
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu tujuan penting dalam menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan, baik kebodohan yang ada pada diri sendiri maupun yang ada pada orang  lain. Bahkan hal ini menunjukkan benarnya niat seseorang dalam menuntut ilmu.</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Manusia Diciptakan dalam Keadaan Bodoh</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketahuilah, manusia diciptakan dalam keadaan bodoh, tidak mengenal dan tidak tahu apa-apa. Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberi nasihat bahwa hendaknya niat dalam menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada diri sendiri maupun orang lain Hal ini karena pada asalnya manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.</span></i><span style="font-weight: 400;">” </span><span style="font-weight: 400;"> <strong>(An Nahl : 78)</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, selanjutnya Allah menyebutkan tiga nikmat secara khusus yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati karena kemuliaan dan keutamaanya. Ketiga hal ini merupakan kunci bagi setiap ilmu. Seorang hamba tidak akan memeperoleh ilmu kecuali melalui salah satu pintu ini. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Taisiir Al Kariimi Ar Rahman Surat Luqman</i>)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51513-keutamaan-belajar-ilmu-agama-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Belajar Ilmu Agama (Bag. 1)</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kebodohan Adalah Penyakit</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qayyim Al Jauziyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan di dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Nuniyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>والجهل داء قاتل وشفاؤه</b></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b> أمران في التركيب</b><b> متفقان</b></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b style="text-align: center;">نص من القرآن أو من سنة</b></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b> وطبيب ذاك العالم الرباني</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">” </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan kebodohan itu adalah penyakit yang mematikan. Obatnya adalah dua perkara yang disepakati yaitu nash dari Al Quran atau dari As Sunnah. Dan dokternya adalah seorang alim yang rabbani.</span></i><span style="font-weight: 400;">“</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penyakit kebodohan hanya akan bisa sembuh dengan belajar menuntut ilmu. Ilmulah yang akan menghilangkan kebodohan sehingga seseorang akan berada di atas jalan yang benar dan dijauhkan dari jalan yang menyimpang. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51406-berilmu-tapi-tidak-perhatian-terhadap-amal.html" data-darkreader-inline-color="">Berilmu Tapi Tidak Perhatian Terhadap Amal</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Menghilangkan Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelakan bahwa hendaknya penuntut ilmu meniatkan untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya, sehingga bisa mendapatkan rasa </span><i><span style="font-weight: 400;">khasyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> kepada Allah :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama</span></i><span style="font-weight: 400;"> “<strong> (QS. Fathir:28)</strong></span><strong> </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para penunutut ilmu hendaknya berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dalam hati pribadinya. Jika seseorang belajar dan menjadi ahli ilmu maka hilanglah kebodohan dari dirinya. Demikian pula, hendaknya dia berniat untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada umat ini dengan mengajarkan ilmu. Hendaknya dia menggunakan sarana apapun agar manusia dapat mengambil manfaat dari ilmunya.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bukti Benarnya Niat Menuntut Ilmu</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan. Imam Ahmad bin Hanbal </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>العِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amal apa pun bagi orang yang benar niatnya.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada yang bertanya, “Bagaimana niat yang benar itu?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau menjawab:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَنْوِي رَفْعَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ غَيْرِهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Seorang meniatkan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika mengomentari ucapan Imam Ahmad diatas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, ”Karena mereka itu pada dasarnya bodoh sebagaimana dirimu yang juga bodoh. Jika Engkau belajar dengan tujuan menghilangkan kebodohan dari umat ini maka Engkau termasuk ke dalam golongan orang yang senantiasa berjihad di jalan Allah dalam rangka menyebarkan agama-Nya.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan menghilangkan kebodohan yang ada pada setiap diri kita. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51348-waspada-oknum-tak-berilmu-di-youtube.html" data-darkreader-inline-color="">Waspada Oknum “Ustaz/Khatib” Tak Berilmu di Youtube</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51252-tahapan-mempelajari-ilmu-tauhid-1.html" data-darkreader-inline-color="">Tahap-Tahap dalam Mempelajari Ilmu Tauhid</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penyusun :<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/adika" data-darkreader-inline-color=""> Adika Mianoki</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Referensi utama : </span><i><span style="font-weight: 400;">Kitaabul ‘Ilmi</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syiakh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i></p>
 