
<p>Di antara adab berdoa yang diajarkan dalam hadits kali ini adalah, sanjung Allah lebih dahulu, lalu berdoa.</p>
<p> </p>
<h4>Kitab Al-Adzkar Riyadhus Sholihin, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir</h4>
<p><strong>(Hadits no. 1414) </strong>Dari Sa’ad bin Abi Waqqash <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, ada seorang Arab Badui menghadap Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lantas berkata, “Ajarkanlah padaku suatu kalimat yang aku bisa mengucapkannya.” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">(( قُلْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، اللهُ أكْبَرُ كَبِيراً ، وَالحَمْدُ للهِ كَثيراً ، وَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَالِمينَ ، وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَزِيزِ الحَكِيمِ )) قَالَ : فهؤُلاءِ لِرَبِّي ، فَمَا لِي ؟ قَالَ : (( قُلْ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي ، وَارْزُقْنِي ))</p>
<p>“Ucapkanlah: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, ALLAHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIROO, WA SUBHANALLAHI ROBBIL ‘ALAMIN, WA LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘AZIZIL HAKIM (Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah yang banyak, Maha Suci Allah Rabb semesta alam, serta tidak ada daya dan upaya kecuali bersama Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).”</p>
<p>Orang Arab Badui itu berkata, “Itu semua untuk Rabbku, lalu manakah untukku?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: ALLAHUMMAGHFIR LII WARHAMNII WAHDINII WARZUQNII (Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku hidayah).” (HR. Muslim, no. 2696)</p>
<p> </p>
<h4>Penjelasan<strong>:</strong>
</h4>
<p>1- Hadits ini menunjukkan perintah untuk berdzikir dengan menyebut bacaan <em>tahlil</em> (Laa ilaha illallah), <em>takbir</em> (Allahu akbar), <em>tahmid</em> (Alhamdulillah), dan <em>tasbih</em> (Subhanallah).</p>
<p>2- Disunnahkan untuk berdzikir dan menyanjung Allah sebelum doa. Karena Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan Arab Badui tersebut sanjungan pada Allah dahulu sebelum doa. Ini yang disebut <em>at-takhliyyah qabla at-tahliyyah</em>, membersihkan dahulu sebelum menghiasi dan mengisi.</p>
<p>3- Hendaknya setiap hamba semangat untuk mempelajari hal yang bermanfaat baginya untuk dunia dan akhiratnya.</p>
<p>4- Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> begitu penyayang pada umatnya karena mengajarkan hal yang manfaat dan kebaikan bagi mereka.</p>
<p>5- Arti <em>laa hawla wa laa quwwata illa billah</em>, sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, “<em>Laa hawla</em> berarti tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindungan Allah. Wa laa quwwata berarti tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.” (<em>Syarh Shahih Muslim</em>, 17:26-27)</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<ol>
<li>
<em>Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj</em>. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibni Hazm.</li>
<li>
<em>Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin</em>. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:448.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan <a href="https://darushsholihin.com/">@ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul</a>, 16 Dzulhijjah 1438 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
 