
<h1><strong>Mengapa Shaf di Masjidil Haram Tidak Sempurna? </strong></h1>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini realita yang terjadi di Masjidil Haram di masa sekarang. Dan para ulama pun telah mengoreksi dan memberi masukan akan hal ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Realitanya, shaf di Masjidil Haram tidak tersusun dengan baik sesuai dengan aturan syar’i, ini perkara yang disayangkan. Yang disyariatkan adalah menyempurnakan shaf sejak dari shaf pertama hingga shaf terakhir, sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Beliau bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ألَا تَصُفُّونَ كما تَصُفُّ المَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ فَقُلْنَا يا رَسولَ اللهِ، وكيفَ تَصُفُّ المَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidakkah kalian ingin meluruskan shaf sebagaimana para Malaikat meluruskan shaf mereka?”</span></i><span style="font-weight: 400;">. Para sahabat bertanya, “bagaimana caranya wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“luruskan shaf dan sempurnakan dari shaf pertama hingga shaf terakhir” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Muslim no.430, dari sahabat Jabir bin Samurah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun kita saksikan di Masjidil Haram, walaupun ia adalah masjid yang paling utama di atas muka bumi, ternyata orang-orang shalat terpencar-pencar. Sedikit sekali kita temukan ada shaf yang tersusun sempurna. Ini tidak diragukan lagi adalah sebuah kesalahan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan yang wajib hukumnya bagi kita adalah meluruskan shaf. Oleh karena itu Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan yang lainnya:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ، أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بيْنَ وُجُوهِكُمْ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hendaknya kalian luruskan shaf kalian, jika tidak maka Allah akan memalingkan hati-hati kalian” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Al Bukhari no. 717, Muslim no.436, dari sahabat An Nu’man bin Basyir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya, Allah akan mencerai-beraikan pandangan-pandangan kalian, sehingga kalian akan berselisih dan berpecah-belah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, kekeliruan yang aku lihat di Masjidil Haram adalah beberapa orang melakukan shalat jenazah sendiri-sendiri di belakang shaf. Ini tidak diperbolehkan. Karena Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لا صلاة لمنفرد خلف الصف</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada shalat dengan bersendirian di belakang shaf” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Abu Daud no. 682, dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Abu Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan aku melihat juga ada orang yang shalat di depan imam, yaitu ia shalat di antara imam dan Ka’bah. Ini juga hukumnya haram, tidak diperbolehkan. Dan shalatnya tidak sah. Lebih lagi, shalat yang mereka lakukan tersebut adalah shalat wajib, yang merupakan salah satu kewajiban dalam Islam. Para ulama telah menjelaskan bahwa shalat di depan imam, hukumnya tidak sah. Jika shalatnya tidak sah, maka tidak diterima oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Maka, hendaknya perkara ini menjadi perhatian” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Fatawa war Rasail</span></i><span style="font-weight: 400;">, 13/19-20).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga adanya jama’ah yang shalat bercampur baur antara lelaki dan perempuan di Masjidil Haram. Ini adalah kekeliruan yang dilakukan oleh banyak orang. Dan kekeliruan-kekeliruan ini tentunya tidak lepas dari kondisi Masjidil Haram yang umumnya selalu penuh sesak sehingga sulit bagi pengurus masjid untuk benar-benar mengatur shaf dengan sempurna. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdul Majid bin Sulaiman Al-Haditsi mengatakan, “Yang tepat, seorang lelaki tidak boleh shalat bersebelahan dengan wanita atau di belakang wanita karena sebab apapun, ketika masih ada kemampuan dan kelonggaran untuk tidak demikian. Karena keadaan demikian akan menyebabkan hilangnya kekhusyukan dan akan merusak shalatnya karena adanya perkara-perkara yang mengurangi kesempurnaan shalat seperti tertarik untuk memandang wanita dan perkara lainnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun perkara ini dimaafkan jika kondisinya darurat, seperti ketika dalam kondisi yang sangat penuh sesak di beberapa musim ibadah. Dan ini termasuk dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">umumul balwa</span></i><span style="font-weight: 400;"> (perkara yang sulit dihindari)” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tanbihul Anam ila Mukhalafat fil Masjidain An Nabawi wal Haram</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 50 – 51).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberi taufik kepada kaum Muslimin agar bisa lebih menyempurnakan shaf di Masjidil Haram.</span></p>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz </span><span style="font-weight: 400;">Yulian Purnama, S.Kom.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 