
<h2>Khalilullah atau Habibullah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bagaimana hukumnya menyifati Nabi <em>shalallahu </em><em>‘alaihi wa </em><em>sallam</em> dengan <em>habibullah</em>?<br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tidak diragukan lagi adalah <em>habibullah</em>, beliau mencintai Allah dan dicintai  Allah, tetapi ada sebutan lain yang lebih tinggi dari itu yaitu <em>khalilullah</em>. Rasulullah <em>shalallahu </em><em>‘alaihi wa </em><em>sallam</em> adalah <em>khalilullah</em>, seperti yang beliau sabdakan,</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah telah menjadikanku seorang khalil seperti halnya </em><em>Dia menjadikan Ibrahim sebagai </em><em>khalil</em>.” (Diriwayatkan Ibnu Majah)</p>
<p>Maka dari itu, siapa yang menyifatinya dengan <em>habib</em> saja, maka dia telah menurunkan beliau dari martabatnya, karena sifat <em>khalil</em> lebih mulia dan lebih tinggi dari <em>habib</em>. Setiap mukmin adalah kekasih Allah <em>(habibullah</em>), tetapi Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> berada pada martabat yang lebih tinggi dari itu, yaitu <em>khalil</em>, karena Allah telah menjadikannya sebagai <em>khalil</em> (kekasih) seperti Ibrahim. Maka dari itu kami katakan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, karena kata khalil mengandung di dalamnya kata <em>habib</em>, dan <em>khalil</em> puncak dari <em>mahabbah</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</em>, Darul Falah, 2007.</p>
<p><strong>Artikel www.KonsultasiSyariah.com</strong></p>
<p> </p>
 