
<p>Sifat <em>khabariyyah</em> yaitu sifat yang penetapannya berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah saja. Jika tidak ada dalil yang menyebutkannya, akal kita tidak mampu menetapkan sifat tersebut. Di antara sifa-sifat <em>khabariyyah</em> adalah wajah <strong>(</strong><strong>الوجه</strong><strong>)</strong>, tangan <strong>(</strong><strong>اليدين</strong><strong>)</strong>, jari-jemari <strong>(</strong><strong>الاصابع</strong><strong>)</strong>, telapak kaki <strong>(</strong><strong>القدمين</strong><strong>)</strong>, betis <strong>(</strong><strong>الساق</strong><strong>)</strong>, dan yang lainnya. Semua sifat-sifat ini terdapat penetapannya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/55106-metode-menetapkan-sifat-sifat-allah-taala.html" data-darkreader-inline-color="">Metode Menetapkan Sifat-Sifat Allah Ta’ala</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Bagaimana Cara Mengimani Sifat <em>Khabariyyah</em> ?</strong></span></h2>
<p>Keimanan yang benar terhadap seluruh sifat-sifat Allah adalah sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah </em>dalam kitab beliau<em> Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah,</em></p>
<p>“Termasuk keimanan kepada Allah adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan Rasulullah tetapkan untuk Allah tanpa melakukan <em>tahrif</em>, <em>ta’thil</em>, <em>tamtsil</em>, dan <em>takyif</em>.“</p>
<p><em>Tahrif </em>artinya menyelewengkan makna dari makna yang seharusnya. <em>Ta’thil </em>maksudnya menolak dan mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah, baik mengingkari keseluruhan maupun sebagian. <em>Takyif</em> artinya menyebutkan tentang <em>kaifiyyah</em> (karakteristik) suatu sifat. Adapun yang dimaksud <em>tamtsil</em>  yaitu menyamakan nama dan sifat Allah dengan makhluk. Semuanya ini terlarang dalam mengimani sifat-sifat Allah. <strong>[1]</strong></p>
<p>Kewajiban kita terhadap setiap penyebutan ayat-ayat sifat dalam Al Qur’an dan As Sunnah -termasuk juga terhadap sifat <em>khabariyyah</em>– adalah mengimani dan menetapkannya untuk Allah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah <em>Ta’ala</em> serta tidak menyerupakannya dengan makhluk.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/38054-sifat-allah-apakah-hanya-tujuh-atau-dua-puluh-01.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh?</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Pengaruh Penting Mengimani Sifat <em>Khabariyah</em> Bagi Seorang Hamba</strong></span></h2>
<p>Barangsiapa mengimani dan membenarkannya sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah tanpa melakukan <em>tahrif</em>, <em>ta’thil</em>, <em>tamtsil</em>, dan <em>takyif</em>  maka sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan. Sebaliknya, barangsiapa yang lebih mengedepankan akalnya yang rusak daripada dalil <em>shahih </em>kemudian menolak sifat-sifat tersebut, atau menyelewengkan maknanya, atau menganggapnya sebagai <em>majaz</em>, maka dia sungguh telah melakukan kesalahan fatal dan merugi. Mengapa? Karena dengan demikan berarti dia telah membedakan antara sebagian sifat Allah dengan sifat-sifat yang lain. Dia juga berarti telah mendustakan Allah mengenai sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya yang disebutkan dalam Al Qur’an. Demikian pula, berarti dia telah mendustakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengenai sifat-sifat Allah yang telah beliau tetapkan untuk Allah melalui hadits-hadits yang shahih.</p>
<p>Seandainya tidak ada buah manis mengimani sifat-sifat ini kecuali menjadikan orang yang mengimaninya termasuk ke dalam golongan orang beriman dan bertauhid, maka ini sudah cukup. Seandainya tidak ada pengaruh mengimani sifat-sifat tersebut kecuali hal ini menjadi menjadi pembeda antara orang yang jujur dalam keimanan dan tauhidnya dengan orang-orang yang berdusta dan menyelewengkan makna firman Allah dan sabda rasul-Nya, maka ini pun sudah cukup.</p>
<p><strong>Namun ternyata, masih ada pengaruh penting yang lain dalam mengimani sifat-sifat <em>khabariyyah</em> tersebut, di antaranya:</strong></p>
<ul>
<li>Jika Engkau mengimani bahwasanya Allah memiliki wajah yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah, dan melihat wajah-Nya adalah di antara nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya di hari kiamat, niscaya hal ini akan menjadi motivasi besar bagi hamba untuk beramal dan meminta kepada Allah agar kelak bisa melihat wajah-Nya yang mulia.</li>
<li>Jika Engkau beriman bahwa Allah memiliki tangan dan seluruh kebaikan berada di tangan-Nya, maka Engkau pun akan termotivasi untuk hanya meminta kepada Allah, yang segala sesuatu berada di tangan-Nya.</li>
<li>Jika Engkau mengetahui dan mengimani bahwa hatimu berada di antara jari-jemari Allah, niscaya Engkau akan terus meminta kepada Allah agar meneguhkan hatimu di atasa agama Islam. <strong>[2]</strong>
</li>
</ul>
<p>Demikian pula seterusnya untuk sifat-sifat yang lain. Hal ini hanya akan didapatkan oleh seorang mukmin yang benar keimanannya terhadap sifat-sifat Allah di atas. Duhai sungguh merugi, bagi orang-orang yang menolak sifat tersebut sehingga tidak ada motivasi baginya untuk beramal dan mendapatkan berbagai kebaikan.</p>
<p>Masih banyak sifat-sifat Allah yang lain. Tidak ada satu pun sifat Allah kecuali bagi orang yang mengimaninya pasti akan mendapat buah yang manis dan pengaruh positif dari keimanannya tersebut. Sungguh nikmat yang agung bagi <em>Ahlus sunnah wal jamaah</em> yang beriman dengan benar terhadap setiap sifat-sifat Allah sesuai dengan keagungan dan kebesaran <em>Allah Ta’ala.</em></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29794-larangan-terhadap-nama-dan-sifat-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Larangan Terhadap Nama dan Sifat Allah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24561-tawil-terhadap-ayat-tentang-sifat-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Ta’wil Terhadap Ayat Tentang Sifat Allah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>– – –</p>
<p><strong>Penulis :<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/adika" data-darkreader-inline-color=""> Adika Mianoki</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<p><strong>[1]</strong><em> Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah </em>karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</p>
<p><strong>[2]</strong> Shifatullah<em> ‘Azza wa Jalla al Waaridatu fil kitabi was Sunnah</em> karya Syaikh ‘Alawi bin ‘Abdil Qaadir as Saqqof.</p>
 