
<blockquote><p><em><strong>Baca Pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/52605-pemimpin-rumah-tangga-3.html" data-darkreader-inline-color="">Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 3)</a></strong></em></p></blockquote>

<h2>Konsekuensi Kepemimpinan Laki-Laki dalam Rumah Tangga</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika seorang laki-laki menjadi pemimpin rumah tangga, tidak lantas dia hanya memikirkan hak-haknya saja sebagai suami sekaligus kepala rumah tangga. Akan tetapi, dia juga harus memperhatikan tanggung jawab yang harus dia tunaikan.</span></p>
<h2>Mendidik Keluarga dengan Ajaran Islam</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanggung jawab laki-laki yang terbesar adalah membimbing dan mendidik keluarganya agar terhindar dari api neraka. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” </span><b>(QS. At-Tahrim [66]: 6)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkaitan dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka”, </span></i><span style="font-weight: 400;">sahabat ‘Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أدبوهم وعلموهم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Didiklah dan ajarkanlah mereka (perkara agama).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اعْمَلُوا بطاعة الله واتقوا معاصي الله، وأمروا أهليكم بالذكر ينجكم اللَّهُ مِنَ النَّارِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Berbuatlah ketaatan kepada Allah dan takutlah dari bermaksiat kepada Allah. Perintahkanlah keluargamu (anak dan istrimu) untuk berdzikir, semoga Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mujahid </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اتَّقُوا اللَّهَ وَأَوْصُوا أَهْلِيكُمْ بتقوى الله</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bertakwalah kepada Allah dan berwasiatlah kepada keluarga kalian agar mereka bertakwa kepada Allah.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula yang dikatakan oleh Adh-Dhahhak dan Muqatil,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">حَقٌّ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ مِنْ قَرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيدِهِ مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَمَا نَهَاهُمُ اللَّهُ عَنْهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menjadi kewajiban seorang muslim (laki-laki) untuk mengajarkan kewajiban yang Allah tetapkan dan larangan-larangan Allah kepada kerabat, budak perempuan, dan budak laki-lakinya.” </span><b>(Lihat </b><b><i>Tafsir Ibnu Katsir, </i></b><b>8: 188-189)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Abdullah bin ‘Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. </span><b>Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.</b><span style="font-weight: 400;"> Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” </span><b>(HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)</b></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/39028-orang-tua-tidak-pernah-menafkahi-wajibkah-anak-tetap-berbakti.html" data-darkreader-inline-color="">Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap Berbakti</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Perintahkan Anak untuk Mendirikan Shalat</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan di antara contoh tanggung jawab seorang kepala rumah tangga adalah memerintahkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah apabila dia tidak melaksanakannya.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 494)</b></p>
<h2>Mendidik Anak Tanggung Jawab Suami dan Istri</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara kesalahan suami adalah dia menyerahkan semua urusan pendidikan anak kepada istri. Dia menganggap bahwa urusan dia adalah mencari nafkah (saja). Sedangkan urusan mendidik anak, itu adalah urusan sang istri. Ini adalah sebuah kekeliruan yang besar. Jika ada istilah “istri adalah madrasah pertama bagi anak-anak”, maka ingatlah bahwa madrasah itu memiliki kepala sekolah. Dan siapa lagi kepala sekolah madrasah anak-anaknya selain sang suami (sang bapak) itu sendiri.</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Lanjut baca: <a href="https://muslim.or.id/52793-pemimpin-rumah-tangga-5.html" target="_blank" rel="noopener">Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 5)</a></strong></em><b><br>
</b></p></blockquote>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 8 Rabi’ul awwal 1441/5 November 2019</span></p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></strong></p>
 