
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Bagian I: Pembukaan </b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan memohon taufik dari Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">penyusun memulai penjelasan mutiara faedah bagian pembukaan ini. Dua belas kaedah atau perkara yang mendasar dalam bagian pembukaan, yaitu:</span></p>
<h5><b>1. Dasar Pertama: Definisi Tauhid</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentang definisi Tauhid ini diambil dari ucapan penulis </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berikut ini,</span></p>
<p><b>Petikan Matan</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">أن التوحيد هو إفراد الله سبحانه بالعبادة</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">“Bahwa Tauhid adalah mengesakan Allah subhanahu dalam peribadatan”</span></p>
<p><b>Penjelasan:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata tauhid secara bahasa diambil dari </span><span style="font-weight: 400;">وحّد – يوحّد – توحيدا </span><span style="font-weight: 400;">yaitu, menjadikan sesuatu itu satu saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata</span> <span style="font-weight: 400;">tauhid terdapat dalam beberapa hadits yang agung, mislanya terdapat di dalam HR. Muslim dari Jabir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">HR. Muslim dari Ibnu Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan</span> <span style="font-weight: 400;">HR. Muslim dari Umar bin Al-Khoththob </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Jadi, kata tauhid itu syar’i.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun dalam istilah syari’at secara umum adalah</span></p>
<p style="text-align: right;">إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<em>Mengesakan Allah Subhanahu dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya, yaitu Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma` was Shifat</em></span><span style="font-weight: 400;">”.</span></p>
<h5><b>Macam-macam Tauhid</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari definisi tauhid di atas dapat kita ketahui macam-macam tauhid itu ada tiga, yaitu:</span></p>
<p><strong>1. Tauhid Rububiyyah</strong></p>
<p style="text-align: center;">إفراد الله بأفعاله</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">“Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tauhid rububiyah berarti meyakini hanya Allah yang mampu melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadi kekhususan-Nya, seperti menciptakan makhluk, mengaturnya, memberi rezeki, memberi manfa’at, menimpakan musibah/mudhorot, menghidupkan, mematikan dan lainnya yang menjadi kekhususan Allah.</span></p>
<p> </p>
<p><strong>2. Tauhid Uluhiyyah</strong></p>
<p style="text-align: center;">إفراد الله بالعبادة</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">“Mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tauhid uluhiyah berarti meyakini hanya Allah yang berhak diibadahi, tidak boleh mempersembahkan peribadatan kepada selain-Nya, dalam bentuk ibadah yang lahir maupun yang batin, ucapan maupun perbuatan.</span></p>
<p><strong>3. Tauhidul Asma` was Shifat :</strong></p>
<p style="text-align: center;">إفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى الواردة في القرآن والسنة، والإيمان بمعانيها وأحكامها</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">“Tauhid Nama dan Sifat adalah mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah,dan beriman terhadap makna-makna dan hukum-hukumnya”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tauhid asma` wa sifat berarti meyakini hanya Allah yang memiliki nama yang </span><i><span style="font-weight: 400;">husna</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan sifat yang </span><i><span style="font-weight: 400;">‘ulya</span></i><span style="font-weight: 400;">. Sedangkan selain Allah tidak berhak dikatakan memiliki nama dan sifat tersebut.</span></p>
<p><b>Mengapa dalam kitab ini kata “Tauhid” didefinisikan dengan salah satu dari ketiga macam Tauhid?</b></p>
<p><b>Tauhid uluhiyah</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mendefinisikan tauhid uluhiyah dikarenakan salah satu dari kedua sebab berikut ini.</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Untuk menjelaskan bahwa tauhid jenis ini adalah jenis tauhid yang paling penting, sebagai dasar yang paling mendasar. </span><span style="font-weight: 400;">Tauhid Uluhiyyah lah yang menjadi inti permusuhan dan perselisihan antara para Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalatu was salam</span></i> <span style="font-weight: 400;">dengan kaum musyrikin. Secara umum, kaum musyrikin mengakui dua jenis tauhid yang lainnya, namun menentang jenis tauhid uluhiyah.</span>
</li>
<li>Tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah dan tauhid asma` wa sifat. Adapun tauhid uluhiyah dikatakan mengandung tauhid rububiyah, karena setiap orang yang menyembah Allah semata, tidak dikatakan menyembah Allah hingga ia mengakui tauhid rububiyah. Sedangkan tauhid uluhiyah dikatakan mengandung tauhid asma` wa sifat karena manusia tidaklah menyembah Zat yang berhak disembah kecuali Zat tersebut memiliki kekhususan nama dan sifat yang tak tertandingi.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>(bersambung)</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 