
<p>Segala puji hanya kembali dan milik Allah <em>Tabaroka wa Ta’ala, </em>hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. <em>Sholawat </em>serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah<em>, </em>Muhammad bin Abdillah <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, </em>beserta keluarga dan para sahabat beliau <em>ra</em><em>dhiyallahu ‘anhum.</em></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedudukan wudhu dalam sholat</strong></span></h4>
<p>Wudhu merupakan suatu hal yang tiada asing bagi setiap muslim, sejak kecil ia telah mengetahuinya bahkan telah mengamalkannya. Akan tetapi apakah wudhu yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun atau bahkan telah puluhan tahun itu telah benar sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>? Karena suatu hal yang telah menjadi konsekwensi dari dua kalimat syahadat bahwa ibadah harus ikhlas mengharapkan ridho Allah dan sesuai sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam.</em> Demikian juga telah masyhur bagi kita bahwa wudhu merupakan <strong>syarat sah sholat<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong>, yang mana jika syarat tidak terpenuhi maka tidak akan teranggap/terlaksana apa yang kita inginkan dari syarat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi yang mulia, Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ »</p>
<p align="center"><em>“</em><em>Tidak diterima </em><em>sholat orang yang berhadats sampai ia berwudhu</em><em>”</em><em>.<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em></p>
<p>Demikian juga dalam juga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>perintahkan kepada kita dalam KitabNya,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ</p>
<p align="center"><em>“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. </em>(QS Al Maidah [5] : 6).</p>
<p>Maka marilah duduk bersama kami barang sejenak untuk mempelajari shifat/tata cara wudhu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengertian wudhu</strong></span></h4>
<p>Secara <strong>bahasa</strong> wudhu berarti <strong><em>husnu</em>/keindahan</strong> dan <strong><em>nadhofah</em>/kebersihan</strong>, wudhu untuk sholat dikatakan sebagai wudhu karena ia membersihkan anggota wudhu dan memperindahnya<a href="#_ftn3">[3]</a>. Sedangkan pengertian menurut istilah dalam syari’at, wudhu adalah <strong>peribadatan </strong>kepada Allah <em>‘azza wa jalla </em>dengan <strong>mencuci</strong> empat anggota wudhu<a href="#_ftn4">[4]</a> <strong>dengan tata cara tertentu</strong>. Jika pengertian ini telah dipahami maka kita akan mulai pembahasan tentang syarat, hal-hal wajib dan sunnah dalam wudhu secara ringkas.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Tata </strong><strong>C</strong><strong>ara </strong><strong>W</strong><strong>udhu secara </strong><strong>G</strong><strong>lobal</strong></span></h4>
<p>Adapun tata cara wudhu secara ringkas berdasarkan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>dari Humroon budak sahabat Utsman bin Affan <em>rodhiyallahu ‘anhu<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em>,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِى الْوَضُوءِ ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ ، وَاسْتَنْشَقَ ، وَاسْتَنْثَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثًا ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ، ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثًا ، ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا وَقَالَ « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p align="center"><em>Dari Humroon </em><em>-bekas </em><em>budak</em><em> </em><em>Utsman bin Affan</em><em>–</em><em>, suatu ketika </em><em>‘Utsman </em><em>memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadah<sup>pent.</sup>), kemudian </em><em>ia</em><em> tuangkan air dari wadah tersebut ke kedua tangan</em><em>nya</em><em>. Maka ia membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhu kemudian berkumur-kumur, lalu beristinsyaq dan beristintsar. Lalu beliau membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, (kemudian) membasuh kedua tangannya sampai siku sebanyak tiga kali kemudian menyapu kepalanya (sekali saja<sup>pent.</sup>) kemudian membasuh kedua kakinya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengatakan, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu yang semisal ini dan beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Barangsiapa yang berwudhu dengan wudhu semisal ini kemudian sholat 2 roka’at (dengan khusyuk<sup>ed.</sup>)dan ia tidak berbicara di antara wudhu dan sholatnya<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a> maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu”<a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a>.</em></p>
<p>Dari hadits yang mulia ini dan beberapa hadits yang lain dapat kita simpulkan tata cara wudhu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>secara ringkas sebagai berikut<a href="#_ftn8">[8]</a>,</p>
<ol>
<li>Berniat wudhu (dalam hati) untuk menghilangkan hadats.</li>
<li>Mengucapkan basmalah<em> </em>(bacaan bismillah).</li>
<li>Membasuh dua telapak tangan sebanyak 3 kali.</li>
<li>Mengambil air dengan tangan kanan kemudian memasukkannya ke dalam mulut dan hidung untuk berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air dalam hidung). Kemudian beristintsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan tangan kiri sebanyak 3 kali.</li>
<li>Membasuh seluruh wajah dan menyela-nyelai jenggot sebanyak 3 kali.</li>
<li>Membasuh tangan kanan hingga siku bersamaan dengan menyela-nyelai jemari sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan yang kiri.</li>
<li>Menyapu seluruh kepala dengan cara mengusap dari depan ditarik ke belakang, lalu ditarik lagi ke depan, dilakukan sebanyak 1 kali, dilanjutkan menyapu bagian luar dan dalam telinga sebanyak 1 kali.</li>
<li>Membasuh kaki kanan hingga mata kaki bersamaan dengan menyela-nyelai jemari sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan kaki kiri.</li>
</ol>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Syarat-Syarat Wudhu<a href="#_ftn9"><span style="color: #ff0000;"><strong>[9]</strong></span></a></strong></span></h4>
<p>Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan<em> hafidzahullah</em> menyebutkan <strong>syarat wudhu ada tujuh</strong><a href="#_ftn10">[10]</a>, yaitu</p>
<ul>
<li>Islam,</li>
<li>Berakal,</li>
<li>
<em>Tamyiz<a href="#_ftn11"><strong>[11]</strong></a></em>,</li>
<li>Berniat<a href="#_ftn12">[12]</a>, (letak niat ini <strong>ketika hendak</strong> akan melakukan ibadah tersebut<a href="#_ftn13">[13]</a>,<sup>pent.</sup>)</li>
<li>Air yang digunakan adalah air yang bersih dan bukan air yang diperoleh dengan cara yang haram,</li>
<li>Telah beristinja’<a href="#_ftn14">[14]</a> &amp; istijmar<a href="#_ftn15">[15]</a> lebih dulu (jika sebelumnya memiliki keharusan untuk istinja’ dan istijmar dari hadats),</li>
<li>Tidak adanya sesuatu hal yang mencegah air sampai ke kulit.</li>
</ul>
<p>Kami tidak menyebutkan dalil tentang hal di atas karena kami menganggap hal ini telah ma’ruf dikalangan kaum muslimin.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Wajib Wudhu</strong></span></h4>
<ul>
<li>
<strong>Membaca bismillah</strong> ketika hendak wudhu, sebagaimana sabda Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ »</p>
<p align="center"><em>“Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan <strong>tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala (bismillah) ketika hendak berwudhu</strong>”.<a href="#_ftn16"><strong>[16]</strong></a></em><strong> </strong></p>
<ul>
<li>
<strong>Membasuh wajah, </strong>termasuk dalam membasuh wajah adalah <strong>berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar<a href="#_ftn17"><strong>[17]</strong></a>. </strong>Para ‘ulama mengatakan batasan bagian wajah yang dibasuh adalah mulai dari atas ujung dahi (awal tempat tumbuhnya rambut) sampai bagian bawah jenggot dan batas kiri kanan adalah telinga[*]<a href="#_ftn18">[18]</a>.</li>
</ul>
<p>Adapun yang dimaksud dengan istinsyaq adalah sebagaimana yang dikatakan <strong>Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy</strong> <em>rohimahullah</em>, “Memasukkan air ke hidung dengan menghisapnya sampai ke ujungnya, sedangkan istintsar adalah kebalikannya”<a href="#_ftn19">[19]</a>. Dalil tentang hal ini sebagaimana yang firman Allah <em>‘azza wa jalla</em>,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ</p>
<p align="center"><em>“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka <strong>basuhlah wajah</strong>”. </em>(QS Al Maidah [5] : 6).</p>
<p>Sebagaimana dalam ilmu ushul fiqh<a href="#_ftn20">[20]</a> perintah dalam perkara ibadah memberikan konsekwensi wajib. Maka membasuh wajah dalam wudhu adalah wajib. Sedangkan dalil yang menunjukkan wajibnya berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar adalah ayat di atas yang memerintahkan kita untuk membasuh wajah, sedangkan mulut dan hidung merupakan bagian dari wajah. Demikian juga hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لْيَنْتَثِرْ »</p>
<p align="center"><em>“Jika salah seorang dari kalian hendak berwudhu maka beristinsyaqlah di hidungnya dengan air kemudian beristintsarlah”.<a href="#_ftn21"><strong>[21]</strong></a></em></p>
<p>Dalil khusus dalam masalah kumur-kumur adalah hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ »</p>
<p align="center"><em>“Jika engkau hendak wudhu</em><em>,</em><em> maka berkumur-kumurlah”<a href="#_ftn22"><strong>[22]</strong></a>.</em></p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani <em>rohimahullah </em>mengatakan, “Cara berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar dilakukan bersamaan (satu kali jalan), maka setengah air digunakan untuk berkumur-kumur dan sisanya untuk istinsyaq dan istintsar”.<a href="#_ftn23">[23]</a><strong> </strong></p>
<ul>
<li>
<strong>Menyela-nyelai jenggot</strong>, dalil tentang hal ini adalah hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>dari sahabat Anas bin Malik <em>rodhiyallahu ‘anhu, </em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنَكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَقَالَ « هَكَذَا أَمَرَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ »</p>
<p align="center"><em>“Merupakan kebiasaan (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam<sup>pent</sup>. ) jika beliau akan berwudhu, beliau mengambil segenggaman air kemudian beliau basuhkan (ke wajahnya<sup>pent</sup>) sampai ketenggorokannya kemudian beliau menyela-nyelai jenggotnya”. Kemudian beliau mengatakan, “<strong>Demikianlah cara berwudhu yang diperintahkan Robbku kepadaku</strong>”<a href="#_ftn24"><strong>[24]</strong></a>.</em></p>
<p>Dan cara menyela-nyelai jenggot adalah sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em> di atas yaitu dengan menyela-nyelainya bersamaan dengan membasuh wajah<a href="#_ftn25">[25]</a>.</p>
<ul>
<li>
<strong>Membasuh kedua tangan sampai siku</strong>, dalilnya adalah firman Allah <em>‘azza wa jalla,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ</p>
<p align="center"><em>“Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu <strong>sampai dengan siku</strong>”. </em>(QS Al Maidah [5] : 6).</p>
<p>Demikian juga hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلاَثًا ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلاَثًا »</p>
<p align="center"><em>“Kemudian beliau membasuh tangannya yang kanan sampai siku sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kiri sampai siku sebanyak tiga kali”<a href="#_ftn26"><strong>[26]</strong></a>.</em></p>
<ul>
<li>
<strong>Menyapu<a href="#_ftn27"><strong>[27]</strong></a> kepala dengan air, kedua telinga termasuk dalam bagian kepala<a href="#_ftn28"><strong>[28]</strong></a></strong>. Dalilnya adalah firman Allah <em>‘azza wa jalla,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ</p>
<p align="center"><em>“Dan sapulah kepalamu”. </em>(QS Al Maidah [5] : 6).</p>
<p>Perintah dalam ayat ini menunjukkan hukum menyapu kepala adalah wajib bahkan hal ini diklaim ijma’ oleh An Nawawi Asy Syafi’i <em>rohimahullah<a href="#_ftn29"><strong>[29]</strong></a></em>. Demikian juga sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ »</p>
<p align="center"><em>“Kemudian beliau membasuh mengusap kepala dengan tangannya,(dengan cara<sup>pent.</sup>) menyapunya </em><em>ke depan dan ke belakang. B</em><em>eliau memulainya dari bagian depan kepalanya </em><em>ditarik ke belakang </em><em>sampai ke tengkuk kemudian mengembalikannya </em><em>lagi </em><em>ke bagian depan kepalanya”<a href="#_ftn30"><strong>[30]</strong></a>.</em></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bagaimana <strong>cara mengusap kepala<a href="#_ftn31"><strong>[31]</strong></a></strong> yang Allah perintahkan dalam surat Al Maidah ayat 6 di atas. Demikian juga hadits ini juga dalil bahwa yang bagian kepala yang dihusap dalam ayat di atas adalah <strong>seluruh kepala/rambut<a href="#_ftn32"><strong>[32]</strong></a> </strong>dan inilah pendapat Al Imam Malik <em>rohimahullah </em>demikian juga hal ini merupakan pendapat Al Imam Al Bukhori <em>rohimahullah</em> sebagaimana dalam kitab shahihnya. Jadi mengusap kepala bukanlah hanya sebagian (hanya ubun-ubun) sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan dalil bahwa menyapu kedua telinga termasuk dalam menyapu kepala adalah sabda Nabi <em>’alaihish sholatu was salam</em>,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ »</p>
<p align="center"><em>“Kedua telinga merupakan bagian dari kepala”.<a href="#_ftn33"><strong>[33]</strong></a></em></p>
<p>Lalu cara menyapu kedua telinga adalah sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ بَاطِنِهِمَا بِالسَّبَّاحَتَيْنِ وَظَاهِرِهِمَا بِإِبْهَامَيْهِ »</p>
<p align="center"><em>“kemudian beliau menyapu kedua telinga sisi dalamnya dengan dua telunjuknya dan sisi luarnya dengan kedua jempolnya”.<a href="#_ftn34"><strong>[34]</strong></a></em></p>
<p>Adapun untuk <strong>cara mengusap kepala dan kedua telinga</strong><strong> </strong><strong>dengan air, untuk perempuan sama seperti untuk laki-laki</strong> sebagaimana yang dikatakan oleh An Nawawi Asy Syafi’i <em>rohimahullah </em>demikian juga hal ini merupakan pendapat Imam Syafi’i <em>rohimahullah</em> sendiri dan dinukil oleh Al Bukhori <em>rohimahullah</em> dalam kitab shohihnya dari Sa’id bin Musayyib<em> rohimahullah</em> <a href="#_ftn35">[35]</a>.</p>
<ul>
<li>
<strong>Membasuh kedua kaki hingga mata kaki</strong>. Dalil hal ini adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ</p>
<p align="center"><em>“(basuh) kaki-kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki”. </em></p>
<p align="center">(QS Al Maidah [5] : 6).</p>
<p>Demikian juga hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ »</p>
<p align="center"><em>“Kemudian beliau membasuh kedua kakinya hingga dua mata kaki”<a href="#_ftn36"><strong>[36]</strong></a>.</em></p>
<p>Membasuh kedua mata kaki hukumnya wajib karena Allah sebutkan dengan lafadz/bentuk perintah, dan hukum asal perintah dalam masalah ibadah adalah wajib. Adapun cara membasuhnya adalah sebagaimana yang disabdakan beliau <em>alaihish sholatu was salam,</em></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« إِذَا تَوَضَّأَ دَلَكَ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ بِخِنْصَرِهِ »</p>
<p align="center"><em>“Jika beliau shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu, <strong>beliau menggosok jari-jari kedua kakinya dengan dengan jari kelingkingnya</strong>”<a href="#_ftn37"><strong>[37]</strong></a>.</em></p>
<p>Demikian juga pendapat Al Ghozali <em>rohimahullah, </em>namun beliau <em>qiyas</em>kan dengan cara istinja’, sebagaimana yang dinukilkan oleh Al ‘Amir Ash Shon’ani <em>rohimahullah<a href="#_ftn38"><strong>[38]</strong></a></em>.</p>
<ul>
<li><strong>Muwalah</strong></li>
</ul>
<p>Muwalah<a href="#_ftn39">[39]</a> adalah berturut-turut dalam membasuh anggota-anggota wudhu dalam artian membasuh anggota wudhu lainnya sebelum anggota wudhu (yang sebelumnya telah dibasuh <sup>pent.</sup>) mengering dalam kondisi/waktu normal<a href="#_ftn40">[40]</a>.</p>
<p>Dalil wajibnya hal ini adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,</em></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ</p>
<p align="center"><em>“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku”.</em> (QS Al Maidah [5] : 6).</p>
<p>Sisi pendalilannya sebagai berikut, jawab syarat (dari kalimat syarat yang ada dalam ayat ini<em><sup>pent.</sup></em>) merupakan suatu yang berurutan dan tidak boleh diakhirkan<a href="#_ftn41">[41]</a>. Adapun dalil dari Sunnah adalah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>berwudhu dengan tidak memisahkan membasuh anggota wudhu (yang satu dengan yang lainnya<em><sup>pent.</sup></em>) dan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>yang diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khottob <em>rodhiyallahu ‘anhu</em></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">أَنَّ رَجُلاً تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ». فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى</p>
<p align="center"><em>“Bahwasanya ada seorang laki-laki berwudhu dan meninggalkan bagian yang belum dibasuh sebesar kuku pada kakinya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam melihatnya maka Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kembalilah (berwudhu<sup>pent.</sup>) perbaguslah wudhumu”.<a href="#_ftn42"><strong>[42]</strong></a></em></p>
<p>Hal ini merupakan pendapat Imam Syafi’i dalam perkataannya yang lama, serta pendapat Al Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur dar beliau<a href="#_ftn43">[43]</a>.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Sunnah Wudhu</strong></span></h4>
<ul>
<li>
<strong>Bersiwak<a href="#_ftn44"><strong>[44]</strong></a></strong>, hal sebagaimana dalam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ »</p>
<p align="center"><em>“Seandainya jika tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap hendak berwudhu”<a href="#_ftn45"><strong>[45]</strong></a>.</em></p>
<ul>
<li>
<strong>Mencuci kedua tangan tiga kali ketika hendak berwudhu</strong>, sunnah ini lebih ditekankan <strong>ketika bangun dari tidur</strong> atau dengan kata lain hukumnya <strong>wajib</strong>. Dalil yang menunjukkan bahwa mencuci tangan ketika hendak berwudhu sunnah adalah hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ….. ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا</p>
<p align="center"><em>Dari Humroon budaknya Utsman bin Affan, (ketika ia menjadi budaknya Utsman<sup>pent.</sup>) suatu ketika beliau memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadah<sup>pent.</sup>), kemudian aku tuangkan air dari wadah tersebut ke kedua tangan beliau. Maka ia membasuh tangannya sebanyak tiga kali……kemudian beliau berkata, “Aku dahulu melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu seperti yang aku peragakan ini”<a href="#_ftn46"><strong>[46]</strong></a>.</em></p>
<p>Hal ini ditetapkan sebagai sunnah dan bukan wajib sebab Utsman <em>rodhiyallahu ‘anhu </em>melakukannya karena melihat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em> melakukannya. Semata-mata perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>yang dicontoh para sahabat menunjukkan hukum anjuran atau sunnah<a href="#_ftn47">[47]</a>. Kemudian dalil yang menunjukkan wajibnya mencuci tangan ketika bangun dari tidur adalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">«وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِى وَضُوئِهِ ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ »</p>
<p align="center"><em>“</em><em>Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka hendaklah ia mencuci tangannya sebelum ia memasukkan tangannya ke air wudhu, <strong>karena ia tidak tahu di mana tangannya bermalam</strong>”.</em></p>
<p>Jika ada yang bertanya apakah hal ini hanya berlaku pada tidur di malam hari saja atau umum? Maka jawabannya adalah sebagaimana yang disampaikan Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam </em>di atas yaitu semua tidur yang menyebabkan orang tidak tahu di mana tangannya berada ketika ia tidur. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh Al Imam Asy Syafi’i <em>rohimahullah, </em>demikian juga mayoritas ‘ulama<a href="#_ftn48">[48]</a>.</p>
<ul>
<li>
<strong>Bersungguh-sungguh</strong> dalam <strong>beristinsyaq</strong> dan <strong>berkumur-kumur</strong> ketika <strong>tidak sedang berpuasa<a href="#_ftn49"><strong>[49]</strong></a></strong>. Dalilnya adalah sabda Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« بَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا »</p>
<p align="center"><em>“Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali jika kalian sedang berpuasa”<a href="#_ftn50"><strong>[50]</strong></a>.</em></p>
<ul>
<li>
<strong>Mendahulukan</strong> <strong>membasuh anggota wudhu yang kanan</strong>. Dalilnya adalah sabda Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِى طُهُورِهِ إِذَا تَطَهَّرَ »</p>
<p align="center"><em>“Adalah kebiasaan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam sangat menyukai mendahulukan kanan dalam thoharoh (berwudhu<sup>pent.</sup>)”<a href="#_ftn51"><strong>[51]</strong></a>.</em></p>
<ul>
<li>
<strong>Membasuh anggota wudhu sebanyak</strong><strong> 2 kali atau</strong><strong> 3 kali</strong>. Dalil bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>membasuh anggota wudhunya 2 kali adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Zaid,</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ</p>
<p align="center"><em>“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu <strong>(membasuh anggota wudhunya sebanyak</strong><sup>pent.</sup><strong>) dua kali-dua kali</strong>.<a href="#_ftn52"><strong>[52]</strong></a>”</em></p>
<p>Dalil bahwa beliau membasuh anggota wudhu sebanyak tiga kali adalah hadits yang diriwayatkan Humroon dari tentang wudhu Utsman bin Affan <em>rodhiyallahu ‘anhu</em> ketika melihat cara wudhu Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam,</em></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ…. ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا…</p>
<p align="center"><em>Dari Humroon budaknya Utsman bin Affan, (ketika ia menjadi budaknya Utsman<sup>pent.</sup>) suatu ketika beliau memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadah<sup>pent.</sup>), kemudian aku tuangkan air dari wadah tersebut ke tangan beliau. Maka ia membasuh tangannya <strong>sebanyak </strong></em><strong><em>3</em></strong><strong><em> kali</em></strong><em>…</em><em>kemudian dia <strong>membasuh wajahnya sebanyak 3 kali….<a href="#_ftn53"><strong>[53]</strong></a></strong></em></p>
<p>Hal ini sering beliau lakukan pada anggota wudhu selain pada mengusap kepala, berdasarkan salah satu riwayat hadits Abdullah bin Zaid <em>rodhiyallahu ‘anhu</em> di atas yang juga dalam <em>shohihain</em>,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأْسَهُ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً</p>
<p align="center"><em>“Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam wadah air lalu menyapu kepalanya ke arah depan dan belakang sebanyak 1 kali”<a href="#_ftn54"><strong>[54]</strong></a>.</em></p>
<p>Namun demikian dianjurkan juga menyapu kepala sebanyak tiga kali<a href="#_ftn55">[55]</a>, namun hal ini dianjurkan dengan catatan tidak dilakukan terus menerus berdasarkan salah satu riwayat hadits yang diriwayatkan Humroon tentang cara wudhu Utsman bin Affan <em>rodhiyallahu ‘anhu</em> ketika beliau melihat cara wudhu Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam</em>,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ هَكَذَا</p>
<p align="center"><em>Beliau (Utsman bin Affan <sup>pent.</sup>)menyapu kepalanya tiga kali kemudian membasuh kakinya tiga kali, kemudian beliau berkata, “Aku melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu seperti ini”<a href="#_ftn56"><strong>[56]</strong></a>.</em></p>
<ul>
<li>
<strong>Tertib</strong>, yang dimaksud tertib di sini adalah membasuh anggota wudhu sesuai tempatnya (urutan yang ada dalam ayat wudhu<em><sup>pent.</sup></em>)<a href="#_ftn57">[57]</a>. Hal ini kami cantumkan di sini sebagai sebuah sunnah bukan wajib dalam wudhu dengan alasan hadits Al Miqdam bin Ma’dikarib Al Kindiy <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">أُتِىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثًا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلاَثًا ثَلاَثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا</p>
<p align="center"><em>“Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam melakukan wudhu dengan membasuh tangannya tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq tiga kali, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kakinya tiga kali, kemudian menyapu kepalanya dan telinga bagian luar maupun dalam”<a href="#_ftn58"><strong>[58]</strong></a>.</em></p>
<ul>
<li>
<strong>Berdo’a ketika telah selesai berwudhu</strong>. Hal ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam, </em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ ».</p>
<p align="center"><em>“Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu dan ia menyempurnakan wudhunya kemudian membaca, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah” melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia bis</em><em>a</em><em> masuk dari</em><em> pintu</em><em> mana saja ia mau”<a href="#_ftn59"><strong>[59]</strong></a>.</em></p>
<p>At Tirmidzi menambahkan lafafdz,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ</p>
<p align="center"><em>“Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termsuk orang-orang yang selalu mensucikan diri”<a href="#_ftn60"><strong>[60]</strong></a></em>.</p>
<ul>
<li>Sholat dua raka’at setelah wudhu. Hal ini berdasarkan hadits Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam,</em>
</li>
</ul>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">« مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »</p>
<p align="center"><em>“Barangsiapa berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian sholat 2 raka’at </em><em>(dengan khusyuk<sup>ed.</sup>) </em><em>setelahnya dan <strong>ia tidak berbicara di antara keduanya<a href="#_ftn61"><strong>[61]</strong></a></strong>, maka akan diampuni seluruh dosanya yang telah lalu”<a href="#_ftn62"><strong>[62]</strong></a>.</em></p>
<p>Demikianlah akhir tulisan ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kami sebagai tambahan ‘amal dan sebagai tambahan ilmu bagi pembaca sekalian serta berbuah ‘amal bagi kita semua. <em>Allahu a’lam bish showab</em></p>
<blockquote>
<p><em>Ketika rintik-rintik hujan membasahi ranah pogung, 1 Dzul Hijjah 1430 H</em></p>
<p><em>Penulis: Aditya Budiman</em></p>
</blockquote>
<blockquote><p><em>Muroja’ah: M. A. Tuasikal</em></p></blockquote>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1">
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Bahkan hal ini diklaim ijma’oleh <strong>An Nawawi</strong> <em>rohimahullah </em>[lihat <strong>Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim</strong> oleh <strong>An Nawawi</strong> <em>rohimahullah</em> hal. 98/III cetakan Darul Ma’rifah, Beirut dengan tahqiq dari <strong>Syaikh Kholil Ma’mun Syihaa</strong>]
</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhori no. 135, Muslim no. 225.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <strong>Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim</strong> oleh <strong>An Nawawi</strong> <em>rohimahullah</em> hal. 95/III. Hal senada juga dikatakan oleh <strong>Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy</strong> <em>rohimahullah </em>dalam <strong>Fathul Baari</strong> hal. 214/I.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin <em>rohimahullah </em>mengatakan, “Penyebut empat anggota wudhu dalam hal ini hanyalah maksudnya adalah penyebutan sebagian namum yang diinginkan adalah seluruh anggota wudhu”. [lihat <strong>Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’</strong> hal. 110/I, terbitan Al Kitabul ‘Alimiy, Beirut, Lebanon.]Atau bisa kita katakan sebagai majas <em>part pro toto</em> dalam istilah bahasa Indonesia.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Hadits ini merupakan salah satu hadits pokok dalam masalah tata cara wudhu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam.</em></p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Akan datang penjelasannya <em>insya Allah</em>.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhori no. 159,Muslim no. 226.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat <strong>Shohih Fiqhis Sunnah</strong> oleh <strong>Abu Maalik Kamaal bin Sayyid Salim</strong> hal. 111/I, terbitan Maktabah Tauqifiyah.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Kami menempuh cara menulis seperti ini (membedakan mana perkara yang sunnah dan wajib) bukanlah berarti tidak ingin meniru wudhu Nabi secara menyeluruh akan tetapi agar ‘amal kita bisa memiliki nilai tambah jika berhadapan dua hal yang sama-sama baik, misalnya hal yang wajib dan sunnah ataupun 2 hal yang sunnah namun salah satu lebih ditekankan. <em>Allahu A’lam.</em></p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat <strong>Al Mulakhoshul Fiqhiy</strong> hal. 24 oleh <strong>Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan</strong> <em>hafidzahullah</em> cetakan Dar Ibnul Jauziy Riyadh.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Tolak ukur <em>tamyiz</em> adalah sebagaimana yang dikatakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>adalah <strong>berumur 7 tahun</strong> dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 495 dan dinyatakan <strong><em>hasan shohih</em></strong> oleh Al Albani <em>rohimahullah </em>dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Yang kami maksudkan dengan niat adalah <strong><em>azam</em>/keinginan yang ada dalam hati untuk berwuhu karena ingin melaksanakan perintah Allah dan RosullNya <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em></strong><em>, </em>Ibnu Taimiyah <em>rohimahullah </em>mengatakan, “<strong>Niat dalam seluruh ibadah tempatnya di hati bukan di lisan dan hal ini telah disepakati para ‘ulama kaum muslimin</strong>, semisal dalam ibadah thoharoh, sholat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak, jihad, dan lain-lain. Seandainya ada seorang yang melafadzkan niat dan hal itu berbeda dengan niat yang ada dalam hatinya maka yang menjadi tolak ukur berpahala atau tidaknya amal adalah niat yang ada dalam hatinya bukan yang ada di lisannya”.[lihat <strong>Al Fatawatul Qubro</strong> oleh <strong>Ibnu Taimiyah</strong>, dengan tahqiq <strong>Husnain Muhammad Makhluf</strong> hal. 87/II, terbitan Darul Ma’rifah, Beirut Lebanon]. yang senada juga dikatakan oleh <strong>Al Imam An Nawawi Asy Syafi’i</strong><em> rohimahullah</em> lihat <strong>Qowaid wa Fawaid minal ‘Arbain An Nawawiyah</strong> oleh <strong>Syaikh Nadzim Muhammad Shulthon</strong> hal. 30 cetakan Darul Hijroh, Riyadh, KSA demikian juga beliau isyaratkan dalam Kitabnya <strong>At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an</strong> hal. 50 dengan tahqiq dari <strong>Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Ibrohim Abul ‘Ainain</strong> cetakan Maktabah Ibnu Abbas Kairo, Mesir. Mudah-mudahan dengan penjelasan ringkas ini pembaca bisa memahami defenisi niat yang benar.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Lihat <strong>Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’</strong> hal. 127/I</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Membersihkan sesuatu yang keluar dari dua jalur kemaluan dengan air. [lihat<strong> Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’</strong> hal. 69/I ]
</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Membersihkan sesuatu yang keluar dari dua jalur kemaluan dengan tiga buah batu atau dengan selainnya [lihat <strong>Manjaahus Salikin</strong> oleh <strong>Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy</strong> <em>rohimahullah </em>hal. 38 cetakan Darul Wathon, Riyadh, KSA].</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> HR. Ibnu Hibban no. 399, At Tirmidzi no. 26, Abu Dawud no. 101, Al Hakim no. 7000, Ad Daruquthni no. 232. Hadits ini dinilai <strong><em>shohih</em></strong> oleh <strong>Al Albani</strong> <em>rohimahullah </em>dalam Shohihul Jami’ no. 7514, bahkan <strong>Syaikh Abu Ishaq Al Huwainiy</strong> membuat satu juz (kitab yang khusus membahas satu hadits) dan beliau men<strong><em>shohih</em></strong>kan hadits ini. Akan tetapi status hadits ini diperselisihkan para ulama di antara yang men<em>dhoif</em>kannya <strong>‘Ali bin Abu Bakr Al Haitsami</strong> <em>rohimahullah</em> dalam <strong>Majmu’ Az Zawaid</strong> hal. 780/IX terbitan Darul Fikr, Beirut dan <strong>penulis Shohih Fiqhis Sunnah</strong> dalam takhrij beliau untuk hadits ini.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Lihat <strong>Al Wajiz fi Fiqhil Kitab was Sunnah</strong> oleh <strong>Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy</strong> <em>hafidzahullah</em> hal<em>.</em> 38 Dar Ibnu Rojab Kairo, Mesir.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Lihat<strong> Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’</strong> hal. 131-132/I, dan tambahan dari <strong>Shohih Fiqhis Sunnah </strong>hal. 113/I.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Lihat <strong>Fathul Baari</strong> hal. 78/X.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat <strong>Mandzumah Ushulil Fiqh wa Qowa’idih</strong> oleh <strong>Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin</strong> <em>rohimahullah </em>hal. 103 cetakan Dar Ibnul Jauziy Riyadh,KSA.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> HR. Muslim no. 237.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> HR. Abu Dawud no. 144, hadits ini dinyatakan <strong>shohih</strong> oleh Al Albani dalam takhrij Beliau untuk Sunan Abu Dawud.</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Lihat <strong>Ats Tsamrul Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitaab</strong> oleh <strong>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani </strong><em>rohimahullah </em>hal. 10/I cetakan Ghiroos, Kuwait.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> HR. Abu Dawud no. 145, Al Baihaqi no. 250 dinyatakan <strong>shohih</strong> oleh Al Albani dalam <strong>Irwa’ul Gholil</strong> no. 92.</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Lihat tanda [*] dalam tulisan ini.</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> HR. Bukhori no. 1832 dan Muslim no. 226.</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> Perbedaan antara menghapus/menyapu dan membasuh adalah bahwa pada menghapus/menyapu tidak ada mengalirkan air ke tempat yang akan dihapus namun cukup dengan membasahi tangan dengan air dan menyapukan tangan tersebut ke kepala. [Lihat<strong> Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’</strong> hal. 116/I.]
</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> Lihat <strong>Al Wajiz fi Fiqhil Kitab was Sunnah</strong> oleh <strong>Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy</strong> <em>hafidzahullah</em> hal<em>.</em> 38 Dar Ibnu Rojab Kairo, Mesir.</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> Lihat <strong>Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim</strong> oleh <strong>An Nawawi</strong> <em>rohimahullah</em> hal. 102/III.</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> HR. Bukhori no. 185, Muslim 235.</p>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> Namun merupakan sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>juga membasuhnya dari arah belakang ke depan. Sebagaimana akan kami cantumkan haditsnya dalam pokok bahasan <strong>Membasuh anggota wudhu sebanyak 2 kali atau 3 kali </strong>dalam tulisan ini insya Allah <em>ta’ala.</em></p>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> Lihat penjelasan masalah ini di <strong>Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’</strong> hal. 117/I.</p>
<p><a href="#_ftnref33">[33]</a> HR. Abu Dawud no.134, At Tirmidzi no. 37, Ibnu Majah no. 478, dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan <strong>shohih</strong> oleh Al Albani <em>rahmatullah ‘alaihi</em> dalam <strong>Ash Shohihah</strong> no. 36. Lihat juga penjelasan tentang takhrij hadits ini dalam <strong>Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom </strong>oleh <strong>Al ‘Amir Ash Shon’ani</strong> <em>rohimahullah</em> hal. 206/I dengan tahqiq dari <strong>Syaikh Muhammad Shubhi Hasan Halaaq</strong> cetakan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA. Di sini muhaqqiq kitab ini menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini yang kesimpulannya hadits ini <strong>shohih</strong>.</p>
<p><a href="#_ftnref34">[34]</a> HR. An Nasa’i no. 102, dinyatakan <strong>hasan shohih</strong> oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan Nasa’i.</p>
<p><a href="#_ftnref35">[35]</a> [lihat <strong>Al Majmu’</strong> oleh <strong>An Nawawi</strong> <em>rohimahullah </em>hal. 409/I Asy Syamilah]. Dan hal ini sesuai dengan kaidah fiqh keumuman hukum dalam syari’at antara laki-laki dan perempuan selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya pada salah satu dari keduanya, [lihat<strong> Ma’alim Ushulil Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah</strong> oleh <strong>Syaikh DR. Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy</strong> <em>hafidzahullah</em> hal. 418, cetakan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA].</p>
<p><a href="#_ftnref36">[36]</a> HR. Bukhori no. 185, Muslim no. 235.</p>
<p><a href="#_ftnref37">[37]</a> HR. Tirmidzi no. 40, Abu Dawud no. 148, hadits ini dinyatakan <strong>shohih</strong> oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan At Tirmidzi.</p>
<p><a href="#_ftnref38">[38]</a> Lihat <strong>Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom </strong>oleh <strong>Al ‘Amir Ash Shon’ani</strong> <em>rohimahullah</em> hal. 196/I dengan tahqiq dari <strong>Syaikh Muhammad Shubhi Hasan Halaaq</strong> cetakan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.</p>
<p><a href="#_ftnref39">[39]</a> Lihat <strong>Shohih Fiqhis Sunnah </strong>hal. 121/I.</p>
<p><a href="#_ftnref40">[40]</a> Dalam kondisi/waktu normal maksudnya adalah jika tidak ada angin yang berhembus, dalam kondisi cuaca yang sangat panas (sehingga air wudhu dengan cepat mengering), atau sangat dingin. [lihat<strong> Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’</strong> hal. 120/I.]
</p>
<p><a href="#_ftnref41">[41]</a> Lihat<strong> Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’</strong> hal. 119/I.</p>
<p><a href="#_ftnref42">[42]</a> HR. Mulsim no. 243.</p>
<p><a href="#_ftnref43">[43]</a> Lihat dari <strong>Shohih Fiqhis Sunnah </strong>hal. 121/I.</p>
<p><a href="#_ftnref44">[44]</a><strong> Al Amir Ash Shon’ani</strong> <em>rohimahullah</em> mengatakan, “Siwak yang dimaksud dalam istilah para ulama adalah penggunaan potongan kayu atau selainnya pada gigi untuk menghilangkan kotoran kuning pada mulut”. [Lihat <strong>Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom</strong> hal. 175/I].</p>
<p><a href="#_ftnref45">[45]</a> HR. Tirmidzi no. 22, Abu Dawud no. 37, dinilai <strong><em>shohih</em></strong> oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan At Tirmidzi.</p>
<p><a href="#_ftnref46">[46]</a> HR. Bukhori no. 159,Muslim no. 226.</p>
<p><a href="#_ftnref47">[47]</a> Lihat <strong>Ma’alim Ushulil Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah </strong>hal. 124.</p>
<p><a href="#_ftnref48">[48]</a> Lihat <strong>Taudhihul Ahkaam min Bulughil Maroom</strong> oleh <strong>Syaikh Abullah Alu Bassaam</strong> <em>rohimahullah</em> hal. 215/I cetakan Maktabah Sawaadiy, Mekkah, KSA.</p>
<p><a href="#_ftnref49">[49]</a> Lihat penjelasan mengapa perintah di sini tidak dimaknai wajib di <strong>Taudhihul Ahkaam min Bulughil Maroom</strong> hal. 218/I.</p>
<p><a href="#_ftnref50">[50]</a> HR. Abu Dawud no. 2368, Al Hakim no. 525 dinyatakan shohih oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud demikian juga Adz Dzahabi.</p>
<p><a href="#_ftnref51">[51]</a> HR. Bukhori 168, Muslim no. 268.</p>
<p><a href="#_ftnref52">[52]</a> HR. Bukhori 158.</p>
<p><a href="#_ftnref53">[53]</a> HR. Bukhori 164, Muslim no. 226.</p>
<p><a href="#_ftnref54">[54]</a> HR. Bukhori 186.</p>
<p><a href="#_ftnref55">[55]</a> Pendapat inilah yang dipilih oleh <strong>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani</strong> <em>rohimahullah </em>di <strong>Ats Tsamrul Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitaab</strong> hal.11/I, demikian juga <strong>Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy</strong> <em>hafidzahullah</em> <strong>Al Wajiz fi Fiqhil Kitab was Sunnah</strong> hal. 41.</p>
<p><a href="#_ftnref56">[56]</a> HR. Abu Dawud no. 107 dan dinyatakan <strong>hasan shohih</strong> oleh Al Albani <em>rohimahullah </em>dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud.</p>
<p><a href="#_ftnref57">[57]</a> Lihat <strong>Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ </strong>hal. 118/I.</p>
<p><a href="#_ftnref58">[58]</a> HR. Abu Dawud no. 121, dinyatakan <strong>shohih</strong> oleh Al Albani <em>rohimahullah </em>dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud.</p>
<p><a href="#_ftnref59">[59]</a> HR. Muslim no. 234.</p>
<p><a href="#_ftnref60">[60]</a> HR. Tirmidzi no. 55 dan dinyatakan <strong>shohih</strong> oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan Tirmidzi.</p>
<p><a href="#_ftnref61">[61]</a> <strong>An Nawawi</strong> <em>rohimahullah </em>mengatakan, “yang dimaksud dengan tidak berbicara diantara keduanya yaitu tidak berbicara dalam <strong>masalah dunia yang tidak ada hubungannya dengan sholat</strong>”. [lihat <strong>Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim </strong>hal. 103/III]
</p>
<p><a href="#_ftnref62">[62]</a> HR. Bukhori no. 159, Muslim no. 226.</p>
 