
<p align="justify">Pada tulisan yang lalu kita telah membahas bagaimana terjadinya polemik antara para sahabat yang berujung dengan peperangan antara dua kelompok besar dari kaum muslimin. Kita pun melihat bagaimana persaudaraan tetap terjaga diantara mereka. Bahwa peperangan yang terjadi tidak membuat mereka saling mencela apalagi saling mengkafirkan.</p>
<p align="justify">Terjadinya polemik tersebut tentunya merupakan hal yang lumrah terjadi, melihat bahwa para sahabat -dengan segala kemuliaan dan keutamaan yang diberikan kepada mereka-, tetap merupakan manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Namun kita meyakini bahwa dosa yang mereka lakukan telah dihapuskan oleh Allah <em>ta’ala</em>. Entah karena mereka sudah bertaubat, atau karena kebaikan yang mereka lakukan, atau karena keutamaan mereka sebagai orang orang yang terdahulu masuk agama islam, atau bisa juga terhapuskan oleh syafaat Rasulullah <em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</em> yang mana tentu saja para sahabat adalah orang yang paling berhak mendapatkannya[1. <em>Akidah Wasathiyah</em>, Ibnu Taimiyah].</p>
<p align="justify">Itu berlaku untuk kesalahan yang berujung dosa. Lalu bagaimana dengan kesalahan yang sifatnya ijtihad sebagaimana yang terjadi pada perang <em>siffin</em>? Yang mana Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi Wasallam</em> menjanjikan dua pahala bagi yang ijtihadnya benar dan satu pahala bagi yang ijtihadnya salah?!</p>
<h4 align="justify"><b><span style="color: #ff0000;">Orang majusi mengambil kesempatan<span style="font-size: 13.3333px; line-height: 20px; color: #000000;">[2.Lihat <em>Wa Jaa’a Daurul Majuus</em>, hal. 76-79]</span></span></b></h4>
<p align="justify">Namun pandangan tersebut akan berbeda jika yang melihat adalah orang orang picik yang memang ingin berbuat jahat. Orang-orang Majusi persia melihat bahwa perselisihan yang terjadi adalah kesempatan emas untuk kembali menjalankan aksi mereka. Mereka pun memutuskan untuk berada di pihak Ali bin Abi Thalib. Bukan karena mereka memandang kebenaran berada di pihak Ali! Bukan! Mereka mendukung Ali karena mereka ingin menggunakan posisi Ali sebagai menantu Rasulullah <em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</em>. Yang dengan itu mereka ingin memunculkan propoganda berupa cinta kepada Ahlul Bait, yaitu keluarga Rasulullah <em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</em>. Siapa diantara kaum muslimin yang tidak mencintai keluarga Rasulullah <em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</em>?!</p>
<p align="justify">Dari konsep cinta ahlul bait ini mereka ingin menghidupkan kembali ajaran Majusi yang mengkultuskan sebuah keluarga. Sebagaimana kita ketahui, salah satu ajaran agama majusi adalah keharusan adanya sebuah keluarga yang berisi orang orang ma’shum, yang terbebas dari dosa baik yang besar maupun kecil. Keluarga inilah yang mengatur urusan agama rakyatnya. Maka dengan konsep cinta ahlul bait, mereka pun bisa menghidupkan ajaran lama mereka. Makanya konsep ahlul bait bukan hanya sekedar mencintai ahlu bait saja, tapi juga mengkultuskan dan menganggap bahwa para imam imam mereka yang merupakan keturunan Rosulullah <em>Shallallalhu ‘Alaihi Wasallam</em> adalah sebuah kultur keluarga (Ahlu bait) yang memiliki sifat <i>ishmah</i> (terjaga dari dosa). Perkataan mereka pun dianggap laksana wahyu yang harus diikuti.</p>
<p align="justify">Hal ini bertambah kuat dengan menikahnya cucu Rasulullah <em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</em> yaitu Husain bin Abi Thalib dengan putri Yazdajir (raja Persia). Yazdajir dan putrinya ketika itu telah menjadi tawanan kaum muslimin. Karena putri dari seorang raja, kaum muslimin pun menikahkannya dengan Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dengan pernikahan tersebut tentunya akan lahir orang orang yang berdarah persia dari keturunan Husain <em>Radhiyallahu ‘Anhu</em>. Sementara orang-orang Majusi adalah orang orang yang sangat fanatik dengan bangsa mereka. Maka selain menghidupkan kembali ajaran Majusi, berdirinya mereka di sisi Ali bin Abi Thalib dan putranya Husain tentunya juga didasarkan kefanatikan mereka kepada darah persia.</p>
<h4 align="justify"><span style="color: #ff0000;"><b>Peran orang Yahudi</b></span></h4>
<p align="justify">Ternyata bukan hanya orang orang Majusi saja yang berdiri di barisan Ali untuk berbuat makar. Di saat yang sama orang orang Yahudi yang dipelopori Abdullah bin Saba pun berdiri di satu barisan. Merekapun bersekongkol dan bekerja sama untuk melakukan konspirasi di tubuh kaum muslimin.</p>
<p align="justify">Setelah syahidnya Ali bin Abi Thalib ditangan seorang khawarij Abu Muljam, orang orang Majusi dan Yahudi terus menerus dengan gigih memprovokasi para pendukung Ali untuk memerangi bani Umayyah dengan dalih cinta kepada Ahlu bait. Mereka juga terus berusaha memunculkan aliran aliran kebatinan yang sesuai dengan ideologi Majusi Persia. Hingga merekapun berhasil memunculkan aliran Sabaiyah dan Kisaniyah.</p>
<p align="justify">Sabaiyah[3.Tentang sabaiyah bisa dilihat di <em>Al Mausuu’ah Al Muyassaroh</em>, hal . 1067-1068 dan <em>Al Milal Wan Nihal</em>, hal. 192] dinisbatkan kepada Abdulllah bin Saba yang mengajak kepada penuhanan kepada Ali bin Abi Thalib. Ketika Ali bin Abi Thalib masih hidup, sebagian mereka berkata kepada Ali, “engkau adalah engkau”. Ali pun bertanya, “siapa saya?”, mereka menjawab, “engkau adalah pencipta”. Maka ali pun menyuruh mereka bertaubat, namun mereka tidak mau bertaubat. Maka Ali pun membuat api yang sangat besar dan membakar mereka. Sementara Abdullah bin Saba, sebagian sejarawan mengatakan bahwa dia tidak ikut dibakar, namun diasingkan ke negri Madain. Dan setelah Ali bin Abi Thalib syahid terbunuh, dia pun menyatakan bahwa Ali tidaklah meninggal dunia.</p>
<p align="justify">Selain meyakini ketuhanan Ali bin Abi Thalib, orang orang sabaiyah juga meyakini bahwasanya Ali adalah orang yang telah mendatangkan awan untuk menurunkan hujan. Bahwa halilintar pada hakekatnya merupakan suara Ali, dan kilatannya merupakan senyuman Ali. Mereka juga mengatakan bahwasanya Ali akan kembali lagi turun ke bumi untuk mengisi bumi dengan keadilan.</p>
<p align="justify">Adapun <em>kisaniyah</em>[4.Tentang <em>kisaniyah</em> bisa dilihat di <em>Al Milal Wan Nihal</em>. Hal. 168] adalah para pengikut kisan yang merupakan budak dari Ali bin Abi Thalib. Mereka memiliki keyakinan <i>tanashukul arwah</i>, <i>hulul</i>, dan <i>raj’ah</i>[5.Kembalinya nyawa ke dalam kehidupan di dunia] setelah kematian. Mereka juga mengatakan bahwa ilmu kaisan mencakup seluruh ilmu. Dan kaisan telah mengambil ilmu tersebut dari dua penghulu yaitu Ali bin Abi Thalib <em>Radhiyallahu ‘Anhu</em> dan putra beliau Muhammad bin Hanafiyah <em>Rahimahullah</em>.</p>
<p align="justify">Melalui dua aliran kebatinan tersebut lahirlah aliran aliran kebatinan yang lain, seperti <em>mukhtariyah, hasyimiyah, bayaaniyah</em>, dan <em>romaziyah</em>[6.Lihat tentang ajaran aliran aliran tersebut dalam <em>Al Milal Wan Nihal</em>, hal. 168-173]. Yang mana meskipun nama mereka bermacam macam, pada hakekatnya ajaran mereka sama.</p>
<p align="justify">Pada masa Bani Umayyah aliran aliran tersebut diberantas oleh tangan kekuasaan Bani Umayyah. Orang orang pun mengira bahwa mereka telah punah dan tidak akan muncul kembali. Namun hal tersebut ternyata keliru. Karena jangan lupa, bahwa orang orang persia sangat mudah memainkan gerakan bawah tanah. Jikapun gerakan yang muncul dipermukaan telah habis, maka masih ada gerakan bawah tanah yang akan kembali muncul jika saatnya telah tiba.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Singgih Pamungkas</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>____</p>
 