
<p><em>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id/44067-menyoal-konsekuensi-penerjemahan-istiwa-bag-3.html">Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.3)</a></span></em></p>
<ol start="3">
<li><b> Makna “bersemayam” dalam bahasa Indonesia.</b></li>
</ol>
<p>Dalam KBBI (Kamus Bahasa Besar Indonesia) kata tersebut diartikan :</p>
<p><b>semayam </b><i>/se·ma·yam/</i>, <b>bersemayam </b><i>/ber·se·ma·yam/</i> <i>v</i> <b>1 </b><i>hor</i> duduk: <i>baginda pun – di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang;</i> <b>2</b> <i>hor</i> berkediaman; tinggal:<i>Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja;</i> <b>3</b> <i>ki</i> tersimpan; terpatri (dl hati): <i>sudah lama cita-cita itu – dl hatinya; keyakinan yang – dl hati;</i></p>
<p><b>menyemayamkan </b><i>/me·nye·ma·yam·kan/</i> v <b>1</b> mendudukkan (di atas takhta, singgasana); <b>2 </b>membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka;<br>
<b>persemayaman </b><i>/per·se·ma·yam·an/</i> n <b>1</b> tempat duduk; <b>2</b> tempat kediaman.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44073-merasakan-bahagia-ketika-ber-khalwat-bersama-allah.html">Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama Allah</a></span></p>
<p>Dengan demikian, makna “<i>bersemayam</i>” -menurut KBBI- kembali kepada lima makna :</p>
<ol>
<li>Duduk.</li>
<li>Tinggal</li>
<li>Tersimpan</li>
<li>Menginap</li>
<li>Berbaring</li>
</ol>
<p> </p>
<ol start="4">
<li><b> Penerjemahan “استوى على العرش ” yang benar</b></li>
</ol>
<p>Dari penjelasan tentang makna “ استوى على ” dalam bahasa sumber (bahasa Arab) di artikel yang sebelumnya, dapat diambil ringkasan, bahwa :</p>
<p>Makna <b> </b><i>istawa ‘ala</i> (اِسْتَوَى عَلَى) adalah <b>gabungan</b> dari empat makna tersebut di atas,yaitu:</p>
<ol>
<li style="list-style-type: none;">
<ol>
<li>صَعِدَ (tinggi di atas)</li>
<li>عَلاَ (tinggi di atas)</li>
<li>ارْتَفَعَ (tinggi di atas)</li>
<li>استقرّ (tetap tinggi di atas)</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43060-turunnya-wahyu-pertama-kepada-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam.html">Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam</a></span></p>
<p>Sehingga tafsir bahwa Allah “استوى على العرش ” adalah <i>Allah tinggi di atas ‘Arsy dan tetap </i><i>tinggi di atas ‘Arsy-Nya.</i></p>
<p>Dengan demikian <b>terjemahan yang tepat </b> dari kalimat <i>istawa ‘ala</i> (اِسْتَوَى عَلَى) adalah <b>“</b><b><i>tinggi di atas” </i></b>atau<b><i> cukup diterjemahkan “di atas”</i></b>, karena kata-kata <i>“di atas”</i> telah menunjukkan makna tinggi, sedangkan disini, makna <b><i>istaqarra (tetap tinggi di atas)</i></b><b> tidak dimasukkan dalam terjemahan, karena itu adalah makna/tafsir konsekuensi.</b></p>
<p style="text-align: center;">Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh <i>hafizhahullah</i> berkata dalam <i>Syarhul Aqidah Al-Wasithiyyah </i>tentang makna/tafsir konsekuensi dari <i>istawa </i>:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">﴿اسْتَوَى﴾ هذه فسرها السلف بعدة تفسيرات قالوا:</span><br>
<span style="font-size: 21pt;">﴿اسْتَوَى﴾ علا ، ﴿اسْتَوَى﴾ استقر ، ﴿اسْتَوَى﴾ ارتفع ، ﴿اسْتَوَى﴾ صعد.</span><br>
<span style="font-size: 21pt;">علا ، ارتفع ، استقر ، صعد ، هذه التفاسير المنقولة عن السلف</span>.</p>
<p>“<b> {اسْتَوَى}, </b><i>ayat ini ditafsirkan oleh Salafush Shalih dengan beberapa tafsiran, mereka menafsirkan:</i></p>
<p>{اسْتَوَى} berarti <i>‘ala (tinggi di atas),</i>{اسْتَوَى} berarti <i>istaqarra (tetap tinggi di atas), </i>{اسْتَوَى} berarti <i>irtafa’a (tinggi di atas), </i>dan{اسْتَوَى} berarti <i>sha’ida (tinggi di atas).</i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/41309-allah-sangat-sayang-kepada-hamba-nya-melebihi-kasih-sayang-ibu.html">Allah Sangat Sayang kepada Hamba-Nya Melebihi Kasih Sayang Ibu</a></span></p>
<p><i>‘Ala, irtafa’a , istaqarra, </i>dan <i>sha’ida, </i>semua tafsiran ini dinukilkan dari Salafush Shalih”<i>.</i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">{اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} فسر باستقر …</span><br>
<span style="font-size: 21pt;">هو لازمها كما ذكرت ، تفسير باللازم ، يعني علا وارتفع ولم يزل على استوائه استقر على هذه الصفة ، استقر على العرش ، يعني هو جل وعلا استوى عليه ولم يتخل من استوائه عليه</span></p>
<p><b>“ </b><i>“Dia di atas ‘arsy” </i>ini ditafsirkan dengan <i>istaqarra, </i><b>(Istaqarra) adalah menafsirkan (istiwa`) dengan makna konsekuensinya,</b> sebagaimana yang telah saya sebutkan.</p>
<p><b>Tafsir dengan konsekuensi </b>ini maksudnya : {اسْتَوَى} berarti: (Allah) itu <i>‘ala (tinggi di atas) </i>dan<i> irtafa’a (tinggi di atas)</i>, dan <b>senantiasa istiwa’ (di atas ‘arsy), tetap bersifat dengan sifat ini, dan tetap di atas ‘arsy.</b></p>
<p>Jadi, maksudnya adalah Allah<i> Jalla wa ‘Ala</i> di atas ‘arsy dan Allah tidak terlepas dari sifat di atas ‘arsy.”</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/39644-mintalah-kepada-allah-sampai-perkara-remeh-sekalipun.html">Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun</a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/38054-sifat-allah-apakah-hanya-tujuh-atau-dua-puluh-01.html">Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh?</a> </span></li>
</ul>
<p><b>(Bersambung, in sya Allah)</b></p>
<p> </p>
<p><strong>Penulis : <a href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah">Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</a></strong><br>
Artikel. <a href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a></p>
 