
<p>Di antara petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pada saat bayi baru lahir adalah <em>mentahnik</em> dan mendoakan keberkahan untuknya. Apa itu <em>tahnik</em> dan bagaimana cara pelaksanaannya dapat kita pelajari dari beberapa hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berikut ini.</p>
<p>Ibunda orang-orang mukmin, ‘Aisyah <em>ra</em><em>dhiyallahu ‘anha</em> meriwayatkan,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ</strong></p>
<p>“Dahulu, bayi-bayi biasa dibawa ke hadapan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Lalu beliau mendoaakan keberkahan untuk mereka dan <em>mentahnik</em> mereka.” <strong>(HR. Muslim no. 2147)</strong></p>
<p>Demikian pula hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhuma. </em>Beliau menceritakan, “Aku sedang mengandung ‘Abdullah bin Zubair di Mekkah. Suatu ketika aku pergi ke Madinah dan singgah di Qubba’. Aku pun melahirkan di Qubba’.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>ثُمَّ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَوَضَعَهُ فِى حَجْرِهِ ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا ثُمَّ تَفَلَ فِى فِيهِ فَكَانَ أَوَّلَ شَىْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ حَنَّكَهُ بِالتَّمْرَةِ ثُمَّ دَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عَلَيْهِ وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِى الإِسْلاَمِ.</strong></p>
<p>“Kemudian aku mendatangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>lalu aku meletakkan bayiku di pangkuan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau pun meminta dibawakan sebuah kurma lalu beliau mengunyahnya dan meludahi mulut (‘Abdullah bin Zubair yang masih bayi -pen). Sehingga jadilah <strong>air liur Rasulullah </strong><strong><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong> <strong>merupakan benda pertama yang masuk perutnya</strong>. <strong>Setelah itu Nabi </strong><strong><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong> <strong><em>mentahniknya</em></strong><strong> dengan kurma lalu mendoakan keberkahan untuknya</strong>. Dialah orang pertama yang dilahirkan dari orang tua yang muslim dalam sejarah Islam.” <strong>(HR. Bukhari no. 3909 dan Muslim no. 2146)</strong></p>
<p>Hadits selanjutnya adalah kisah lahirnya anak Abu Thalhah <em>ra</em><em>dhiyallahu ‘anhu. </em>Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu </em>meriwayatkan, “Suatu hari anak Abu Thalhah sakit. Abu Thalhah pun keluar dari rumahnya. Kemudian sang anak pun wafat. Ketika Abu Thalhah pulang, dia pun bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim), “Bagaimana keadaan anakku ?” Dia pun menjawab, “Dia lebih tenang dari sebelumnya”.</p>
<p>Lalu aku (Ummu Sulaim) pun menyuguhkan makan malam untuknya lantas dia pun menyantapnya. Kemudian dia pun menyetubuhiku. Ketika sudah selesai, aku (Ummu Sulaim) mengatakan, “Anak kita telah wafat, makamkanlah.” Esok harinya Abu Thalhah pun mendatangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan menceritakannya. Lalu beliau pun bertanya,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا.</strong></p>
<p>“Apakah kalian semalam bermalam pengantin?” Abu Thalhah menjawab, “Ya”. Lalu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berdo’a, <strong>“Ya Allah, berkahilah mereka berdua”.</strong></p>
<p>Ummu Sulaim pun melahirkan seorang anak. Lalu Abu Thalhah pun memerintahkan aku (Anas bin Malik), “Bawalah dia ke hadapan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Aku pun membawanya dan aku dibawakan beberapa kurma. Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun bertanya kepadaku,</p>
<p><strong>أَمَعَهُ شَىْءٌ ؟ قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ. فَأَخَذَهَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَمَضَغَهَا ثُمَّ أَخَذَهَا مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِى فِى الصَّبِىِّ ثُمَّ حَنَّكَهُ وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ.</strong></p>
<p>“Apakah ada yang dibawakan bersama dengannya?” Aku menjawab, “Iya ada beberapa kurma.” Maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun mengambilnya lalu <strong>mengunyahnya.</strong> <strong>Kemudian</strong> <strong>beliau mengambilnya dari mulut</strong> <strong>beliau</strong> <strong>dan menaruhnya di mulut sang bayi.</strong> Beliau pun <em>mentahniknya</em> dan memberi nama sang bayi dengan nama ‘Abdullah.” <strong>(HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144)</strong></p>
<p>Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan bahwa setelah diberikan kunyahan kurma dari mulut Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>sang bayi pun menjilati bibirnya karena mencari-cari sisa kunyahan kurma di mulutnya. Lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berkata ketika melihat peristiwa itu,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>حُبُّ الأَنْصَارِ التَّمْرَ</strong></p>
<p>“Lihatlah betapa sukanya orang Ashor (makan -pen) kurma.” <strong>(HR. Muslim no. </strong><strong>2144</strong><strong>)</strong></p>
<p>Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al ‘Asy’ari <em>ra</em><em>dhiyallahu ‘anhu </em>meriwayatkan sebuah hadits,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ</strong></p>
<p>“Ketika aku dianugrahi seorang anak, aku membawanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Kemudian beliau pun memberi nama Ibrahim dan <em>mentahniknya</em> dengan kurma.” <strong>(HR. Bukhari no. 54</strong><strong>67</strong><strong> dan Muslim no. 214</strong><strong>5</strong><strong>)</strong></p>
<p>Dari keterangan beberapa hadits di atas, kita dapat mengetahui bahwa cara mentahnik bayi dengan kurma. Yaitu kita mengunyah kurma sampai halus, lalu menempelkan dan menggosokkan sedikit (kunyahan) kurma tersebut ke langit-langit mulut bayi. <strong>Bukan memberikan kurma utuh kepada bayi.</strong></p>
<p>Ringkasnya, salah satu petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika bayi baru dilahirkan adalah mentahniknya dengan kurma dan mendoakan keberkahan untuknya. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p> </p>
<p>Rantauprapat, setelah hujan 15 Rajab 1438 H | 12 April 2017 M</p>
<p><strong>Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim</strong></p>
<p> </p>
<p>Artikel Muslimah.Or.Id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 