
<h5><span style="color: #ff0000;"><b>Dalil Ketiga</b></span></h5>
<p><b> Hadits ‘Uqbah bin ‘Amir </b><b><i>radhiyallahu ‘anhu </i></b><b>(HR. Ahmad, Ath -Thahawi dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi)</b><b>.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan oleh Imam Ahmad pula dari Uqbah bin Amir, dalam hadits yang <em>marfu</em>’,</span> <span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i> <span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">((مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَلاَ أَتَمَّ الله لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ الله لَه ))</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang menggantungkan tamimah</span></i><i><span style="font-weight: 400;">, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah</span></i><i><span style="font-weight: 400;">, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya”.</span></i></p>
<h5><b>Penjelasan</b></h5>
<p><b>Tafsir pertama</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tafsir pertama dari hadits ini adalah bahwa hadits ini bermakna do’a.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mendo’akan orang yang memakai jimat jenis </span><i><span style="font-weight: 400;">tamimah,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan keyakinan bisa menolak penyakit/mara bahaya, agar Allah tidak memenuhi keinginannya dan tidak menjadikan selesai urusannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kata</span><i><span style="font-weight: 400;"> tamimah</span></i><span style="font-weight: 400;"> diambil dari </span><i><span style="font-weight: 400;">tamamul amr, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu:  beresnya urusan, tapi dalam hadits ini disebutkan balasan bagi pemakainya, yaitu:  malah tidak beres urusannya, ini menunjukkan bahwa : balasan itu sesuai dengan perbuatannya (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Jazaa` min jinsil ‘amal</span></i><span style="font-weight: 400;">), maksudnya : karena pemakai </span><i><span style="font-weight: 400;">tamimah </span></i><span style="font-weight: 400;">itu menginginkan tertolaknya penyakit/mara bahaya darinya, maka justru dihukum dengan tidak tercapai maksudnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disamping itu, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga mendo’akan orang yang menggantungkan </span><i><span style="font-weight: 400;">wada’ah</span></i><span style="font-weight: 400;">, agar Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya, Allah tidak membiarkannya berada di dalam ketenangan, bahkan ia akan selalu merasa resah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Do’a di sini, tujuannya untuk memperingatkan manusia agar menjauhi perbuatan tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun sebab Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mendo’akan dengan do’a ini adalah karena orang yang menggantungkan </span><i><span style="font-weight: 400;">tamimah </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">wada’ah,</span></i><span style="font-weight: 400;"> berarti hatinya bergantung kepada selain Allah, bergantung kepada sesuatu yang disangka sebab, padahal hakekatnya bukanlah sebagai sebab.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ketergantungan jenis ini, hakekatnya merupakan perkara kesyirikan.</span></p>
<p><b>Renungan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wahai para pemakai jimat, tidak takutkah Anda dido’akan dengan do’a keburukan itu oleh sosok Utusan Allah yang paling mulia dan paling dekat kedudukannya dengan-Nya, lagi sangat didengar do’anya oleh Allah?!</span></p>
<p><b>Tafsir Kedua</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tafsir kedua dari hadits ini adalah bahwa hadits ini bermakna kabar dari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa orang yang bergantung hatinya kepada selain Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">baik dengan cara menggantungkan  </span><i><span style="font-weight: 400;">tamimah </span></i><span style="font-weight: 400;">maupun </span><i><span style="font-weight: 400;">wada’ah, </span></i><span style="font-weight: 400;">akan mendapatkan keadaan yang buruk, yaitu : tidak dikabulkan keinginannya dan hidupnya resah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, terjemah hadits di atas, menurut tafsir yang kedua ini adalah:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i> <span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">((مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَلاَ أَتَمَّ الله لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ الله لَه ))</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang menggantungkan tamimah, maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah, maka Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya”.</span></i></p>
<p><b>Renungan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wahai para pemakai jimat, tidak takutkah Anda, menjadi orang yang dikabarkan dengan kabar yang buruk itu?! Sedangkan orang yang mengkabarkan berita itu adalah manusia yang paling jujur di muka bumi ini??</span></p>
<p><b>Alasan pendalilan:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa mengantungkan </span><i><span style="font-weight: 400;">tamimah </span></i><span style="font-weight: 400;">maupun </span><i><span style="font-weight: 400;">wada’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">itu haram, karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mendo’akan atau mengkabarkan keburukan bagi pemakai jimat, sebagai peringatan keras terhadap perbuatan yang syirik tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan hakekatnya, hadits ini bukan hanya dalil bagi haramnya memakai jimat </span><i><span style="font-weight: 400;">tamimah </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">wada’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">saja, namun juga sebagai dalil bagi haramnya memakai seluruh jenis jimat, karena adanya kesamaan sebab larangan, yaitu : adanya ketergantungan hati pemakai jimat kepada selain Allah, bergantung kepada sesuatu yang disangka sebab, padahal hakekatnya jimat itu bukanlah sebab.</span></p>
<p><b>(Bersambung, in sya Allah)</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 