
<h4 lang="en-US"><b>Anjuran untuk Melaksanakan ‘Aqiqah</b></h4>
<p lang="id-ID"><span lang="en-US">Hukum ‘aqiqah diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib bagi yang mampu. Adapun jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukumnya dianjurkan (sunnah) bagi yang mampu. Pendapat jumhur inilah yang dipilih oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi </span><span lang="en-US"><i>hafidzahullahu Ta’ala </i></span><span lang="en-US">dalam kitab ini, </span><span lang="en-US"><i>Fiqh Tarbiyatul Abna’. </i></span></p>
<p lang="id-ID"><span lang="en-US">Sehingga dianjurkan untuk melaksanakan ‘aqiqah dengan menyembelih hewan ‘aqiqah untuk anak-anak kita pada hari ke tujuh kelahiran. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundab </span><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="en-US">Rasulullah </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-US">bersabda,</span></p>
<p dir="rtl" lang="en-US" align="center"><span lang="ar-SA">كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى</span></p>
<p lang="id-ID">“<span lang="en-US"><i>Setiap anak tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih hewan ‘aqiqah untuknya pada hari ke tujuh, (kepala) digundul (pelontos) dan diberi nama.” </i></span><span lang="en-US"><b>(HR. Abu Dawud no. 2838, Tirmidzi no. 1522 dan An-Nasa’i 7/166 dan Ibnu Majah no. 3165, shahih)</b></span></p>
<p lang="id-ID"><span lang="en-US">Di masyarakat jahiliyyah, juga terdapat tradisi ‘aqiqah semacam ini. Akan tetapi, di antara budaya mereka pada saat ‘aqiqah adalah melumuri kepala bayi dengan darah binatang ‘aqiqah setelah disembelih. Tradisi atau budaya inilah yang kemudian dihapus oleh Nabi </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</i></span></p>
<p lang="id-ID"><span lang="en-US">At-Tirmidzi </span><span lang="en-US"><i>rahimahullahu Ta’ala </i></span><span lang="en-US">berkata setelah meriwayatkan hadits di atas,</span></p>
<p lang="en-US" align="center"><span lang="ar-SA">هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ العِلْمِ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُذْبَحَ عَنِ الغُلَامِ العَقِيقَةُ يَوْمَ السَّابِعِ، فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ يَوْمَ السَّابِعِ فَيَوْمَ الرَّابِعَ عَشَرَ، فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ عُقَّ عَنْهُ يَوْمَ حَادٍ وَعِشْرِينَ</span></p>
<p lang="id-ID">“<span lang="en-US"><i>Status hadits ini adalah hasan shahih. Inilah yang diamalkan oleh para ulama. Dianjurkan untuk menyembelih hewan ‘aqiqah pada hari ke tujuh. Jika hewan ‘aqiqah belum tersedia pada hari ke tujuh, maka disembelih pada hari ke empat belas. Jika pada hari ke-14 belum tersedia, hewan ‘aqiqah disembelih pada hari ke dua puluh satu.” </i></span><span lang="en-US"><b>(Sunan At-Tirmidzi, 4/101)</b></span></p>
<p lang="en-US">Dari perkataan At-Tirmidzi di atas,</p>
<ol>
<li>
<p lang="id-ID"><span lang="en-US">At-Tirmidzi mengutip adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa hukum ‘aqiqah adalah sunnah (dianjurkan).</span><i> </i><span lang="en-US">Namun klaim ijma’ di sini kurang tepat.</span></p>
</li>
<li>
<p lang="id-ID"><span lang="en-US">At-Tirmidzi juga mengutip ijma’ bahwa dianjurkan melaksanakan ‘aqiqah di hari ke-14 jika hewan ‘aqiqah belum tersedia di hari ke-7. Dianjurkan juga melaksanakan ‘aqiqah di hari ke-21 jika hewan ‘aqiqah belum tersedia di hari ke-14. Sebetulnya, hadits tentang hal ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama, hadits dha’if ataukah hadits hasan. Akan tetapi, ulama sepakat untuk mengamalkan kandungan hadits ini, yaitu dianjurkannya ‘aqiqah pada hari ke-14 atau hari ke-21. Jika pada hari ke-21 belum tersedia, maka bebas melaksanakan ‘aqiqah di hari apa pun (kapan saja), tidak perlu hari kelipatan tujuh (misalnya, hari ke-25, hari ke-24, dan seterusnya).</span></p>
</li>
</ol>
<p lang="en-US">Oleh karena itu, jika ada orangtua yang belum mampu pada hari-hari tersebut, boleh menunda sampai ketika mereka sudah memiliki kemampuan melaksanakan ‘aqiqah.</p>
<h4 lang="id-ID">‘<span lang="en-US"><b>Aqiqah untuk Anak Laki-Laki dan Perempuan</b></span>
</h4>
<p lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Berdasarkan redaksi hadits di atas, pada asalnya ‘aqiqah hanya untuk anak laki-laki </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>(ghulaam). </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Akan tetapi, terdapat dalil khusus yang menunjukkan disyariatkannya ‘aqiqah untuk anak perempuan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>(jaariyah)</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. Sehingga dianjurkan untuk melaksanakan ‘aqiqah berupa dua ekor kambing bagi anak laki-laki dan satu ekor kambing bagi anak perempuan. </span></span></p>
<p lang="id-ID"><span lang="en-US">Terdapat banyak hadits yang menunjukkan dianjurkannya hal ini sehingga secara keseluruhan status hadits-hadits tersebut shahih. Di antaranya dalam riwayat An-Nas’ai, Rasulullah </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-US">bersabda,</span></p>
<p dir="rtl" lang="en-US" align="center"><span lang="ar-SA"><b>عَلَى الْغُلَامِ شَاتَانِ، وَعَلَى الْجَارِيَةِ شَاةٌ</b></span></p>
<p lang="id-ID">“<span lang="en-US"><i>Bagi anak laki-laki dua ekor kambing, dan bagi anak perempuan satu ekor kambing.” </i></span><span lang="en-US"><b>(HR. An-Nasa’i no. 4217, shahih)</b></span></p>
<p lang="id-ID"><span lang="en-US">Demikian pembahasan singkat ini, semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk melaksanakan salah satu sunnah Nabi </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-US">tersebut.</span></p>
<p lang="en-US">***</p>
<p lang="id-ID"><span lang="en-US">Diselesaikan ba’da subuh</span><span lang="en-ID">, </span><span lang="en-US">Rotterdam NL 24 Dzulqa’dah </span><span lang="en-ID">1438</span><span lang="en-US">/</span><span lang="en-ID">17 </span><span lang="en-US">Agustus</span><span lang="en-ID"> 2017</span></p>
<p lang="en-ID"><b>Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim</b></p>
<p lang="en-ID">Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 