
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam  kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami  sarikan dari beberapa kalam ulama. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>1. Menggapai Derajat  Takwa</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا  كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ  قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa  sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa</em>.”  (Qs. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah  puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa  adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam  puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap  larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat  kita lihat dalam berbagai hal berikut.</p>
<p>Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah  larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan  istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin  melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan  diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.</p>
<p>Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan  kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah  selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa  selalu diawasi oleh Allah.</p>
<p>Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan  amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai  takwa.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn1">[1]</a> Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.</p>
<p><strong>2. Hikmah di Balik  Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia</strong></p>
<p>Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan  berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah.  Dalam hadits qudsi<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn2">[2]</a>,  Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ  مِنْ أَجْلِى</p>
<p>“<em>Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku</em>”.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Di antara <a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html">hikmah </a>meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:</p>
<p>Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan  dan minum, kepuasan ketika  berhubungan dengan istri, itu semua biasanya  akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi  lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.</p>
<p>Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk  mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan  duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan  menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat  Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan  kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika  berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak  mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta  berdzikir pada Allah.</p>
<p>Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang  yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat  begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang  sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini,  orang-orang kaya  pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.</p>
<p>Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan  setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ  ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat  mengalirnya darah</em>.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn4">[4]</a> Jadi puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was.  Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab  bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum  kesampaian.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong>3. Mulai Beranjak  Menjadi Lebih Baik</strong></p>
<p>Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai  macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan  lapar dan dahaga saja. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ  صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ</p>
<p>“<em>Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan  dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja</em>.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih  diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya  setiap orang berusaha menjaga lisannya dari <em>rasani</em> orang lain  (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta,  perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">نْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ  الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ  طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah  mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia  tahan</em>.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ  وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ  سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ،  إِنِّي صَائِمٌ</p>
<p>“<em>Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi,  puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats.  Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu,  katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”</em>.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn8">[8]</a> Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn9">[9]</a> Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan  laki-laki pada wanita<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn10">[10]</a> atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan  menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah  ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat.  Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu seharusnya menjadi sadar  dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah  shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan  di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu  pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha  menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan  Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى  اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ</p>
<p><em>“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah  amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit</em>.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada  waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat  malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah  musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap  dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah  yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan  saja.”</p>
<p>Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan  Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan  akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak  (tidak bernilai apa-apa).”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong>4. Kesempatan untuk  Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka</strong></p>
<p>Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena  orang yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian  waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun  bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka.  Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.</p>
<p>Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan  oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang  berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh  mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di  sisi Allah.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa  Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu  dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di  dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “<em>Para salaf biasa berdoa kepada  Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6  bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima</em>”.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p><strong>Hikmah Puasa yang Keliru</strong></p>
<p>Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan  bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot  tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan  mengurangi resiko diabetes<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn16">[16]</a>),  maka itu semua adalah hikmah ikutan saja<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn17">[17]</a> dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya  untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia  berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat  puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka  pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan  nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ  الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا  نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ</p>
<p>“<em>Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami  tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki  keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan  dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat</em>.” (Qs. Asy  Syuraa: 20)</p>
<p>Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi  balasan kebaikan mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan  dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa,  amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan  dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia  yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti  karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka  juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk  mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah  ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang  dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya  nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah  selalu nasehat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ  جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ  الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ  اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ  يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka  Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan  keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk  hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia,  maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai  beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah  ditetapkan baginya</em>.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Adapun hadits yang mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">صُوْمُوْا تَصِحُّوْا</p>
<p>“<em>Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat</em>.” Perlu diketahui  bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if)  menurut ulama pakar hadits.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan  penuh kebaikan, bulan Ramadhan.</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com/">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="PengusahaMuslim.Com" href="undefined" target="_blank">PengusahaMuslim.Com</a></p>
<hr>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref1">[1]</a> Taisir Karimir Rahman, hal. 86.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref2">[2]</a> Hadits qudsi adalah hadits yang maknanya dari Allah <em>Ta’ala</em>,  lafazhnya dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref3">[3]</a> HR. Muslim no. 1151</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhari no. 7171 dan Muslim no. 2174</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref5">[5]</a> Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal.  276-277.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref6">[6]</a> HR. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya  jayyid.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari no. 1903.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref8">[8]</a> HR. Ibnu Khuzaimah 3/242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits  tersebut shahih.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref9">[9]</a> Perkataan Al Akhfasy, dinukil dari Fathul Bari, 2/414.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref10">[10]</a> Perkataan Al Azhari, dinukil dari Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/114,  9/119.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref11">[11]</a> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/119.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref12">[12]</a> HR. Muslim no. 782.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref13">[13]</a> Lathoif Al Ma’arif, 378.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref14">[14]</a> Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9906</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref15">[15]</a> Lathoif Al Ma’arif, 369</p>
<p>Lihat <a href="http://swaramuslim.net">http://swaramuslim.net</a></p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref17">[17]</a> Lihat Tafsir Al Qur’an Al Karim Surat Al Baqoroh, 1/317.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref18">[18]</a> Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/422.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref19">[19]</a> HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini  shahih. Lihat penjelasan hadits ini dalam Tuhfatul Ahwadzi, 7/139-140.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html#_ftnref20">[20]</a> Al Hafzih Al ‘Iroqiy dalam Takhrij Al Ihya’ (5/453) mengatakan bahwa  hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Awsath, Abu Nu’aim  dalam Ath Thib An Nabawiy dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang  lemah (dho’if). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Hadits Adh Dho’ifah  no. 253 mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).</p>
 