
<p><span style="color: #ff0000;"><b>Dalil kedua</b></span></p>
<p>Hadits Imran bin Husain <i>radhiyallahu ‘anhu </i>(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).</p>
<p>Matan hadits yang disebutkan dalam kitab Tauhid ini :</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imran bin Husain </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">menuturkan bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya:</span></p>
<p style="text-align: right;">(( مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزَعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا ))</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Untuk apa sih ini</span></i><span style="font-weight: 400;">?! Orang laki-laki itu menjawab: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Untuk menangkal penyakit lemah badan</span></i><span style="font-weight: 400;">”, lalu Nabi bersabda: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima).</span></p>
<h5><b>Penjelasan </b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini, pertanyaan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada seseorang yang</span> <span style="font-weight: 400;">memakai gelang jimat,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">مَا هَذِهِ؟ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Untuk apa sih ini</span></i><span style="font-weight: 400;">?!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah jenis pertanyaan pengingkaran ( </span><i><span style="font-weight: 400;">Istifham Ingkari </span></i><span style="font-weight: 400;">)</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan pemakai jimat tersebut, memahami bahwa pertanyaan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kepadanya adalah jenis pertanyaan perincian (</span><i><span style="font-weight: 400;">Istifham Iftishol</span></i><span style="font-weight: 400;">),</span> <span style="font-weight: 400;">yaitu : </span><i><span style="font-weight: 400;">“</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Gelang untuk apa ini?”, </span></i><span style="font-weight: 400;">begitu menurut sebagian Ulama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga orang laki-laki itu menjawab: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Untuk menangkal penyakit lemah badan</span></i><span style="font-weight: 400;">”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;">(( انْزَعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا ))</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah hakekat kesyirikan dengan segala macamnya, tidak akan pernah bermanfa’at bagi pelakunya, malah justru membahayakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: right;">(( مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا))</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya</span></i><span style="font-weight: 400;">”.</span></p>
<p>Maksud peniadaan keberuntungan di sini, mencakup dua kandungan:</p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Nafyu Falahil mutlaq, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu: peniadaan keberuntungan secara totalitas, yaitu : tidak beruntung sama-sekali, dengan tidak masuk Surga sama sekali dan kekal di Neraka. Kasus jenis ini berlaku untuk pemakai jimat yang keyakinannya sampai syirik akbar, seperti yang sudah dijelaskan di artikel bagian pertama.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Nafyu muthlaqul Falah,</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu: peniadaan sebagian keberuntungan yang menyebabkan pelakunya terancam masuk Neraka, namun tidak kekal. </span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Kasus jenis ini berlaku untuk pemakai jimat yang keyakinannya sebatas syirik kecil.</span></p>
<h5><b>Faedah :</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Pembahasan tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">Sya`iul Muthlaq</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu sesuatu yang sempurna/menyeluruh, dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Muthlaqusy Sya`i, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu : asalkan ada sesuatu tersebut dalam batasan yang paling minimal, kedua hal ini berlaku pada pembahasan </span><b>mutlaq</b><span style="font-weight: 400;"> Tauhid, Islam, Iman, syirik, </span><i><span style="font-weight: 400;">dukhul Jannah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Tahrimun Nar. </span></i><span style="font-weight: 400;">Begitu pula untuk</span> <span style="font-weight: 400;">Tauhid, Islam, Iman, syirik, </span><i><span style="font-weight: 400;">dukhul Jannah </span></i><span style="font-weight: 400;">(masuk Surga) dan pencegahan masuk Neraka (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tahrimun Nar</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span> <b>yang</b> <b>muthlaq</b><span style="font-weight: 400;">, semuanya disesuaikan dengan konteks pembicaraannya masing-masing.</span></p>
<h5><b>Kesimpulan</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Sisi pendalilan hadits ini, sehingga sebagai dalil kesyirikan pemakai jimat adalah :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini, dinyatakan bahwa jimat itu tidak bermanfa’at, dengan demikian jimat itu hakekatnya bukan sebab! </span><span style="font-weight: 400;">Malah justru membahayakan pemakainya di Dunia, sedangkan di Akherat, tidak beruntung (terancam adzab). </span><span style="font-weight: 400;">Berarti pemakainya, tidak memenuhi hukum sebab pertama dan kedua, seperti yang telah disebutkan di artikel bagian pertama, karena ia menjadikan jimat sebagai sebab, padahal bukan sebab, sehingga tergantung hatinya kepada jimat, inilah syirik!</span></p>
<p>(Bersambung, in sya Allah)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 