
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penerapan Prinsip Skala Prioritas dalam Berdakwah</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> وقد علم بالاضطرار من دین الرسول صلى الله عليه و سلم واتفقت علیه الأمة أنَّ أصلَ الإسلام وأوّل ما یؤمر به الخلق شھادة أن لا إله إلاّ الله وأنَّ محمداً رسول الله ، فبذلك یصیر الكافر مسلماً، والعدوُّ ولیا، والمباحُ دمُه ومالُه معصومَ الدم والمال</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Telah diketahui bersama secara mendasar bahwa termasuk bagian dari ajaran agama (Islam )yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan disepakati oleh umat Islam adalah bahwa perkara yang pertama kali diperintahkan kepada makhluk yaitu syahadat la ilaha illallah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah. Hal itulah menyebabkan orang kafir menjadi muslim, musuh menjadi teman setia, serta darah dan harta yang halal menjadi terjaga.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah dakwah mengajak manusia kepada Tauhid, selanjutnya jelaskanlah kepada umat tentang hukum-hukum Allah dan ajaklah orang-orang untuk menerapkannya, serta sampaikanlah solusi penyakit yang menyebar di tengah-tengah masyarakat.</span></p>
<p><b>Contohnya:</b></p>
<ol>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Nabiyyullah </span></i><span style="font-weight: 400;">Luth </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam, </span></i><span style="font-weight: 400;">setelah beliau kosentrasi mengajarkan tauhid, lalu beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam </span></i><span style="font-weight: 400;">pun konsentrasi pada memperingatkan masyarakat dari penyakit masyarakat “homoseks”, karena penyakit tersebut sangatlah keji dan tersebar di tengah-tengah kaumnya. Dengan demikian, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> kosentrasi kepada memperbaiki krisis moral dan akhlak yang ada di masyarakatnya, setelah dakwah tauhid.</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Nabiyyullah </span></i><span style="font-weight: 400;">Syu’aib </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam  </span></i><span style="font-weight: 400;">setelah kosentrasi mengajarkan tauhid, lalu beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam </span></i><span style="font-weight: 400;">pun konsentrasi kepada memperingatkan penyakit masyarakat yang terkait dengan kecurangan dalam menimbang dan menakar. Dengan demikian, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> kosentrasi kepada memperbaiki krisis ekonomi, berupa kecurangan pelaku pasar, setelah dakwah tauhid.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah, seluruh rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalatu was salamu ajma’in</span></i><span style="font-weight: 400;">, mereka memperbaiki aqidah masyarakat dan mengokohkannya terlebih dahulu, kemudian memperbaiki kerusakan sisi-sisi lainnya di masyarakatnya. Tujuan mereka adalah mengeluarkan manusia dari berbagai macam kegelapan kepada cahaya. Dari kegelapan syirik, bid’ah, dan maksiat kepada cahaya tauhid, sunnah, dan ketaatan kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span></i></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Macam-Macam Sasaran Dakwah (mad’u)</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Sasaran dakwah </span><i><span style="font-weight: 400;">ilallah </span></i><span style="font-weight: 400;">terbagi menjadi dua kelompok besar, dan dua kelompok besar ini masih terbagi lagi menjadi beberapa golongan. Berikut rinciannya</span></p>
<p><b>Kelompok Pertama:</b><b><i> Ummatul Ijabah </i></b><b>(Umat yang menerima dakwah)</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ummatul Ijabah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kaum muslimin. Mereka ini adalah orang-orang yang menerima agama Islam, tunduk kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">Rabbil ‘alamin</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan beriman kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yang mulia. </span><i><span style="font-weight: 400;">Ummatul Ijabah </span></i><span style="font-weight: 400;">(kaum muslimin) ini terbagi lagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:</span></p>
<ol>
<li>
<b> </b><b><i>Sabiqun bil khairat</i></b> <span style="font-weight: 400;">(orang-orang yang lebih dahulu melakukan kebaikan), kelompok ini adalah kelompok yang mendapatkan ganjaran berupa masuk kedalam surga, tanpa hisab dan tanpa adzab.</span>
</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>
<b> </b><b><i>Muqtashidun</i></b> <span style="font-weight: 400;">( orang-orang yang pertengahan), kelompok ini pun mendapatkan ganjaran berupa masuk kedalam surga, tanpa hisab dan tanpa azab pula.</span>
</li>
</ol>
<ol start="3">
<li>
<b> </b><b><i>Zhalimun linafsihi</i></b> <span style="font-weight: 400;">(orang-orang yang menzalimi (aniaya) diri mereka sendiri), nasib kelompok ini tergantung kepada Allah, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, maka Allah akan azab mereka namun tidak sampai kekal selamanya di dalam neraka. Akan tetapi, jika Allah menghendaki untuk mengampuni mereka, maka Allah akan mengampuni mereka.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”</span></i></p>
<p style="text-align: right;">جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">(Bagi mereka) surga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Faathir: 32-33).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka metode mendakwahi mereka ini adalah dengan cara mereka diajak untuk istiqamah di atas keimanan, didorong untuk meningkatkan keimanan, dan menjauhi perkara yang menguranginya atau merusaknya. Dan dalam mendakwahi masing-masing kelompok tersebut perlu disesuaikan dengan keadaan mereka.</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 