
<p>Mukmin yang bersih fitrahnya dan lurus pemahaman Islamnya tentunya akan mencintai Allah <em>Ta’ala</em>. Bukan sekedar teori, namun kecintaan yang dilandasi iman dan ilmu syariat, sebagaimana petunjuk Islam. Mukmin yang melabuhkan cintanya kepada Allah <em>Ta’ala</em> akan merasakan kebahagiaan hakiki, sebuah kenikmatan yang paling nikmat.</p>
<h3>Puncak kenikmatan sejati</h3>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> dalam kitab al-Wabilush Shayyib (hlm. 64-65) menuliskan: “Cinta, mengenal, senantiasa mengingat Allah, merasa tenteram lagi damai di sisi Allah, dan mengesakan-Nya dengan rasa cinta, takut, harap, tawakal dan perbuatan, sehingga hanya Allah <em>Ta’ala</em> yang menguasai hasrat dan tekadnya adalah surga kehidupan dunia dan kenikmatan yang tara.”</p>
<p>Beliau juga mengatakan: “Seandainya para raja dan putra-putrinya mengetahui kebahagiaan yang sedang kita alami, niscaya mereka akan memerangi kita (karena) ingin memperebutkannya.” Dan yang lain berkata: “Betapa kasihannya para pengejar kekayaan dunia, mereka mati meninggalkan kehidupan dunia, tetapi tidak pernah merasakan kenikmatan dunia yang paling nikmat. Maka ada orang yang bertanya kepadanya: “Kenikmatan dunia apakah yang paling nikmat?” Ia menjawab: “Rasa cinta kepada Allah <em>Ta‘ala</em>, mengenal-Nya, dan senantiasa mengingat-Nya.”</p>
<h3>Bukti mencintai Allah <em>Ta‘ala</em>
</h3>
<p>Bukti bahwa seseorang mencintai Allah dan sekaligus indikasi bahwa seseorang meraih cinta Allah <em>Ta‘ala</em> adalah mencintai dan mengikuti Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah <em>Ta‘ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)</p>
<p>“<em>Katakanlah: “Jika engkau (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”</em>” (QS. Ali -‘Imran : 31)</p>
<p>Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan: “Dalam ayat ini ada penjelasan tentang bukti cinta kepada Allah, manfaat, dan buahnya. Bukti dan tanda cinta kepada Allah adalah mengikuti tuntunan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Manfaat cinta kepada Allah serta buahnya adalah mendapatkan kecintaan dari Allah, rahmat-Nya, serta ampunan-Nya.” (<em>Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad,</em> hlm. 55)</p>
<p>Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> berkata: “Di antara perkara yang hendaknya dipahami, bahwa Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> berfirman (yang artinya) : “(Katakanlah (wahai Rasul), “ Jika engkau mencintai Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> maka ikutilah aku (Rasul), niscaya Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> akan mencintaimu.” Sebagian salaf berkata : “Pada zaman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ada suatu kaum yang mengaku-aku bahwa mereka mencintai Allah. Maka Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> menurunkan ayat ini: “<em>Katakanlah (wahai Rasul) jika engkau mencintai Allah ‘Azza wa Jalla maka ikutilah aku (Rasul), niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu</em>.” Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> menjelaskan bahwa kecintaan kepada-Nya menuntut <em>ittiba</em>’ (mengikuti) kepada Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sedangkan <em>ittiba</em>’ kepada Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebabkan kecintaan Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> kepada hamba. Dan ini adalah ujian yang mengaku mencintai Allah ‘<em>Azza wa Jalla.</em> Karena di dalam masalah ini telah banyak pengakuan dan kesamaran.” (<em>Majmu’ Al-Fatawa,</em> 10/81)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata: “Ayat ini menjadi dalil bahwa setiap orang yang mengaku mencintai Allah ‘<strong>Azza wa Jalla</strong>, tetapi dia tidak berada di atas jalan Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka ia telah berdusta dalam pengakuannya, sampai dia mengikuti syariat dan agama Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatannya.” (<em>Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim</em> , I/358)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata: “Kekokohan cinta kepada Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> hanyalah dengan mengikuti Rasul di dalam perbuatan, perkataan, dan akhlak beliau. Maka munculnya kecintaan ini, kekokohan dan, kekuatannya sesuai dengan <em>ittiba</em>’ ini. Dan kekurangan hal ini sesuai dengan berkurangnya hal ini.” (<em>Madarijus Salikin</em>, 3/37)</p>
<p>Semoga kita diberi kekuatan iman agar dapat mengekspresikan kecintaan kepada Allah <em>Ta’ala</em>, diberi kegigihan dalam mengikuti Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam ibadah, akhlak dan, muamalah. Mukmin sejati adalah pribadi memesona yang berpegang teguh pada jalan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa</p>
<p>Referensi:<br>
1. <em>Kebangkitan Paham Abu Jahal</em>, Ustadz Muhamad Arifin bin Badri, Pustaka Darul Ilmi, Jakarta, 2007.<br>
2. <em>Majalah El-Fata</em> edisi 07. Vol. 15. 2015.<br>
3. <em>Majalah El-Fata</em> edisi 09. Vol . 16. 2016.<br>
4. <em>Majalah El-Fata</em> edisi 12. Vol 19. 2019.</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 