarti kelemahan dan kemiskinan menunjukkan tidak adanya kekuatan untuk melakukan perintah-perintah Allah! Maka, hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang diterangkan di dalamnya pujian terhadap orang-orang yang kuat, tidak juga hadits yang menjelaskan bahwa “<i>orang beriman yang kuat lebih dicintai Allah daripada orang beriman yang lemah</i>“.</p>
<p align="LEFT"><span><b>Beberapa Pelajaran dari Hadits ini.</b></span><sup><a href="#sdfootnote6sym">6</a></sup></p>
<ol>
<li>
<p align="LEFT">Orang-orang yang lemah merupakan sumber kebaikan umat Islam. Karena sesungguhnya, walaupun tubuh mereka lemah, namun keimanan mereka kuat. Demikian pula keyakinan dan kepercayaan mereka (kuat) kepada <i>Rabb</i>. Mereka pun tidak peduli terhadap kepentingan pribadi dan tujuan-tujuan keduniaan. Dengan sebab inilah, maka apabila mereka berdoa dengan ikhlas, Allah pun mengabulkan doa mereka. Allah juga memberi rezeki kerpada umat ini dengan sebab (doa) mereka.</p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span>Hadits ini mengandung anjuran untuk </span><span><i>tawadhu’</i></span><span> (merendah hati) dan tidak sombong kepada orang lain. </span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span>Hadits ini mengandung (penjelasan) hikmah Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em></span><span> dalam merubah kemungkaran, melunakkan hati orang lain, dan mengarahkannya kepada apa-apa yang Allah cintai dan Allah ridhai.</span></p>
</li>
</ol>
<p align="LEFT"><span>Demikianlah, mudah-mudahan tulisan singkat ini bermanfaat, bisa menambah iman, ilmu, dan amal shalih kita semua. Amin.</span></p>
<p align="LEFT"><span><i>Wallahu A’lam bish-Shawab.</i></span></p>
<h4 style="text-align: left;" align="RIGHT">Catatan kaki</h4>
<div>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote1anc">1</a> Lihat <i>Fat-hul Bari</i> (6/89).</p>
</div>
<div>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote2anc">2</a> Lihat <i>Fat-hul Bari</i> (6/89),</p>
</div>
<div>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote3anc">3</a> Hadits <i>shahih</i> riwayat Abu Dawud (3/32 no. 2594), at-Tirmidzi (4/206 no. 1702), an-Nasa-i (6/45 no. 3179), Ahmad (5/198), dan lain-lain. Lihat pula <i>as-Silsilah ash-Shahihah</i> (2/408 no. 779).</p>
</div>
<div>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote4anc">4</a> <i>Fat-hul Bari</i> (6/89).</p>
</div>
<div>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote5anc">5</a> <i>At-Tawassul, Anwa’uhu wa Ahkamuhu, </i>halaman 114-115.</p>
</div>
<div>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote6anc">6</a> Lihat <i>Bahjatun-Nazhirin Syarhu Riyadhish-Shalihin</i> (1/355).</p>
<p align="LEFT">—</p>
<p align="LEFT">Artikel Muslimah.or.id</p>
<p align="LEFT">Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
</div>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 