
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/09/Menggali-Adab-dari-Surah-An-Nuur-02.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/09/Menggali-Adab-dari-Surah-An-Nuur-02.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Bahasan ini bagus untuk dipelajari karena menghimpun akhlak-akhlak yang mulia dan bekal yang bagus bagi setiap muslim/muslimah. Ini lanjutan dari bahasan sebelumnya.</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Baca: Menggali Adab dari Surah An-Nuur #01</h3>
<p> </p>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="Xb7dbxliNG"><p><a href="https://rumaysho.com/18384-menggali-pelajaran-adab-dari-surat-an-nuur.html">Menggali Pelajaran Adab dari Surat An-Nuur</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Menggali Pelajaran Adab dari Surat An-Nuur” — Rumaysho.Com" src="https://rumaysho.com/18384-menggali-pelajaran-adab-dari-surat-an-nuur.html/embed#?secret=Xb7dbxliNG" data-secret="Xb7dbxliNG" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<h3></h3>
<h3 style="text-align: center;">Kesebelas: Tiga sifat wanita yang terhormat</h3>
<p> </p>
<p>Dalam ayat disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar</em>.”</p>
<p>Ada tiga sifat yang disebutkan dalam ayat ini:</p>
<ul>
<li>
<em>al-muhshanaat </em>yaitu yang selalu menjaga kehormatan diri dari zina,</li>
<li>
<em>al-ghafilaat </em>yaitu yang tak pernah terbetik dalam hatinya keinginan untuk berzina,</li>
<li>
<em>al-mu’minaat </em>yaitu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.</li>
</ul>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Keduabelas: Adab meminta izin</h3>
<p> </p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.</em>” (QS. An-Nuur: 27)</p>
<p>Beberapa hadits yang mengajarkan adab meminta izin adalah sebagai berikut.</p>
<p>Dari Abu Musa Al-Asy’ari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الاسْتِئْذَانُ ثَلاثٌ ، فَإنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلاَّ فَارْجِعْ</p>
<p>“<em>Meminta izin itu tiga kali. Maka, jika diizinkan, engkau boleh masuk, dan jika tidak maka kembalilah.” </em>(HR. Bukhari, no. 6245 dan Muslim, no. 2157)</p>
<p>Dari Sahl bin Sa’ad <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إنَّمَا جُعِلَ الاسْتِئذَانُ مِنْ أجْلِ البَصَرِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya ditetapkannya meminta izin itu hanya karena masalah menjaga pandangan.” </em>(HR. Bukhari, no. 6241 dan Muslim, no. 2156)</p>
<p>Dari Rib’i bin Hirasy, ia berkata,  “Seorang lelaki dari Bani ‘Amir bercerita kepada kami bahwa ia pernah meminta izin kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ketika beliau ada di rumah. Orang tersebut berkata, ‘Apakah aku boleh masuk?’ Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun berkata kepada pembantunya, ‘Keluarlah kepada orang tersebut, lalu ajarkanlah ia cara meminta izin.’ Ajarkanlah kepadanya, ‘Ucapkanlah <em>assalaamu ‘alaikum</em>, bolehkah aku masuk?’ Orang tersebut pun mendengarnya, lantas ia mengucapkan, ‘Assalamu ‘aaikum, bolehkah aku masuk?’ Lantas Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun mengizinkannya, setelah itu ia pun masuk.” (HR. Abu Daud, no. 5177 dengan sanad <em>shahih</em>)</p>
<p>Dari Kildah bin Al-Hambal <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, aku menemui beliau dan aku ketika itu tidak mengucapkan salam. Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>lantas mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">ارْجِعْ فَقُلْ : السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ ، أَأَدْخُل ؟</p>
<p>‘Kembalilah, lalu ucapkanlah assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’” (HR. Abu Daud, no. 5176 dan Tirmidzi, no. 2710. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>)</p>
<p>Cara meminta izin adalah dengan memperkenalkan nama.</p>
<p>Dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, di dalam haditsnya yang masyhur tentang isra’. Ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,  “Kemudian Jibril membawaku naik ke langit dunia, ia meminta dibukakan pintunya. Maka ditanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Kemudian naik ke langit kedua, maka ditanya lagi, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Lalu langit naik ke langit ketiga, keempat, dan lainnya. Di setiap pintu langit ditanya, ‘Siapakah ini?’ Dijawab, ‘Ini Jibril.’” (HR. Muslim, no. 3207 dan Muslim, no. 162)</p>
<p>Dari Abu Dzar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Aku keluar pada suatu malam. Ternyata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sedang berjalan seorang diri. Maka, aku mulai berjalan di bawah sinar bulan. Beliau lalu menoleh, kemudian melihatku. Lalu berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Abu Dzar.’ (HR. Bukhari, no. 6443 dan Muslim, no. 94/153)</p>
<p>Dari Ummu Hani <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أتيتُ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ ، فَقَالَ : (( مَنْ هذِهِ ؟ )) فقلتُ : أنا أُمُّ هَانِىءٍ</p>
<p>“Aku datang kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>ketika beliau sedang mandi, dan Fatimah menutupinya. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Ummu Hani.’ (HR. Bukhari, no. 357 dan Muslim, no. 336)</p>
<p>Dari Jabir <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أتَيْتُ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَدَقَقْتُ البَابَ ، فَقَالَ : (( مَنْ هَذَا ؟ )) فَقُلتُ : أَنَا ، فَقَالَ : (( أنَا ، أنَا ! )) كَأنَّهُ كَرِهَهَ</p>
<p>“Aku datang kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu mengetuk pintu. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Aku.’ Beliau lantas berkata, ‘Aku, aku.’ Seolah beliau membencinya.” (HR. Bukhari, no. 6250 dan Muslim, no. 2155)</p>
<p>Apa saja manfaat meminta izin dan mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah yang bukan rumah kita?</p>
<ol>
<li>Agar tidak terlihat hal-hal yang memang tidak suka untuk dilihat. Karena ada pemilik rumah yang tidak senang rumahnya dilihat-lihat orang secara tiba-tiba tanpa izin.</li>
<li>Biar pemilik rumah tidak menjadi susah dengan masuknya orang lain tanpa izin.</li>
<li>Biar pemilik rumah juga bisa persiapan. Jangan sampai pemilik rumah dianggap menyepelekan orang lain karena tidak ada persiapan sebelumnya disebabkan ada yang masuk tanpa izin.</li>
<li>Untuk mencegah keinginan yang tidak baik dari orang yang masuk rumah lainnya tanpa izin, seperti ingin mencuri dan melakukan perbuatan keji (fahisyah) lainnya.</li>
<li>Dengan mengucapkan salam ketika masuk, maka akan melindungi pemilik rumah dari kejelekan karena yang diucapkan adalah doa keselamatan “assalaamu ‘alaikum” (semoga keselamatan untukmu).</li>
<li>Ucapan salam ini termasuk bentuk ihsan (berbuat baik).</li>
<li>Orang yang mengucapkan salam mendapatkan pahala. Jika mengucapkan “assalaamu ‘alaikum” saja sudah mendapatkan sepuluh ganjaran.</li>
<li>Manfaat yang paling besar adalah telah menjalankan perintah Allah. Setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan yang banyak.</li>
</ol>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Ketigabelas: Perintah menundukkan pandangan</h3>
<p> </p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ</p>
<p>“<em>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat</em>.” (QS. An-Nuur: 30)</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Keempatbelas: Meninggalkan sesuatu karena Allah akan diganti dengan yang lebih baik</h3>
<p> </p>
<p>Syaikh As-Sa’di <em>rahimahullah </em>menyatakan tentang surah An-Nuur ayat 30 di atas, “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Siapa yang tundukkan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada penglihatannya.” (<em>Tafsir As-Sa’di</em>, hlm. 596)</p>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik</em>.” (HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>shahih</em>. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata bahwa sanad hadits ini <em>shahih</em>).</p>
<p style="text-align: center;"><em>Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.</em></p>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan di perjalanan Jakarta – Jogja, Senin sore, 22 Dzulhijjah 1439 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Rumaysho.Com</a></p>
 