
<h2><strong>Cara Menghapus Dosa</strong></h2>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Berikut salah satu kisah mengenai luas pengampunan AllahTa’ala atas dosa hamba-hambanya jika hambanya bertobat dan memperbaiki diri dengan beramal soleh, dari nukilan kisah imam besar ahlus sunnah dari kalangan Atbaa’ut taabi’iin bernama Fudhail bin ‘Iyaadh bin Mas’uud At Tamimi.</em></p>
<p><strong>Oleh: Ustad Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, M.A.</strong></p>
<p>Kadang seorang hamba yang ingin memperbaiki diri dengan bertobat kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Tapi ketika dia melihat dan mengingat banyaknya dosa yang dilakukan di masa lalu, dia berputus asa dan memandang dirinya sangat kotor, sehingga tidak mungkin dirinya akan diterima oleh Allah. Ini tipu daya setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah <em>Ta’ala.</em> Yakni dengan menjadikan manusia berputus asa dari rahmat-Nya. Padahal rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya sangat luas dan agung.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menggambarkan hal ini dalam sabdanya, <em>“Sungguh, Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya</em>.” (HR. Bukhari No. 5653 dan Muslim No. 2754 dari ‘Umar bin al-Khattab <em>Radhiyallahu ‘anhu</em>). Dalam hadis <em>sahih</em> lainnya, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menuliskan di sisinya di atas arsy-Nya: sesungguhnya kasih sayang-Ku mendahului/mengalahkan kemurkaan-Ku</em>.” (HR. Bukhari No. 7015 dan Muslim No. 2751 dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘anhu</em>)</p>
<p>Khusus tentang pengampunan dosa-dosa dari-Nya bagi hamba-hamba-Nya, Allah <em>Ta’ala </em>berfirman, “<em>Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (QS Az-Zumar: 53). Ayat yang mulia ini disebut oleh sebagian ulama ahli tafsir sebagai ayat Al-Quran yang paling memberikan pengharapan kepada orang-orang yang beriman (Lihat <em>Tafsir Al-Qurthubi</em> 15/234 dan <em>Fathul Qadiir</em>” 4/667).</p>
<p>Imam Ibnu Rajab al-Hambali menukil dari kitab <em>Jaami’ul ‘uluumi wal hikam</em> (hal. 464) dan <em>Latha-iful ma’aarif</em> (hal. 108) sebuah kisah menarik untuk kita renungkan. Yakni mengenai imam besar <em>ahlus sunnah</em> dari kalangan <em>Atbaa’ut taabi’iin</em> bernama Fudhail bin ‘Iyaadh <em>bin Mas’uud At Tamimi</em>. Beliau wafat pada 187 H. Dia imam besar dari kalangan <em>atba’ut tabi’in</em> yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadis Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan seorang ahli ibadah (lihat kitab <em>Taqriibut tahdziib</em>” hal. 403). Berikut ini salah satu kisahnya ketika beliau menasehati seseorang lelaki – kami sajikan dalam bentuk tanya-jawab.</p>
<p>“Berapa tahun usiamu (sekarang)?”tanya Fudhail.</p>
<p>“Enam puluh tahun,” jawab lelaki itu.</p>
<p>“Berarti) sejak 60 tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai,” kata Fudhail.</p>
<p>“Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya,” jawab lelaki itu.</p>
<p>“Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata, ‘Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya), maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya), maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya,” kata Fudhail.</p>
<p>“(Kalau demikian), bagaimana caranya (untuk menyelamatkan diri ketika itu)?” tanya lelaki itu.</p>
<p>“(Caranya) mudah,” jawab Fudhail.</p>
<p>“Apa itu?” lelaki itu bertanya lagi.</p>
<p>“Engkau berbuat kebaikan (amal soleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan disiksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu,” kata Fudhail.</p>
<p><em>Subhanallah!</em> Alangkah agung dan sempurna kasih sayang Allah <em>Ta’ala</em> terhadap hamba-hamba-Nya. Alangkah luas pengampunan-Nya atas dosa-dosa mereka, sehingga dengan bertobat dan memperbaiki diri dengan beramal soleh, dosa-dosa yang diperbuat seorang hamba di masa lalu akan diampuni dan dimaafkan-Nya, sebanyak apa pun dosa itu. Maka, Maha Suci dan Maha Benar Allah <em>Ta’ala</em> yang menyifati diri-Nya dengan firman-Nya, yang artinya, “<em>Sesungguhnya </em>Rabb<em>-mu maha luas pengampunan-Nya.” </em>(QS An-Najm: 33)</p>
<p>Beberapa pelajaran berharga pada kisah tersebut.</p>
<ul>
<li>Luasnya rahmat dan pengampunan Allah <em>Ta’ala</em> atas hamba-hamba-Nya. Padahal kalau sekiranya Allah <em>Ta’ala </em>mengazab mereka karena dosa-dosa mereka, Dia Maha Mampu dan Maha Kuasa melakukannya.</li>
</ul>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Sungguh seandainya Allah menyiksa semua makhluk yang ada di langit dan bumi, maka Dia (Maha Kuasa untuk) menyiksa mereka dan dia tidak berbuat zalim/aniaya (dengan menyiksa mereka, karena mereka semua adalah milik-Nya), dan seandainya Dia merahmati mereka semua, maka sungguh rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal perbuatan mereka</em>.” (HR Abu Dawud No. 4699, Ibnu Majah No. 77 dan Ahmad 5/182, dinyatakan <em>sahih</em> oleh Syaikh Al-Albani dalam <em>Silsilatul ahaadiitsish shahiihah</em> No. 2439)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Taubat (yang benar) akan menghapuskan (semua dosa yang dilakukan) di masa lalu.” Dalam hadis lain yang semakna, beliau </em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam<em> bersabda, “Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa.”</em></p>
<ul>
<li>Semakin bertambah usia kita berarti akhir dari masa hidup kita di dunia semakin dekat dan waktu perjumpaan dengan Allah semakin singkat.</li>
</ul>
<p>Sahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, <em>“Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita), sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal.</em>” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam <em>Az-Zuhd</em> hal. 130 dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau, <em>Jaami’ul ‘uluumi wal hikam</em> hal. 461).</p>
<ul>
<li>Nasihat yang disampaikan dengan hati yang ikhlas akan memberikan pengaruh yang besar dan mudah diterima dalam hati.</li>
</ul>
<p>Seorang penceramah mengadu kepada Imam Muhammad bin Waasi’ tentang sedikitnya pengaruh ceramah yang disampaikannya untuk merubah akhlak orang-orang yang diceramahinya. Muhammad bin Waasi’ bin Jabir bin Al Akhnas Al Azdi Al Bashri (wafat 123 H) adalah seorang Imam dari kalangan <em>tabi’in</em> “junior” yang taat beribadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadis. Imam Muslim mengeluarkan hadis beliau dalam kitab Shahih Muslim, biografi beliau dalam kitab <em>Tahdziibul kamaal</em> (26/576) dan <em>Siyaru a’laamin nubala’</em> (6/119). Muhammad bin Waasi’ berkata, “Wahai Fulan, menurut pandanganku, mereka ditimpa keadaan demikian (tidak terpengaruh dengan ceramah yang kamu sampaikan) tidak lain sebabnya adalah dirimu sendiri. Sesungguhnya peringatan (nasihat) itu jika keluarnya (ikhlas) dari dalam hati,  maka (akan mudah) masuk ke dalam hati (orang yang mendengarnya).”(Kitab<em>  Siyaru a’laamin nubala</em>’6/122)</p>
<p>Demikianlah, semoga dapat memotivasi untuk selalu bertobat dan mengisi sisa usia dengan kebaikan dan amal soleh. <strong>(PM)</strong></p>
<p><strong>Pull-Quote:</strong></p>
<ul>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh, Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya</em>.” ( Bukhari No. 5653 dan Muslim No. 2754 dari ‘Umar bin al-Khattab <em>Radhiyallahu ‘anhu</em>)</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam: </em>“<em>Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menuliskan di sisinya di atas arsy-Nya: sesungguhnya kasih sayang-Ku mendahului/mengalahkan kemurkaan-Ku</em>.” (HR. Bukhari No. 7015 dan Muslim No. 2751 dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘anhu</em>)</li>
<li>“<em>Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (QS Az-Zumar: 53)</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: “<em>Sungguh seandainya Allah menyiksa semua makhluk yang ada di langit dan bumi, maka Dia (Maha Kuasa untuk) menyiksa mereka dan dia tidak berbuat zalim/aniaya (dengan menyiksa mereka, karena mereka semua adalah milik-Nya), dan seandainya Dia merahmati mereka semua, maka sungguh rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal perbuatan mereka</em>.” (HR Abu Dawud No. 4699, Ibnu Majah No. 77 dan Ahmad 5/182)</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Taubat (yang benar) akan menghapuskan (semua dosa yang dilakukan) di masa lalu.” Dalam hadis lain yang semakna, beliau </em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam<em> bersabda, “Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa.”</em>
</li>
<li>Ali bin Abi Thalib <em>Radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita), sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal.</em>” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam <em>Az-Zuhd</em> 130 dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau, <em>Jaami’ul ‘uluumi wal hikam</em> hal. 461)</li>
</ul>
<p><strong>PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 