
<blockquote><p><em><strong>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/52561-pemimpin-rumah-tangga-2.html" data-darkreader-inline-color="">Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 2)</a></strong></em></p></blockquote>

<h2>Istri Meminta Izin Suami untuk Puasa Sunnah</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ل</b>اَ تَصُومُ المَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seorang wanita (istri) tidak boleh berpuasa, sedangkan suaminya ada di sisinya, kecuali dengan ijinnya.” </span><b>(HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan hadits ini,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هذا محمول على صوم التطوع والمندوب الذي ليس له زمن معين وهذا النهي للتحريم صرح به أصحابنا وسببه أن الزوج له حق الاستمتاع بها في كل الأيام وحقه فيه واجب على الفور فلا يفوته بتطوع ولا بواجب على التراخي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Larangan) ini dimaksudkan untuk puasa sunnah (yang memiliki waktu tertentu, misalnya puasa Senin-Kamis, puasa Arafah) dan juga puasa sunnah yang tidak memiliki waktu tertentu (puasa sunnah mutlak). Larangan ini bermakna haram, sebagaimana yang ditegaskan oleh ulama madzhab Asy-Syafi’i. Sebab larangan ini adalah suami memiliki hak untuk meminta hubungan badan dengan istri di setiap hari. Hak suami ini adalah kewajiban yang wajib segera ditunaikan oleh istri, bukan kewajiban yang bisa ditunda, dan tidak bisa dihalangi oleh puasa sunnah.” </span><b>(</b><b><i>Syarh Shahih Muslim, </i></b><b>7: 115)</b></p>
<h3>Kapan Boleh Puasa Sunnah Tanpa Izin Suami?</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena sebab larangan itu adalah adanya kemungkinan suami meminta hubungan badan di siang hari, maka jika si suami baru sakit sehingga tidak mampu berhubungan badan, maka dzahir hadits di atas menunjukkan bahwa boleh bagi istri untuk berpuasa tanpa ijin suami. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula, jika suami sedang safar (sehingga tidak pulang ke rumah selama beberapa hari), maka istri boleh berpuasa sunnah tanpa izin suami. An-Nawawi Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وقوله صلى الله عليه وسلم وزوجها شاهد أي مقيم في البلد أما إذا كان مسافرا فلها الصوم لأنه لا يتأتى منه الاستمتاع إذا لم تكن معه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Perkataan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">“sedangkan suaminya ada di sisinya”, maksudnya adalah sang suami tidak safar. Adapun jika suami sedang safar (musafir), maka istri boleh puasa sunnah karena tidak akan mendatangi istri untuk meminta hubungan badan, karena tidak sedang bersama sang istri.” </span><b>(</b><b><i>Syarh Shahih Muslim, </i></b><b>7: 115)</b></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/29361-perekat-terkuat-antara-suami-dan-isteri-bukanlah-cinta-tapi-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi Agama</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Istri Tidak Boleh Sembarangan Menerima Tamu Lelaki Ajnabi</h2>
<p>Seorang istri tidak boleh memasukkan lelaki asing <i>(ajnabi)</i> ke dalam rumah, kecuali atas seizin suami</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu,</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa, sementara sementara suaminya ada di rumah, kecuai dengan seizinnya. Dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya, kecuali dengan seizinnya.” </span><b>(HR. Bukhari no. 5195)</b></p>
<h2>Istri Meminta Izin Suami untuk Shalat di Masjid</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ إِلَى المَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang dari istri kalian meminta izin pergi ke masjid, maka janganlah dia melarangnya.” </span><b>(HR. Bukhari no. 5238 dan Muslim no. 442)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah makna larangan </span><i><span style="font-weight: 400;">(“janganlah”) </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam hadits di atas? Jika dimaknai haram, maka suami tidak boleh melarang istri apa pun alasannya. Namun jika dimaknai haram, maka tidak ada artinya istri minta ijin, karena suami tidak boleh melarang (harus diijinkan).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Makna kedua dari larangan di atas adalah dalam rangka memberikan bimbingan (petunjuk). Artinya, jika suami melihat ada alasan-alasan tertentu, boleh bagi suami untuk tidak mengizinkan istri pergi ke masjid. Misalnya, sang anak yang masih bayi baru rewel, baru sakit, atau alasan-alasan lain yang bisa dibenarkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ke masjid saja perlu minta ijin, bagaimana lagi dengan pergi ke tempat yang lain? Tentu lebih-lebih lagi harus minta ijin. Meskipun demikian, jika sang istri mengetahui bahwa sang suami itu longgar dan ridha dalam hal-hal tertentu berdasarkan pengalaman dan kebiasaan selama ini, maka tidak perlu minta izin. Misalnya, kalau cuma pergi ke warung sebelah itu tidak masalah, maka istri boleh tidak meminta izin. </span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/23874-fatwa-ulama-dalam-membelanjakan-uangnya-perlukah-istri-minta-izin-suami.html" data-darkreader-inline-color="">Dalam Membelanjakan Uangnya Perlukah Istri Minta Izin Suami?</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Wajib Memenuhi Ajakan Jima’ Suami, Kecuali Ada Udzur</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ، فَأَبَتْ أَنْ تَجِيءَ، لَعَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu dia enggan untuk memenuhi ajakan suaminya, maka dia akan dilaknat malaikat hingga pagi.” </span><b>(HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1060)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga diceritakan dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا، فَتَأْبَى عَلَيْهِ، إِلَّا كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya ke ranjang (untuk bersenggama) sedangkan dia enggan, melainkan yang ada di langit murka kepadanya sampai suaminya memaafkannya.” </span><b>(HR. Muslim no. 1436)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dikecualikan dalam masalah ini jika sang istri memiliki ‘udzur yang bisa dibenarkan, misalnya baru sakit atau sangat kelelahan setelah mengurus pekerjaan rumah tangga. Sehingga hendaknya suami juga memperhatikan dan bisa memahami kondisi sang istri. </span></p>
<h2>Inilah Pembagian atau Ketetapan dari Allah Ta’ala</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa perkara di atas menunjukkan kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga. Bagi istri, hendaklah menerima hal ini karena inilah pembagaian atau ketetapan dari Allah <em>Ta’ala.</em> Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala,</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 32)</b></p>
<blockquote><p><em><strong>Lanjut baca: <a href="https://muslim.or.id/52693-pemimpin-rumah-tangga-4.html" target="_blank" rel="noopener">Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 4)</a></strong></em><b><br>
</b></p></blockquote>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA Jogja, 29 Shafar 1441/28 Oktober 2019</span></p>
<p><strong>Penulis:<a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan Kaki</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Fiqh At-Ta’aamul baina Az-Zaujain, </i></b><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hal. 07-10.</span></p>
 