
<h2>Mengisi Bulan Ramadhan</h2>
<p>Sebentar lagi bulan Ramadhan yang kita  cintai akan tiba. Setiap muslim menyambut kedatangannya dengan penuh  gembira. Bagaimana tidak? Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh  kebaikan dan keberkahan. bulan Ramadhan adalah bulan di mana Alquran  diturunkan. Di bulan itu setan-setan dibelenggu, pintu neraka ditutup  dan pintu surga dibuka. Di bulan itu terdapat malam malam yang lebih  baik daripada seribu bulan, itulah malam Lailatul Qadr, di mana  beribadah pada malam itu seperti beribadah selama seribu bulan. Di bulan  itu ada doa mustajab bagi setiap muslim, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُوْ بِهَا فِي رَمَضَانَ</p>
<p>“Setiap muslim memiliki doa mustajab yang dilakukannya di bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad dengan sanad yang jayyid)</p>
<p><strong>Beberapa persiapan dan amalan menghadapi bulan Ramadhan </strong></p>
<p>¤ Bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala karena telah disampaikan ke bulan Ramadhan.</p>
<p>¤ Meminta kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> agar dimudahkan dalam mengerjakan amalan yang wajib dan amalan yang  sunat di bulan itu serta meminta kepada-Nya agar diterima amalan itu.</p>
<p>¤ Bertobat dari segala dosa dan maksiat.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">تُغْلَقُ  أَبْوَابُ النَّارِ وَتُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَتُصَفَّدُ فِيْهِ  الشَّيَاطِيْنُ ، قَالَ : وَيُنَادِيْ فِيْهِ مَلَكٌ : يَا باَغِي  الْخَيْرِ أَبْشِرْ ، وَيَا بَاغِي الشَّرِّ أَقْصِرْ ، حَتَّى يَنْقَضِيَ  رَمَضَانُ</p>
<p>“Pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka dan setan-setan dibelenggu dan di bulan itu ada malaikat yang menyeru, <em>“Wahai yang menginginkan kebaikan bergembiralah.</em> <em>Wahai yang menginginkan keburukan berhentilah,” </em>hingga bulan Ramadhan selesai.” (HR. Ahmad dan Nasa’i, sanadnya jayyid)</p>
<p>¤ Mempraktekkan adab-adab puasa dan memperbanyak amal saleh, seperti:</p>
<p><strong>1. Makan sahur, dan mengakhirkannya.</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ</p>
<p>“Makan sahurlah, karena dalam sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>‘Amr bin Maimun berkata, “Para sahabat Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling segera dalam berbuka dan paling lambat dalam makan sahur.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih)</p>
<p>Habis  waktu makan sahur adalah dengan terbitnya fajar shadiq (lihat surat Al  Baqarah: 187), tidak dengan tibanya waktu yang biasa disebut “Imsak”,  ini adalah diada-adakan dan bertentangan dengan syari’at</p>
<p>2. Menjaga diri dari perbuatan sia-sia dan berkata kotor, berkata dusta, bersikap bodoh dan berkata keras. Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">وَالصِّيَامُ  جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا  يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ  صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ  أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ  يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ  بِصَوْمِهِ</p>
<p>“Puasa adalah perisai[1], maka jika kamu sedang  berpuasa, janganlah berkata kotor dan berteriak-teriak. Jika ada yang  memaki atau mengajak bertengkar katakanlah, “Saya sedang puasa.” Demi  Allah yang nyawa Muhammad di Tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang  berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wangi kesturi. Bagi orang  yang berpuasa ada dua kegembiraan; kegembiraan ketika berbuka dan ketika  bertemu Tuhannya dengan puasanya itu.” (HR. Bukhari)</p>
<p>3. Bersikap dermawan. Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata:</p>
<p class="arab">كَانَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ  وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ  وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ  الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ *</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling dermawan. Beliau sangat dermawan sekali di  bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya di  setiap malam bulan Ramadhan lalu bertasarus Alquran dengan Beliau.  Sungguh, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sangat dermawan terhadap kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)</p>
<p>4.  Shalat Tarawih.  Shalat tarawih lebih utama dilakukan bersama imam  hingga selesai, karena akan dicatat untuknya seperti shalat semalam  suntuk. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ</p>
<p>“Sesungguhnya  orang yang melakukan qiyamul lail bersama imam hingga selesai, maka  akan dicatat untuknya qiyamul lail semalam suntuk.” (HR. Tirmidzi,  Nasa’i dan Ibnu Majah, serta dishahihkan oleh pentahqiq Jaami’ul Ushuul  6/121)</p>
<p>5. Memperbanyak membaca Alquran, berdzikr, beristighfar dan berdoa.</p>
<p>6. Menyegerakan berbuka.</p>
<p>7. Berbuka dengan kurma berjumlah ganjil, jika tidak ada dengan air. Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata:</p>
<p class="arab">كَانَ  رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُفْطِرُ عَلَى رَطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ  يُصَلِّيَ ، فَإِنْ لمَ ْتَكُنْ فَعَلَى تمَرََاتٍ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ ،  حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ</p>
<p>“Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berbuka dengan kurma basah sebelum shalat. Jika tidak ada, maka Beliau  berbuka dengan kurma kering. Jika tidak ada juga, maka Beliau berbuka  dengan meneguk beberapa tegukan air.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan  oleh Hakim dan dihasankan oleh Tirmidzi)</p>
<p>8. Berdoa ketika berbuka seperti dengan doa berikut:</p>
<p class="arab">ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ اْبتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَ جْرُ اِنْ شَاء َاللهُ</p>
<p>“Telah  hilang rasa haus, telah basah tenggorokan dan semoga pahala tetap  didapat Insya Allah.” (HR. Abu Dawud 2/306 dan lain-lain, Shahihul Jami’  4/209)</p>
<p>Doa ini dibaca setelah berbuka, jangan lupa ketika hendak  makan membaca “Bismillah”, jika lupa ucaplah “Bismillah fii awwalihi wa  aakhirih” (Sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi) dan  makanlah dengan tangan kanan.</p>
<p>Jika kita berbuka di rumah orang lain dianjurkan mengucapkan,</p>
<p class="arab">أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ</p>
<p>“Orang-orang  yang berpuasa berbuka di dekatmu dan orang-orang yang baik makan  makananmu, serta semoga malaikat mendoakan rahmat untukmu.” (HR. Abu  Dawud, Ibnu Majah dan An-Nasa’i dalam <em>‘Amalul Yaum wal Lailah</em>, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)</p>
<p>9.  Beri’tikaf. I’tikaf lebih utama dilakukan pada sepuluh hari terakhir  bulan Ramadhan. Ia pun hendaknya mencari malam lailatul qadr dalam  I’tikafnya di malam-malam yang ganjil[2]. Hendaknya orang yang  beri’tikaf memanfa’atkan waktunya yang ada dengan sebaik-baiknya seperti  memperbanyak dzikr, membaca Alquran, mengerjakan shalat-shalat sunnah  dan amalan sunat lainnya serta memperbanyak tafakkur tentang keadaannya  yang telah lalu, hari ini dan yang akan datang serta merenungi hakikat  hidup di dunia dan kehidupan di akhirat kelak. Ia pun hendaknya  menghindari perbuatan yang sia-sia seperti banyak bercanda, ngobrol dsb.  Dan tidak mengapa bagi orang yang beri’tikaf keluar dari masjid jika  terpaksa harus keluar (seperti buang air, makan dan minum jika tidak ada  yang mengantarkan makan untuknya, pergi berobat, mandi dsb.) Aisyah  berkata, “Sunnahnya bagi yang beri’tikaf adalah tidak menjenguk orang  yang sakit, tidak menyentuh isteri, memeluknya, tidak keluar kecuali  jika diperlukan, dan i’tikaf hanya bisa dilakukan dalam keadaan puasa,  juga tidak dilakukan kecuali di masjid jaami’ (Masjid yang di sana  dilakukan shalat  Jum’at dan jama’ah).”</p>
<p>lebih sempurna lagi bila  dilakukan di salah satu dari tiga masjid yang memiliki keistimewaan  dibanding masjid-masjid yang lain (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan  Masjidil Aqsha).</p>
<p>I’tikaf menjadi batal jika seseorang keluar dari masjid tanpa suatu keperluan serta melakukan jima’.</p>
<p>Doa ketika mengetahui lailatul qadr adalah,</p>
<p class="arab">اَللّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ</p>
<p>“Ya  Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, maka maafkanlah aku.” (HR. Imam  Ahmad dan Penyusun Kitab Sunan, kecuali Abu Dawud. At-Tirmidzi, ia  berkata, “Hadits hasan shahih.”)</p>
<p>Waktu I’tikaf dimulai dari  setelah shalat Subuh hari pertama dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan  dan berakhir sampai matahari tenggelam akhir bulan Ramadhan.</p>
<p>10. Berumrah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ عَمْرَةً أَوْ حَجَّةً مَعِيْ</p>
<p>“Berumrah di bulan Ramadhan seperti berumrah atau berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Mengisi  hari-hari dengan amal shalih, seperti berbakti kepada orang tua,  menyambung tali silaturrahim, mendidik anak, menjenguk orang yang sakit,  melakukan amar ma’ruf-nahi munkar, mendamaikan orang yang bertengkar,  menjaga lisan dan pandangan serta anggota badan lainnya agar tidak  terjatuh ke dalam yang haram dan mengerjakan amal shalih lainnya.</p>
<p><strong>Keutamaan Memberi Makan Orang yang Berbuka</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئاً</p>
<p>“Barang  siapa yang memberi makan untuk berbuka orang yang berpuasa, maka ia  akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa  dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Shahihul Jaami’ 6415)</p>
<p>Oleh: Marwan bin Musa</p>
<p><strong>Artikel www.PengusahaMuslim.com</strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong> Ramadhan fadhaa’il wa taujiihaat (Syaikh M. Ibrahim Al Hamd), Fiqhus  Sunnah, Bughyatul mutathawwi’ (M. bin Umar Bazmuul), Riyaadhus Shaalihin  (Imam Nawawi), Taubah fii Ramadhaan (Ibrahim Al Manshur) dll.</p>
<div>
<hr size="1">
<div>
<p>[1] Yakni penghalangnya dari maksiat dan syahwat serta penghalangnya dari neraka.</p>
</div>
<div>
<p>[2]  Lailatul qadr tidak terjadi pada malam tertentu secara khusus dalam  setiap tahunnya, namun berubah-rubah, mungkin pada tahun sekarang malam  ke 27, pada tahun depan malam ke 29 dsb. sangat diharapkan terjadi pada  malam ke 27. Mungkin hikmah mengapa malam Lailatul qadr disembunyikan  oleh Allah Ta’ala adalah agar diketahui siapa yang sungguh-sungguh  beribadah dan yang bermalas-malasan. Lailatul qadr adalah malam  dibukanya seluruh pintu kebaikan, didengarkannya permohonan dan  dijawabnya doa, amal kebaikan pada malam itu ditulis dengan pahala yang  sebesar-besarnya, ia adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan.  Tanda-tandanya adalah bahwa ia terjadi di 10 terakhir bulan Ramadhan di  malam ganjilnya, malam harinya sedang (tidak terlalu panas dan tidak  terlalu dingin) dan terbitnya matahari di pagi hari melemah  kemerah-merahan (sebagaimana dalam hadits riwayat Thayaalisiy, Ibnu  Khuzaimah, Al Bazzar dan sanadnya hasan).</p>
<blockquote>
<p>PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting, <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id" target="_blank"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.<br>Anda juga dapat menjadi sponsor, silakan hubungi: marketing@yufid.org / Telp: 081326333328</p>
</blockquote>
</div>
</div>
 