
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan dua artikel sebelumya dapat disimpulkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:</span></p>
<p><strong>1. Sebab dari segala musibah adalah dosa dan maksiat.</strong></p>
<p><strong>2. Semakin besar sebuah dosa, dampaknya lebih buruk daripada dosa-dosa yang lebih kecil.</strong></p>
<p><strong>3. Biang terbesar musibah adalah kesyirikan, karena kesyirikan adalah dosa terbesar.</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada putranya, di waktu ia</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">memberi pelajaran kepadanya: “Hai putraku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang (paling) besar”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Luqman: 13).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsiir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: right;">وهو يوصي ولده الذي هو أشفق الناس عليه وأحبهم إليه، فهو حقيق أن يمنحه أفضل ما يعرف; ولهذا أوصاه أولا بأن يعبد الله وحده ولا يشرك به شيئا ، ثم قال محذرا له إن الشرك لظلم عظيم أي هو أعظم الظلم .</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Beliau (Luqman) berwasiat kepada putranya, manusia yang </span> <span style="font-weight: 400;">paling beliau sayangi dan cintai. Beliau sangatlah pantas memberikan kepadanya sesuatu yang paling bermanfa’at yang beliau ketahui. Oleh karena inilah, beliau berwasiat kepadanya, yang pertama: (agar putranya) menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kemudian beliau berkata memperingatkannya, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar, maksudnya adalah (Sesungguhnya syirik) adalah kezaliman yang (paling) besar”</span> <span style="font-weight: 400;">(<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: 4/184).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di samping itu, kesyirikan adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa </span></i><i><span style="font-weight: 400;">syirik</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">kepada-Nya </span></i><i><span style="font-weight: 400;">dan Dia akan mengampuni dosa lainnya </span></i> <i><span style="font-weight: 400;">yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang </span></i> <i><span style="font-weight: 400;">dikehendaki oleh-Nya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. An -Nisaa`: 116).</span></p>
<p><strong>4. Beriman dengan bertauhid dan beramal shaleh serta taat kepada Allah dengan melaksanakan seluruh Syari’at Allah membuahkan kemakmuran, ketentraman, dan kebahagiaan di dunia akhirat.</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ</p>
<p><b>“</b><i><span style="font-weight: 400;">Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa tetap kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik</span></i><span style="font-weight: 400;">” (An-Nur: 55).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdurrahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Ayat ini termasuk di antara janji-janji Allah yang benar, yang telah disaksikan fakta dan isi beritanya. Allah telah berjanji kepada orang yang beriman dan beramal shalih dari kalangan umat ini untuk menjadikan mereka berkuasa di muka bumi. Mereka akan menjadi para khalifah di muka bumi, yang mengatur urusan mereka dan (Allah) meneguhkan </span><b>“bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka”</b><span style="font-weight: 400;">, yaitu agama Islam yang telah mengalahkan seluruh agama selainnya, yang Allah ridhai untuk umat ini karena keutamaan, kemuliaan dan kenikmatan Allah atasnya. (Bentuk peneguhan agama mereka tersebut adalah) mereka leluasa dalam menegakkannya dan menegakkan syari’at baik lahir maupun batin, pada diri mereka maupun selain mereka. Sebab, orang-orang selain mereka dari kalangan para pemeluk agama selain (Islam) dan seluruh orang-orang kafir telah kalah dan hina. Dan Allah menggantikan keadaan mereka </span><b>“sesudah mereka berada dalam ketakutan ”</b><span style="font-weight: 400;"> yang (sebelumnya) salah seorang dari mereka tidak mampu menampakkan agama (Islam) dan ibadahnya kecuali dengan banyak gangguan dari orang-orang kafir, serta jumlah kaum muslimin yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan selain mereka, dan seluruh penduduk bumi menyerang mereka dan berbuat aniaya dengan melakukan berbagai macam keburukan. Allah menjanjikan hal-hal tersebut untuk mereka pada saat turunnya ayat ini, namun kekhalifahan di bumi dan kekuasaannya belum dapat disaksikan saat itu. Yang dimaksud dengan kekuasaan disini adalah kekuasaan menegakkan agama Islam dan keamanan yang sempurna, di mana mereka beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan mereka tidak takut kecuali hanya kepada Allah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka jayalah generasi awal umat ini, dengan iman dan amal soleh yang menyebabkan mereka berada di atas umat lainnya, maka Allah jadikan mereka menguasai berbagai negeri dan kaum, serta dibukakan kekuasaan dari timur ke barat sehingga terwujud keamanan dan kekuasaan yang sempurna. Ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang menakjubkan dan indah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan hal tersebut akan senantiasa berlangsung hingga (mendekati) hari kiamat, selama mereka menegakkan iman dan amal soleh pastilah mereka akan mendapatkan apa yang telah Allah janjikan untuk mereka. Namun terkadang orang kafir dan munafikin menguasai mereka dan mengalahkan kaum muslimin disebabkan kelalaian kaum muslimin dalam menegakkan iman dan amalan yang shalih.” (Taisiril Karimir Rahman, hal. 668).</span></p>
<p><strong>5. Bukan berarti untuk meraih  kemakmuran dan ketentraman negara serta kesejahteraan rakyat di dunia, dengan meninggalkan sebab-sebab teknis keduniaan yang bermanfaat yang tidak melanggar syari’at dalam berbagai bidang (ekonomi, teknologi, dan selainnya)! Tidaklah demikian!</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Justru tuntutan keimanan dan amal shalih adalah mengambil </span> <span style="font-weight: 400;">usaha yang bermanfaat, selama itu tidak melanggar syari’at, </span> <span style="font-weight: 400;">dengan tetap bertawakal kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah –</span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa </span></i> <i><span style="font-weight: 400;">sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">– bersabda, </span></p>
<p style="text-align: right;">احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. </span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Minta tolonglah kepada Allah dan jangan engkau lemah!</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, sebab yang terpokok bagi kemakmuran sebuah negara dan masyarakat adalah melaksanakan perintah Allah yang terbesar, </span><b>yaitu tauhid</b><span style="font-weight: 400;"> serta sebab yang terpokok kehancuran sebuah negara, adalah melanggar larangan Allah yang terbesar,</span><b> yaitu syirik dan kekufuran! Maka</b> <b>haruslah hal ini mendapat perhatian pertama dan paling utama!</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (kesyirikan), mereka itulah yang akan mendapatkan rasa aman dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-An’aam: 82). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa jika seseorang bertauhid (beriman) dan tidak menyekutukan Allah (tidak syirik), akan mendapatkan ganjaran berupa ketentraman dan keamanan serta hidayah di dunia dan akhirat. Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjadikan negeri kita sebagai negeri yang tentram dan aman dari berbagai macam ancaman krisis, baik krisis ekonomi, krisis keamanan (teror), krisis mental/akhlak dan yang lainnya dengan bertauhid secara sempurna, beriman dan beramal shaleh, taat kepada Allah dengan melaksanakan seluruh syari’at Allah</span><b>.</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 