
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Penjelasan Pendapat Jumhur Ulama</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang tidaklah dikatakan mendapatkan shalat Jum’at kecuali jika dia (minimal) mendapatkan satu raka’at sempurna bersama imam shalat Jum’at, meskipun dia tidak mendapatkan khutbah Jum’at sama sekali. Oleh karena itu, siapa saja yang datang ke masjid dan bisa membersamai imam sebelum ruku’ di raka’at ke dua atau bisa membersamai imam ketika ruku’ di raka’at ke dua, maka dia dikatakan telah mendapatkan shalat Jum’at. Kewajiban dia adalah menambah satu raka’at untuk menyempurnakan shalat Jum’at menjadi dua raka’at setelah imam mengucapkan shalat. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29913-agar-tidak-tertidur-ketika-khutbah-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama dan merupakan pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. Dalil yang bisa digunakan sebagai pegangan dalam masalah ini adalah hadits Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ، فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang mendapatkan satu raka’at dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat.” </span><b>(HR. Bukhari no. 580 dan Muslim no. 607)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Shalat” dalam hadits di atas memiliki makna umum, sehingga shalat Jum’at pun tercakup di dalamnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">At-Tirmidzi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">juga membawakan hadits ini dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Jaami’ (Sunan At-Tirmidzi) </span></i><span style="font-weight: 400;">di bawah judul bab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">بَابٌ فِيمَنْ أَدْرَكَ مِنَ الجُمُعَةِ رَكْعَةً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bab (hadits) tentang orang yang mendapatkan satu raka’at dari shalat Jum’at.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah menyebutkan hadits di atas, At-Tirmidzi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ، قَالُوا: مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الجُمُعَةِ صَلَّى إِلَيْهَا أُخْرَى، وَمَنْ أَدْرَكَهُمْ جُلُوسًا صَلَّى أَرْبَعًا، وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَابْنُ المُبَارَكِ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Inilah yang diamalkan oleh mayoritas ulama dari para sahabat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dan selain mereka. Mereka mengatakan, “Siapa saja yang mendapatkan satu raka’at shalat Jum’at (bersama imam), maka sempurnakanlah satu raka’at sisanya. Siapa saja yang mendapatkan imam sudah duduk (di raka’at ke dua), maka dia shalat empat raka’at (yaitu shalat dzuhur, pen.). Inilah yang dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubaarak, Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq.” </span><b>(</b><b><i>Jaami’ At-Tirmidzi, </i></b><b>2: 402)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28217-agar-khutbah-jumat-bermanfaat-dan-berkesan-bagi-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Agar Khutbah Jumat Bermanfaat Dan Berkesan Bagi Jamaah</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Yang Dilakukan Makmum Jika Telat Membersamai Imam</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun orang yang mendapatkan kurang dari satu raka’at bersama imam, misalnya dia mendapati imam sudah bangkit dari ruku’ pada raka’at kedua; atau sudah sujud pada raka’at kedua; atau sudah duduk </span><i><span style="font-weight: 400;">tasyahhud</span></i><span style="font-weight: 400;"> di raka’at kedua; maka dia tidak mendapatkan shalat Jum’at (atau ketinggalan shalat Jum’at). Kewajiban dia adalah menyempurnakan shalatnya sebanyak empat raka’at (sebagai shalat dzuhur), meskipun dia masuk ke dalam jamaah shalat dengan niat shalat Jum’at. Tata caranya, setelah imam salam, dia bangkit dan meniatkannya sebagai shalat dzuhur empat raka’at (tanpa perlu melakukan takbiratul ihram lagi). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dikecualikan dalam masalah ini jika shalat Jum’at didirikan sebelum </span><i><span style="font-weight: 400;">zawal </span></i><span style="font-weight: 400;">(sebelum matahari bergeser ke barat), lalu dia mendapati kurang dari satu raka’at bersama imam, maka dia tidak perlu menyempurnakan shalat Jum’atnya, karena dia tidak mendapatkan satu raka’at bersama imam. Dia juga tidak perlu menyempurnakan menjadi shalat dzuhur, karena memang belum masuk waktu dzuhur. Yang hendaknya dilakukan adalah menyempurnakan shalat tersebut sebagai shalat sunnah biasa. Ketika waktu dzuhur sudah masuk dengan adanya </span><i><span style="font-weight: 400;">zawal, </span></i><span style="font-weight: 400;">dia pun mendirikan shalat dzuhur. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’alam. </span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23375-adab-mendengar-khutbah-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/14917-fatwa-ulama-menjamak-shalat-jumat-dan-ashar.html" data-darkreader-inline-color="">Menjamak Shalat Jumat Dan Shalat Ashar</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 8 Muharram 1441/ 8 September 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Catatan Kaki</b></span></h2>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ini kami sarikan dari kitab </span><b><i>Ahkaam Khudhuuril Masaajid </i></b><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 266-267 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA). Kutipan-kutipan dalam tulisan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
 