
<p><strong>Baca penjelasan sebelumnya pada artikel <a href="https://muslim.or.id/61341-menuju-kesempurnaan-ibadah-shalat-bag-4-seputar-wudhu-dan-tayammum.html"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag. 4): Seputar Wudhu dan Tayammum</span></a>.</strong></p>
<p>Pada artikel sebelumnya telah kami jelaskan tentang wudu dan tayamum. Pada pembahasan kali ini, insyaallah akan kami lanjutkan kembali dengan membahas berkenaan dengan khuff, penutup kepala, perban, dan bagian yang terluka. Simak penjelasan berikut ini.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hukum mengusap <em>khuff</em></strong></span></h2>
<p>Mengusap <em>khuff</em> (sepatu) dilakukan dengan cara tertentu, di bagian tertentu dan di waktu tertentu sebagai ganti dari membasuh kedua kaki pada saat berwudu <strong>[1]</strong>. Mengusap <em>khuff</em> disyariatkan dalam Al-Quran dan hadis, sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْ</span></p>
<p><em>“… Dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” </em><strong>(QS. Al-Maidah: 6)</strong>.</p>
<p>Banyak sekali hadis sahih yang membahas tentang mengusap <em>khuff</em> <strong>[2],</strong> sehingga Ali bin Abi Thalib sempat berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ.</span></p>
<p>“Seandainya agama itu dengan logika semata, maka tentu bagian bawah <em>khuff</em> lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh aku sendiri telah melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengusap bagian atas <em>khuff</em>-nya” <strong>(HR. Abu Daud no. 162)</strong>.</p>
<p>Mengusap <em>khuff</em> merupakan bentuk keringanan (<em>rukhsah) </em>yang dianugerahkan Allah <em>Ta’ala</em> kepada hamba-Nya. Alangkah baiknya apabila keringanan tersebut kita ambil sebagai wujud syukur kepada Allah <em>Ta’ala,</em> sebab Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ اَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ اَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ</span></p>
<p>“Sesungguhnya Allah suka jika keringanan dari-Nya dilakukan, sebagaimana Dia tidak suka kemaksiatan kepada-Nya dilakukan” <strong>(HR. Ahmad, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah dan al-Khatib)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Syarat mengusap <em>khuff</em></strong></span></h2>
<p>Terdapat tujuh hal yang menjadi syarat dibolehkannya mengusap <em>khuff</em> sebagai ganti membasuh kedua kaki saat berwudu <strong>[3]</strong>:</p>
<p>1. Suci dari hadas <strong>[4]</strong>.</p>
<p>2. Mengusap <em>khuff</em> berlaku untuk bersuci dari hadas kecil saja <strong>[5]</strong>.</p>
<p>3. Jangka waktu; bermukim (1 hari 1 malam) dan musafir (3 hari 3 malam) <strong>[6]</strong>.</p>
<p>4. <em>Khuff</em> suci dari najis <strong>[7]</strong>.</p>
<p>5. <em>Khuff</em> harus menutupi bagian yang dibasuh <strong>[8]</strong>.</p>
<p>6. <em>Khuff</em> harus yang halal untuk dikenakan (bukan hasil curian/berbahan sutera) <strong>[9]</strong>.</p>
<p>7. Tidak melepas <em>khuff</em> sebelum berakhir jangka waktunya <strong>[10]</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hal-hal yang membatalkan mengusap <em>khuff</em></strong></span></h2>
<p>Tiga hal yang dapat membatalkan sahnya mengusap <em>khuff</em> <strong>[11]</strong>, yaitu:</p>
<p>1. Berhadas besar yang mengharuskan mandi <strong>[12]</strong>.</p>
<p>2. Melepas <em>khuff</em>, maka batal wudunya <strong>[13]</strong>.</p>
<p>3. Masa berlaku mengusap <em>khuff</em> telah berakhir <strong>[14]</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Cara mengusap k<em>huff, k</em>aos kaki, dan penutup kepala</strong></span></h2>
<p>Mengusap kedua <em>khuff</em> dilakukan dengan mengusap bagian atasnya dengan meletakkan tangan kanan di atas <em>khuff</em> sebelah kanan dan tangan kiri di atas <em>khuff</em> sebelah kiri. Kemudian mengusap bagian atas keduanya dengan sekali usapan <strong>[15]</strong>.</p>
<p>Adapun cara mengusap kaos kaki sama persis seperti mengusap kedua <em>khuff</em> <strong>[16]</strong>. Sedangkan mengusap bagian atas sorban dan penutup kepala wanita (kerudung) dilakukan dengan mengusap bagian ubun-ubun dan menyempurnakannya dengan mengusap bagian atas sorban dan kerudung <strong>[17]</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Mengusap perban</strong></span></h2>
<p><em>Syaikh</em> al-‘Allamah bin Bazz <em>rahimahullah</em> mengungkapkan bahwa mengusap bagian atas perban adalah disyariatkan karena mengusap kedua <em>khuff</em> pada hakikatnya adalah <em>rukhsah</em> dari Allah yang semestinya kita manfaatkan sehingga mengusap bagian atas perban menjadi hal yang lebih utama. Begitu pula sebab kedaruratannya tidak ada batasan waktu yang ditetapkan dalam masalah mengusap perban tersebut <strong>[18]</strong>.</p>
<p>Perlu kita ketahui pula bahwa antara mengusap perban dan mengusap <em>khuff</em> terdapat perbedaan yang mesti dipahami <strong>[19]</strong>, yaitu:</p>
<p>1. Boleh mengusap bagian atas perban saja, apabila berbahaya jika membukanya. Sedangkan <em>khuff</em> kebalikannya.</p>
<p>2. Diharuskan memperluas usapan bagi perban. Sedangkan <em>khuff</em> boleh diusap sebagian saja.</p>
<p>3. Pengusapan perban tidak dengan batasan waktu. Sedangkan mengusap <em>khuff</em> dengan waktu tertentu.</p>
<p>4. Diperbolehkan mengusap perban pada saat hadas kecil dan besar. Sedangkan <em>khuff</em> hanya pada saat hadas kecil saja.</p>
<p>5. Tidak disyaratkan bersuci sebelum menutup perban. Adapun <em>khuff</em> kebalikannya.</p>
<p>6. Perban tidak dikhususkan pada anggota badan tertentu, sedangkan <em>khuff</em> khusus untuk kaki saja.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/53837-masalah-masalah-fikih-yang-berkaitan-erat-dengan-akidah-ahlus-sunnah.html" data-darkreader-inline-color="">Masalah-Masalah Fikih yang Berkaitan Erat dengan Akidah Ahlus-Sunnah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Mengusap bagian yang terluka</strong></span></h2>
<p>Apabila terdapat luka pada tubuh yang menjadi bagian yang harus dibersihkan dengan berwudu, maka perlu dipahami ketentuan syariat yang memandu tatacara bersuci dengan kondisi tersebut <strong>[20]</strong>, yaitu:</p>
<p>1. Apabila bagian yang luka tidak berbahaya jika dibasuh, maka bagian tersebut mesti dibasuh.</p>
<p>2. Apabila bagian yang terluka itu berbahaya jika dibasuh, namun tidak berbahaya apabila diusap, maka bagian luka tersebut wajib diusap.</p>
<p>3. Apabila bagian yang luka itu berbahaya jika dibasuh dan diusap, maka diperbolehkan baginya bertayamum atau hendaklah dia perban bagian yang luka tersebut kemudian mengusap perbannya.</p>
<p>4. Apabila bagian yang luka tertutup oleh perban, gips, atau pelekat maka cukup baginya mengusap bagian yang tertutup itu dan tidak perlu dibasuh dengan air.</p>
<p>Sekian artikel dari kami, semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23599-mengusap-peci-dan-kerudung-ketika-berwudhu-bolehkah.html" data-darkreader-inline-color="">Mengusap Peci dan Kerudung Ketika Berwudhu, Bolehkah?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21315-penganut-syiah-tidak-membasuh-kaki-ketika-wudhu.html" data-darkreader-inline-color="">Penganut Syi’ah Tidak Membasuh Kaki Ketika Wudhu</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Bersambung insyaallah]</strong></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/fauzanhidayat" data-darkreader-inline-color="">Fauzan Hidayat</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></a></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
<p><strong>[1]</strong> Lihat Kitab Al Mughrib fii Tartiibil Mu’rob, 2/266.</p>
<p><strong>[2]</strong> Lihat Kitab asy-Syarhul Mumti ‘alaa Zaadil Mustaqni’ (I/183), dan Kitab Fathul-Baari (I/306)</p>
<p><strong>[3]</strong> Lihat Kitab “Sholatul Mu’min” (71/621)</p>
<p><strong>[4]</strong> Lihat Kitab “al-Wudhu” Bab “Idza Adkhala Rijlaihi wa Huma Thaahiraini” no. 206.</p>
<p><strong>[5]</strong> Lihat Kitab <em>Fataawa al-Mashu ‘alal Khuffain </em>Karya Ibnu ‘Utsaimin hlm 8.</p>
<p><strong>[6]</strong> Lihat Kitab “<em>al-Mughniy</em>” (I/369) Karya Ibnu Qudamah.</p>
<p><strong>[7]</strong> Lihat Kitab <em>Fataawaa al-Islamiyyah </em>(I/235)</p>
<p><strong>[8]</strong> Lihat Kitab <em>Syarhul Umdah fii Fiqh </em>Karya Ibnu Taimiyah hlm 250.</p>
<p><strong>[9]</strong> Lihat Kitab <em>Syarhul Mumti’ </em>(I/189)</p>
<p><strong>[10]</strong> Lihat Kitab “<em>al-Mughniy</em>” (I/367) Karya Ibnu Qudamah.</p>
<p><strong>[11]</strong> Lihat Kitab “Sholatul Mu’min” (74/621)</p>
<p><strong>[12]</strong> Lihat Kitab “al-Kabir” no. 7351 Karya at-Thabrani</p>
<p><strong>[13]</strong> Lihat Kitab “<em>al-Mughniy</em>” (I/367) Karya Ibnu Qudamah.</p>
<p><strong>[14]</strong> Lihat Kitab at-Thaharah hlm 257 karya Ibnu Taimiyyah.</p>
<p><strong>[15]</strong> Lihat Kitab “<em>al-Mughniy</em>” (I/377) Karya Ibnu Qudamah.</p>
<p><strong>[16]</strong> Lihat Kitab “at-Thaharah” Bab “al-Mashu ‘alal Jaurabaini” no. 159 Karya Abu Dawud.</p>
<p><strong>[17]</strong> Lihat Kitab “Bulughul Maraam”, hadits 145-147.</p>
<p><strong>[18]</strong> <em>Ibid</em></p>
<p><strong>[19]</strong> Lihat Kitab “Sholatul Mu’min” (77/621)</p>
<p><strong>[20]</strong> Lihat Kitab “Fataawaa alal Khuffain” karya Ibnu ‘Utsaimin, hlm 25.</p>
 