
<p><b>BAB KEDUA: Kaidah Pertama </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam dakwah Tauhid, Syaikhul Islam Muhammad At-Tamimi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;">القاعدة الأولى</p>
<p style="text-align: right;">أن تعلم أنّ الكفّار الذين قاتلهم رسول الله يُقِرُّون بأنّ الله تعالى هو الخالِق المدبِّر، وأنّ ذلك لم يُدْخِلْهم في الإسلام، والدليل: قوله تعالى:  {قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ} (يونس:31)</p>
<p><b>Kaidah pertama:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anda perlu mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Sang Pencipta dan Pengatur (segala urusan). Meski demikian, hal itu tidaklah menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:</span></p>
<p style="text-align: right;">قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan? ‘Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:’Allah’. Maka katakanlah:’Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. QS. Yunus: 31). </span></p>
<p><b>————————————————————————</b></p>
<p><b>Penjelasan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inti kaidah pertama ini adalah penetapan Tauhid </span><i><span style="font-weight: 400;">Rububiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengharuskan kepada penetapan Tauhid </span><i><span style="font-weight: 400;">Uluhiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Ibadah). Di dalam bab ini terdapat penjelasan bahwa penetapan Tauhid </span><i><span style="font-weight: 400;">Rububiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak cukup bagi kesahan Islam seseorang, akan tetapi haruslah diiringi dengan penetapan Tauhid </span><i><span style="font-weight: 400;">Uluhiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, yang mengandung penetapan Tauhid </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Asma` wa Shifat</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat tersebut di atas, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah jika ditanya tentang keesesaan-Nya dalam Rububiyyah-Nya,yaitu siapa yang memberikan rezeqi dari langit berupa hujan dan dari bumi berupa pohon dan tanaman,siapa yang yang menciptakan dan memiliki pendengaran dan penglihatan[1. Kedua perkara ini disebutkan secara khusus,karena untuk memperingatkan kenikmatan yang lebih besar lagi dari kenikmatan sebelumnya,agar mereka semakin sadar]</span><span style="font-weight: 400;">, siapa yang mengeluarkan  sesuatu yang hidup dari yang mati,seperti : pepohonan dari bebijian,burung dari telur dan pengeluaran seseorang dari status kafir berubah menjadi mukmin, siapa yang mengeluarkan sesuatu yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur alam atas dan bawah, pastilah mereka akan mengatakan bahwa semua itu yang bisa melakukan hanyalah Allah saja</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, mereka mengakui keesaan Allah dalam Rububiyyah-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Allah berhujjah dengan pengakuan mereka tersebut untuk mengharuskan mereka mentauhidkan Allah dalam Uluhiyyah-Nya, dengan bertakwa,meninggalkan sesembahan selain Allah dan meninggalkan kesyirikan dalam beribadah kepada Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkait dengan hal ini,  Allah tegur mereka dengan menggunakan pertanyaan pengingkaran,</span></p>
<p style="text-align: right;">{فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ}</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini menunjukkan bahwa mengesakan Allah dalam Rububiyyah-Nya, mengharuskan seseorang mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahwa Tuhan Pencipta,Yang Memberi rezeki,Yang Menghidupkan dan Mematikan serta Sang Pengatur alam semesta, inilah satu-satunya yang harusnya disembah,sebagaimana firman Allah :</span></p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Al-Baqarah : 21)</span></p>
<p><b>Kesimpulan Kaidah Pertama </b><span style="font-weight: 400;">: </span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Mengesakan Allah dalam Rububiyyah-Nya, mengharuskan mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya  </span></li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Penetapan Tauhid Rububiyyah tidak cukup bagi kesahan Islam seseorang, akan tetapi haruslah bersamaan dengan penetapan Tauhid Uluhiyyah. </span><span style="font-weight: 400;">Karena kebanyakan musyrikin dari kaum Nabi Nuh ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">alaihis salam </span></i><span style="font-weight: 400;">sampai kaum Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">,yaitu kafir Quraisy</span> <span style="font-weight: 400;">mereka mengakui Tauhid Rububiyyah, namun tetap status mereka musyrikin,karena menentang konsekuensinya berupa mentauhidkan Allah dalam Uluhiyyah-Nya. Sebagaimana kaum musyrikin yang dihadapi oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yang disebutkan</span> <span style="font-weight: 400;">dalam Ayat di atas.</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Adalah sebuah kesalahan,jika  seseorang memahami makna </span><i><span style="font-weight: 400;">La ilaha illallahu </span></i><span style="font-weight: 400;">sebatas pada makna Rububiyyah saja, misalnya</span> <span style="font-weight: 400;">:<br>
</span><span style="font-weight: 400;">makna </span><i><span style="font-weight: 400;">La ilaha illallahu </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada Sang Pencipta kecuali Allah”</span></i><span style="font-weight: 400;">,  ini adalah kesalahan dan tidak menyebabkan masuknya seseorang ke dalam agama Islam, karena makna </span><i><span style="font-weight: 400;">La ilaha illallahu </span></i><span style="font-weight: 400;">yang benar adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span>
</li>
<li>Hubungan diantara ketiga macam Tauhid</li>
</ol>
<p style="padding-left: 60px;"><b>1. Hubungan Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah</b></p>
<p style="padding-left: 60px;"><b>توحيدالربوبية مستلزم لتوحيد الألوهية</b></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">Mengesakan Allah dalam Rububiyyah-Nya mengharuskan mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya</span></i><span style="font-weight: 400;">  </span></p>
<p style="padding-left: 60px;"><b>Maksudnya : </b></p>
<p style="padding-left: 60px;"><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang meyakini keesaan Allah dalam Rububiyyah-Nya,yaitu: meyakini bahwa Allah itu Esa,tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menciptakan makhluk,mengaturnya,memberi rezeki,memberi manfa’at,menimpakan musibah/mudhorot,menghidupkan,mematikannya dan lainnya yang menjadi kekhususan Allah,maka keyakinan tersebut mengharuskannya mempertuhankan-Nya dalam beribadah,mengesakan dan mentauhidkan-Nya dalam segala bentuk peribadatan. Karena hanya Dzat yang mampu menciptakan makhluk,mengaturnya,memberi rezeki kepadanya dan yang selainnya dari makna-makna Rububiyyah itu sajalah yang pantas dan wajib disembah,selain-Nya tidak boleh dan tidak pantas disembah.</span></p>
<p style="padding-left: 60px;"><b>توحيد الألوهية متضمن لتوحيد الربوبية</b></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">Mengesakan Allah dalam Uluhiyyah-Nya mengandung pengesaan-Nya dalam  Rububiyyah-Nya</span></i></p>
<p style="padding-left: 60px;"><b>Maksudnya : </b><span style="font-weight: 400;">Setiap orang yang mentauhidkan Allah dalam peribadatan dan tidak melakukan kesyirikan,pastilah terkandung keyakinan dalam hatinya bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan memiliki alam semesta,mengaturnya,memberi rezeki kepada makhluk-Nya,berarti ia meyakini bahwa  satu-satunya Tuhan yang berhak disembah adalah Allah yang Esa dalam Rububiyyah-Nya,tidak ada tandingan-Nya, </span></p>
<p style="padding-left: 60px;"><b>2. Hubungan Tauhidul Asma` was Shifat dengan kedua macam tauhid yang lainnya</b></p>
<p style="padding-left: 60px;"><b>توحيد الأسماء والصفات شامل للنوعين</b></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">Mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya mencakup kedua macam tauhid yang lainnya (Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah sekaligus)</span></i></p>
<p style="padding-left: 60px;"><b>Maksudnya : </b><span style="font-weight: 400;">Dalam nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya ada yang menunjukkan Uluhiyyah-Nya,seperti : Allah, Al-Gafur, At-Tawwab, dan adapula yang menunjukkan Rububiyyah Allah,seperti: Al-Khaliq,Ar-Razzaq, dan yang lainnya.</span></p>
<p style="padding-left: 60px;"><span style="font-weight: 400;">Diantara ulama </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah </span></i><span style="font-weight: 400;">ada yang menjelaskan bahwa Tauhidul Uluhiyyah mengandung Tauhidur Rububiyyah dan Tauhidul Asma` wash Shifat, ditinjau dari sisi berikut ini :</span></p>
<p style="padding-left: 60px;"><span style="font-weight: 400;">Berkata Syaikh Muhammad Shaleh Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika ditanya tentang cakupan makna syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">La ilaha illallahu,</span></i></p>
<p style="text-align: right; padding-left: 60px;"><span style="font-weight: 400;"> هي تشمل أنواع التوحيد كلها إما بالتضمن وإما بالابتداء، وذلك أن قول القائل: أشهد أن لا إله إلا الله يتبادر إلى المفهوم أن المراد بها توحيد العبادة، وتوحيد العبادة الذي يسمى توحيد الألوهية متضمنٌ لتوحيد الربوبية؛ لأن كل من عبد الله وحده فإنه لن يعبده حتى يكون مقراً له بالربوبية، وكذلك متضمن لتوحيد الأسماء والصفات؛ لأن الإنسان لا يعبد إلا من علم أنه مستحقٌ للعبادة، لما له من الأسماء والصفات؛ ولهذا قال إبراهيم لأبيه:</span><b>{ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا}</b><span style="font-weight: 400;"> (مريم:42)، فتوحيد العبادة وهو توحيد الألوهية متضمن لتوحيد الربوبية والأسماء والصفات. </span></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">Syahadat tersebut mencakup seluruh macam Tauhid (yang tiga macam), baik secara tersirat dalam kandungan maknanya, maupun secara tersurat (secara langsung dipahami dari lafadznya, pent.).</span></i></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">Hal itu disebabkan bahwa ucapan seseorang : Asyhadu an La ilaha illallah, segera dapat dipahami maknanya adalah Tauhidul Ibadah.</span></i></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Tauhidul Ibadah  – yang disebut juga dengan Tauhidul Uluhiyyah –  ini (sebenarnya) mengandung Tauhidur Rububiyyah, alasannya karena setiap orang yang beribadah (menyembah) kepada Allah semata, maka tidaklah ia menyembah-Nya kecuali sampai ia mengakui keesaan Rububiyyah-Nya.</span></i></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">Demikian juga (Tauhidul Uluhiyyah) mengandung Tauhidul Asma` wash Shifat, karena manusia tidaklah menyembah kecuali suatu Dzat yang diketahuinya berhak untuk disembah,alasannya  karena memiliki nama (yang terindah) dan sifat (yang termulia).</span></i></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah, Nabi Ibrahim (‘alaihis salam) pernah berkata kepada bapaknya,</span></i></p>
<p style="padding-left: 60px;"><b>{ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا}</b></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">(42) </span></i><b><i> “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? </i></b><i><span style="font-weight: 400;">”. </span></i><b>(QS. Maryam:42).</b></p>
<p style="padding-left: 60px;"><i><span style="font-weight: 400;">Maka (kesimpulannya) Tauhidul Ibadah adalah Tauhidul Uluhiyyah yang mengandung Tauhidur Rububiyyah dan Tauhidul Asma` wash Shifat.</span></i><span style="font-weight: 400;">[2. Dari website: <a href="http://audio.Islamweb.net/audio/Fulltxt.php?audioid=317025">audio.Islamweb.net/audio/Fulltxt.php?audioid=317025</a>]</span></p>
<ol start="5">
<li>
<b>Kesimpulan</b><span style="font-weight: 400;">: Jadi, alasan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam menyembah selain Allah bukanlah karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka memiliki kekhususan Rububiyyah sebagaimana Allah,mereka tidak meyakini sesembahan mereka bisa menciptakan makhluk,menghidupkan,mematikan dan mengatur alam semesta ini. Lalu apakah alasan mereka ? Simak jawabannya dalam kaedah ke-2!</span>
</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>(bersambung)</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>____</p>
 