
<p>Apa yang dimaksud nama Allah <em>Al-Hayyu Al-Qayyum</em>? Apa maknanya?</p>
<p>Disebutkan dalam ayat kursi,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar</em>.” (QS. Al-Baqarah: 255)</p>
<p>Nama <em>al-hayyu al-qayyum</em> juga disebutkan dalam,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">الم (1) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ (2)</p>
<p>“<em>Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya</em>” (QS. Ali ‘Imran: 1-2)</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا</p>
<p>“<em>Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.</em>” (QS. Thaha: 111)</p>
<p><strong> </strong></p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Makna Al-Hayyu</span></h4>
<p>Syaikh Sa’id bin Wahf Al-Qahthani berkata, yang dimaksud dengan <em>al-hayyu</em> adalah hidup yang sempurna. Di dalam sifat <em>al-hayyu</em> ada sifat dzatiyah bagi Allah yaitu <em>al-‘ilmu </em>(ilmu), <em>al’ izzah </em>(mulia), <em>al-qudrah </em>(kemampuan), <em>al-iradah </em>(keinginan), <em>al-‘azhamah </em>(mulia), <em>al-kibriya’</em> (maha tinggi) dan sifat-sifat dzatiyah yang sangat suci (sakral) lainnya. (<em>Syarh Asma’ Allah Al-Husna</em>, hlm. 104)</p>
<p>Al-hayyu melazimkan seluruh adanya seluruh sifat kamal (kesempurnaan bagi Allah). Sifat pendengaran, penglihatan, ilmu, kemampuan, kemuliaan, rahmat, kehendak, ada pada nama <em>Al-Hayyu</em> (Maha Hidup).</p>
<p>Konsekuensi dari mengimani nama Allah Al-Hayyu tentu akan membuat hamba memurnikan atau mengikhlaskan ibadah hanya pada Allah dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Demikian yang diterangkan dalam <em>Kitab At-Tauhid</em>, hlm. 165-168.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Makna Al-Qayyum</span></h4>
<p><em>Al-qayyum </em>punya dua makna:</p>
<ul>
<li>Allah berdiri sendiri dengan sifat kemuliaan-Nya dan tidak bergantung pada satu pun makhluk-Nya.</li>
<li>Allah yang mengatur bumi dan langit serta segala makhluk di dalamnya. Allah tidak butuh pada makhluk, bahkan makhluk yang butuh pada-Nya. (<em>Syarh Asma’ Allah Al-Husna</em>, hlm. 105)</li>
</ul>
<p>Konsekuensi dari nama Allah <em>Al-Qayyum</em>, Allah itu berdiri sendiri. Allah juga mengatur setiap makhluk-Nya. Allah yang mengatur rezeki mereka. Allah yang mengatur urusan mereka, akan mengumpulkan dan menghisab pada hari kiamat.</p>
<p>Yang menunjukkan kesempurnaan sifat Al-Hayyu Al-Qayyum, Allah tidak mengantuk dan tidak tidur. Allah berdiri sendiri dan tidak butuh pada makhluk-Nya. <em>Kitab At-Tauhid</em>, hlm. 170.</p>
<p>Semoga bermanfaat. Bersambung insya Allah masih dalam tema nama Allah <em>Al-Hayyu Al-Qayyum</em>.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><em>Kitab At-Tauhid fi Dhau’ Al-Qur’an wa As-Sunnah</em>. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdullah At-Tuwaijiri. Penerbit Dar Ashda’ Al-Mujtama’.</p>
<p><em>Syarh Asma’ Allah Al-Husna fi Dhau’ Al-Kitab wa As-Sunnah</em>. Cetakan kedua belas, tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Maktabah Al-Malik Fahd.</p>
<p>—</p>
<p>Selesai disusun menjelang Maghrib, 18 Dzulqa’dah 1436 H di <a href="http://darushsholihin.com/">Darush Sholihin, Panggang, GK</a></p>
<p>Penulis: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p>Ikuti update artikel Rumaysho.Com di <a href="https://www.facebook.com/rumaysho" target="_blank">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans)</a>, <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal" target="_blank">Facebook Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="https://twitter.com/RumayshoCom" target="_blank">Twitter @RumayshoCom</a>, <a href="https://instagram.com/rumayshocom" target="_blank">Instagram RumayshoCom</a></p>
<p>Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab.</p>
 