
<h3><strong>Keutamaan para Nabi Dibandingkan Seluruh Manusia</strong></h3>
<p>Telah diketahui secara pasti tentang keutamaan para nabi dibandingkan seluruh manusia. Oleh karena itu, Allah <em>Ta’ala</em> memilih mereka untuk menyampaikan risalah kepada umatnya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِذَا جَاءتْهُمْ آيَةٌ قَالُواْ لَن نُّؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللّهِ اللّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ</span></p>
<p>“<em>Apabila suatu ayat datang kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.’ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan</em>.” (QS. Al-An’am: 124)</p>
<p>Ath-Thabari <em>rahimahullah </em>berkata ketika menjelaskan ayat ini,</p>
<p>“Aku (Allah) mengetahui kepada siapa tugas kerasulan diberikan, siapa manusia yang terpilih untuk (mendapatkan) tugas tersebut. Maka kalian wahai orang-orang musyrik, tidak bisa mencari-cari cara (mengusahakan) agar kalian menjadi seorang nabi (rasul). Karena pemilihan manusia yang menjadi rasul itu adalah hak yang mengutus (yaitu Allah, pent.), bukan hak orang yang diutus. Dan Allah ketika memberikan <em>risalah</em> itu lebih mengetahui kepada siapa tugas itu diberikan.” (<em>Tafsir Ath-Thabari, </em>12: 96)</p>
<p>Dari penjelasan Ath-Thabari <em>rahimahullah </em>di atas, kita bisa mengetahui bahwa kerasulan itu adalah murni anugerah dari Allah <em>Ta’ala</em>. Bukan hasil usaha manusia, di mana ada metode atau cara tertentu yang bisa ditempuh atau diusahakan agar bisa diangkat menjadi rasul.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/58745-salah-memahami-hadits-tentang-wali-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Salah Memahami Hadits Tentang Wali Allah</a></strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga mengatakan setelah menyebutkan sejumlah nabi,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطاً وَكُلاًّ فضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ</span></p>
<p>“<em>Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).</em>” (QS. Al-An’am: 86)</p>
<h3><strong>Wali Lebih Mulia daripada Nabi?</strong></h3>
<p>Sebagian orang memiliki keyakinan bahwa wali atau derajat kewalian itu lebih mulia daripada nabi atau derajat kenabian. Bagaimana mungkin keyakinan ini bisa dibenarkan, sementara seseorang itu tidaklah mungkin menjadi wali kecuali dengan mengikuti ajaran rasul?! Sehingga, bagaimana mungkin wali lebih mulia daripada nabi?!</p>
<p>Sebetulnya masalah ini sudah sangat jelas, tidak memerlukan penjelasan detail dan terperinci. Akan tetapi sayangnya, umat Islam mendapatkan musibah dengan adanya kelompok tertentu yang mengatakan bahwa derajat kewalian itu lebih utama atau lebih mulia daripada derajat kenabian.</p>
<p>Para ulama sendiri telah sepakat (<em>ijma</em>’) bahwa derajat nabi itu lebih mulia daripada derajat wali. Ibnu Hazm <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p>“Tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin bahwa para nabi itu lebih tinggi kedudukan dan derajat, lebih memiliki keutamaan, dan lebih mulia dibandingkan dengan selain mereka (selain para nabi, pent.). Siapa saja yang menyelisihi kesepakatan ini, berarti dia bukan muslim.” (<em>Al-Muhalla, </em>1: 45)</p>
<p>Abu Ja’far Ath-Thahawi <em>rahimahullah </em>berkata, “Kami tidak melebihkan keutamaan seorang wali pun dibandingkan dengan keutamaan Nabi <em>‘alaihis salaam. </em>Kami katakan, ‘Seorang nabi itu lebih utama daripada seluruh wali.’” (<em>Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, </em>hal. 83)</p>
<p>Abul ‘Abbas Al-Qurthubi <em>rahimahullah </em>berkata, “Nabi itu lebih utama daripada wali. Ini adalah perkara yang bisa dipastikan (kebenarannya), baik secara akal maupun <em>naql </em>(dalil). Yang berpendapat berkebalikan dari ini adalah kafir. Karena ini adalah perkara agama yang bisa diketahui secara pasti.” (<em>Al-Mufhim, </em>6: 217)</p>
<p>Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi <em>rahimahullah </em>berkata, “Nabi itu lebih utama daripada wali.” (<em>Tafsir Al-Qurthubi, </em>11: 17)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani <em>rahimahullah </em>berkata dalam konteks menjelaskan kenabian Khidhr, “Hendaknya meyakini Khidhr ini sebagai seorang nabi. Hal ini untuk menutup pintu klaim orang yang menyimpang <em>(ahlul bathil)</em> yang mengklaim, ‘Wali itu lebih utama daripada nabi.’” (<em>Fathul Baari, </em>1: 220)</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/53415-salah-kaprah-mengenai-wali-dan-karomah.html" data-darkreader-inline-color="">Salah Kaprah Mengenai Wali dan Karomah</a></strong></p>
<h3><strong>Asal-Usul Keyakinan Wali Lebih Utama daripada Nabi</strong></h3>
<p>Adapun kaum sufi yang ekstrim, mereka berkeyakinan bahwa wali itu lebih mulia daripada nabi. Kedudukan kenabian itu sedikit di atas kerasulan, namun di bawah kewalian. Sehingga derajat wali itu lebih tinggi daripada derajat nabi.</p>
<p>Mereka yang mengklaim bahwa kewalian itu lebih utama daripada kenabian, mereka membuat <em>syubhat</em> (kerancuan berpikir) di tengah-tengah masyarakat dengan mengatakan, “Kewalian Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>itu lebih utama daripada (status) kenabian beliau.” Kemudian mengatakan, “Kita bersekutu dengan beliau dalam status kewalian, yang itu lebih tinggi dari kerasulan.”</p>
<p>Tentu saja ini adalah kesesatan. Karena kewalian Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>tidak bisa disamai oleh satu pun manusia, para nabi sekalipun. Lebih-lebih disamai oleh manusia yang bukan nabi, apalagi seperti orang-orang sufi ekstrim ini.</p>
<p>Dan asal usul keyakinan ini adalah anggapan mereka bahwa wali itu mengambil ilmu langsung dari akal tanpa perantara. Wali mendapatkan ilmu (wahyu) langsung dari Allah tanpa perantara. Sedangkan nabi mendapatkan ilmu (wahyu) melalui perantara malaikat. Sehingga mereka berkeyakinan bahwa wali itu lebih mulia daripada nabi. Tentu saja, keyakinan ini adalah di antara penyimpangan yang nyata.</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala</em> melindungi kaum muslimin dari <em>aqidah</em> yang menyimpang semacam ini.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45570-panglima-khalid-bin-walid-diganti-karena-kemashlahatan-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Panglima Khalid bin Walid Diganti Karena Kemaslahatan Tauhid</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/18710-keutamaan-wali-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Wali Allah Ta’ala</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 1 Rabi’ul awwal 1442/8 Oktober 2021</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <em>Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul</em> karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar<em>, </em>hal. 97-100. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.</p>
 