
<p><em>Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</em></p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Siapakah ahli tauhid itu?</strong></span></h2>
<p>Setiap muslim dan muslimah yang sah keislamannya adalah ahli tauhid (<em>muwahhid</em>). Karena setiap muslim dan muslimah pastilah memiliki dasar tauhid yang menjadi syarat sah keislamannya. Hanya saja, kadar tauhid pada diri setiap muslim dan muslimah itu bertingkat-tingkat. Ada yang sempurna, ada pula yang tidak. Dan setiap dosa itu bisa mengotori tauhid seseorang, bahkan bisa sampai meniadakannya sehingga dasar tauhidnya musnah dan pelakunya keluar dari Islam.</p>
<p>Semoga Allah melindungi kita dari segala bentuk dosa, kecil maupun besar, baik dosa yang mengeluarkan pelakunya dari Islam maupun yang tidak demikian.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Apakah tauhid itu?</strong></span></h2>
<p><strong> </strong>Definisi tauhid adalah,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات</span></p>
<p>“Mengesakan Allah <em>Subhanahu</em> <em>wa Ta’ala </em>dalam perkara yang merupakan kekhususan-Nya, yaitu perbuatan Allah (<em>rububiyyah</em>), hak Allah untuk diibadahi (<em>uluhiyyah</em>), dan nama dan sifat Allah (<em>al-asma’ was shifat</em>).”</p>
<p>Maksud “mengesakan Allah” di sini adalah meyakini keesaan Allah dalam kekhususan-Nya dan melaksanakan tuntutan atau konsekuensinya dalam ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57981-letak-pentingnya-tauhid-dan-keimanan.html" data-darkreader-inline-color="">Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Nasib ahli tauhid di akhirat</strong></span></h2>
<p>Ada beberapa dalil yang menunjukkan hal ini. Di antaranya dari sahabat ‘Itban bin Malik bin ‘Amr bin Al ‘Ajlan Al-Anshori, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ</span></p>
<p>“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan <em>laa ilaaha illallah</em> (tiada sesembahan yang benar disembah selain Allah) yang dengannya dia mencari pahala melihat wajah Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Maksud  “mengharamkan neraka” adalah Allah <em>Ta’ala </em>mencegah seorang hamba yang mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em> dari masuk ke dalam neraka.</p>
<p>Sedangkan maksud dari “mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>” adalah ucapan <em>laa ilaaha illallah</em> yang memenuhi syarat dan rukunnya, menghindari pembatal-pembatalnya, serta melaksanakan tuntutannya.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pembagian pencegahan dari masuk neraka</strong></span></h2>
<p><strong>Pertama, pencegahan (dari masuk neraka) yang sempurna.</strong></p>
<p>Pencegahan yang sempurna (<em>tahrim muthlaq</em>) adalah seorang hamba tidak masuk neraka sama sekali. Ada tiga golongan ahli tauhid yang mendapatkan pencegahan dari masuk neraka dengan sempurna ini, sehingga langsung masuk surga, yaitu:</p>
<p>1) Ahli tauhid yang meninggal tanpa membawa dosa, langsung masuk surga, tanpa hisab dan tanpa azab sama sekali.</p>
<p>2) Ahli tauhid yang meninggal masih membawa dosa, namun diampuni oleh Allah <em>Ta’ala </em>di akhirat, dan dihisab dengan hisab yang ringan.</p>
<p>3) Ahli tauhid yang meninggal masih membawa dosa dan di akhirat tidak diampuni oleh Allah <em>Ta’ala</em>, namun timbangan tauhid dan kebaikannya lebih berat dari timbangan dosa-dosanya, dan dihisab dengan hisab ringan [2].</p>
<p><strong>Catatan penting:</strong></p>
<p>– Maksud “ahli tauhid meninggal” adalah seorang muslim dan muslimah yang meninggal dalam keadaan sah keislamannya.</p>
<p>– Maksud “masih membawa dosa” adalah mati dalam keadaan masih terdapat dosa yang belum ditaubati, tidak terlebur dengan pelebur dosa, serta belum diampuni oleh Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>– Maksud “hisab ringan (<em>hisab yasir</em>)” adalah sebatas hisab menunjukkan dosa dan pengakuan pribadi (tidak diketahui dan tidak didengar makhluk lainnya), yaitu menunjukkan amalan dan dosa-dosa seorang hamba, lalu diampuni oleh Allah <em>Ta’ala </em>sehingga dia mengakui dosa dan merasakan nikmat ampunan-Nya.</p>
<p><strong>Kedua, pencegahan (dari masuk neraka) yang tidak sempurna.</strong></p>
<p>Pencegahan dari masuk neraka yang tidak sempurna (<em>muthlaq tahrim</em>) adalah seorang hamba dicegah (bebas) dari kekekalan di neraka, jadi seorang muslim atau muslimah yang sempat masuk neraka, namun tidak kekal di dalamnya.</p>
<p>Kelompok yang mendapatkan pencegahan tidak sempurna ini adalah:</p>
<p>Ahli tauhid yang meninggal masih membawa dosa, dan di akhirat tidak diampuni dosanya oleh Allah <em>Ta’ala. </em>Bahkan timbangan dosa-dosanya lebih berat dari timbangan tauhid dan kebaikannya. Dan golongan ini nantinya akan dihisab dengan hisab interogatif, berat, dan rinci dengan tuntutan dan alasan (<em>hisab munaqosyah</em>) [3].</p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/20219-kisah-pemuda-ahli-tauhid-yang-pemberani.html" data-darkreader-inline-color="">Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/2481-inilah-jaminan-bagi-ahli-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Jaminan Bagi Ahli Tauhid</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
[1] <em>Fadhlut Tauhid,</em> Syaikh Shalih Alusy Syaikh <em>hafizhahullah</em>
[2] <em>Fathul Baari</em> (Islamport.com/w/srh/Web/2747/6643.htm), <a href="https://www.dorar.net/hadith/sharh/7305">https://www.dorar.net/hadith/sharh/7305</a> &amp; <em>Al-Minhal Al-‘Adzbu Al-Maurud Syarhu Sunan Abi Dawud</em> (https://al-maktaba.org/book/32995/2628)
[3] <em>Al-Minhal Al-‘Adzbu Al-Maurud Syarhu Sunan Abi Dawud</em> (https://al-maktaba.org/book/32995/2628)
<p> </p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1"></a></p>
 