
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumid diin. </span></i><span style="font-weight: 400;">Suatu kenikmatan yang sangat indah adalah bila seorang hamba bisa merasakan bagaimana bermunajat dengan Allah di tengah malam terutama ketika 1/3 malam terakhir. Berikut sedikit panduan dari kami mengenai shalat tahajud.</span></p>

<h2><b>Maksud Shalat Tahajud</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Shalat malam (qiyamul lail) biasa disebut juga dengan shalat tahajud. Mayoritas pakar fiqih mengatakan bahwa shalat tahajud adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari secara umum </span><span style="font-weight: 400;">setelah bangun tidur</span><span style="font-weight: 400;">.</span><span style="font-weight: 400;">1</span></p>
<h2><b>Keutamaan Shalat Tahajud</b></h2>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">: Shalat tahajud adalah sifat orang bertakwa dan calon penghuni surga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. </span></i><i><span style="font-weight: 400;">Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini, “Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari, mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang shubuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.”</span><span style="font-weight: 400;">2</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">: Tidak sama antara orang yang shalat malam dan yang tidak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. </span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Az Zumar: 9). Yang dimaksud qunut dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai dengan khusu’.</span><span style="font-weight: 400;">3</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!”</span><span style="font-weight: 400;">4</span><span style="font-weight: 400;"> Jawabannya, tentu saja tidak sama.</span></p>
<p><b>Ketiga</b><b>:</b><span style="font-weight: 400;"> Shalat tahajud adalah sebaik-baik shalat sunnah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span><span style="font-weight: 400;">5</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An Nawawi –</span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">– mengatakan, “Ini adalah dalil dari kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam hari lebih baik dari shalat sunnah di siang hari. Ini juga adalah dalil bagi ulama Syafi’iyah (yang satu madzhab dengan kami) di antaranya Abu Ishaq Al Maruzi dan yang sepaham dengannya, bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah rawatib. Sebagian ulama Syafi’iyah yang lain berpendapat bahwa shalat sunnah rawatib lebih afdhol (lebih utama) dari shalat malam karena kemiripannya dengan shalat wajib. Namun pendapat pertama tetap lebih kuat dan sesuai dengan hadits. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i><i><span style="font-weight: 400;">6</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Waktu tahajud di malam hari adalah sebaik-baik waktu pelaksanaan shalat sunnah. Ketika itu hamba semakin dekat dengan Rabbnya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu langit dan terijabahinya (terkabulnya) do’a. Saat itu adalah waktu untuk mengemukakan berbagai macam hajat kepada Allah.”</span><span style="font-weight: 400;">7</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Amr bin Al ‘Ash mengatakan, “Satu raka’at shalat sunnah di malam hari lebih baik dari 10 raka’at shalat sunnah di siang hari.” Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya.</span><span style="font-weight: 400;">8</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Rajab mengatakan, “Di sini ‘Amr bin Al ‘Ash membedakan antara shalat malam dan shalat di siang hari. Shalat malam lebih mudah dilakukan sembunyi-sembunyi dan lebih mudah mengantarkan pada keikhlasan.”</span><span style="font-weight: 400;">9</span><span style="font-weight: 400;"> Inilah sebabnya para ulama lebih menyukai shalat malam karena amalannya yang jarang diketahui orang lain.</span></p>
<p><b>Keempat</b><b>: </b><span style="font-weight: 400;">Shalat tahajud adalah kebiasaan orang sholih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat malam adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa</span></i><span style="font-weight: 400;">. ”</span><span style="font-weight: 400;">10</span></p>
<p><b>Kelima</b><b>:</b><span style="font-weight: 400;"> Sebaik-baik orang adalah yang melaksanakan shalat tahajud.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">« نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ » . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.</span></i><span style="font-weight: 400;">” Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.”</span><span style="font-weight: 400;">11</span></p>
<h2><b>Waktu Shalat Tahajud</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Shalat tahajud boleh dikerjakan di awal, pertengahan atau akhir malam. Ini semua pernah dilakukan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Sebagaimana Anas bin Malik -pembantu Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">– mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ وَلَا نَشَاءُ أَنْ نَرَاهُ نَائِمًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidaklah kami bangun agar ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari mengerjakan shalat kecuali pasti kami melihatnya. Dan tidaklah kami bangun melihat beliau dalam keadaan tidur kecuali pasti kami melihatnya pula.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">12</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ صَلَاته وَنَوْمه كَانَ يَخْتَلِف بِاللَّيْلِ وَلَا يُرَتِّب وَقْتًا مُعَيَّنًا بَلْ بِحَسَبِ مَا تَيَسَّرَ لَهُ الْقِيَام</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya waktu shalat malam dan tidur yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbeda-beda setiap malamnya. Beliau tidak menetapkan waktu tertentu untuk shalat. Namun beliau mengerjakannya sesuai keadaan yang mudah bagi beliau.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">13</span></p>
<h2><b>Waktu Utama untuk Shalat Tahajud</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Waktu utama untuk shalat malam adalah di akhir malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rabb kami -Tabaroka wa Ta’ala- akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do’a pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya</span></i><span style="font-weight: 400;">”.”</span><span style="font-weight: 400;">14</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya puasa yang paling dicintai di sisi Allah adalah puasa Daud</span></i><i><span style="font-weight: 400;">15</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> dan shalat yang dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Beliau biasa tidur di separuh malam dan bangun tidur pada sepertiga malam terakhir. Lalu beliau tidur kembali pada seperenam malam terakhir. Nabi Daud biasa sehari berpuasa dan keesokan harinya tidak berpuasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">16</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Aisyah pernah ditanyakan mengenai shalat malam yang dilakukan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">‘Aisyah menjawab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ ، فَيُصَلِّى ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ ، وَإِلاَّ تَوَضَّأَ وَخَرَجَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">17</span></p>
<h2><b>Shalat Tahajud Ketika Kondisi Sulit</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Bermunajatlah pada Allah di akhir malam ketika kondisi begitu sulit.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Ali bin Abi Tholib pernah menceritakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ وَمَا كَانَ مِنَّا فَارِسٌ يَوْمَ بَدْرٍ غَيْرَ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Kami pernah memperhatikan pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan shalat di bawah pohon. Beliau memanjatkan do’a pada Allah hingga waktu Shubuh. Dan tidak ada di antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al Aswad.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">18</span><span style="font-weight: 400;"> Dalam riwayat lain disebutkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">يُصَلِّى وَيَبْكِى حَتَّى أَصْبَحَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Beliau melaksanakan shalat sambil menangis hingga waktu shubuh.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">19</span></p>
<h2><b>Jumlah Raka’at Shalat Tahajud yang Dianjurkan (Disunnahkan)</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jumlah raka’at shalat tahajud yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Dan inilah yang menjadi pilihan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Aisyah mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at. Beliau melakukan shalat empat raka’at, maka jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat empat raka’at lagi dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat tiga raka’at.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">20</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abbas mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat malam 13 raka’at. </span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">21</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Zaid bin Kholid Al Juhani mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Aku pernah memperhatikan shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun melaksanakan 2 raka’at ringan. Kemudian setelah itu beliau laksanakan 2 raka’at yang panjang-panjang. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Beliau pun lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Lalu terakhir beliau berwitir sehingga jadilah beliau laksanakan shalat malam ketika itu 13 raka’at.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">22</span><span style="font-weight: 400;"> Ini berarti Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melaksanakan witir dengan 1 raka’at.</span><span style="font-weight: 400;">23</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sini menunjukkan bahwa disunnahkan sebelum shalat malam, dibuka dengan 2 raka’at ringan terlebih dahulu. ‘Aisyah mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak’at yang ringan</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span><span style="font-weight: 400;">24</span></p>
<h2><b>Bolehkah Menambahkan Raka’at Shalat Malam Lebih Dari 11 Raka’at?</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَلَا خِلَاف أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدّ لَا يُزَاد عَلَيْهِ وَلَا يَنْقُص مِنْهُ ، وَأَنَّ صَلَاة اللَّيْل مِنْ الطَّاعَات الَّتِي كُلَّمَا زَادَ فِيهَا زَادَ الْأَجْر ، وَإِنَّمَا الْخِلَاف فِي فِعْل النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا اِخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada khilaf bahwa tidak ada batasan jumlah raka’at dalam shalat malam, tidak mengapa ditambah atau dikurang. Alasannya, shalat malam adalah bagian dari ketaatan yang apabila seseorang menambah jumlah raka’atnya maka bertambah pula pahalanya. Jika dilakukan seperti ini, maka itu hanya menyelisihi perbuatan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dan menyelisihi pilihan yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.”</span><span style="font-weight: 400;">25</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فلا خلاف بين المسلمين أن صلاة الليل ليس فيها حد محدود وأنها نافلة وفعل خير وعمل بر فمن شاء استقل ومن شاء استكثر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada khilaf di antara kaum muslimin bahwa shalat malam tidak ada batasan raka’atnya. Shalat malam adalah shalat nafilah (shalat sunnah) dan termasuk amalan kebaikan. Seseorang boleh semaunya mengerjakan dengan jumlah raka’at yang sedikit atau pun banyak.”</span><span style="font-weight: 400;">26</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun dalil yang menunjukkan bolehnya menambah lebih dari 11 raka’at, di antaranya:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">27</span><span style="font-weight: 400;"> Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">akan menjelaskannya.</span></p>
<p><b>Lalu bagaimana dengan hadits ‘Aisyah,</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at. </span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">28</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya adalah sebagai berikut:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ingin mengikuti sunnah (ajaran) Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka mestinya mencocoki beliau dalam jumlah raka’at shalat juga dengan tata cara shalatnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan shalat yang paling bagus, kata Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوت</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Shalat yang paling baik adalah yang paling lama berdirinya.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">29</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun sekarang yang melakukan 11 raka’at demi mencontoh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak melakukan lama seperti beliau. Padahal jika kita ingin mencontoh jumlah raka’at yang dilakukan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">seharusnya juga lama shalatnya pun sama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang pertanyaannya, manakah yang lebih utama melakukan shalat malam 11 raka’at dalam waktu 1 jam ataukah shalat malam 23 raka’at yang dilakukan dalam waktu dua jam atau tiga jam?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang satu mendekati perbuatan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallalahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari segi jumlah raka’at. Namun yang satu mendekati ajaran Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dari segi lamanya. Manakah di antara kedua cara ini yang lebih baik?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya, tentu yang kedua yaitu yang shalatnya lebih lama dengan raka’at yang lebih banyak. Alasannya, karena pujian Allah terhadap orang yang waktu malamnya digunakan untuk shalat malam dan sedikit tidurnya. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Adz Dzariyat: 17)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Insan: 26)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, para ulama ada yang melakukan shalat malam hanya dengan 11 raka’at namun dengan raka’at yang panjang. Ada pula yang melakukannya dengan 20 raka’at atau 36 raka’at. Ada pula yang kurang atau lebih dari itu. Mereka di sini bukan bermaksud menyelisihi ajaran Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Namun yang mereka inginkan adalah mengikuti maksud Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu dengan mengerjakan shalat malam dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">thulul qunut</span></i><span style="font-weight: 400;"> (berdiri yang lama).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sampai-sampai sebagian ulama memiliki perkataan yang bagus, “Barangsiapa yang ingin memperlama berdiri dan membaca surat dalam shalat malam, maka ia boleh mengerjakannya dengan raka’at yang sedikit. Namun jika ia ingin tidak terlalu berdiri dan membaca surat, hendaklah ia menambah raka’atnya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengapa ulama ini bisa mengatakan demikian? Karena yang jadi patokan adalah lama berdiri di hadapan Allah ketika shalat malam. -Demikianlah faedah yang kami dapatkan dari penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">At Tarsyid</span></i><span style="font-weight: 400;">–</span><span style="font-weight: 400;">30</span></p>
<h2>
<b>Qodho’ bagi yang Luput dari Shalat Tahajud karena </b><b><i>Udzur</i></b>
</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagi yang luput dari shalat tahajud karena </span><i><span style="font-weight: 400;">udzur </span></i><span style="font-weight: 400;">seperti ketiduran atau sakit, maka ia boleh mengqodho’nya di siang hari sebelum Zhuhur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Aisyah mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau luput dari shalat malam karena tidur atau udzur lainnya, beliau mengqodho’nya di siang hari dengan mengerjakan 12 raka’at.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">31</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Umar bin Khottob mengatakan bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَىْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang tertidur dari penjagaannya atau dari yang lainnya, lalu ia membaca apa yang biasa ia baca di shalat malam antara shalat shubuh dan shalat zhuhur, maka ia dicatat seperti membacanya di malam hari.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">32</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pembahasan ringkas kami mengenai shalat tahajud. Kami masih akan membahas kiat-kiat bangun shalat tahajud dan panduan shalat witir -insya Allah-. Semoga Allah mudahkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga kita semakin terbimbing dengan sajian ringkas ini. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan sekaligus merutinkannya.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel Rumaysho.com</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disempurnakan di Panggang-Gunung Kidul, 21 Muharram 1431 H</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/11221-shalat-tahajud-lagi-setelah-shalat-tarawih.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Shalat Tahajud Lagi Setelah Shalat Tarawih</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/17458-catatan-tentang-shalat-tahajud.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Catatan tentang Shalat Tahajud</strong></span></a></li>
</ul>
<p> </p>
<p><b>Footnote:</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">1 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Abu Malik, 1/397, Al Maktabah At Taufiqiyah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">2 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, </span></i><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsir, 13/212, Maktabah Al Qurthubah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">3 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, </span></i><span style="font-weight: 400;">12/115.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">4 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Zaadul Masiir</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnul Jauzi, 7/166, Al Maktab Al Islami.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">5 HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">6</span><i><span style="font-weight: 400;"> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj</span></i><span style="font-weight: 400;">, 8/55, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, 1392</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">7</span><i><span style="font-weight: 400;"> Lathoif Al Ma’arif</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 77, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">8 </span><i><span style="font-weight: 400;">Lathoif Al Ma’arif</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 76.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">9 Idem.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">10 Lihat Al Irwa’ no. 452. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">11 HR. Bukhari no. 3739, dari Hafshoh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">12</span><i><span style="font-weight: 400;"> Shahih</span></i><span style="font-weight: 400;">. HR. Bukhari no. 1141, An Nasai no. 1627 (ini lafazh An Nasai), At Tirmidzi no. 769. Lihat</span><i><span style="font-weight: 400;"> Shahih wa Dho’if Sunan An Nasai</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Al Albani, 4/271, Asy Syamilah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">13 Fathul Bari, Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i, 3/23, Darul Ma’rifah Beirut, 1379.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">14 HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758, dari Abu Hurairah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">15 Sebagaimana dijelaskan oleh penulis </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;"> -Syaikh Abu Malik- bahwa puasa Daud ini boleh dilakukan dengan syarat tidak sampai melalaikan yang wajib-wajib dan tidak sampai melalaikan memberi nafkah kepada keluarga yang menjadi tanggungannya. Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Abu Malik, 2/138, Al Maktabah At Taufiqiyah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">16 HR. Bukhari no. 1131 dan Muslim no. 1159, dari ‘Abdullah bin ‘Amr.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">17 HR. Bukhari no. 1146, dari ‘Aisyah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">18 HR. Ahmad 1/138. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">19 HR. Ahmad 1/125. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">20 HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">21 HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">22 HR. Muslim no. 765.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">23 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Muntaqo Syarh Al Muwatho</span></i><span style="font-weight: 400;">‘, 1/280, Mawqi’ Al Islam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">24 HR. Muslim no. 767.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">25</span><i><span style="font-weight: 400;"> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj,</span></i><span style="font-weight: 400;"> An Nawawi, 6/19, Dar Ihya’ At Turots Al Arobi Beirut, cetakan kedua, 1392.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">26</span><i><span style="font-weight: 400;"> At Tamhid</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu ‘Abdil Barr, 21/69-70, Wizaroh Umum Al Awqof, 1387 dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Istidzkar</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu ‘Abdil Barr, 2/98, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1421 H.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">27 HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">28 HR. Bukhari dan Muslim. Sudah lewat takhrijnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">29 HR. Muslim no. 756, dari Jabir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">30 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">At Tarsyid,</span></i><span style="font-weight: 400;"> Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 146-149, Dar Ad Diya’.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">31 HR. Muslim no. 746.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">32 HR. Muslim no. 747.</span></p>
 