
<p><em>Bismillah</em>.</p>
<p>Musim-musim terbaik untuk beramal di antaranya adalah 10 hari pertama Zulhijah. Sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر </span><span style="font-size: 21pt;">فقالوا </span><span style="font-size: 21pt;">يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله</span><strong style="font-size: 21pt;">؟ </strong><span style="font-size: 21pt;">فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم </span><span style="font-size: 21pt;">ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء</span></p>
<p>“<em>Tidak ada amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah daripada beramal pada sepuluh hari ini (yaitu 10 hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah juga tidak bisa mengalahkan keutamaan beramal pada hari-hari itu?” Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali bagi orang yang berangkat jihad dengan membawa jiwanya dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun darinya.</em>” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ’anhuma</em>)</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/70419-hikmah-dari-variasi-bacaan-doa-dan-dzikir.html">Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan Dzikir</a></strong></p>
<p>Dalam riwayat Bukhari, hadis ini dibawakan dengan redaksi,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ما العَمَلُ في أيَّامٍ أفْضَلَ منها في هذه </span><span style="font-size: 24pt;">قالوا </span><span style="font-size: 21pt;">ولا الجِهادُ؟ قال</span><strong style="font-size: 21pt;">َ </strong><span style="font-size: 21pt;">ولا الجِهادُ، إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخاطِرُ بنَفْسِه ومالِه، فلَمْ يَرْجِعْ بشَيء</span><strong style="font-size: 21pt;">ٍ</strong></p>
<p>“<em>Tidak ada amal yang lebih utama daripada beramal pada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah jihad (di waktu lain) juga kalah keutamaannya dengan beramal pada hari-hari itu?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali bagi orang yang berangkat perang dengan mengorbankan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan membawa apa-apa/alias meninggal dalam keadaan syahid dan hartanya habis.</em>”</p>
<p>Hadis ini menunjukkan kepada kita betapa besar keutamaan amal saleh yang dilakukan pada hari-hari di antara 10 hari pertama bulan Zulhijah. Sebagaimana kita ketahui, di bulan itulah ditunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Sebagaimana juga disyariatkan ibadah kurban dan salat Iduladha. Sebagaimana juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Zulhijah atau puasa Arafah. Selain itu, secara umum beramal pada sepuluh hari itu sejak tanggal 1 Zulhijah sampai 10 Zulhijah merupakan amal-amal yang paling utama.</p>
<p>Sungguh, ini merupakan nikmat dan anugerah yang Allah berikan kepada umat ini, kalaulah mereka mau menyadarinya. Sebagaimana kaum muslimin bersemangat untuk mengejar keutamaan Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, maka sudah semestinya mereka pun bersemangat untuk menabung pahala kebaikan pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/58139-menyibukkan-diri-dengan-dzikir-dan-membaca-al-quran-di-hari-jumat.html">Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’at</a></strong></p>
<h3><strong>Keutamaan zikir</strong></h3>
<p>Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu ’anhu</em> berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari azab Allah, selain berzikir kepada Allah.” (lihat <em>Sunan Tirmidzi</em> tahqiq Syekh Ahmad Syakir, 5: 459)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Zikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor ikan jika dia memisahkan diri dari air?” (lihat <em>Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Ath-Thayyib</em> oleh Imam Ibnul Qayyim, hal. 71)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Hal itu (zikir) adalah ruh dalam amal-amal saleh. Apabila suatu amal tidak disertai dengan zikir, maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. <em>Wallahu a’lam</em>.” (lihat <em>Madarij As-Salikin,</em> 2: 441)</p>
<p>Berzikir kepada Allah merupakan jalan untuk meraih kehidupan hati. Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari) (lihat <em>Al-‘Ibadat Al-Qalbiyah,</em> hal. 49)</p>
<p>Syekh Abdurrazzaq Al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, “Oleh sebab itu, zikir kepada Allah <em>Jalla wa ‘Ala</em> merupakan hakikat kehidupan hati. Tanpanya, hati pasti menjadi mati.” (lihat <em>Fawa’id Adz-Dzikri Wa Tsamaratuhu,</em> hal. 16)</p>
<p>Zikir juga merupakan obat bagi kerasnya hati. Suatu saat, ada seorang lelaki yang mengadu kepada Hasan Al-Bashri <em>rahimahullah</em>. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan kepadamu kerasnya hatiku.” Maka beliau berkata, “Lunakkanlah ia dengan zikir.” (lihat <em>Tazkiyatun Nufus Wa Tarbiyatuha</em> oleh Dr. Ahmad Farid, hal. 46)</p>
<p>Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, “Sesungguhnya zikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di dalam hati, memberikan pasokan gizi, dan mempercepat pertumbuhannya. Setiap kali seorang hamba semakin menambah zikirnya kepada Allah, niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (lihat <em>A</em><em>t-Taudhih Wa Al-Bayan Li Syajarat Al-Iman,</em> hal. 57)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Banyak di antara hamba yang lebih mendapatkan manfaat dengan zikir pada masa-masa permulaan daripada membaca (ilmu). Karena zikir akan memberikan pasokan keimanan baginya, sedangkan Al-Qur’an memberikan pasokan ilmu. Namun, terkadang ilmu itu tidak bisa dia pahami. Sementara dirinya lebih membutuhkan pasokan iman daripada pasokan ilmu dikarenakan ia masih berada pada jenjang permulaan. Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an dengan disertai pemahaman bagi orang yang cukup mapan imannya jauh lebih utama dengan kesepakatan (para ulama).” (lihat <em>Qawa’id Wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘Inda Syaikhil Islam,</em> hal. 202)</p>
<p>Syekh Abdurrazzaq Al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, “Tidaklah samar bagi setiap muslim tentang urgensi zikir dan begitu besar faedah darinya. Sebab, zikir merupakan salah satu tujuan termulia dan tergolong amal yang paling bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Allah telah memerintahkan berzikir di dalam Al-Qur’an Al-Karim pada banyak kesempatan. Allah memberikan dorongan untuk itu. Allah memuji orang yang tekun melakukannya dan menyanjung mereka dengan sanjungan terbaik dan terindah.” (lihat dalam <em>Fiqh Al-Ad’iyah Wa Al-Adzkar,</em> 1: 11)</p>
<p>Tsabit Al-Bunani<em> rahimahullah</em> berkata, “Apakah susahnya bagi salah seorang dari kalian jika dia hendak memanfaatkan waktu satu jam setiap harinya untuk berzikir kepada Allah sehingga dengan sebab itu sepanjang hari yang dilaluinya dia akan meraih keberuntungan.” (lihat <em>At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’,</em> hal. 346)</p>
<p>‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah <em>rahimahullah</em> berkata, “Majelis-majelis zikir adalah obat bagi hati.” (lihat <em>At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’,</em> hal. 348)</p>
<p>‘Atha’ bin Maisarah Al-Khurasani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Majelis-majelis zikir adalah majelis-majelis yang membahas hukum halal dan haram (majelis ilmu, pent).” (lihat <em>At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’,</em> hal. 348)</p>
<p>Makhul <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Barangsiapa yang menghidupkan malamnya dengan zikir kepada Allah, niscaya pada pagi harinya dia akan berada dalam keadaan suci seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” (lihat <em>At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat al-Auliya’,</em> hal. 347)</p>
<p>Semoga kumpulan tulisan ini bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. <em>Barakallahu` fiikum.</em></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/51497-dzikir-dzikir-yang-shahih-setelah-shalat-bag-2.html">Dzikir-Dzikir Yang Shahih Setelah Shalat (Bag.2)</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/42531-bolehkah-orang-junub-berdzikir-dari-al-quran.html">Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?</a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Ari Wahyudi, S.Si</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
 