
<p><em>Sebuah Tanggapan untuk Ulil Abshar Abdalla</em></p>
<p>Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada  Rasulullah seorang manusia yang telah dipilih oleh Allah untuk  menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya serta menunjukkan kepada  jalan yang lurus. <em>Amma ba’du</em>.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Para pembaca yang budiman, semoga Allah menjaga kita dari godaan  syaitan dan kerancuan-kerancuan yang ditebarkan oleh antek-anteknya.  Sifat rendah hati/tawadhu’ adalah salah satu ciri khas hamba-hamba  Allah Yang Maha Pengasih. Sebagaimana yang dijelaskan oleh-Nya dalam  ayat-Nya yang mulia,</p>
<p class="arab" align="right">وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا</p>
<p><em>“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang  berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil  menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”</em> (QS. Al  Furqaan [25]: 63)</p>
<p>Di antara sapaan jahil yang baru-baru ini mengusik umat Islam  Indonesia adalah tulisan ‘orang yang sedang bingung’ yang diberi judul  dengan ‘Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam’. Dalam suasana  ‘kebingungan’ yang masih menyelimuti pikirannya si penulis ingin  mengajak umat Islam untuk bersikap arogan dan tinggi hati. Sayangnya  dia menamai seruannya ini dengan ‘corak keberagamaan yang rendah hati’.</p>
<p>Aduhai, seandainya orang ini mau menyadari keruwetan akalnya! Orang  yang lugu akan mengatakan kelakuannya ini dengan ungkapan, “Bungkusnya  bagus, tapi isinya busuk.” Maka orang yang masih menyayangi kesehatan  dirinya tentu tidak akan mau memakan isi bungkusan itu. Sebetulnya  meladeni bualan semacam ini bukanlah sesuatu yang sukar. Kalau kita  cermati ucapan-ucapannya maka akan tampak kontradiksi yang sangat  jelas. Lihatlah betapa jujurnya orang ini ketika dia mengatakan bahwa  dia ingin membuang ajaran agama Islam!</p>
<p>Saksikanlah pengakuannya atas kejahatan yang dilakukannya  sendiri, “Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang  rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang  berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadhu'”,  atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada  Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas  menyalahi etika tawadhu’ itu.” (lihat artikel Ulil Abshar Abdalla di  situs JIL, 7 Januari 2008)</p>
<p>Dia juga yang mengatakan, “Banyak hal dalam agama yang jika dibuang  sebetulnya tidak mengganggu sedikitpun watak dasar agama itu. Oleh para  pemeluk agama, banyak ditambahkan hal baru terhadap esensi agama itu,  sekedar untuk menjaga aura agama itu agar tampak “angker” dan  menakutkan di mata pemeluknya. Saya akan mengambil contoh Islam.”  (lihat artikel Ulil Abshar Abdalla di situs JIL, 7 Januari 2008)</p>
<p>Pembaca sekalian, semoga Allah menambahkan hidayah-Nya kepada kita.  Orang ini dengan beraninya dan tidak tahu malu telah menyingkap hakekat  dirinya yang sombong dan arogan. Maka cukuplah kiranya bagi kita  pengakuannya sendiri yang ingin ‘membuang ajaran agama’ dengan  menamainya dengan istilah ‘corak keberagamaan yang rendah hati’.  Sungguh pengakuan yang tulus dan sudah selayaknya mengetuk hati si  pemilik ucapan untuk berintrospeksi dan kembali menata diri. Bukankah  muhasabah atau introspeksi adalah salah satu esensi ajaran Islam yang  sudah jelas dan tidak bisa ditawar-tawar lagi?!</p>
<p>Saudaraku sesama kaum muslimin, sesungguhnya sikap arogan atau  sombong yang dalam bahasa Arabnya adalah kibr merupakan akhlak yang  sangat-sangat tercela. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" align="right">الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ</p>
<p><em>“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”</em> (HR. Muslim no. 131 Maktabah Syamilah)</p>
<p>Kiranya hadits ini sangat tepat dengan konteks permasalahan yang  sedang kita bicarakan. Belum lagi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah memberikan sebuah ancaman yang sangat keras bagi  orang-orang yang menyombongkan diri. Beliau bersabda,</p>
<p class="arab" align="right">لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ</p>
<p><em>“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat  kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah (anak semut).”</em> (HR. Muslim  no. 131. Maktabah Syamilah)</p>
<p>Imam An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p class="arab" align="right">فَإِنَّ هَذَا الْحَدِيث وَرَدَ فِي سِيَاق النَّهْيِ عَنْ الْكِبْرِ  الْمَعْرُوف وَهُوَ الِارْتِفَاع عَلَى النَّاس ، وَاحْتِقَارهمْ ،  وَدَفْع الْحَقِّ</p>
<p>“Sesungguhnya hadits ini disebutkan dalam konteks larangan dari  sikap menyombongkan diri yang sudah dimengerti (oleh orang-orang, pent)  yaitu sikap merasa tinggi dan lebih hebat daripada manusia yang lain,  melecehkan mereka, dan menolak kebenaran.” (<em>Syarh Muslim</em>, <em>Tahrimul Kibr  wa Bayanuhu</em>. Maktabah Syamilah)</p>
<p><strong>Apakah Membuang Ajaran Islam Adalah Kerendahan Hati?</strong></p>
<p>Itulah pertanyaan yang ingin kita ajukan kepada si pemilik ucapan  tersebut. Seorang muslim yang masih sehat akalnya tentu akan mengatakan  bahwa tindakan mengobok-obok dan membuang isi ajaran Islam adalah sikap  menolak kebenaran dan ekspresi dari perasaan lebih hebat dan sikap  arogan yang sangat keterlaluan. Semua umat Islam sudah sepakat bahwa  hanya Islam agama yang benar dan diridai oleh Allah. Adakah orang yang  lebih sombong dan lebih keras kepala daripada orang yang sengaja  menyelisihi kesepakatan umat Islam?</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ</p>
<p><em>“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.”</em> (QS. Ali ‘Imran [3]: 19)</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa makna Islam di dalam  ayat ini adalah mengikuti ajaran rasul Allah yang diutus kepada mereka  di setiap masa sampai ditutupnya risalah dengan pengutusan Muhammad  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menutup semua jalan menuju Allah  kecuali satu jalan yang dibentangkan oleh Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Oleh sebab itu orang-orang sesudah diutusnya Muhammad  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menghadap Allah dalam keadaan  menganut agama selain syari’at beliau maka tidak akan diterima (<em>Tafsir  al-Qur’an Al ‘Azhim</em>, Maktabah Syamilah).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p><em>“Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak  akan diterima dan di akherat dia pasti termasuk orang yang merugi.”</em> (QS. Ali ‘Imran [3]: 85)</p>
<p>Maka dimanakah letak ketawadhu’an orang yang mengatakan, “Mengaku  bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika  tawadhu’ itu.” ?!!! Bahkan perkataannya ini adalah sikap arogan dan  penentangan yang jelas terhadap kebenaran isi al-Qur’an. Dan itu  artinya dia telah berani menyombongkan dirinya di hadapan Allah <em>ta’ala</em> yang menurunkan al-Qur’an! <em>Inna lillahi wa inna ilahi raji’un…</em> Tidakkah engkau menyadari musibah ini wahai Ulil?! Adakah manusia yang  lebih tidak tahu diri dan lebih arogan daripada orang yang membusungkan  dadanya dan merasa hebat di hadapan Rabb yang menciptakan dirinya serta  seluruh jagad raya? Akal siapakah yang bisa menerima bualan seperti  ini? Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang masih memiliki pikiran  (ulil abshar)!!!</p>
<p>Bahkan akan kita katakan bahwa sesungguhnya apa yang dikemukakan  orang tidak tahu malu ini sebagai hal-hal baru yang tidak pernah  dikenal oleh umat Islam dan ditambah-tambahkan kepada esensi ajaran  Islam yang justru akan mencoreng citra ajaran Islam yang rendah hati  dan jauh dari sikap arogan. Bukankah kebenaran datang dari Allah? Allah  <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ</p>
<p><em>“Al Haq adalah dari Rabbmu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.”</em> (QS. Al Baqarah [2]: 147)</p>
<p>Dan Allah sendiri yang menyatakan bahwa hanya Islam yang benar. Apakah anda merasa lebih tahu daripada Allah wahai Ulil?</p>
<p><strong>Ucapan Siapa yang Tidak Relevan?</strong></p>
<p>Kalau kita cermati lagi, memang perbuatan orang ini sudah sangat  keterlaluan. Menentang ayat-ayat Allah baginya adalah sesuatu yang  ringan dan bahkan perlu untuk dikembangkan. Lihatlah perkataannya yang  menunjukkan sikap arogan yang sangat tercela. Dia mengatakan, “Sudah  jelas Kitab Suci terkait dengan konteks sejarah tertentu, dan banyak  hal yang dikatakan Kitab Suci sudah tak relevan lagi karena konteks-nya  berbeda.” (lihat artikel Ulil Abshar Abdalla di situs JIL, 7 Januari  2008).</p>
<p>Maha suci Allah dari bualan semacam ini!! Wahai Ulil, seandainya  engkau mau diam dan berhenti menulis untuk sejenak memikirkan kematian  yang pasti akan menghampirimu. Apakah perbedaan ucapanmu ini dengan  ucapan orang-orang kafir, <em>“Tidaklah (al-Qur’an) ini melainkan hanya  sekedar dongeng orang-orang terdahulu.”</em> (lihat QS. Al An’aam [6]: 25).  Lihatlah betapa mirip ucapannya dengan ucapan orang-orang kafir! Ada  hubungan apa antara anda dengan mereka wahai Ulil?</p>
<p>Kalau Ulil mengatakan bahwa doktrin yang menyatakan sumber hukum  hanya terbatas pada al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas sudah tidak  relevan, keyakinan bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah Nabi akhir zaman juga tidak relevan, keyakinan bahwa Islam yang  diajarkan Nabi Muhammad menghapus agama-agama yang lainnya juga tidak  relevan, keyakinan bahwa orang yang tidak mengikuti jalan Islam adalah  kafir juga tidak relevan, keyakinan bahwa hanya ada satu golongan umat  Islam yang selamat (<em>al firqah an najiyah</em>) juga tidak relevan, keyakinan  bahwa firman Allah tidak mungkin salah juga tidak relevan, keyakinan  bahwa dalam perkara yang sudah terdapat dalil tegas dalam syari’at maka  tidak boleh ada ijtihad adalah juga tidak relevan, keyakinan bahwa  hanya Allah yang berhak membuat syari’at juga tidak relevan, kebenaran  al-Qur’an tidak terikat dengan ruang dan waktu (dalam artian al-Qur’an  selalu benar kapan dan di manapun, pen) juga tidak relevan, keyakinan  bahwa Islam bisa menjawab semua masalah juga tidak relevan bahkan  dianggap sebagai bentuk arogansi [lihat semua bualan ini dalam artikel  Ulil Abshar Abdalla di situs JIL, 7 Januari 2008], maka cukuplah kita  katakan kepadanya bahwa: Semua yang anda lontarkan ini adalah arogansi  dan kekufuran terhadap hakekat ajaran Islam!!! Islam sama sekali tidak  turut campur tangan dengan apa yang anda lontarkan. Dan semua umat  Islam sepakat untuk menyatakan bahwa dakwah yang anda serukan bukanlah  dakwah Islam! Akan tetapi dakwahmu adalah propaganda sesat dan tidak  beradab yang mengajak umat untuk bersikap arogan dan meninggalkan  akhlak tawadhu’ yang sudah semestinya menghiasi perilaku seorang muslim  yang taat.</p>
<p>Inilah ayat-ayat yang akan menghanguskan angan-angan anda untuk bisa  menarik simpati kaum muslimin terhadap ajaran Liberal. Inilah petir  yang akan membakar semua syubhat dan kedangkalan berpikir yang anda  agung-agungkan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا  الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ  فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ  بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah rasul  serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih  tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan  rasul (As Sunah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal  itu lebih baik untuk kalian dan lebih bagus hasilnya.”</em> (QS. An Nisaa’  [4]: 59)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ</p>
<p><em>“Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang lelaki di antara  kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.”</em> (QS. Al Ahzab [33]: 40)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</p>
<p><em>“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah  cukupkan nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama  bagimu.”</em> (QS. Al-Maa’idah [5]: 3)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى  وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى  وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا</p>
<p><em>“Barang siapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk  dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka Kami akan  membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pasti akan  memasukkannya ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu adalah seburuk-buruk  tempat kembali.”</em> (QS. An Nisaa’ [3]: 115)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا</p>
<p><em>“Dan siapakah yang lebih benar pembicaraannya daripada Allah?”</em> (QS. An Nisaa’ [3]: 87)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا</p>
<p><em>“Dan siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?”</em> (QS. An Nisaa’ [3]: 122)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ  وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا</p>
<p><em>“Dan tidaklah pantas bagi seorang yang beriman laki-laki atau  perempuan untuk memiliki pilihan lain apabila Allah dan Rasul-Nya telah  memutuskan suatu perkara. Dan barang siapa yang durhaka kepada Allah  dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang sangat  nyata.”</em> (QS. Al Ahzab [33]: 36)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ</p>
<p><em>“Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari, dan siapakah yang lebih  baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”</em> (QS.  Al Maa-idah [4]: 50)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p>الم  ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ</p>
<p>“Alif laam miim. Inilah Kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun  padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa…” (QS. Al Baqarah  [2]: 1-2)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ</p>
<p>“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu (selain Allah) yang membuat  syari’at untuk mereka padahal itu tidak pernah diijinkan oleh Allah?”  (QS. Asy Syuura [42]: 21)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</p>
<p><em>“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah  cukupkan nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama  bagimu.”</em> (QS. Al-Maa’idah [5]: 3)</p>
<p>Dan masih banyak ayat lain serta hadits-hadits shahih yang akan  menghabisi dan membakar habis kedangkalan berpikir serta membongkar  kerusakan akal para penganut ajaran Liberal!!!</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Setelah kita membaca ini semua wahai pembaca yang budiman, marilah  kita tanyakan kepada hati nurani kita masing-masing siapakah yang  mengajak untuk bersikap arogan dan menyombongkan diri?!! Apakah Allah,  para rasul-Nya, para sahabat dan para ulama sesudah mereka yang  mengajak umat Islam untuk bersikap arogan ataukah orang-orang Liberal  yang berpikiran sempit dan telah rusak akalnya semacam ini?! Jawablah  wahai orang-orang yang masih memiliki pikiran (Ulil Abshar)…!  Kembalilah ke jalan kebenaran dan sikap rendah hati yang sejati wahai  Ulil. Kasihanilah kedua orang tuamu, kasihanilah anak dan istrimu,  kasihanilah dirimu sendiri… Sukakah engkau disejajarkan dengan  barisan orang-orang yang arogan semacam Fir’aun, Qarun, dan Abu Jahal?  Padahal karena sikap arogan seperti itulah Iblis dan bala tentaranya  layak untuk diseret ke dalam jurang neraka dan tersiksa secara kekal di  dalamnya. Renungkanlah! Semoga Allah memberikan taufik kepadamu.</p>
<p><strong>Keterangan Tambahan</strong></p>
<p>Meskipun demikian, kami kaum muslimin semua maklum. Bukanlah sebuah  keanehan apabila lontaran jahil seperti itu muncul dari seorang  penganut ajaran Liberal tulen semacam Ulil! Itu semua justru semakin  menambah keyakinan kita akan kebenaran al-Qur’an sebagai firman Allah  dan As Sunnah sebagai sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dan hal  itu juga semakin memperjelas bagi kita siapakah jati diri Ulil yang  sebenarnya. Inilah bukti lainnya yang menyingkap jati dirinya…</p>
<p><strong>Pertama</strong>. Allah menyatakan dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab" align="right">وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ</p>
<p><em>“Barang siapa di antara kalian yang berloyalitas kepada mereka  (orang-orang kafir), maka dia termasuk golongan mereka.”</em> (QS. Al  Maa’idah [5]: 51)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Seseorang  itu berada di atas agama kawan akrabnya.”</em> (HR. Abu Dawud dan At  Tirmidzi)</p>
<p>Bukankah selama ini Ulil telah merelakan dirinya dengan sedemikian  ‘enjoy’nya berada di tengah-tengah mereka (orang-orang kafir) baik  secara fisik maupun pikirannya?! Dan bukankah dia telah menjadikan  mereka (Yahudi, dkk) sebagai kawan dekatnya; baik dari segi fisik  maupun pikirannya? Bahkan Ulil merasa risih apabila harus ikut bersama  [dengan keyakinan] para ulama Islam dan justru merasa tenang bersama  [dengan keyakinan] para ulama Yahudi Orientalis kafir tulen yang  jelas-jelas anti terhadap al-Qur’an dan As Sunnah. [Maka hal ini  semakin memperjelas bagi kita: Kepada siapakah sesungguhnya Ulil  berpihak?!]
</p>
<p><strong>Kedua</strong>. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab" align="right">وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ</p>
<p><em>“Barang siapa berpaling dari peringatan Ar Rahman (Allah) maka Kami  akan menjadikan syaitan sebagai kawan pendampingnya.”</em> (QS. Az Zukhruf  [43]: 36)</p>
<p>Maka jadilah orang semacam itu (yang dengan sengaja mencampakkan peringatan Allah) sebagai wali syaitan.</p>
<p>Bukankah selama ini Ulil juga telah mengesampingkan dalil-dalil  al-Qur’an dan As Sunnah bahkan bersikap antipati kepada keduanya [di  antara buktinya adalah kebatilan artikel Ulil yang sedang kita bantah  ini, pen]. Sehingga orang-orang yang tetap berpegang dengan kandungan  dalil justru dia sebut sebagai kaum tekstualis, bahkan penyembah teks!  Sedangkan dirinya sendiri justru lebih memilih untuk memeluk akidahnya  kaum filsafat dan menelan mentah-mentah sabda-sabda Orientalis. [<em>La  haula wa la quwwata illa billah!</em> Lelucon macam apakah ini wahai Ulil?!]
</p>
<p><strong>Ketiga</strong>. Bukankah Allah telah menyifati orang yang membenci ajaran  Islam (yaitu kaum munafikin, pen) sebagai orang yang di dalam hatinya  tersimpan penyakit yang kian hari kian bertambah keganasannya. Allah  <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا</p>
<p><em>“Karena di dalam hati mereka sudah terdapat penyakit  (keragu-raguan), maka Allah semakin menambahkan penyakit itu kepada  mereka.”</em> (QS. Al Baqarah [2]: 10)</p>
<p>Dan karena penyakit yang diderita itulah segala hal menjadi berubah  bagi si sakit. Sate yang tadinya sangat mengundang selera dan terasa  lezat oleh lidah berubah menjadi pahit dan membakar lidah. Cahaya yang  tadinya terasa lembut di mata dan mempercerah pandangan berubah menjadi  pancaran sinar yang terasa pedih di mata dan menyakitkan. Dan seperti  itulah kurang lebih kondisi yang sedang dialami oleh Ulil pada  hari-hari ini. Semoga Allah segera menyembuhkan penyakitmu, wahai  Ulil…</p>
<p><strong>Terakhir</strong>, kami ingin menasihatkan kepada diri kami sendiri dan setiap orang yang menghendaki kebaikan bagi dirinya supaya:</p>
<p><strong>Pertama</strong></p>
<p>Selalu berdoa meminta petunjuk dan keteguhan kepada Allah, seperti  dengan memanjatkan doa, <em>‘Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idz  hadaitana’</em> (Ya Allah janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah  Engkau berikan hidayah kepada kami) atau doa <em>‘Ya muqallibal qulub  tsabbit qalbi ‘ala diinik’</em> (Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati,  tetapkanlah aku di atas agama-Mu).</p>
<p><strong>Kedua</strong></p>
<p>Perhatikanlah siapa gurumu. Sebab ilmumu adalah agamamu, maka hendaknya kamu perhatikan dari manakah kamu mengambil agamamu.</p>
<p><strong>Ketiga</strong></p>
<p>Kenalilah siapa kawan-kawanmu, karena mereka itulah yang akan ikut mewarnai bagaimana isi hatimu.</p>
[keterangan tambahan ini kami salin dengan sedikit perubahan redaksional dari tulisan tangan Ustadz Afifi Abdul Wadud]
<p><em>Allahumma aarinal haqqa haqqa warzuqnat-tiba’ah, wa aarinal baathila  baathila warzzuqnajtinaabah. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin  wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Wa akhiru da’wana anil hamdu  lillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
<p>Yogyakarta, Rabu 14 Muharram 1429/23 Januari 2008</p>
<p>****</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br>
Muraja’ah: Ustadz Afifi Abdul Wadud<br>
Artikel www.muslim.or.id</p>
<p><em>Semoga Allah mengampuninya,<br>
Kedua orang tuanya dan segenap kaum muslimin</em></p>
 