
<p><span style="font-weight: 400;">Di masa terjadinya wabah SARS-CoV-2 ini, kita dapati sebagian orang yang bersikap cuek dan biasa-biasa tidak mau mengikuti saran dan himbauan pemerintah dan tenaga kesehatan untuk melakukan usaha-usaha pencegahan, berdalih dengan itulah yang sesuai dengan konsep tawakkal kepada Allah <em>Ta’ala.</em> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sikap seperti ini sungguh kita sayangkan, karena telah berbicara dalam perkara agama tanpa ilmu, yang bisa jadi itu lebih berbahaya dari wabah SARS-CoV-2 itu sendiri. Artikel singkat ini akan mengulas sedikit bagaimana mendudukkan tawakkal yang benar ketika terjadi wabah.</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kita Tetap Diperintahkan untuk Berusaha</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika sakit, syariat memerintahkan kita untuk berobat, bukan hanya pasrah saja kepada takdir, tanpa merasa perlu berbuat apa-apa. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً، الْهَرَمُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai sekalian hamba Allah, berobatlah! Sesungguhnya Allah tidak menciptakan penyakit melainkan menciptakan juga obatnya, kecuali penyakit tua (pikun).” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 2038 dan Abu Dawud no. 3855, shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu pula Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihu wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> memerintahkan untuk memisahkan dan tidak mencampur antara hewan yang sakit dengan hewan yang sehat. Hal ini bertujuan agar hewan-hewan yang sehat tersebut tidak tertular dengan hewan yang sakit. Dengan perkataan lain, agar hewan yang masih sehat itu tidak ikut-ikutan sakit, si pemilik hewan harus melakukan tindakan (sebab atau usaha) tertentu dan tidak hanya pasrah saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لاَ تُورِدُوا المُمْرِضَ عَلَى المُصِحِّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Janganlah mengumpulkan unta yang sakit dengan unta yang sehat.” </span><b>(HR. Bukhari no. 5774 dan Muslim no. 2221)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Khusus berkaitan dengan penyakit menular, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Larilah dari orang yang terkena kusta, sebagaimana Engkau lari dari singa.” </span><b>(HR. Ahmad no. 9722, dishahihkan Al-Albani dalam </b><b><i>Silsilah Ash-Shahihah</i></b><b> no. 783)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits di atas jelas menunjukkan perintah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">agar kita menghindarkan diri dari penyakit menular, bukan malah sengaja mendatanginya. Apakah kita berani mengatakan bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kurang rasa tawakkalnya kepada Allah <em>Ta’ala?</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qayyim Al-Jauziyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata setelah menyebutkan hadits-hadits yang memerintahkan untuk berobat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَفِي الْأَحَادِيثِ الصّحِيحَةِ الْأَمْرُ بِالتّدَاوِي وَأَنّهُ لَا يُنَافِي التّوَكّلَ كَمَا لَا يُنَافِيهِ دَفْعُ دَاءِ الْجَوْعِ وَالْعَطَشِ وَالْحَرّ وَالْبَرْدِ بِأَضْدَادِهَا بَلْ لَا تَتِمّ حَقِيقَةُ التّوْحِيدِ إلّا بِمُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ الّتِي نَصَبَهَا اللّهُ مُقْتَضَيَاتٍ لِمُسَبّبَاتِهَا قَدَرًا وَشَرْعًا </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dalam hadits-hadits shahih di atas terdapat perintah untuk berobat. </span><b>Berobat tidak bertentangan dengan tawakkal, sebagaimana menghilangkan rasa haus, lapar, panas, atau dingin dengan lawannya juga tidak bertentangan dengan tawakkal.</b><span style="font-weight: 400;"> Bahkan, hakikat tauhid tidaklah sempurna kecuali dengan melakukan sebab-sebab yang telah Allah Ta’ala tetapkan bisa mewujudkan musabbab menurut syariat dan realita.“ </span><b>(</b><b><i>Zaadul Ma’aad, </i></b><b>4: 14)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah ini, yang dimaksud dengan “sebab” adalah “berobat”; sedangkan yang dimaksud dengan “musabbab” adalah “kesembuhan”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masa wabah ini, kita pun diperintahkan untuk melakukan usaha-usaha berobat (kalau sudah terkena penyakit) atau melakukan usaha-usaha pencegahan (kalau belum terkena penyakit). Ketika terbukti bahwa wabah SARS-CoV-2 ini menyebar melalui </span><i><span style="font-weight: 400;">droplet </span></i><span style="font-weight: 400;">(percikan ketika seseorang berbicara, bersin, atau batuk), </span><i><span style="font-weight: 400;">aerosols </span></i><span style="font-weight: 400;">(partikel yang melayang di udara), kontak dengan penderita melalui jarak dekat </span><i><span style="font-weight: 400;">(close contacts), </span></i><span style="font-weight: 400;">atau </span><i><span style="font-weight: 400;">fomites </span></i><span style="font-weight: 400;">(partikel virus yang menempel di benda-benda yang disentuh oleh penderita), maka para ulama pun memfatwakan untuk boleh shalat lima waktu di rumah atau bahkan dilarang untuk shalat lima waktu dan shalat jum’at di masjid. Semua ini adalah usaha yang bisa dilakukan sesuai dengan penelitian medis di bidang ini. Hal ini pun sesuai dengan perintah </span><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yang telah kami sebutkan sebelumnya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Larilah dari orang yang terkena kusta, sebagaimana Engkau lari dari singa.” </span><b>(HR. Ahmad no. 9722, dishahihkan Al-Albani dalam </b><b><i>Silsilah Ash-Shahihah</i></b><b> no. 783)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sayangnya, sebagian orang menyindir dan mencaci fatwa-fatwa tersebut, seolah-olah bertentangan dengan sikap tawakkal kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Padahal, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">di atas, tauhid tidaklah sempurna kecuali seseorang itu melakukan sebab-sebab (usaha) yang diizinkan oleh syariat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa </span><span style="font-weight: 400;">orang yang bersandar kepada Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">saja tanpa mau melakukan sebab (usaha tertentu), </span><b>maka hal ini merupakan celaan terhadap hikmah (kebijaksanaan) Allah Ta’ala.</b> <span style="font-weight: 400;">Karena Allah <em>Ta’ala</em> menjadikan sebab untuk segala sesuatu. Allah adalah Dzat Yang Maha bijaksana. Allah <em>Ta’ala</em> mengaitkan sebab dengan akibat (</span><i><span style="font-weight: 400;">musabbab-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya). Hal ini sebagaimana orang yang bersandar kepada Allah untuk memiliki anak, namun dia tidak mau menikah. </span><b>(</b><b><i>Al-Qaulul Mufiid, </i></b><b>2: 28)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang tidak mau berusaha, berarti tidak menggunakan akalnya dengan sebaik-baiknya. Bagaimana tidak, dia ingin pintar, tapi tidak mau berusaha belajar. Atau ingin mendapatkan harta, tapi tidak mau bekerja mencari nafkah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَلِهَذَا قَالَ طَائِفَة من الْعلمَاء الِالْتِفَات إِلَى الْأَسْبَاب شرك فِي التَّوْحِيد ومحو الْأَسْبَاب أَن تكون أسبابا نقص فِي الْعقل والإعراض عَن الْأَسْبَاب بِالْكُلِّيَّةِ قدح فِي الشَّرْع وَإِنَّمَا التَّوَكُّل الْمَأْمُور بِهِ مَا يجْتَمع فِيهِ مقتضي التَّوْحِيد وَالْعقل وَالشَّرْع</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa hanya bersandar kepada sebab itu adalah syirik (yang bertentangan) dengan tauhid. Dan menihilkan sebab (yang berpengaruh) itu menunjukkan kurangnya akal. Tidak mau menempuh sebab (tidak mau berusaha sama sekali) itu menunjukkan celaan terhadap syariat (karena syariat memerintahkan untuk berusaha, pent.). Sehingga tawakkal yang diperintahkan itu adalah yang mengumpulkan konsekuensi tauhid, akal, dan syariat.” </span><b>(</b><b><i>Amraadhul Quluub, </i></b><b>hal. 52)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, orang-orang yang tidak berusaha mencegah terjadi perluasan wilayah wabah, bisa jadi telah menjerumuskan dirinya sendiri dan orang lain ke dalam kebinasaan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” </span><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 195)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/23472-fatwa-ulama-apakah-berobat-ketika-sakit-berarti-tidak-tawakal.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Berobat Ketika Sakit Berarti Tidak Tawakal?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Hati Tetap Bersandar dan Pasrah kepada Allah Ta’ala</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah manusia melakukan sebab-sebab tertentu, kewajiban manusia yang tidak bisa diabaikan adalah menyandarkan hati kepada Allah <em>Ta’ala,</em> bahwa Allah yang menciptakan sebab-sebab tersebut. Bisa saja, setelah kita berusaha semaksimal mungkin sebatas kemampuan kita sebagai manusia, Allah tidak mengabulkannya sesuai dengan hikmah (kebijaksanaan) Allah <em>Ta’ala.</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kami, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </span><b>(QS. Yunus [10]: 107)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 2516, shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah bagaimana kisah Nabi Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">yang Allah <em>Ta’ala</em> selamatkan ketika akan dibakar dengan api. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” </span><b>(QS. Al-Anbiya’: 68)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Raja Namrud telah mengambil usaha yang benar, yaitu menggunakan api ketika ingin membakar Nabi Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan tidak mencari air, atau debu, atau sebab yang lain.</span> <span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, Namrud lupa bahwa Allah-lah yang menciptakan api dan Allah bisa saja mengubah api yang harusnya membakar, berubah menjadi api yang dingin dan menyejukkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkaitan dengan masalah penyakit, Allah-lah Dzat yang menyembuhkan. Adapun manusia, diperintahkan untuk berusaha berobat semaksimal mungkin yang mereka mampu lakukan. </span><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana doa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika menjenguk sahabatnya yang sedang sakit,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah. </span><b>Engkaulah </b><b><i>Asy-Syaafi</i></b><b> (Dzat Yang menyembuhkan).</b> <b>Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu,</b><span style="font-weight: 400;"> kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.”</span> <b>(HR. Bukhari no. 5675</b> <b>dan Muslim no. 2191)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ciri manusia yang sangat bergantung pada diri dan usahanya, dan melupakan Pencipta sebab (yaitu Allah Ta’ala) adalah dia sangat kecewa atau marah ketika dia gagal, padahal sudah merasa berusaha semaksimal mungkin dengan melakukan semua yang bisa dia lakukan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, di sinilah peran ustadz atau kyai, bahkan dokter dan tenaga kesehatan lainnya, untuk senantiasa mengajak kaum muslimin mengingat Allah Ta’ala, setelah berusaha semaksimal mungkin mematuhi himbauan prosedur-prosedur pencegahan dari terkena wabah. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/13995-tawakal-kunci-keberhasilan-yang-sering-dilalaikan.html" data-darkreader-inline-color="">Tawakal, Kunci Keberhasilan Yang Sering Dilalaikan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Empat Golongan Manusia dalam Masalah Tawakkal</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan uraian di atas, ada empat golongan manusia dalam masalah tawakkal:</span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">orang yang bergantung pada sebab dan usaha secara total, sama sekali tidak memiliki iman pada Rabb semesta alam, sang Pencipta sebab tersebut. Inilah “tawakkal” yang dianut oleh </span><i><span style="font-weight: 400;">‘aqlaniyyin</span></i><span style="font-weight: 400;"> (para pemuja akal), komunis, ateis, dan materialistis. Ini adalah sikap tawakal yang keliru.</span></p>
<p><b>Kedua, </b><span style="font-weight: 400;">orang yang meninggalkan sebab dan usaha secara total alias pasrah secara totalitas. Mereka menyerahkan urusan hanya kepada Allah <em>Ta’ala,</em> namun tidak ada mau berusaha dan tidak mau mengambil sebab sama sekali. Inilah tawakkal ala kaum sufi. Ini juga tawakal yang keliru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam situasi wabah ini, kita dapati perkataan-perkataan sebagian orang, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak perlu takut keluar rumah, shalat jamaah di masjid, atau melakukan pencegahan ini dan itu. Kalau memang ditakdirkan hidup ya hidup, kalau ditakdirkan mati ya mati.”</span></i></p>
<p><b>Ketiga, </b><span style="font-weight: 400;">orang yang berkeyakinan bahwa sebab dan usaha itu sebetulnya tidak ada pengaruhnya sama sekali. Namun, terkadang mereka masih mau melakukan usaha. Ini adalah tawakkal ala Jabriyyah. Ini juga sikap tawakal yang keliru.</span></p>
<p><b>Keempat, </b><span style="font-weight: 400;">orang yang mengusahakan sebab dan usaha lahiriyyah dengan anggota badan, namun hati bergantung penuh dan pasrah secara totalitas kepada Allah <em>Ta’ala,</em> bukan kepada sebab yang dia usahakan dengan anggota badannya. Dan meyakini bahwa setiap takdir telah Allah jadikan sebab-sebabnya. Inilah sikap tawakal yang benar, yang merupakan keyakinan </span><i><span style="font-weight: 400;">ahlus sunnah wal jama’ah. </span></i><b>[1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/4113-soal-140-meminta-tolongtidak-tawakal.html" data-darkreader-inline-color="">Meminta Tolong=Tidak Tawakal?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/55203-saatnya-kita-mengenal-nama-allah-asy-syaafiy.html" data-darkreader-inline-color="">Saatnya Kita Mengenal Nama Allah “asy-Syaafiy”</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkaitan dengan masalah wabah ini, termasuk yang manakah kita?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA, 26 Rajab 1441/21 Maret 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Faidah dari tulisan sahabat kami, Ustadz Yulian Purnama </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizahullah.</span></i></p>
<p> </p>
 