
<p dir="ltr">Wahai saudaraku, sudahkah kita menyadari bahwa agama kita ini, agama Islam, adalah agama yang paling sempurna dan paling lengkap? Betapa tidak, agama kita telah menjelaskan segala sisi dan sudut permasalahan yang dialami oleh setiap manusia yang ada di muka bumi. Kita bisa buktikan, tidaklah kita mendapati suatu masalah dalam kehidupan kita, kecuali Islam telah memberikan solusinya, dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, sebagai suri teladan kita, telah mengajarkan kepada kita semua. Solusi yang lengkap, sempurna, dan mengandung banyak sekali hikmah dan kebaikan di dalamnya telah diberikan kepada umatnya.</p>
<p dir="ltr">Berbeda halnya dengan agama lain, yang pasti mereka banyak memiliki kekurangan dan kecacatan di dalamnya. Karena agama mereka berasal dari tangan manusia, sedangkan Islam syariatnya dibuat dan diatur oleh <em>Rabbul ‘Alamin</em>, Tuhan semesta alam, Yang Maha Merajai seluruh kekuasaan langit dan bumi, dan Yang Maha Mengatur segala hal yang ada di dalamnya.</p>
<p dir="ltr">Wahai saudaraku, salah satu hal yang menunjukkan bahwa agama Islam ini adalah agama yang sempurna, lengkap, dan tidak ada bandingannya adalah bahwa Tuhan kita, Allah Subhanahu wa <em>Ta’ala</em> akan mengampuni seluruh dosa-dosa hamba-Nya, walaupun dosa itu setinggi langit dan sepenuh isi perut bumi. Hal ini sebagaimana yang telah Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> firmankan kepada kita dalam sebuah hadis qudsi,</p>
<p class="arab"> عن أنس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول – قال الله تعالى : يا بن ادم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان ولا أبالي , يا بن ادم لو بلغت ذنوبك عنان السماء ثم استغفرتني غفرت لك , يا بن ادم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً لأتيتك بقرابها مغفرة – رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح</p>
<div dir="ltr">Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, saya mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “<em>Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukanku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberi ampunan sepenuh bumi pula</em>”[1]</div>
<div dir="ltr"></div>
<div dir="ltr"><span style="line-height: 1.5em;"><em>Subhanallah</em>, perhatikan dan renungkan, wahai saudaraku! Betapa luasnya ampunan Allah <em>Jalla wa ‘Ala</em> kepada para hamba-Nya. Allah <em>Tabaraka wa Ta’</em>ala akan mengampuni dosa-dosa para hamba-Nya selama hamba tersebut menjauhi kesyirikan. Dan luasnya ampunan Allah tersebut juga akan dirasakan oleh para hamba-Nya yang selalu berbuat baik dan berusaha menjauhi dosa-dosa besar. Sebagaimana yang telah Allah janjikan kepada kita dalam firman-Nya,</span></div>
<p class="arab">وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya</em>.”[2]
</p>
<p dir="ltr">Saudaraku, walaupun setiap muslim akan mendapatkan ampunan dari Allah selama dia menjauhi kesyirikan, tapi ada satu golongan manusia yang dikecualikan dari mendapat ampunan Allah. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam hadis berikut ini,</p>
<p class="arab">عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه</p>
<p dir="ltr">Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah <em>radhiyallahu’ anhu</em> bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> bersabda, ‘<em>Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali <strong>mujahirin</strong> (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut</em>.”[3]
</p>
<p dir="ltr">Apa maksud dari معافى  yang terdapat dalam hadits?</p>
<p dir="ltr">Syaikh Shalih al-Utsaimin mengatakan bahwa yang dimaksud معافى dalam hadis adalah bahwa setiap umat muslim akan Allah ampuni dosa-dosanya.[4]
</p>
<p dir="ltr">Akan tetapi, kata tersebut juga bisa dimaknai dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, beliau mengatakan bahwa makna kata tersebut adalah setiap umat muslim akan selamat dari lisan manusia dan gangguan mereka.[5]
</p>
<h4 dir="ltr"><span style="color: #ff0000;">Apa saja bentuk terang-terangan dalam berbuat dosa?</span></h4>
<ol>
<li>Orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan di hadapan manusia. Seperti apa yang dilakukan para pemain sinetron dan pelawak yang bermain di layar televisi. Jenis orang yang seperti ini telah melakukan dua perbuatan dosa sekaligus, yaitu:
<ol>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Menampakkan kemaksiatannya</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Mencampurinya dengan lawakan dan kebohongan. Dan telah kita ketahui bersama bahwasanya kedua hal tersebut adalah perbuatan tercela berdasarkan syariat Islam dan juga pandangan manusia.</span></li>
</ol>
</li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Orang yang telah menyingkap apa yang telah Allah tutupi dari perbuatan maksiatnya. Seakan-akan, mereka itu menceritakan perbuatan maksiatnya karena bangga dan meremehkan dosa yang telah dia lakukan itu. Mereka ini tidak bisa merasakan nikmatnya ampunan Allah yang Dia berikan kepada para hamba-Nya.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Seperti apa yang dilakukan pelaku maksiat yang mengumumkan perbuatan maksiatnya kepada khalayak umum. [6]</span></li>
</ol>
<h4 dir="ltr"><span style="color: #ff0000;">Celaan terhadap para pelaku <em>mujaharah</em></span></h4>
<h5 dir="ltr">Dalil Alquran</h5>
<p class="arab">إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ</p>
<p dir="ltr">“<em>Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui</em>.” [7]
</p>
<h5 dir="ltr">Dalil  Hadits</h5>
<p dir="ltr">Celaan yang secara langsung Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> berikan kepada para pelaku <em>mujaharah</em> terdapat dalam hadis di atas. Sedangkan secara makna, telah banyak Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> isyaratkan dalam hadis-hadis yang lain.</p>
<p dir="ltr">Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwasannya Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> bersabda, “<em>Tidaklah perbuatan zina dan riba itu telah tampak  (secara terang-terangan) di suatu kaum, kecuali mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka sendiri</em>.”[8]
</p>
<h5 dir="ltr">Perkataan ulama</h5>
<p dir="ltr">Ibnu hajar <em>rahimahullahu</em> dalam kitabnya <em>Fathul Bari</em> mengatakan bahwa barang siapa yang berkeinginan untuk menampakkan kemaksiatan dan menceritakan perbuatan maksiat tersebut, maka dia telah menyebabkan Rabb-nya marah kepadanya sehingga Dia tidak menutupi aibnya tersebut. Dan barang siapa yang berkeinginan untuk menutupi perbuatan maksiatnya tersebut karena malu terhadap Rabb-nya dan manusia, maka Allah <em>Tabaraka wa Ta’ala</em> akan memberikan penutup yang akan menutupi aibnya itu. [9]
</p>
<h4 dir="ltr"><span style="color: #ff0000;">Dampak bahaya dari terang-terangan berbuat dosa</span></h4>
<ul>
<li>Pelaku perbuatan ini menyebabkan Allah <em>Azza wa Jalla</em> marah terhadapnya.</li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Pelaku perbuatan ini telah mengharamkan bagi dirinya sendiri ampunan Allah <em>Ta’ala</em>.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Manusia akan merendahkan pelaku perbuatan ini dan meninggalkannya.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Diperbolehkan bagi kita untuk memperbincangkannya karena keburukannya tersebut.</span></li>
</ul>
<p>Dan masih banyak yang lain. [10]
</p>
<h4 dir="ltr"><span style="color: #ff0000;">Beberapa faedah yang bisa kita ambil dari pembahasan ini</span></h4>
<ul>
<li>Kerasnya celaan bagi para pelaku perbuatan ini.</li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Menceritakan perbuatan maksiat kepada khalayak umum menyebabkan pelakunya melakukan kemaksiatannya secara terus menerus. Dan hal ini juga menyebabkan manusia ikut mengamalkan perbuatan maksiat tersebut, sehingga dia akan mendapatkan dosa dari dosa-dosa para pengikutnya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka. Karena penunjuk kepada keburukan seperti pelaku keburukan itu sendiri.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Pelaku perbuatan ini membuat dosanya menjadi besar walaupun pada asalnya dosa yang dia lakukan itu kecil.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Meng-ghibah pelaku mujaharah tidak termasuk dari perbuatan tercela. Para ulama telah mengecualikan hal ini dalam beberapa hal.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Terang-terangan dalam kemaksiatan adalah dosa tersendiri selain dari dosa maksiat itu sendiri, karena dia telah meremehkan kebesaran Allah <em>azza wa jalla</em>.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Terang-terangan dalam kemaksiatan menyebabkan tersebarnya kemungkaran di antara kaum muslimin.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Barang siapa yang Allah tutupi aibnya di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di akhirat dan tidak akan memperlihatkannya di hadapan manusia yang lain. Dan ini termasuk dari luasnya rahmat Allah <em>Ta’ala</em> untuk para hamba-Nya.</span></li>
</ul>
<p>Dan masih banyak yang lain.[11]
</p>
<h4 dir="ltr"><span style="color: #ff0000;">Nasihatku untukmu wahai saudaraku</span></h4>
<p dir="ltr">Wahai saudaraku, setelah kita mengetahui betapa luasnya rahmat dan ampunan Allah <em>Ta’ala</em> kepada para hamba-Nya, dan betapa keras balasan dan celaan terhadap para hamba-Nya yang durhaka terhadap-Nya, maka melalui tulisan ini kami ingin memberikan nasihat kepada penulis sendiri dan kepada saudaraku-saudaraku seiman;</p>
<p dir="ltr">Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah <em>Jalla Jalaluhu</em>. Karena Dia telah memilih kita di antara milyaran manusia yang lain untuk menjadi seorang muslim yang akan merasakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi yang bertakwa kepada-Nya.</p>
<p dir="ltr">Bersyukur dengan cara mempelajari agama yang haq dan sempurna ini, mempelajari hal-hal yang menjadikan Rabb kita rida kepada kita sehingga kita bisa melakukannya, dan hal-hal yang menyebabkan Rabb kita marah kepada kita, sehingga kita bisa menjauhi hal tersebut.</p>
<p dir="ltr">Marilah kita bersama-sama berusaha untuk menjadikan Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> sebagai suri teladan dan panutan kita dalam setiap keadaan. Sehingga kita bisa menjadi hamba yang diridai-Nya dan kita bisa merasakan kenikmatan yang kekal di hari yang abadi di surga-Nya.</p>
<p dir="ltr">Jadikan dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan itu adalah sesuatu yang besar sehingga kita tidak meremehkannya dan tidak terus menerus melakukannya. Dengan seperti itu, lisan kita akan senantiasa beristigfar atas banyaknya dosa dan maksiat yang telah kita lakukan, sembari mengharapkan luasnya rahmat dan ampunan-Nya untuk kita.</p>
<p dir="ltr">Semoga Allah <em>Ta’ala</em> senantiasa memberikan kita taufik dan istikamah di atas jalan-Nya. Amin.</p>
<h5 dir="ltr"></h5>
<h5 dir="ltr">Catatan kaki</h5>
<p dir="ltr">[1] H.R. Tirmidzi, Hadis hasan sahih</p>
<p dir="ltr">[2] Q.S. An Najm: 31-32</p>
<p dir="ltr">[3] H.R. Bukhari (6069) dalam kitab Fathul Bari dan lafadz ini milik Bukhari, dan riwayat Muslim (2990)</p>
<p dir="ltr">[4] Lihat Syarh Riyadh ash-Shalihin hal 24, jilid 3</p>
<p dir="ltr">[5] Lihat Bahjatun Nadzirin hal 299, jilid 1</p>
<p dir="ltr">[6] Lihat Nadhratun Na’im, hal 5548, jilid 11</p>
<p dir="ltr">[7] Q.S. An Nur: 19</p>
<p dir="ltr">[8] H.R. Ahmad dan Abu Ya’la, dan dinilai sahih oleh Syekh Ahmad Syakir</p>
<p dir="ltr">[9] Lihat Nadhratun Na’im hal 555. – 5554</p>
<p dir="ltr">[10] Lihat Nadhratun Na’im hal 5555, jilid 11</p>
<p dir="ltr">[11] Lihat Al-Manahi asy-Syar’iyyah hal 306, jilid IV dan Bahjatun Naadzirin, hal 299, jilid I</p>
<h5 dir="ltr">Sumber rujukan</h5>
<ul>
<li>Al Qur’anul Kariim</li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadh ash-Shalihin, Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilaly, cetakan II Daar Ibnul Jauzi.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Mausu’ah al-Manahi asy-Syar’iyyah fi Shahih as-Sunnah an-Nabawiyyah, Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilaly, Dar Ibnu ‘Affan</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Nadhratun Na’im fi Makarim al-Akhlak ar-Rasul al-Karim, cetakan IV, Daarul Wasiilah.</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Syarh Riyadh ash-Shalihin fi Kalam as-Sayyidial Mursalii, Syaikh Shalih al Utsaimin, cetakan 1425 H, Madarul Wathan</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Hadits Arba’in an Nawawiyyah, E-Book</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Hadits Web, E-Book</span></li>
</ul>
<p dir="ltr">—</p>
<p dir="ltr">Penulis: Winning Son Ashari</p>
<p>Pemurajaah: Ust. Misbahuzzulam, Lc, M.H.I</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 