
<p><em>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id/44061-menyoal-konsekuensi-penerjemahan-istiwa-bag-1.html">Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.1)</a></span></em></p>
<ol start="2">
<li><b> Makna “ استوى على ” dalam bahasa Arab</b></li>
</ol>
<p>Lafazh <i>istawa ‘ala</i> (اِسْتَوَى عَلَى) secara bahasa Arab tidak mungkin dipahami kecuali bermakna عَلاَ  artinya: “ <i>tinggi</i> <i>di atas</i> ”,</p>
<p>oleh karena itu dalam tafsiran Salafush Sholeh terhadap lafadz ini, tidaklah keluar dari 4 makna :</p>
<ol>
<li>عَلاَ (tinggi di atas)</li>
<li>ارْتَفَعَ (tinggi di atas)</li>
<li>صَعِدَ (tinggi di atas)</li>
<li>استقرّ ,yaitu tetap (tidak beralih dari keadaannya)</li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/56-sifat-istiwa-allah-di-atas-arsy.html">Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy</a></span></p>
<p>Dan cara memaknai yang tepat adalah dengan membawakan kepada gabungan empat makna tersebut di atas, terkait dengan hal ini, Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh <i>hafizhahullah </i>berkata dalam <i>Syarhul Aqidah Al-Wasithiyyah </i>:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">كل هذه تجتمع في معنى الاستواء ليست تفسر الواحدة بالواحدة ، هو علا جل وعلا وارتفع وصعد واستقر ، كلها صحيحة ، جميعا توضح المعنى المراد</span></p>
<p><i>“Seluruh tafsiran Istiwa` ini, </i><b><i>bukanlah berarti satu persatu menafsirkannya sendiri-sendiri</i></b><i> secara terpisah ,akan tetapi (yang tepat dikatakan bahwa) Allah Jalla wa ‘Ala :</i></p>
<p><i>‘ala (tinggi di atas),irtafa’a (tinggi di atas), sha’ida (tinggi di atas) dan istaqarra (tetap tinggi di atas), semua makna ini benar, </i><b><i>dan semuanya menjelaskan makna istiwa` “.</i></b></p>
<p>Dengan demikian, jika digabungkan seluruh makna tadi, maka tafsir bahwa  <i>Allah </i>“استوى على العرش ” <i> </i>adalah <b><i>Allah tinggi di atas ‘Arsy dan tetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.</i></b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/33079-arsy-adalah-makhluk-allah-yang-terbesar-paling-tinggi-dan-yang-pertama-kali-allah-ciptakan.html">‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah Ciptakan</a></span></p>
<p><b>Catatan penting :</b></p>
<ol>
<li>Dalam kamus bahasa Arab, makna ارتفع  dan صَعِدَ – pada sebagian makna-maknanya- kedua kata tersebut bisa bermakna علا ,</li>
</ol>
<p>sehingga jika kedua kata tersebut diterjemahkan, maka menjadi : <i>tinggi di atas</i>.</p>
<p>Oleh karena itu, seorang pakar bahasa Arab, Ibnu Faris <i>rahimahullah</i>, dalam kitab terkenalnya : <i>Maqayisul Lughah, </i>mengatakan :</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">( صعد ) الصاد والعين والدال أصل صحيح يدل على ارتفاع ومشقة</span></p>
<p>“Sha’ida (shad,’ain, dal) adalah kata asal <i>shahih</i>, yang <b>menunjukkan makna tinggi di atas dan kesulitan (kondisi berat).”</b></p>
<p>Dalam kitab kamus Lisanul ‘Arab, Ibnu mandzur <i>rahimahullah</i> mengartikan kata “<i>irtafa’a</i>” dengan tinggi di atas :</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">ويقال : ارتفع الشيء ارتفاعا بنفسه إذا علا</span></p>
<p>“Disebutkan (suatu contoh dalam bahasa Arab): “<i>Sesuatu itu irtafa’a dengan sendirinya</i>”, maknanya jika sesuatu tersebut <i>tinggi berada di atas”</i></p>
<p>Hal ini sesuai dengan penjelasan  Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin<i> rahimahullah</i> dalam kitab Syarh Aqidah Wasithiyyah, bahwa <i>‘ala, irtafa’a, </i>dan <i>sha’ida, </i>ketiga-tiganya bermakna sama, yaitu : “<i>tinggi di atas</i>”, beliau berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وأهل السنة والجماعة يؤمنون بأن الله تعالى مستو على عرشه استواء يليق بجلاله ولا يماثل استواء المخلوقين.</span><br><span style="font-size: 18pt;">فإن سألت: ما معنى الاستواء عندهم؟ فمعناه العلو والاستقرار.</span><br><span style="font-size: 18pt;">وقد ورد عن السلف في تفسيره أربعة معاني: الأول: علا، والثاني: ارتفع، والثالث: صعد. والرابع: استقر.</span><br><span style="font-size: 18pt;">لكن (علا) و: (ارتفع) و: (صعد) معناها واحد، وأما (استقر)، فهو يختلف عنها</span></p>
<p>“Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman bahwa Allah <i>Ta’ala</i> di atas ‘arsy-Nya (al-istiwa’), dan istiwa’-Nya sesuai dengan Kemahaagungan-Nya, tidak bisa disamakan dengan istiwa’nya makhluk.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27025-bagaimana-akal-menunjukan-keberadaan-allah-taala-2.html">Bagaimana Akal Menunjukan Keberadaan Allah Ta’ala?</a> </span></p>
<p>Jika anda ditanya: “Apa makna istiwa’ menurut Ahlus Sunnah wal Jaama’ah?”, maka maknanya adalah tinggi di atas dan tetap tinggi di atas (‘arsy).</p>
<p>Dan terdapat penjelasan dari para Salafush Sholeh tentang tafsir istiwa’, yaitu ada empat makna:  عَلاَ (tinggi di atas), ارْتَفَعَ (tinggi di atas), صَعِدَ (tinggi di atas), استقر (tetap di atas).</p>
<p>Akan tetapi <i>‘ala, irtafa’a, sha’ida,</i> maknanya satu (sama), adapun <i>istaqarra </i>maknanya berbeda dengan yang lainnya (makna konsekuensi -pent.).”</p>
<ol start="2">
<li>Ketika seurang ulama Salaf menafsirkan <i>istawa ‘ala</i> (اِسْتَوَى عَلَى) dengan salah satu dari empat makna di atas, bukan berarti menafikan/menolak makna yang lain yang tidak mereka sebutkan diantara keempat makna tersebut.</li>
</ol>
<p>Dan yang tepat dalam memahami makna dari <i>istawa ‘ala</i> (اِسْتَوَى عَلَى) adalah membawakannya kepada keseluruhan dari empat makna tersebut (<b>makna gabungan</b>).</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/28375-akidah-imam-asy-syafii-mengenai-istiwa-allah.html">Akidah Imam Asy Syafi’i Mengenai Istiwa Allah</a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/18545-menjawab-beberapa-syubhat-seputar-sifat-istiwa.html">Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa</a></span></li>
</ul>
<p><b>(Bersambung, in sya Allah)</b></p>
<p> </p>
<p><strong>Penulis : <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah">Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</a></span></strong><br>Artikel. <a href="http://muslim.or.id"><span style="color: #ff0000;">Muslim.or.id</span></a></p>

<p> </p>
 