
<p>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan pernah ditanya:</p>
<p><em>“Pada masa-masa  belakangan ini kita perhatikan para pemuda cenderung lalai dan malas mempelajari  aqidah, enggan mendalaminya, dan sangat kurang mencurahkan perhatian mereka  kepadanya. Mereka justru sibuk dengan urusan-urusan lain. Apakah nasihat Anda  bagi para pemuda seperti mereka ini?”</em></p>
<p><!--more--></p>
<p>Beliau menjawab: Saya menasihatkan  kepada para pemuda dan kaum muslimin yang lainnya agar memberikan perhatian  terhadap aqidah terlebih dulu sebelum segala sesuatu. Dikarenakan aqidah adalah  landasan yang menjadi penopang tegaknya seluruh amal, untuk diterima atau  ditolak. Apabila aqidah tersebut benar dan sesuai dengan ajaran yang dibawa  oleh para rasul <em>‘alaihimush shalatu was salam</em> dan secara khusus  bersesuaian dengan ajaran sang penutup para rasul yaitu Nabi kita Muhammad <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>. Semua amalan itu akan diterima jika amal-amal tersebut  ikhlas untuk mengharap wajah Allah ta’ala dan sesuai dengan syariat Allah dan  rasul-Nya. Sedangkan apabila aqidah itu rusak atau sesat dikarenakan dibangun  di atas sikap membebek dan taklid kepada nenek moyang dan leluhur semata, atau  karena aqidah itu ternodai kesyirikan, apabila demikian maka amal-amal tersebut  akan tertolak dan tidak akan diterima barang sedikitpun, meskipun pelakunya  ikhlas dan benar-benar menginginkan wajah Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>. Hal  itu dikarenakan Allah tidak akan menerima amalan kecuali apabila ikhlas untuk  mengharap wajah-Nya yang mulia serta benar yaitu sesuai dengan sunnah  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Oleh sebab itu barang siapa  yang menginginkan keselamatan bagi dirinya serta menghendaki amal-amalnya  diterima dan sangat ingin menjadi seorang muslim yang sejati maka wajib baginya  untuk menaruh perhatian besar terhadap masalah aqidah, yaitu dengan cara  memahami aqidah yang benar serta hal-hal yang bertentangan dengannya, yang  dapat membatalkannya dan bisa menggerogotinya, sampai dia bisa membangun  amal-amalnya di atas aqidah tersebut. Dan hal itu tidak akan bisa dicapai tanpa  mempelajarinya dari para ulama serta para pemilik pengetahuan yang mendalam  yang mengambil ilmu tersebut dari kalangan pendahulu umat ini.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa  ta’ala</em> berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Ketahuilah, sesunguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah,  dan minta ampunlah atas dosamu dan dosa kaum beriman yang lelaki maupun yang  perempuan.”</em> (QS. Muhammad: 19)</p>
<p>Bahkan Imam Al-Bukhari  telah membuat sebuah judul bab khusus di dalam kitabnya di mana beliau berkata,  ‘Bab Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan’. Dan beliau menyitir ayat  yang mulia ini. <em>“Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang  benar selain Allah,”</em> di dalam ayat tersebut Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> memulai dengan ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa  ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya seluruh  manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal  shalih, saling mewasiatkan dalam hal kebenaran dan saling mewasiatkan dalam  kesabaran.”</em> (QS. Al-‘Ashr: 1-3)</p>
<p>Di dalamnya Allah  menjanjikan keselamatan dari kerugian bagi orang yang memenuhi empat kriteria:</p>
<p><strong>Kriteria pertama</strong>: iman, yang  itu berarti memiliki keyakinan yang benar. <strong>Kriteria kedua</strong>: amal shalih  serta ucapan yang shalih. Disebutkannya ucapan dan amal shalih sesudah iman  merupakan gaya bahasa penyebutan kata yang khusus setelah kata yang bersifat  umum; sebab amal adalah bagian dari iman, penyertaan ini bertujuan untuk  menunjukkan agungnya kedudukan amal.</p>
<p><strong>Kriteria ketiga</strong>: dan saling  menasihati dalam kebenaran, yaitu mereka berdakwah <em>ilallah</em>,  memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Setelah mereka memperhatikan  kepentingan diri mereka sendiri terlebih dahulu, dan setelah mereka mengerti  jalan yang benar maka mereka pun kemudian mengajak orang lain untuk menjalani  hal itu, sebab seorang muslim itu juga dibebani tugas untuk mendakwahi manusia  kepada ajaran Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>, memerintahkan yang ma’ruf dan  melarang dari yang mungkar.</p>
<p>Dan mereka saling  menasihatkan untuk menetapi kesabaran, inilah <strong>kriteria yang keempat</strong>,  yaitu bersabar dalam menghadapi resiko lelah dan kesulitan dalam menjalani  perkara tersebut. Tidak ada kebahagiaan bagi seorang muslim kecuali apabila dia  telah merealisasikan keempat kriteria ini.</p>
<p>Adapun menaruh  perhatian besar terhadap wawasan/<em>tsaqafah</em> umum dan berita-berita surat  kabar dan juga ucapan-ucapan orang dan berbagai peristiwa di dunia, maka  sesungguhnya hal itu boleh saja ditelaah apabila seorang insan telah  benar-benar mewujudkan tauhid dan membenahi aqidah, barulah dia bisa  melihat-lihat hal-hal tersebut dalam rangka mengenali kebaikan dan keburukan,  atau dalam rangka memperingatkan umat dari kejelekan-kejelekan dan  seruan-seruan kesesatan yang bertebaran di masyarakat. Akan tetapi hal itu  dapat dilakukannya apabila dia telah mempersenjatai diri dengan ilmu, serta  keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Adapun orang yang memaksakan  diri menelaah persoalan dan berita koran semacam itu atau menyelami dunia  politik namun dalam keadaan tanpa berbekal ilmu yang benar tentang aqidahnya  dan tanpa bekal ilmu tentang ajaran agamanya, maka sebenarnya perbuatannya itu  tidak akan bermanfaat baginya barang sedikitpun. Bahkan dia telah menyibukkan  diri dalam suatu urusan yang tidak ada faedahnya baginya, dan dia tidak akan  mampu membedakan mana yang benar dan mana yang batil.</p>
<p>Kebanyakan orang yang  tidak mengerti aqidah dan terlalu mencurahkan perhatian mereka untuk mengurusi  persoalan-persoalan semacam ini telah terjerumus dalam kesesatan dan bahkan  menyesatkan orang. Mereka telah membuat pengaburan kepada manusia, hal itu  terjadi karena sebenarnya mereka tidaklah memiliki ilmu dan keterangan yang  bisa dipakai untuk memilah antara yang berbahaya dengan yang bermanfaat, mana  yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan serta bagaimanakah cara  untuk mengatasi persoalan. Oleh sebab itu muncullah berbagai kejanggalan serta  kekaburan pada kebanyakan orang. Itu semua terjadi disebabkan mereka menerjuni  persoalan <em>tsaqafah</em> dan dunia perpolitikan sementara mereka tidak  mempunyai bekal ilmu tentang aqidah mereka dan pemahaman yang bersumber dari  ajaran agama mereka, sehingga akhirnya mereka menyangka suatu kebenaran sebagai  kebatilan, dan sebaliknya; menyangka suatu kebatilan sebagai kebenaran.</p>
<p>Sumber: <em>Al Muntaqa min Fatawa Al Fauzan</em>, jilid 1,  islamspirit.com</p>
<p>***</p>
<p>Penerjemah: Abu Mushlih  Ari Wahyudi<br>
Artikel www.muslim.or.id</p>
 