
<p><span style="font-weight: 400;">Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, salawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi yang mulia dan utusan yang paling mulia, Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan kepada seluruh keluarganya serta sahabatnya.</span></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Penuntut Ilmu dan Majelis Ilmu</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya seorang manusia akan lapang dadanya, dan tenang hatinya, manakala melihat penuntut ilmu berada di majelis ilmu. Mereka adalah orang yang meninggalkan nikmatnya tidur dan meninggalkan tempat tidur mereka diwaktu banyak orang lain tidur diatas kasur-kasur yang nyaman. Para penuntut ilmu meninggalkan berbagai kenikmatan dan lebih mengutamakan suatu perkara yang mereka berharap mendapatkan keselamatan di dunia, alam barzah, dan akhirat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sungguh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah memuji-muji para pembawa ilmu dan yang mengajarkannya dengan berfirman</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”</span></i> <b>(QS. Fatir 28)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan dikhususkan sifat rasa takut kepada ulama karena mereka adalah orang yang paling mengenal Allah. Jika seseorang hamba semakin mengenal Rabb-nya, maka seharusnya dia semakin besar rasa harap dan takutnya kepada Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ilmu adalah sebab keridhoan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan sebab kehidupan yang baik di dunia, di alam barzah, dan di alam akhirat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ilmu adalah sebab lurusnya sikap dan terdidiknya jiwa. Dia adalah sebab, bagi orang yang ikhlas menuntut ilmu dan dalam mengamalkan ilmu, selamat dari berbagai kejelekan yang banyak macamnya dan jenisnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka pada saat orang-orang yang kita cintai (yakni penuntut ilmu) berkumpul untuk mengambil ilmu dari sebagian orang-orang yang mereka cintai (yakni para ulama atau ustadz), mereka belajar dan mengajar, maka hal ini dinilai sebagai amalan yang mendekatkan diri kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan termasuk amal yang paling utama. Zaman dulu para pendahulu kita, mereka mengikat pelana-pelana kendaraan mereka dalam rangka mencari ilmu (</span><i><span style="font-weight: 400;">melakukan perjalanan panjang .pent</span></i><span style="font-weight: 400;">). Demikian pula banyak dari kita telah membaca atau mendengar apa yang dilakukan para ulama hadis dimana mereka telah mengadakan perjalanan panjang. Mereka meyakini </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَو لَا الإِسنَاد لَقَالَ مَنشَاءَ مَا شَاءَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seandainya bukan karena sanad, niscaya semua orang bisa berbica (dalam masalah agama) sesuka hati mereka.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana Syu’bah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dia mengadakan perjalanan sebulan penuh dalam rangka mencari sebuah hadis yang beliau dengar melalui satu jalur yang belum pernah didapatkannya. </span><b>(Ar-Rihlah fii Talabil Hadits karya Al-Khatib Al-Baghdadi hal. 148)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma – seorang sahabat yang lebih utama dari  Syu’bah karena Syubah adalah seorang tabi’in – mengatakan, “Telah sampai kepadaku dari seseorang dari sahabat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebuah hadis yang dia dengar dari Rasululah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang aku belum pernah mendengarnya. Maka aku membeli seokar unta, aku pasang pelana diatasnya, lalu aku mengadakan perjalanan selama sebulan penuh hingga aku tiba di Syam. Maka sahabat yang aku maksudkan adalah Abdullah bin Unais Al-Anshari. Kemudian setelah sampai maka aku mengatakan kepada utusan Abdullah bin Unais, ‘Sampaikan bahwa Jabir ada di depan pintu rumah.’ Maka sang utusan tersebut kembali lagi menemui Jabir membawa pertanyaan Abdullah bin Unais. Dia bertanya, ‘Apakah engkau adalah seorang yang bernama Jabir bin Abdillah?’. Maka aku katakan, ‘Betul’. Kemudian utusan tersebut kembali menemui Abdullah bin Unais dan menyampaikan pesanku. Kemudian Abdullah bin Unais keluar menemuiku. Maka dia memelukku dan akupun memeluknya. Aku katakan kepada Abdullah bin Unais, ‘Ada sebuah hadis yang sampai ke telingaku bahwasannya engkau telah mendengar hadis tersebut dari Rasulullah tentang masalah tindakan kedzaliman yang aku belum pernah mendengar hadis tersebut dari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan aku khawatir aku mati atau engkau mati terlebih dahulu sebelum aku sempat mendengarnya.’” </span><b>(Ar-Rihlah fii Talabil Hadits karya Al-Khatib Al-Baghdadi hal. 110)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perhatikan bagaimana Jabir sangat perhatian terhadap ilmu. Dia tidak mencukupkan diri hanya tahu saja. Akan tetapi Jabir ingin ilmu yang beliau dapatkan valid langsung dari sumbernya. Terverifikasi dan tervalidasi ilmunya. Ini diantara semangat generasi awal umat Islam dalam mencari ilmu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula Abu Zur’ah, Muhammad bin Nashr, dan lainnya mereka melewati gurun pasir dengan berjalan kaki. Semua ini dilakukan dalam rangka mencari ilmu. Mereka menempuh jarak yang sangat jauh yang mana kendaraan tungangan pun pasti kelelahan. Perjalanan yang diiringi keletihan dan kesusahan. Meskipun demikian, nikmatnya ilmu yang Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">azza wa jalla</span></i><span style="font-weight: 400;"> letakkan dihati mereka membuat mereka lupa dari jauhnya perjalanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana ungkapan indah yang disampaikan Ibnul Qayyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كل ما كان في القرآن من مدح للعبد فهو من ثمرة العلم، و كل ما كان فيه من ذم للعبد فهو من ثمرة الجهل</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Semua pujian dalam Alquran yang termasuk pujian kepada hamba maka itu semua dikarenakan buah ilmu, dan semua celaan yang ada dalamnya (Alquran) yang termasuk celaan kepada hamba maka itu semua adalah buah kebodohan (nihilnya ilmu dan/atau amal).” </span><b>(Ma’alim fii Thariq Thalabul Ilmi, Hal. 15)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ilmu – sebagaimana yang dikatakan Al-Hasan Al Bashri – adalah rasa takut kepada Allah. Maka siapa saja yang lebih berilmu tentang Allah maka harusnya dia lebih memiliki rasa takut kepada Allah. Para ulama terdahulu telah menulis banyak buku khusus membahas keutamaan ilmu, tentang akhlak orang yang memiliki ilmu, dan keutamaan para ulama. Sebagaimana sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصنَعُ ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang menempuh jalan yang dijalan tersebut dia mencari ilmu maka Allah akan membuat dirinya menempuh jalan diantara jalan-jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya untuk para penuntut ilmu karena suka dengan apa yang dia lakukan. Sesungguhnya seluruh makhluk di langit dan di bumi akan memohonkan ampunan kepada orang yang berilmu, termasuk ikan ditengah-tengah air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu (yang mengamalkan ilmunya) dibandingkan ahli ibadah (yang beramal tanpa ilmu) bagaikan keutamaan rembulan dimalam hari (saat bulan purnama) dibandingkan seluruh bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak dirham dan mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” </span><b>(Shahih jaami’ 5/302)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51513-keutamaan-belajar-ilmu-agama-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Belajar Ilmu Agama</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Jalan Mencari Ilmu</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadis ini Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda “</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang menempuh jalan yang dijalan tersebut dia mencari ilmu …”</span></i><span style="font-weight: 400;"> maksud dari </span><i><span style="font-weight: 400;">“jalan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> disini dapat dimaknai dengan dua pengertian. Jalan yang nyata dan imajiner. Jalan yang nyata contohnya seperti usaha seseorang menempuh perjalanan untuk datang ke majelis ilmu, melakukan safar dalam rangka mencari sebuah hadis, dan lain sebagainya. Maka ini dikatakan sebagai jalan yang nyata. Sedangkan jalan yang imajiner dapat diartikan sebagai usaha untuk menulis, menghafal, mencatat, dalam rangka dia mempelajari ilmu. Oleh karena itu, semua orang yang menempuh jalan nyata maupun imajiner untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan membuat orang tersebut menempuh suatu jalan diantara berbagai jalan menuju surga. </span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Makna Jalan Menuju Surga</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, jalan menuju surga maknanya adalah ibadah. Orang yang beribadah kepada Allah adalah orang yang berjalan menuju surga. Maknanya dengan seseorang mempelajari ilmu tentang agamnya maka akan membuat orang tersebut giat beribadah. Orang tersebut semakin banyak mengetahui ibadah apa sajakah yang dapat mendekatkan dirinya kepada surga. Semakin banyak ilmu, maka semakin banyak pula pengetahuan tentang amal shalih dan amalan yang bernilai ibadah disisi allah. Ilmu tersebut membuat dia bisa mengerjakan ibadah dan semakin semangat untuk melakukannya. orang yang menuntut ilmu karena Allah membuahkan hasil pengetahuannya tentang jalan surga semakin banyak dan seharusnya membuat dia semakin semangat untuk memperbanyak amalan-amalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, jalan menuju surga maknanya adalah ilmu itu sendiri. Artinya Allah mudahkan kepadanya ilmu. Ilmu tersebut adalah jalan menuju surga. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51246-metode-mempelajari-ilmu-agama-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Metode yang Benar dalam Mempelajari Ilmu Agama</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Malaikat Memiliki Sayap</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadis ini juga menjelaskan bahwa malaikat itu memiliki sayap. Sebagaimana dalam firman Allah</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ يَزِيدُ فِي ٱلۡخَلۡقِ مَا يَشَآءُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ١</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” </span><b>(QS. Fatir: 1)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka dalam hadis ini kita mengimani sebagaimana konteks hadis bahwasannya Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span><i><span style="font-weight: 400;"> “para malaikat meletakkan sayap-sayapnya …”</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Penuntut Ilmu dan yang Mengajarkannya Dimohonkan Ampun Seluruh Makhluk</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang berilmu dan yang mengajarkannya akan dikenal seluruh makhluk. Makhluk-makhluk tersebut akan memohonkan ampun  atasnya kepada Allah. Sampai-sampai didalam hadis dikatakan, </span><i><span style="font-weight: 400;">“… ikan ditengah-tengah air”</span></i><span style="font-weight: 400;"> mereka semua memohonkan ampunan kepada orang yang belajar dan  mengajarkan ilmu agama. Ada dua penjelasan ulama tentang maksud  </span><i><span style="font-weight: 400;">“… seluruh makhluk di langit dan di bumi akan memohonkan ampunan kepada orang yang berilmu …”</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, karena degnan mempelajari ilmu agama manusia memperlakukan hewan-hewan dengan layak. Sebaliknya, jika ilmu agama tidak tersebar, hadis-hadis tidak dipelajari, ajaran islam tentang berbuat baik kepada hewan tidak diketahui, maka orang pun melakukan kezaliman kepada binatang-binatang. Maka para hewan akan mendapatkan perlakuan kasar karena kebodohan manusia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, alasannya karena ilmu agama adalah sebab timbulnya kebaikan, amal shalih, ketaatan, yang menyebabkan tidak rusaknya ekosistem yang ada di muka bumi ini. Sebaliknya, jika manusia berada dalam kebodohan menyebabkan manusia jatuh kedalam kemaksiatan. Kemaksiatan yang dilakukan manusia menyebabkan Allah menimpakan musibah dan bencana. Musibah dan bencana ini akan berdampak pula pada hewan dan makhluk hidup lainnya. Sebagaimana Allah berfirman</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” </span></i><b>(QS. Ar-Rum: 41)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50749-ilmu-agama-itu-lebih-berharga-daripada-harta-benda.html" data-darkreader-inline-color="">Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Perbandingan Orang Berilmu dan Ahli Ibadah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Keutamaan orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya dengan orang yang giat ibadah tanpa didasari ilmu yang mapan bagaikan rembulan diantara bintang-bintang. Rembulan yang bersinar manfaatnya luas dibandingkan dengan bintang-bintang.  </span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Nabi Hanya Mewariskan Ilmu</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian dalam hadis tersebut Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda </span><i><span style="font-weight: 400;">“… ulama adalah pewaris para nabi, …”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Ulama adalah pewaris para nabi. Mereka mendapatkan warisan berupa agama dan ilmu agama. Hal ini menunjukkan bahwa agama adalah warisan dari Rasulullah. Artinya tidak boleh ada kreasi (pengurangan atau penambahan) dalam beragama. Maka perhatikan, bagaimana agama yang Rasulullah wariskan? Bagaimana akidah yang Rasulullah wariskan? Bagaimana sholat yang Rasulullah wariskan? Bagaimanakah puasa yang Rasulullah wariskan? Maka itu semua adalah agama yang benar. Oleh karena itu, kita tinggal belajar kepada para ulama bagaimanakah agama yang Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> wariskan kepada kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadis dikatakan, </span><i><span style="font-weight: 400;">“… dan para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak dirham dan mereka mewariskan ilmu.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Mereka tidaklah mewariskan kepada keturunan maupun umatnya harta. Seandainya mereka mati dengan meninggalkan harta, maka hartanya akan dibagikan untuk kepentingan sosial. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">pun saat meninggal tidak mewariskan hartanya kepada keluarganya </span><b>(lihat HR. Bukhari No. 3988 dan Muslim No. 1759)</b><span style="font-weight: 400;"> . </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah bukti bahwasannya dakwah para nabi ikhlas karena Allah. Seandainya para nabi mewariskan dinar dan dirham maka boleh jadi ini menjadi pintu bagi sebagian orang mencela dakwah nabi. Mereka akan berpikiran negatif bahwa semangat nabi bertujuan untuk menumpuk kekayaan yang akan diwariskan kepada anak keturunannya. Akan tetapi tidak demikian, sehingga manusia tidak memiliki alasan untuk mencela dakwah para nabi karena mereka berdakwah semata-mata menginginkan manusia mendapat hidayah, menginginkan manusia selamat dari neraka, terhindar dari kesesatan, dan supaya manusia masuk ke dalam surga Allah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betapa indahnya perkataan Ibnul Qayyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau mengatakan: </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ولو لم يكن في العلم إلا القرب من رب العالمين، والالتحاق بعالم الملائكة و صحبة الملأ الأعلى؛ لكفى به شرفاً و فضلاً، فكيف و عِزّ الدنيا و الآخرة منوط به، مشروط بحصوله؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seandainya tidak ada dalam keutamaan ilmu kecuali hal itu akan menjadi sebab dekatnya dengan Allah tuhan semesta alam, dan akan tergabung dengan para malaikat dan bersahabat dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">al malaail a’la </span></i><span style="font-weight: 400;">(para malaikat); maka cukuplah ini menjadi keistimewaan dan kemuliaan. Maka bagaimana lagi jika kemuliaan hidup di dunia dan akhirat tergantung dengan ilmu, disyaratkan dengan diperolehnya ilmu?” </span><b>(Miftahu Daarus Sa’adah 1/108)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47202-selektif-dalam-menuntut-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Selektif Dalam Menuntut Ilmu Agama</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47061-hanya-ada-waktu-waktu-sisa-untuk-belajar-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Hanya Ada Waktu-Waktu Sisa untuk Belajar Ilmu Agama</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><i><span style="font-weight: 400;">(Diambil dari Kitab Ma’alim fii Thariq Thalabul Ilmi)</span></i></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/azka" data-darkreader-inline-color=""> Azka Hariz</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 