
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/73408-penjelasan-lafzhul-jalaalah-allah-bag-1.html">Penjelasan Lafzhul Jalaalah “Allah” (Bag. 1)</a></strong></p>
<p><em>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,</em></p>
<h2>
<strong>STATUS NAMA </strong><strong>“الله”</strong>
</h2>
<p>Ulama <em>rahimahullah </em>menjelaskan bahwa nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”  memiliki status kedudukan yang tinggi. Nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”  adalah  nama-Nya yang paling agung, paling masyhur, paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, paling dikenal, paling jelas menunjukkan kepada Allah, paling baik, paling luas cakupannya, serta nama paling khusus bagi-Nya, makhluk tidak boleh bernama dengannya.</p>
<p><strong>Dalil-dalil bahwa nama “</strong><span style="font-size: 21pt;"><strong>الله</strong></span><strong>” </strong><strong> adalah nama Allah yang teragung</strong></p>
<p><strong>1) </strong>Firman Allah <em>Ta’ala</em> dalam surah Maryam ayat 65,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا</span></p>
<p><em>“Apakah Engkau mengetahui ada selain-Nya yang bernama dengannya?”</em></p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah </em>dalam tafsirnya, menukilkan riwayat Atha’ <em>rahimahullah </em>dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu </em>tentang tafsir ayat di atas. Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu </em>menafsirkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هل تعلم أحدا يسمى “الله” غيره ؟</span></p>
<p>“Apakah Engkau mengetahui ada selain-Nya yang bernama dengannya?”</p>
<p>Dikarenakan nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>” </strong><strong> </strong>adalah nama khusus untuk-Nya saja, maka nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”  merupakan nama-Nya yang teragung.</p>
<p><strong>2)</strong> Dari Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> telah mendengar seseorang berdoa mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ بأنِّي أشهدُ أنَّكَ أنتَ اللَّهُ لا إلَهَ إلَّا أنتَ الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُن لَهُ كفوًا أحدٌ</span></p>
<p><em>-Alloohumma innii as-aluka biannii asyhadu annaka antalloohu laa ilaaha illaa antal ahadush shomadu, alladzii lam yalid wa lam yuulad wa lam yakul lahuu kufuwan ahad-</em></p>
<p><strong><em>“Ya Allah,</em></strong><em> sesungguhnya saya memohon kepada-Mu bahwa saya bersaksi sesungguhnya Engkau adalah Allah. Tiada tuhan yang berhak disembah, selain Engkau. Tuhan Yang Maha Esa. Yang Sempurna seluruh sifat-Mu. Tuhan Yang tidak beranak dan tidak dilahirkan. Dan tiada yang setara dengan-Nya.”</em></p>
<p>Lalu, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">والَّذي نَفسي بيدِهِ لقد سألَ اللَّهَ باسمِهِ الأعظمِ الَّذي إذا دُعِيَ بِهِ أجابَ، وإذا سُئِلَ بِهِ أعطى</span></p>
<p><em>“Demi Tuhan Yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan <strong>nama-Nya teragung</strong> yang jika ia berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut, niscaya Dia akan mengabulkannya. Dan jika ia memohon kepada-Nya dengan nama tersebut, niscaya Dia akan memberi.” </em>(Disahihkan oleh Al-Albani <em>rahimahullah </em>dalam <em>Shahih At-Tirmidzi</em>)</p>
<p>Asy-Syuyuthi <em>rahimahullah </em>menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa perselisihan pendapat tentang penentuan nama Allah teragung itu sebanyak dua puluh pendapat. Namun, Syekh Abdur Razzaq <em>hafizhahullah</em> mengomentari bahwa banyak pendapat yang disebutkan dalam kitabnya tersebut yang sangat lemah karena tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.</p>
<p>Di antara pendapat tersebut adalah apa yang disampaikan Syekh Abdur Rahman As-Sa’di <em>rahimahullah </em><a href="#_ftn1" name="_ftnref1"><strong>[1]</strong></a> bahwa nama Allah yang teragung adalah nama jenis. Maksudnya, kelompok jenis nama Allah tertentu yang mencakup beberapa nama-Nya sekaligus sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis. Berikut ini kelompok nama Allah yang teragung:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُن لَهُ كفوًا أحدٌ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 24pt;">الرّحمن الرّحيم، الحيّ القيّوم</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 24pt;">المنّان، بديع السّماوات والأرض، ذو الجلال والإكرام، الحيّ القيّوم</span></p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>, pendapat terkuat, paling masyhur, dan paling dekat dengan dalil-dalil adalah pendapat yang mengatakan bahwa nama Allah yang teragung adalah <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”.</strong> Ini adalah pendapat kebanyakan <a href="#_ftn2" name="_ftnref2"><strong>[2]</strong></a> ulama <em>rahimahullah.</em></p>
<p>Di antara ulama yang berpendapat bahwa nama Allah yang teragung adalah <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> adalah Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu (</em>ulama tafsir dari kalangan sahabat), Jabir bin Zaid (ulama tafsir dari kalangan tabi’in), Imam Abu Hanifah, Al-Khathib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i,  Ath-Thahawi, Ath-Thibi, Al-Baqa’i, Al-Munawi, Abu Hayan Al-Andalusi, dan selain mereka <em>rahimahumullah. </em><a href="#_ftn3" name="_ftnref3"><strong>[3]</strong></a></p>
<p>Alasan bahwa nama Allah yang teragung adalah <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> adalah karena nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>” </strong>memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh nama-nama-Nya selainnya <strong><a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a>,</strong> yaitu :</p>
<p>1) Nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>” </strong>disebutkan dalam mayoritas hadis tentang nama-Nya yang teragung.</p>
<p>2) Nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>” </strong>adalah nama Allah yang pertama kali disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim.</p>
<p>3) Nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> adalah asal dari semua <em>a</em><em>l-asma’ul husna</em>, sedangkan semua <em>al-asma’ul husna</em> lainnya disandarkan kepada nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”.</strong></p>
<p>4) Nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> adalah nama yang paling khusus bagi-Nya karena tidak bisa selain-Nya dinamai dengannya.</p>
<p>5) Nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>” </strong>menunjukkan seluruh <em>al-asma’ul husna</em> dan mengandung seluruh sifat-sifat-Nya yang ‘<em>ulya</em>.</p>
<p>6) Nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>” </strong>disifati dengan seluruh sifat-sifat-Nya yang ‘<em>ulya</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/18822-urgensi-mengenal-allah.html">Urgensi Mengenal Allah</a></strong></p>
<h2>
<strong> KEKHUSUSAN DAN KEISTIMEWAAN </strong><strong><em>LAFZHUL JALAALAH</em></strong><strong> “الله”</strong>
</h2>
<p>Banyak kekhususan dan keistimewaan <em>lafzhul jalaalah</em>  “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”. Secara umum, kekhususan dan keistimewaannya terbagi menjadi dua macam:</p>
<p><em>Pertama, </em>kekhususan dan keistimewaan lafaz.</p>
<p><em>Kedua, </em>kekhususan dan keistimewaan maknawi.</p>
<h3>
<strong> KEKHUSUSAN DAN KEISTIMEWAAN LAFAZH DARI NAMA “</strong><strong>الله</strong><strong>” </strong>
</h3>
<h4>
<strong>Nama “</strong><strong>الله</strong><strong>” </strong><strong> adalah asal dari seluruh nama-Nya yang lain dan menunjukkan kepada nama </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>”</strong><strong>, sedangkan nama selain </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>” </strong><strong>memperinci nama </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>”. </strong><strong> </strong>
</h4>
<p>Nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” adalah asal dari seluruh nama-nama-Nya yang lain. Sehingga seluruh nama-Nya yang lain disandarkan kepada nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” dan digunakan untuk mensifati nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”. Serta nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” berkonsekuensi dan menunjukkan kepada seluruh nama-Nya yang lain secara global. Sedangkan nama-Nya yang lain adalah perincian dan penjelasan makna nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”.</p>
<p>Karena Allah tidaklah disifati dengan sifat <em>al-uluhiyyah </em>(berhak diibadahi), kecuali menunjukkan bahwa Allah Mahasempurna dalam segala sifat-Nya. Sedangkan setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya. Sehingga hal ini berkonsekuensi nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>” </strong>itu menunjukkan kepada seluruh nama dan sifat Allah lainnya.</p>
<p>Nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” itu dikatakan mengandung sifat <em>al-uluhiyyah</em> karena nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” itu menunjukkan bahwa Allah adalah Yang Mahahidup (<em>Al-Hayyu</em>), Yang Mahamendengar (<em>As-Samii’</em>), Yang Mahamelihat (<em>Al-Bashiir</em>), Yang Mahakuasa (<em>Al-Qodiir</em>), Yang Mahabijaksana (<em>Al-Hakiim</em>), Yang disifati dengan berfirman (sifat <em>Al-Kalaam</em>), mengetahui segala sesuatu (sifat <em>Al-‘Ilmu</em>), dan selainnya dari seluruh nama yang <em>husna</em> dan sifat yang ‘<em>ulya</em>.</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah </em>dalam <em>Madarijus Salikin </em>menjelaskan bahwa nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” itu menunjukkan kepada seluruh nama dan sifat Allah lainnya dengan tiga macam indikasi lafaz (<em>dalalatul alfazh</em>) : <em>Mutahabaqah, tadhommun, </em>dan <em>luzum.</em></p>
<p> </p>
<p><strong>Dalil nama “</strong><strong>الله</strong><strong>” </strong><strong> adalah asal dari seluruh nama-Nya yang lain dan menunjukkan kepada seluruh nama-Nya dan sifat-Nya</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ</span></p>
<p><strong><em>“Dan Allah memiliki a</em></strong><strong><em>l-asma’ul husna</em></strong> <strong><em>(nama-nama yang terbaik),</em></strong><em> maka berdoalah kepada-Nya dengan a</em><em>l-asma’ul husna</em> <em>itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari sikap wajib terhadap nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah </em><em>mereka kerjakan</em>.” (QS. Al-A’raf: 180)</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى</span></p>
<p><em>“(Dialah) Allah, tidak ada </em><em>tuhan (yang berhak disembah) </em><em> selain Dia, <strong>Dia mempunyai al-asma’ul husna</strong></em><strong> (<em>nama-nama yang terbaik).</em></strong><em>“</em> (QS. Thaha: 8)</p>
<p>Dua ayat yang agung di atas menunjukkan bahwa nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>” </strong><strong> </strong>adalah asal dari seluruh nama-Nya yang lain dan menunjukkan kepada seluruh nama-Nya. Karena di dalam dua ayat tersebut disebutkan bahwa Allah memiliki <em>al-asma’ul husna</em> (nama-nama yang terbaik). Sedangkan setiap nama-Nya mengandung sifat-Nya. Dengan demikian, nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” itu menunjukkan juga kepada seluruh sifat-sifat-Nya.</p>
<p><strong>Dalil bahwa nama selain </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>” itu </strong><strong>memperinci dan menjelaskan nama </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>”</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ</span></p>
<p><em>“Dialah <strong>Allah</strong> tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. <strong>Al-Malik</strong> (Maharaja), <strong>Al-Qudduus</strong> (Yang Mahasuci), <strong>As-Salaam</strong> (Yang Mahasejahtera), <strong>Al-Mukmin</strong> (Yang Menjaga Keamanan), <strong>Al-Muhaimin </strong>(Pemelihara Keselamatan), <strong>Al-‘Aziiz</strong> (Yang Mahaperkasa), <strong>Al-Jabbaar</strong> (Yang Mahakuasa), <strong>AL-Mutakabbir</strong> (Yang Memiliki Segala Keagungan), Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ</span></p>
<p><em>“Dialah <strong>Allah Al-Khaliq</strong> (Yang Menciptakan), <strong>Al-Barik</strong> (Yang Mengadakan), <strong>Al-Mushawwir</strong> (Yang Membentuk Rupa), <strong>Dia memiliki nama-nama yang terindah.</strong> Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah <strong>Al-‘Aziiz</strong> (Yang Mahaperkasa), <strong>Al-Hakiim</strong> (Yang Mahabijaksana).”</em> (QS. Al-Hasyr: 23-24)</p>
<p>Perhatikanlah dua ayat yang agung di atas, bagaimana nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> dijelaskan dan diperinci dengan nama-nama-Nya yang lainnya:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَلْمَلِكُ, الْقُدُّوْسُ, السَّلٰمُ, الْمُؤْمِنُ, الْمُهَيْمِنُ, الْعَزِيْزُ, الْجَبَّارُ, الْمُتَكَبِّرُ, الْخَالِقُ, الْبَارِئُ</span></p>
<p><strong>Contoh penerapan seluruh nama-Nya yang lain disandarkan kepada nama </strong><strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong><strong>: </strong></p>
<p><em>Ar</em>–<em>Rahman</em> adalah nama Allah dan bukan  sebaliknya (Allah adalah nama <em>Ar-Rahman</em>). <em>Ar-Rahim</em> adalah nama Allah dan bukan sebaliknya. <em>Al-Ghafur</em> adalah nama Allah dan bukan sebaliknya. <em>Al-Karim</em> adalah nama Allah dan bukan sebaliknya.</p>
<p><strong>Contoh penerapan seluruh nama-nama-Nya yang lain digunakan untuk mensifati nama </strong><strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong></p>
<p>Allah itu disifati dengan <em>Ar-Rahman</em> dan bukan sebaliknya (<em>Ar-Rahman</em> disifati dengan Allah). Allah itu disifati dengan <em>Ar-Rahim</em> dan bukan sebaliknya. Allah itu disifati dengan <em>Al-Ghafur</em> dan bukan sebaliknya. Allah itu disifati dengan <em>Al-Karim</em> dan bukan sebaliknya.</p>
<h4>
<strong>N</strong><strong>ama </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>” adalah nama khusus Allah semata</strong>
</h4>
<p>Tidak ada satu pun selain-Nya yang layak bernama dengannya, tidak secara hakiki maupun secara kiasan. Dan sampai pun di kalangan pembesar yang sombong, mereka tidak berani bernama dengan nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong>.</p>
<p>Sungguh benar firman Allah <em>Ta’ala</em> dalam surah Maryam ayat 65,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا</span></p>
<p><em>“Apakah Engkau mengetahui ada selain-Nya yang bernama dengannya?”</em></p>
<h4>
<strong>Tidaklah sah syahadat pertama dalam rukun Islam pertama, kecuali dengan nama </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>”</strong>
</h4>
<p>Jumhur ulama <em>rahimahumullah</em> menyatakan seandainya orang kafir yang masuk Islam dengan cara mengucapkan syahadat <em>“Asyhadu an laa ilaaha illar <strong>Rahman”</strong>, </em>maka tidaklah sah keislamannya karena mengganti nama <strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>” </strong>dengan<strong> “<em>Ar-Rahman</em>”. </strong>Dan nama “Ar-Rahman” tidaklah mengandung sifat <em>al-uluhiyyah </em>sebagaimana dikandung dalam nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”.</strong> Sehingga dalam ucapan <em>“Asyhadu an laa ilaaha illar <strong>Rahman”</strong></em> itu tidak mengandung persaksian Kemahaesaan-Nya dalam peribadatan<em>. </em></p>
<p>Oleh karena itu, syahadat yang benar adalah syahadat yang terdapat dalam surah Ali ‘Imran ayat18 dan hadis <em>muttafaqun ‘laihi</em>, yaitu syahadat yang disebutkan padanya nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong>.</p>
<h4>
<strong>Di antara keistimewaan lafaz</strong> <strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>” adalah <em>alif lam </em>padanya tetap ada dalam konteks panggilan</strong>
</h4>
<p>Contohnya adalah<span style="font-size: 21pt;"> <strong>يا الله</strong> .</span> <em>Alif lam</em> tetap ada, meski ada huruf panggilan (<em>harfun nida’</em>) : يا . Namun, lain halnya dengan nama-nama Allah lainnya. Saat disebutkan dalam konteks panggilan, menjadi hilang <em>alif lam</em>nya, contoh : <span style="font-size: 21pt;">يا رحيم , يا غفور , يا كريم .</span></p>
<h4>
<strong>Kebanyakan zikir-zikir diiringi dengan nama </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>” </strong>
</h4>
<p>Seperti dalam:</p>
<p>Tahlil :<span style="font-size: 21pt;"> لا إله إلا <strong>الله</strong></span></p>
<p>Tasbih : <span style="font-size: 21pt;">سبحان <strong>الله</strong></span></p>
<p>Tahmid : <span style="font-size: 21pt;">الحمد <strong>لله</strong></span></p>
<p>Takbir :<span style="font-size: 21pt;"> <strong>الله</strong> أكبر</span></p>
<p>Basmalah : <span style="font-size: 21pt;">بسم <strong>الله</strong></span></p>
<p>Hauqalah : <span style="font-size: 21pt;">لا حول ولا قوة إلا <strong>بالله</strong></span></p>
<p>Hasbalah : <span style="font-size: 21pt;">حسبنا <strong>الله</strong></span></p>
<p>Istirja’ : <span style="font-size: 21pt;">إنا <strong>لله</strong> وإنا إليه راجعون</span> ,</p>
<p>dan lainnya.</p>
<p> </p>
<h4>
<strong>Nama </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>” adalah nama Allah yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim</strong>
</h4>
<p>Dalam Al-Qur’an Al-Karim terdapat 2360 kali penyebutan nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”. Hal ini tidak terjadi pada nama-nama Allah lainnya. Allah pun membuka 33 ayat Al-Qur’an dengan nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”.</p>
<p> </p>
<h4>
<strong>Tidaklah sah salat seseorang ketika <em>takbiratul ihram, </em>kecuali dengan n</strong><strong>ama </strong><strong>“</strong><strong>الله</strong><strong>”</strong>
</h4>
<p>Seandainya ada orang yang salat lalu bertakbirotul ihram bukan dengan lafaz “<em>Allahu Akbar</em>” padahal ia mampu mengucapkannya, tetapi ia ganti dengan “<em>Ar-Rahmanu Akbar</em>”, maka tidaklah sah salatnya. Pendapat yang menyatakan tidak sah disini adalah pendapat jumhur ulama: Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah <em>rahimahumullahu ajma’in.</em></p>
<p><em> <strong>Baca Juga: </strong></em><strong><a href="https://muslim.or.id/5876-apakah-anda-sudah-mengenal-allah.html">Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?</a></strong></p>
<h3>
<strong> KEKHUSUSAN DAN KEISTIMEWAAN MAKNAWI DARI NAMA “</strong><strong>الله</strong><strong>” </strong>
</h3>
<p>Dalam sebuah hadis yang sahih, riwayat Imam Muslim, Ibnu Majah, dan yang lainnya, Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>mendapatkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>sedang sujud dan berdoa,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ برضاكَ مِن سخطِك وبمعافاتِك مِن عقوبتِك وأعوذُ بِك منكَ لا أُحصي ثناءً علَيكَ أنتَ كما أثنَيتَ علَى نفسِك</span></p>
<p><em>“Ya Allah, saya berlindung dengan rida-Mu dari murka-Mu dan saya berlindung dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu dan saya berlindung dengan</em><em> rahmat-M</em><em>u dari hukuman-Mu. </em><strong><em>Saya tidak mampu memuji-</em></strong><em>Mu (sepenuh hak-Mu) sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”</em></p>
<p>Sifat Allah <em>Ta’ala</em> tidak ada batas akhirnya. Maka, demikian pula pujian kepada-Nya pun tak terhingga karena pujian itu mengikuti sifat sempurna yang dipuji. Maka, setiap pujian manusia untuk Allah itu meskipun banyak dan panjang, tetap saja tidak akan mungkin memenuhi hak Allah karena Allah lebih agung dari semua itu. Hak Allah lebih besar. Karunia Allah itu lebih luas. Sifat Allah itu lebih agung dan lebih banyak daripada pujian-pujian manusia terhadap-Nya.</p>
<p>Dari sinilah <strong>Ibnul Qoyyim<em> rahimahullah </em>menyatakan bahwa keistimewaan nama “</strong><span style="font-size: 21pt;"><strong>الله</strong></span><strong>” secara maknawi tidaklah terhitung banyaknya</strong><strong>. </strong>Hal itu dikarenakan Allah Mahasempurna dari segala sisi, lagi Mahaagung, Mahaindah, serta Mahaterpuji. Semua kebaikan milik Allah dan dari-Nya semata.</p>
<p>Tidaklah disebutkan nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” pada sesuatu yang sedikit, kecuali memperbanyaknya.</p>
<p>Tidaklah disebutkan nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” pada kondisi takut, kecuali Dia menghilangkannya.</p>
<p>Tidaklah disebutkan nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” pada saat tertimpa musibah, kecuali Dia mengangkatnya.</p>
<p>Tidaklah nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” disebut oleh orang yang lemah, kecuali Dia akan menguatkannya.</p>
<p>Tidaklah nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” disebut oleh orang yang hina, kecuali Dia akan memuliakannya.</p>
<p>Tidaklah nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” disebut oleh orang yang kalah, kecuali Dia akan memenangkannya</p>
<p>Nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” adalah sebuah nama yang dengannya tertolak keburukan, musibah dan bahaya, diturunkan keberkahan, dikabulkan doa, serta didapatkan segala kebaikan dan keberuntungan! <strong><a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></strong></p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57399-mengenal-nama-allah-ash-shamad.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Nama Allah “Ash-Shamad”</a></strong></span></li>
<li class="jeg_post_title"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57187-mengenal-nama-allah-al-awwal-al-akhir-azh-zhahir-dan-al-bathin.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Nama Allah “Al-Awwal”, “Al-Akhir”, “Azh-Zhahir” dan “Al-Bathin”</a></strong></span></li>
</ul>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> <em>Tafsir Asma’illahil Husna lisy-Syaikh Abdir Rahman As-Sa’di rahimahullah,</em> DR. ‘Ubaid bin Ali Al-‘Ubaid <em>hafizhahullah, </em>hal. 166</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>At-Tanqih Ibnu Nahsir dan Al-Mu’in</em>, Ibnul Mulaqqin; <em>Lawami’</em>, As-Safarini; <em>Hasyiah ‘ala Ibni Majah</em>, As-Sindi <em>rahimahumullah</em> (<a href="https://bit.ly/35mEh1a">https://bit.ly/35mEh1a</a>)</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <a href="https://bit.ly/35mEh1a">https://bit.ly/35mEh1a</a></p>
<p><a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Sebagaimana disebutkan oleh Ibnus Sayyid <em>rahimahullah</em> (<em>Tuhafatul Mukhalashin</em>, Muhammad Al-Farisi, hal. 120)</p>
<p><a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> <em>Fiqhul Asma’il Husna,</em> Syekh Abdur Razzaaq <em>hafizhahullah</em>, hal. 76.</p>
 