
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Al-Mughirah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنِّي سَمِعْتُهُ يَقُولُ عِنْدَ انْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلاَةِ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، قَالَ: وَكَانَ يَنْهَى عَنْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةِ المَالِ، وَمَنْعٍ وَهَاتِ، وَعُقُوقِ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدِ البَنَاتِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya aku pernah mendengar beliau selalu mengucapkan doa selesai shalat, yaitu;</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">LAA ILAAHA ILLALLAAH, WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia maha berkuasa atas segala sesuatu)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46935-awas-hoaks-bersikap-hati-hati-dalam-menyebarkan-share-berita.html" data-darkreader-inline-color="">Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau mengucapkannya hingga tiga kali. </span><b>Dan beliau juga melarang </b><b><i>“qiila wa qaala”</i></b><b>;</b><span style="font-weight: 400;"> banyak bertanya </span><b>[1]; </b><span style="font-weight: 400;">menghambur-hamburkan harta </span><b>[2]</b><span style="font-weight: 400;">; tidak mau melaksanakan kewajiban; meminta sesuatu yang bukan haknya; mendurhakai ibu; dan mengubur hidup-hidup anak perempuan.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6473)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat beberapa penjelasan tentang makna </span><i><span style="font-weight: 400;">“qiila wa qaala”, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu </span><b>[3]</b><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">mengutip atau menyebar semua berita yang dia dengar, dia mengatakan, “Katanya demikian sih” atau “Si fulan mengatakan ini” atau “<em>Denger-denger</em> kabarnya begitu”. Padahal dia tidak mengetahui apakah itu informasi (berita) yang valid ataukah tidak. Dan dia sendiri tidak bisa (atau belum bisa) memastikan apakah berita itu berita yang valid ataukah tidak. Orang semacam ini disebut sebagai pendusta oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” </span><b>(HR. Muslim dalam </b><b><i>Muqaddimah Shahih Muslim </i></b><b>no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam </b><b><i>Sunan Al-Kubra </i></b><b>no. 11845)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44200-jangan-sembarang-share-berita-dan-wacana-yang-membuat-resah.html" data-darkreader-inline-color="">Jangan Sembarang Share Berita Dan Wacana Yang Membuat Resah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Model pertama ini misalnya sibuk dengan berita gosip, desas-desus, atau hoax yang tidak benar. Apalagi jika berita gosip itu berkaitan dengan kehormatan ustadz, ulama, atau pemimpin (pemerintah) kaum muslimin. Tentu lebih parah lagi bahaya yang bisa ditimbulkannya.</span></p>
<p><b>Kedua, </b><span style="font-weight: 400;">seseorang menyibukkan diri dan menghabiskan waktunya dengan membahas dan mengutip berita. Sebagaimana yang kita jumpai saat ini, yaitu orang-orang yang mengisi majelis mereka dengan sibuk mencermati, mengutip, dan mengomentari berita yang memang benar (valid). Sibuk harus merasa tahu semua berita yang viral hari ini, entah di media online atau media sosial, padahal berita benar itu tidak ada manfaat dan kepentingannya untuk dirinya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara model pengertian kedua ini adalah sibuk mencari berita tentang kehidupan artis, entah si artis menikah (lagi), atau bercerai, atau belanja, atau sedang wisata ke suatu tempat, atau sedang ke salon, dan seterusnya, yang tidak ada manfaatnya kita mengetahui seluk beluk dan detil kehidupan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika orang awam sibuk membicarakan artis, bisa jadi kalangan penuntut ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">(thalibul ‘ilmi) </span></i><span style="font-weight: 400;">sibuk membicarakan ustadznya. Entah sang ustadz yang menikah (lagi), entah sang ustadz beli barang baru, dan kabar-kabar pribadi lainnya yang tidak ada manfaatnya kita menghabiskan waktu untuk membahas dan membicarakan kehidupan pribadi beliau dan keluarganya. Oleh karena itu, kita tidak perlu merasa selalu ingin tahu tentang kehidupan pribadi seseorang jika tidak ada kaitannya dengan suatu kewajiban yang harus kita kerjakan sebagai sesama kaum muslimin. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/31810-petunjuk-syariat-dalam-menerima-dan-menyebar-share-berita.html" data-darkreader-inline-color="">Petunjuk Syariat dalam Menerima dan Menyebar (Share) Berita</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24147-bolehkah-memberitahukan-amal-shalih-kepada-orang-lain.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Memberitahukan Amal Shalih kepada Orang Lain?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kampus FK, 19 Dzulhijjah 1440/20 Agustus 2019</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Bisa dimaknai dua pengertian: (1) banyak bertanya yang tidak ada manfaatnya (misalnya, dengan niat untuk menjatuhkan orang yang ditanya); atau (2) meminta harta orang lain.</span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Membelanjakan harta yang tidak ada manfaatnya dari sisi agama ataupun dari sisi duniawi, serta tidak menjaga harta dengan baik, padahal memungkinkan baginya untuk menjaganya.</span></p>
<p><b>[3] </b><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Riyadhus Shalihin, </span></i><span style="font-weight: 400;">1: 393 dan 1: 2135 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah.</span></i></p>
 