
<p><strong>Jangan Lupa Menyisihkan Sebagian Harta untuk Sedekah </strong><br> <em><br> Allah Ta’ala</em> berfirman, </p>
<p> وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ </p>
<p> “D<em>an apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.”</em> (Qs. Saba’: 39). </p>
<p> Makna firman-Nya<em> “Allah akan menggantinya</em>” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat (Lihat <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 3/713). </p>
<p> Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, </p>
<p> مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ  إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ </p>
<p> “<em>Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah  bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali  kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah  kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya</em>.” (HR. Muslim, no. 2588). </p>
<p> Arti “<em>tidak berkurangnya harta dengan sedekah</em>” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah <em>Ta’ala</em> jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hal-hal yang akan  merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan  kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah <em>Ta’ala </em>di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata.” (Lihat kitab <em>Syarhu Shahihi Muslim</em>, 16/141 dan <em>Faidhul Qadir</em>, 5/503). </p>
<p> Maka, keutamaan besar ini jangan sampai diabaikan oleh keluarga muslim  ketika mereka mengatur pembelanjaan harta, dengan cara menyisihkan  sebagian dari rezeki yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, untuk  disedekahkan kepada fakir miskin. </p>
<p> Harta yang disisihkan untuk sedekah tidak mesti besar, meskipun kecil  tapi jika dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya, maka  akan bernilai besar di sisi Allah <em>Ta’ala</em>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “<em>Takutlah kalian (selamatkanlah diri kalian) dari api nereka, walaupun dengan (bersedekah dengan) separuh buah kurma</em>” (HR. al-Bukhari, no. 1351 dan Muslim, no. 1016). </p>
<p> Dalam hadits lain beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “J<em>anganlah  sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik (meskipun)  kecil, walaupun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu  (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.</em>” (HR. Muslim, no. 2626). </p>
<p> Dan lebih utama lagi jika sedekah tersebut dijadikan anggaran tetap dan amalan rutin, karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda, “<em>Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang paling kontinu dikerjakan meskipun sedikit.</em>” (HR. al-Bukhari, no. 6099 dan Muslim, no. 783). <br> <strong><br> Nasihat dan Penutup </strong></p>
<p> Kemudian yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja keluarga  bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan, karena  berapapun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran, nafsu  manusia tidak akan pernah puas dan selalu memuntut lebih. </p>
<p> Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat qana’ah (merasa cukup dan puas dengan rezeki yang Allah <em>Ta’ala</em> berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam  diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda  Rasululah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, “<em>Bukanlah kekayaan itu  karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang  hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)</em>” (HR. al-Bukhari, no. 6081 dan Muslim, no. 120). </p>
<p> Sifat qana’ah ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan  iman seseorang, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang  memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah. </p>
<p> Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “<em>Akan  merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah  Ta’ala sebagai Rabb-nya dan Islam sebagai agamanya, serta (nabi)  Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasulnya.</em>” (HR. Muslim, no. 34). </p>
<p> Arti “<em>ridha kepada Allah sebagai Rabb</em>” adalah ridha kepada segala  perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta  kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya (Lihat kitab <em>Fiqhul Asma-il Husna</em>, hal. 81). </p>
<p> Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat <em>qana’ah</em> dialah yang  akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di  akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “<em>Sungguh  sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki  yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah  (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya</em>.” (HR. Muslim, no. 1054). </p>
<p> Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan  nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna,  agar dia menganugerahkan kepada kita sifat <em>qana’ah</em> dan semua  sifat-sifat baik yang diridhai-Nya, serta memudahkan kita untuk memahami  dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia  Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. </p>
<p> وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين </p>
<p> Kota Kendari, 27 Jumadal ula 1431 H </p>
<p> Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthani, M.A (Mahasiswa S3 Universitas Islam Madinah)<br> Artikel: www.PengusahaMuslim.com</p>
<p> </p>
 