
<p><span style="font-weight: 400;">Said bin al-Musayyib, seorang ulama era tabi’in pernah ditanya mengenai orang yang paling hebat dalam beribadah kepada Allah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawaban beliau, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">رَجُلٌ اجْتَرَحَ مِنَ الذُّنُوْبِ فَكُلَّمَا ذَكَرَ ذُنُوْبَهُ احْتَقَرَ عَمَلَهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang melakukan sejumlah dosa lantas setiap kali teringat dosa-dosanya tersebut dia menganggap remeh amal sholih yang pernah dia lakukan.” (<em>Shifah ash-Shofwah</em> 2/665)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara label yang mulia adalah abid, ahli ibadah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ahli ibadah yang paling hebat bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ahli ibadah yang paling hebat adalah orang yang merasa remeh dan sedikit amal shalih yang pernah dilakukannya, tidak merasa banyak beramal apalagi merasa berjasa untuk Islam dan merasa berjasa kepada Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara kiat agar bisa merasa bahwa amal kebaikan yang pernah dilakukan itu tidak berharga adalah dengan ingat banyak dosa yang pernah dilakukan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jangan pernah lupakan dosa agar kita tidak pernah merasa sudah hebat dalam beramal shalih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang merasa hina di hadapan Allah karena menyadari betapa tidak bernilainya  amal ibadah yang pernah dilakukan. Aamiin.</span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 