
<p>Shalat adalah tanda menuju kemenangan dan keberuntungan <em><i>(al-falaah)</i></em>. Panggilan untuk shalat selalu diiringi dengan panggilan menuju kemenangan di setiap kali adzan dan iqamah dikumandangkan. Shalat adalah amal yang utama, sedangkan <em><i>al-falah </i></em>(kemenangan) adalah balasan (pahala) atas amal tersebut.</p>
<p>An-Nawawi Asy-Syafi’i <em><i>rahimahullah </i></em>berkata,</p>
<p>“<em><i>Al-falaah, </i></em>tidak ada dalam bahasa Arab, suatu kata yang bermakna terkumpulnya kebaikan dunia dan akhirat, yang lebih baik, melebihi kata <em><i>al-falaah </i></em>tersebut.” <strong><b>(</b></strong><strong><em><b><i>Syarh Shahih Muslim, </i></b></em></strong><strong><b>2: 27)</b></strong></p>
<p>Panggilan ini akan senantiasa berulang kali didengarkan oleh kaum muslimin,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ</span></p>
<p><em><i>“Hayya ‘alash shalaat, hayya ‘alal falaah </i></em>(Marilah shalat, marilah menuju kemenangan)”</p>
<p>Kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa siapa saja yang tidak merespon panggilan adzan, maka dia tidak akan mendapatkan kemenangan (keberuntungan) dan bukan orang-orang yang menang <strong><em><b><i>(al-muflihiin).</i></b></em></strong><em><i> </i></em>Karena shalat adalah sifat dan ciri yang paling menonjol dari orang-orang yang mendapatkan kemenangan dan keberuntungan.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/26375-keutamaan-shalat-dan-beribadah-di-raudhah.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Shalat Dan Beribadah Di Raudhah</a></strong></p>
<h2>Shalat, Salah Satu Ciri Orang-Orang yang Beruntung</h2>
<p>Oleh karena itu, ketika Allah <em>Ta’ala</em> menyebutkan sifat orang-orang <em><i>muflihiin </i></em>di awal surat Al-Mu’minuun, Allah <em>Ta’ala</em> memulai dengan amalan shalat. Kemudian Allah <em>Ta’ala</em> menutup pula dengan amalan shalat yang didirikan dengan <em>khusyu’</em> dan konsisten (senantiasa terjaga). Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)</span></p>
<p>“Sesungguhnya beruntunglah (menanglah) orang-orang yang beriman. <strong><b>(Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.</b></strong> Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. <strong><b>Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.</b></strong> Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yaitu) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” <strong><b>(QS. Al-Mu’minuun [23]: 1-11)</b></strong></p>
<p>Demikian pula, ketika Allah Ta’ala di awal surat Al-Baqarah menyebutkan amal orang-orang <em><i>muflihiin </i></em>dan karakter mereka, Allah Ta’ala menyebutkan shalat di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ذلِكَ الْكِتابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدىً لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)</span></p>
<p>“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, <strong><b>yang mendirikan shalat,</b></strong> dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, <strong><b>dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2-5)</b></strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Beberapa Keutamaan Shalat Shubuh</strong></p>
<h2>Dua Sifat atau Karakter Orang-Orang yang Beruntung</h2>
<p>Rangkaian ayat ini menggambarkan bagaimanakah sifat atau karakter orang-orang yang beruntung. Yaitu, mereka yang mengumpulkan dua hal sekaligus:</p>
<p><strong><b>Pertama, benarnya aqidah. </b></strong>Orang-orang <em><i>muflihiin </i></em>memiliki aqidah yang lurus, selamat dari berbagai aqidah yang menyimpang atau bahkan aqidah kekufuran. Mereka adalah <em><i>“yang beriman kepada yang ghaib”. </i></em>Yaitu, hal-hal ghaib yang dikabarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya <em><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></em>Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan terhadap pokok-pokok iman <em><i>(ushuul imaan), </i></em>yaitu iman kepada Allah, malaikat, para rasul, kitab-kitab, dan hari akhir.</p>
<p><strong><b>Kedua, istiqamah (konsisten) dalam amal ibadah. </b></strong><em><i>“Yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” </i></em>Dan amal ibadah mereka yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah mendirikan shalat wajib lima waktu di waktunya masing-masing.</p>
<p>Allah Ta’ala mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً</span></p>
<p>“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” <strong><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 103)</b></strong></p>
<p>Semisal dengan awal surat Al-Baqarah tersebut adalah yang terdapat di awal surat Luqman, ketika Allah Ta’ala menyebutkan sifat orang-orang yang beruntung, yaitu memiliki aqidah yang benar (shahih) dan memiliki amal ibadah yang baik (shalih). Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ (3) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)</span></p>
<p>“Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. <strong><b>(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, </b></strong>menunaikan zakat, dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya <strong><b>dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”</b></strong> <strong><b>(QS. Luqman [31]: 3-5)</b></strong></p>
<p>Di akhir surat Al-Hajj, ketika Allah Ta’ala menyebutkan sifat orang-orang yang beruntung, Allah Ta’ala menyebutkan ruku’, sujud, tunduk, dan merendahkan diri di hadapan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</span></p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan berbuat baiklah, supaya kamu mendapatkan kemenangan.” <strong><b>(QS. Al-Hajj [22]: 77)</b></strong></p>
<p>Oleh karena itu, tidak ada kemenangan dan keberuntungan yang didapatkan tanpa shalat. Shalat adalah tanda keberuntungan, dan pintu masuk kebaikan dan pertolongan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ</span></p>
<p>“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” <strong><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 45)</b></strong></p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya seorang mukmin memuji Allah Ta’ala atas nikmat diberi pertolongan sehingga bisa mendirikan shalat. Dan juga untuk meminta di akhir shalat (sebelum salam), sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi <em><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</i></em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ</span></p>
<p>“ALLAAHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK” (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik.) <strong><b>(HR. Abu Dawud no. 1522, dinilai shahih oleh Al-Albani)</b></strong></p>
<p>Tentu saja, shalat masuk dalam doa tersebut.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/9839-hadits-palsu-30-keutamaan-shalat-tarawih.html" data-darkreader-inline-color="">Hadits Palsu 30 Keutamaan Shalat Tarawih</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/4129-keutamaan-shalat-taubat.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Shalat Taubat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong><b>***</b></strong></p>
<p>@Kantor YPIA, 10 Shafar 1442/ 27 September 2020</p>
<p><strong><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong><b> </b></strong></p>
<p><strong><b>Catatan kaki:</b></strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <strong><em><b><i>Ta’zhiim Ash-Shalaat </i></b></em></strong><em><i> </i></em>hal. 115-117, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <em><i>hafidzahullahu Ta’ala, </i></em>cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.</p>
 