
<p><b></b> <b>Keadaan pertama,</b><span style="font-weight: 400;"> perang dalam rangka membela diri, maksudnya ada pihak yang memulai peperangan/menyerang secara zhalim pada bulan haram. Maka untuk keadaan yang seperti ini, berdasarkan kepakatan ulama, diperbolehkan bagi kaum muslimin untuk memerangi pihak musuh yang aniaya tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Muflih </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وَيَجُوزُ القتال في الشهر الحرام دفعا ، إجماعا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Berdasarkan ijma’ Ulama, boleh melakukan peperangan pada bulan-bulan haram dengan tujuan membela diri (dari serangan)”</span> <span style="font-weight: 400;">(<em>Al-Furu’</em>: 47/10 dan <em>Zaadul Ma’aad</em>: 3/ 301).</span></p>
<p><b> Keadaan kedua,</b> <span style="font-weight: 400;">memulai peperangan/menyerang, maksudnya kaum muslimin yang memulai peperangan pada bulan-bulan haram. Tentang keadaan kedua ini, ulama </span><i><span style="font-weight: 400;">raimahumullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berselisih pendapat, Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan tentang adanya perselisihan pendapat dalam masalah tersebut,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي تَحْرِيمِ ابْتِدَاءِ الْقِتَالِ فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ: هَلْ هُوَ مَنْسُوخٌ أَوْ مُحْكَمٌ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ulama berselisih pendapat dalam masalah diharamkan memulai berperang pada bulan haram : Apakah hukumnya telah dihapus atau tetap berlaku? (Tentang hal itu Ulama) terbagi menjadi dua pendapat”</span> <span style="font-weight: 400;">(<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: 3/26).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berikut ini secara ringkas penjelasan kedua pendapat tersebut.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Pendapat pertama</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Jumhur Ulama berpendapat bahwa hukum haramnya memulai peperangan pada bulan-bulan haram itu telah dihapus</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Di antara dalil mereka adalah:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">‏فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ  وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<em>Janganlah kalian menganiaya diri kalian di dalamnya </em></span><span style="font-weight: 400;"><em>dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kalian semuanya</em>”</span> <span style="font-weight: 400;">(QS. At-Taubah: 36). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat ini, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memerangi kaum musyrikin, sedangkan ayat di atas mengisyaratkan bahwa perintah ini adalah umum pada seluruh bulan, bukan khusus diperintahkan pada bulan-bulan haram saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka juga berdalil dengan kisah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengepung penduduk Thaif pada bulan haram, yaitu bulan Dzul Qo’dah, sebagaimana disebutkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahihain.</span></i></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Pendapat Kedua</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejumlah ulama yang lainnya berpendapat bahwa hukum haramnya memulai peperangan pada bulan-bulan haram tetap ada dan tidaklah dihapus, berdasarkan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Maaidah:2).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qoyyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وَهِيَ مِنْ آخِرِ الْقُرْآنِ نُزُولًا، وَلَيْسَ فِيهَا مَنْسُوخٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ayat tersebut termasuk salah satu dari ayat-ayat Al-Qurán yang terakhir turunnya, sedangkan tidak ada satupun dalil yang menunjukkan penghapusan hukum yang terkandung di dalam ayat tersebut”</span> <span style="font-weight: 400;">(<em>Zaadul Ma’aad</em>: 3/301).</span><i><span style="font-weight: 400;">  </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Baqarah:217).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qoyyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">فَهَاتَانِ آيَتَانِ مَدَنِيَّتَانِ بَيْنَهُمَا فِي النُّزُولِ نَحْوُ ثَمَانِيَةِ أَعْوَامٍ، وَلَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ وَلَا سُنَّةِ رَسُولِهِ نَاسِخٌ لِحُكْمِهِمَا، وَلَا أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ عَلَى نَسْخِهِ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kedua ayat di atas adalah ayat Madaniyyah. Jarak waktu turunnya antara kedua ayat tersebut, terpaut 8 tahun. Sedangkan didalam Kitabullah dan di dalam Sunnah Rasul-Nya, tidaklah disebutkan penghapus hukum yang terkandung dalam kedua ayat tersebut.  Dan ulama tidak pula berijma’ (tidak bersepakat) atas penghapusan hukum tersebut”</span> <span style="font-weight: 400;">(<em>Zaadul Ma’aad</em>, jilid 3).</span><i><span style="font-weight: 400;">  </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">(14583) dari Jabir, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْزُو فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ إِلَّا أَنْ يُغْزَى – أَوْ يُغْزَوْا -وصححه محققو المسند</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah berperang pada bulan haram kecuali beliau diserbu atau mereka (kaum Muslimin) diserbu”</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Jawaban bagi pendalilan Jumhur Ulama</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;"> Adapun firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kalian semuanya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(At-Taubah: 36). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Petikan ayat ini ada dua kemungkinan makna, yaitu:</span></p>
<ol>
<li>Kemungkinan pertama, petikan ayat di atas, dibawakan kepada makna dorongan dan motivasi. Bahwa hukum yang terkandung dalam petikan ayat ini adalah hukum yang baru dan terpisah dari apa yang disebutkan dalam petikan ayat yang sebelumnya. Sehingga faedahnya adalah untuk dorongan dan motivasi.<br>
Dengan demikian maknanya adalah “Sebagaimana mereka berkumpul ketika memerangi kalian, maka berkumpullah (bersatulah) pula kalian ketika memerangi mereka. Perangilah mereka dengan balasan yang semisal dengan serangan yang mereka lakukan”.</li>
<li>Kemungkinan kedua, petikan ayat di atas, dibawakan kepada peperangan yang didahului oleh orang-orang musyrikin. Diizinkan kaum muslimin memerangi orang-orang musyrikin pada bulan haram, jika mereka yang memulai memerangi kaum muslimin terlebih dahulu. (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: 3/26).</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;"> Adapun kisah yang disebutkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Sahih Bukhari </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;">, kisah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengepung penduduk Thaif pada bulan haram, yaitu Dzul Qo’dah, maka hal itu dibawakan kepada kelanjutan dari perang sebelumnya dan termasuk jenis keadaan perang yang pertama, yaitu pihak merekalah yang memulai peperangan/menyerang secara zhalim kaum muslimin. Mereka menyerang kaum muslimin pada bulan Syawwal (berarti bukan bulan haram), lalu peperangan berkelanjutan sampai bulan haram (Dzul Qo’dah). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka untuk keadaan yang seperti ini, berdasarkan kepakatan ulama, diperbolehkan bagi kaum muslimin untuk memerangi pihak musuh yang memulai menyulut api peperangan tersebut. Bahkan jika musuh mendahului menyerang kaum muslimin pada bulan haram sekalipun, mereka (kaum muslimin) boleh membalas serangannya, hal ini berdasarkan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p style="text-align: right;">الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadap kalian” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Baqarah:194).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan juga berdasarkan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">وَلا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُم</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat </span></i><span style="font-weight: 400;">itu. </span><i><span style="font-weight: 400;">Jika mereka memerangi kalian (di tempat itu), maka bunuhlah mereka</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al-Baqarah: 191).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> يُغْتَفَرُ فِي الدَّوَامِ مَا لَا يُغْتَفَرُ فِي الِابْتِدَاءِ، وَهَذَا هُوَ أَمْرٌ مُقَرَّرٌ، وَلَهُ نَظَائِرُ كَثِيرَةٌ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dimaafkan dalam kasus yang berkelanjutan, yang mana hal itu tidak dimaafkan jika terdapat dalam kasus permulaan. Dan ini adalah perkara yang telah ditetapkan dan terdapat banyak contoh yang semisal ini” (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: 3/26).</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Kesimpulan</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan penjelasan di atas, pendapat yang terkuat adalah pendapat kedua, bahwa hukum memulai peperangan pada bulan-bulan haram adalah tetap diharamkan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 