
<p>Kedua orang tua disyari’atkan dan bahkan dianjurkan untuk mencium anak-anaknya baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Mencium dan memeluk sang anak memiliki dampak psikologis yang positif bagi anak dan juga membangun kedekatan emosional antara anak dan orang tuanya. Karena hal ini menunjukkan besarnya kasih sayang dan cinta orang tua kepada anaknya.</p>
<p><strong>Ibnu Bathal</strong> <em>rahimahullah </em>mengatakan, “(Orang tua) diperbolehkan mencium anak-anak kecil di bagian anggota tubuhnya yang manapun dan juga untuk anak yang telah besar selama bukan pada auratnya. Inilah pendapat mayoritas ulama.” <strong>(Fathul Bari, I/427)</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mencium putranya, Ibrahim <em>radhiyallahu ‘anhu.</em> Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu </em>telah mengisahkan,</p>
<p>“Kami  pergi bersama Rasululah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menuju rumah Abu Saif Al-Qayyin (sang pandai besi).  Dia ini adalah bapak susu Ibrahim (karena istri Abu Saif menyusui putra Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>). Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun mengambil Ibrahim, <strong>lalu menciumnya dengan mulut (bibir) dan hidung beliau.”</strong> (<strong>HR. Bukhari no. 1303</strong>)</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu </em>pun pernah bertutur,</p>
<p style="text-align: right;">مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- – قَالَ – كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِى عَوَالِى الْمَدِينَةِ فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيُدَّخَنُ وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ ثُمَّ يَرْجِعُ. قَالَ عَمْرٌو فَلَمَّا تُوُفِّىَ إِبْرَاهِيمُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّ إِبْرَاهِيمَ ابْنِى وَإِنَّهُ مَاتَ فِى الثَّدْىِ وَإِنَّ لَهُ لَظِئْرَيْنِ تُكَمِّلاَنِ رَضَاعَهُ فِى الْجَنَّةِ</p>
<p><strong>“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih penyayang kepada anak-anak melebihi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></strong> Dahulu Ibrahim disusukan di suatu daerah yang bernama ‘Iwal Madinah (daerah perbukitan yang letaknya lebih kurang 10 km dari masjid Nabawi, pen.). Suatu hari beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pergi menjenguknya dan kami pun bersama beliau. Lalu beliau masuk ke rumah tersebut dan pada saat itu benar-benar banyak asap sebab suami ibu susu ini adalah seorang pandai besi. <strong>Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengambil Ibrahim, menciumnya, dan kemudian pulang.</strong></p>
<p>‘Amr <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan, ‘Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan, “Sesungguhnya Ibrahim adalah putraku. Sesungguhnya dia telah wafat di usia masih disusui (belum genap usia dua tahun dan makanan pokoknya masih ASI, pen.). Sesungguhnya kelak akan ada dua orang (wanita) yang akan menggenapkan susuannya di surga.” (<strong>HR. Muslim no. 2316</strong>)</p>
<p>Masih kisah yang diriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>besabda,</p>
<p style="text-align: right;">وُلِدَ لِىَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِى إِبْرَاهِيمَ. ثُمَّ دَفَعَهُ إِلَى أُمِّ سَيْفٍ امْرَأَةِ قَيْنٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو سَيْفٍ فَانْطَلَقَ يَأْتِيهِ وَاتَّبَعْتُهُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى أَبِى سَيْفٍ وَهُوَ يَنْفُخُ بِكِيرِهِ قَدِ امْتَلأَ الْبَيْتُ دُخَانًا فَأَسْرَعْتُ الْمَشْىَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ يَا أَبَا سَيْفٍ أَمْسِكْ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم.</p>
<p style="text-align: right;">فَأَمْسَكَ فَدَعَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِالصَّبِىِّ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ. فَقَالَ أَنَسٌ لَقَدْ رَأَيْتُهُ وَهُوَ يَكِيدُ بِنَفْسِهِ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَدَمَعَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَاللَّهِ يَا إِبْرَاهِيمُ إِنَّا بِكَ لَمَحْزُونُونَ</p>
<p>“Suatu malam telah lahir putraku dan aku menamainya dengan nama kakek moyangku, Ibrahim”. Kemudian beliau menyerahkannya kepada Ummu Saif, istri seorang pandai besi yang nama kunyahnya Abu Saif. Suatu hari, beliau mengunjungi Ibrahim dan kami pun menyertai beliau. Kami pun hampir tiba di rumah Abu Saif. Ketika itu, dia sedang meniup <em>kir </em>(alat pandai besi) sehingga penuhlah rumahnya dengan asap.</p>
<p>Lalu aku (Anas) berjalan lebih cepat untuk mendahului Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Aku berkata, “Wahai Abu Saif, berhentilah meniup <em>kir,</em> karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>datang.” Lalu dia pun berhenti. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>meminta agar didatangkan kepadanya putra beliau. <strong>Lalu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mendekapnya,</strong> lalu berkata dengan apa yang Allah <em>Ta’ala </em>inginkan untuk beliau katakan.</p>
<p>Anas berkata, ‘<strong>Sungguh aku melihat Ibrahim berada di pelukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>saat dia meregang nyawanya.</strong> Kedua mata Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun berlinang. Lalu beliau berucap, <strong>“<em>Sesungguhnya air mata telah berlinang dan hati pun sedih. Namun kami tidak mengucapkan kecuali ucapan yang diridhai Rabb kami. Demi Allah, wahai Ibrahim, sesungguhnya kami benar-benar sedih karenamu.”</em></strong> (<strong>HR. Muslim no. 2315</strong>)</p>
<p>Dalam kisah di atas, lihatlah betapa besarnya kasih sayang dan perhatian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>kepada anaknya, Ibrahim. Beliau menyempatkan diri berjalan menempuh jarak yang cukup jauh untuk menemui dan mencium anak beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>menceritakan,</p>
<p style="text-align: right;">جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: تقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ</p>
<p>“Suatu hari datang seorang Arab badui (yang biasanya kurang memiliki sopan santun, pen.) menemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>lalu berkata, ‘Kalian mencium anak-anak kalian, sedangkan kami tidak pernah mencium anak-anak kami.’</p>
<p>Mendengar ucapan itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, <em>“Ataukah aku memiliki apa yang telah Allah cabut dari hatimu berupa sifat kasih sayang </em>(Aku khawatir Allah akan mencabut sifat kasih sayang dari hatimu, pen.).” (<strong>HR. Bukhari no. 5998 dan Muslim no. 2317</strong>)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meriwayatkan,</p>
<p style="text-align: right;">قَبَّلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، وَعِنْدَهُ الأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيميُّ، جَالِسًا فَقَالَ الأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْولَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ: مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mencium cucunya, Al-Hasan bin ‘Ali di dekat Al-Aqra’ bin Haabis At-Tamimi yang sedang duduk. Lalu Al-Aqra’ mengatakan, “Sungguh aku memiliki 10 orang anak, namun aku tidak pernah mencium salah seorang pun dari mereka.” Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menatapnya lalu bersabda, <strong>“<em>Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.”</em></strong> (<strong>HR. Bukhori no. 5997 dan Muslim no. 2318</strong>)</p>
<p>Demikian pula Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhu </em>pun mencium putrinya, ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha.</em></p>
<p>Al-Barra’ bin ‘Azib <em>radhiyallahu ‘anhumaa </em>meriwayatkan bahwa beliau pernah masuk ke rumah Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhu. </em>Ketika itu, putrinya (‘Aisyah) sedang terbaring karena terkena demam. Lalu aku (Al-Barra’) melihatnya mencium pipi putrinya sambil berucap,</p>
<p style="text-align: center;">كَيْفَ أَنْتِ يَا بُنَيَّةُ</p>
<p>“Bagaimana kondisimu, wahai putriku (sayang)?” (<strong>HR. Bukhari no. 3817, 3918</strong>).</p>
<p>Syaikh Musthafa Al-‘Adawi <em>hafizhahullah </em>mengatakan, “Peristiwa ini terjadi di awal-awal hijrah (ke Madinah) dan ‘Aisyah ketika itu belum baligh dan ayat tentang kewajiban hijab pun belum turun pada saat Al-Barra’ masuk ke rumah Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhu.” </em><strong>(<em>Fiqh Tarbiyatil Abna’, </em>hal. 65)</strong></p>
<p>Cium dan peluklah anak-anak kita …</p>
<p>Tunjukkanlah kalau kita cinta dan sayang kepada mereka …</p>
<p>***</p>
<p>Diselesaikan ba’da subuh, Sigambal 15 Shafar 1439/ 4 November 2017</p>
<p><strong>Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim</strong></p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 