
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50982-perintah-pertama-dan-wasiat-terakhir-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Perintah Pertama dan Wasiat Terakhir (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Wasiat terahir juga berisi tentang tauhid</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Betapa pentingnya tauhid ini, sampai-sampai para Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihish shalatu wassalaam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjadikan tauhid sebagai wasiat penting mereka sebelum meninggal dunia. Hal ini tentunya menunjukkan perhatian mereka yang sangat besar terhadap masalah tauhid. Karena perhatian seseorang itu bermacam-macam, namun semua itu dapat diketahui dari wasiat apa yang mereka katakan menjelang akhir hidupnya kepada orang-orang yang akan ditinggalkannya. Ketika yang mereka wasiatkan adalah pembagian harta, maka berarti harta-lah yang menjadi perhatian utama dalam hidupnya. Ketika yang mereka wasiatkan adalah masalah jabatan dan kekuasaan, maka berarti itulah yang menjadi perhatian utama dalam hidupnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ؛ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), ’Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.’ Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya,</span><b>’Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’</b><span style="font-weight: 400;"> Mereka menjawab, ’Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’.” </span><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 132-133)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/24484-dianjurkan-menulis-wasiat-ketika-sakit.html" data-darkreader-inline-color="">Dianjurkan Menulis Wasiat Ketika Sakit</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda ketika menceritakan kisah Nabi Nuh </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihi salaam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ نُوحاً صلى الله عليه وسلم لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لاِبْنِهِ إِنِّى قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ وَأَنْهَاكَ عَنِ اثْنَتَيْنِ آمُرُكَ بِلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَإِنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَالأَرْضِينَ السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِى كَفَّةٍ وَوُضِعَتْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فِى كَفَّةٍ رَجَحَتْ بِهِنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَالأَرْضِينَ السَّبْعَ كُنَّ حَلْقَةً مُبْهَمَةً قَصَمَتْهُنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فَإِنَّهَا صَلاَةُ كُلِّ شَىْءٍ وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ وَأَنْهَاكَ عَنِ الشِّرْكِ وَالْكِبْرِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya ketika Nabi Nuh hendak meninggal dunia, beliau berkata kepada anaknya, ’Sesungguhnya aku akan menyampaikan wasiat kepadamu. Aku memerintahkanmu kepada dua hal dan melarangmu dari dua hal. </span><b>Aku memerintahkan kepadamu (untuk bersaksi bahwa) tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah</b><span style="font-weight: 400;">. Karena sesungguhnya jika langit dan bumi yang tujuh diletakkan pada sebuah daun timbangan dan kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka akan lebih berat daun timbangan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaaha illallah’.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Dan seandainya langit dan bumi yang tujuh itu sebuah cincin, maka kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> akan membuatnya terbelah. Sedangkan (kalimat) </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Subhanallah wa bihamdihi’</span></i><span style="font-weight: 400;"> [Maha Suci Allah dan segala puji untuk-Nya] adalah doa segala sesuatu dan dengannya para makhluk diberi rizki. </span><b>Dan aku melarangmu dari syirik dan kesombongan’.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(HR. Ahmad no. 6583. Dinilai </b><b><i>shahih </i></b><b>oleh Syaikh Albani dalam </b><b><i>Silsilah Ash-Shahihah </i></b><b>no. 6295)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/10428-tiga-wasiat-penting-rasulullah.html" data-darkreader-inline-color="">Tiga Wasiat Penting Rasulullah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tauhid pula yang menjadi wasiat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelang detik-detik akhir kehidupannya. Jundub bin ‘Abdullah Al-Bajali </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">menceritakan bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda ketika lima hari sebelum beliau wafat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنِّى أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِى مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِى خَلِيلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِى خَلِيلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah untuk memiliki seorang kekasih di antara kamu. Karena bahwasannya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seorang umatku sebagai kekasih, niscaya Abu Bakar-lah yang aku jadikan sebagai kekasih. Ketahuilah, bahwasannya umat-umat sebelummu telah menjadikan kubur para Nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. </span><b>Ketahuilah, jangan kalian jadikan kubur-kubur sebagai masjid. Aku melarang kalian dari perbuatan itu.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(HR. Muslim no. 1216)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan bukti bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sangat menekankan hal ini adalah beliau mengulangi lagi wasiat tersebut menjelang beliau wafat. Dan tidaklah seseorang berwasiat tentang sesuatu hal, kecuali hal tersebut adalah perkara yang sangat penting dan harus diperhatikan. ‘Aisyah dan Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, ”Ketika Nabi menjelang wafat, beliau menutupkan kain ke wajahnya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan nafas. Ketika dalam kondisi seperti itulah, </span><i><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” </span><b>(HR. Bukhari no. 435, 436 dan Muslim no. 1215)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47127-perintah-untuk-birrul-walidain.html" data-darkreader-inline-color="">Perintah Untuk Birrul Walidain</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi menyampaikan larangan tersebut lima hari sebelum wafat dan menyampaikan berita laknat Allah Ta’ala ketika hendak wafat. Ini adalah bukti bahwa tauhid adalah masalah yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka benarlah bahwa kewajiban pertama bagi seorang </span><i><span style="font-weight: 400;">mukallaf </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala.</span> <span style="font-weight: 400;">Bahkan para ulama seluruhnya bersepakat bahwa yang pertama kali diperintahkan kepada seorang hamba adalah dua kalimat syahadat. </span><b>Maka tauhid inilah yang pertama kali memasukkan seseorang ke dalam Islam, dan yang terakhir kali mengeluarkan seseorang dari dunia.</b><span style="font-weight: 400;"> Sebagaimana sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang akhir perkataan dalam hidupnya adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaaha illallah’,</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka pasti masuk surga.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 3116, shahih)</b></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Maka, tauhid inilah yang merupakan kewajiban pertama sekaligus terakhir</b><span style="font-weight: 400;">.</span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Melihat hadits tersebut, penulis teringat pada sebuah kisah yang sangat menarik dan menakjubkan. Kisah ini diceritakan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, dalam</span> <span style="font-weight: 400;">kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Tarikh Baghdad </span></i><span style="font-weight: 400;">(10/335). Berikut ini kisah tersebut.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46659-ilmu-waris-ilmu-yang-terlupakan.html" data-darkreader-inline-color="">Ilmu Waris, Ilmu yang Terlupakan</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Ja’far At-Tusturi mengatakan, ”Kami pernah mendatangi Abu Zur’ah Ar-Razi yang sedang berada dalam keadaan sakaratul maut di Masyahron. Di sisi Abu Zur’ah terdapat Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Al-Munzir bin Syadzan, dan sekumpulan ulama lainnya. Mereka ingin men-talqin-kan Abu Zur’ah dengan mengajari hadits talqin sebagaimana sabda Nabi</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Talqinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan meninggal di antara kalian dengan bacaan</span><i><span style="font-weight: 400;"> ’laa ilaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;">.” </span><b>(HR. Muslim no. 2162 dan 2164)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun mereka malu dan takut kepada Abu Zur’ah untuk men-</span><i><span style="font-weight: 400;">talqin</span></i><span style="font-weight: 400;">-kannya. Lalu mereka berkata, ”Mari kita menyebutkan haditsnya (dengan sanadnya/ jalur periwayatannya).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Muhammad bin Muslim lalu mengatakan, ”Adh-Dhahak bin Makhlad telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), dari Abdul Hamid bin Ja’far, (beliau berkata), dari Shalih … ”. Kemudian Muhammad tidak meneruskannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Hatim kemudian mengatakan, ”Bundar telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), Abu ’Ashim telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), dari Abdul Hamid bin Ja’far, (beliau berkata), dari Shalih … ”. Lalu Abu Hatim juga tidak meneruskannya dan mereka semua terdiam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Abu Zur’ah yang sedang berada dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">sakaratul maut</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan, ”Bundar telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), Abu ’Ashim telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), dari Abdul Hamid bin Ja’far, (beliau berkata), dari Shalih bin Abu ’Arib, (beliau berkata), dari Katsir bin Murroh Al-Hadhramiy, (beliau berkata), dari Mu’adz bin Jabal </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu,</span></i><span style="font-weight: 400;"> (beliau berkata) Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah itu, Abu Zur’ah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">langsung meninggal dunia. Abu Zur’ah meninggal pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 264 H.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Marilah kita merenungkan kisah Abu Zur’ah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">di atas. Beliau menutup akhir nafasnya dengan kalimat syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaha illallah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Bahkan beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengucapkan kalimat tersebut sambil membawakan </span><i><span style="font-weight: 400;">sanad</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">matan</span></i><span style="font-weight: 400;"> haditsnya. Hal ini tentu sangat berbeda dengan kebanyakan orang yang berada dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">sakaratul maut</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">memudahkan kita untuk dapat beribadah hanya kepada-Nya di sepanjang hidup kita serta menutup hidup kita di dunia ini di atas tauhid. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan hati kita untuk tetap konsisten di jalan ilmu dan amal shalih.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46140-hukum-berobat-dalam-tinjauan-syariat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Berobat dalam Tinjauan Syariat</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45084-menjelaskan-bidah-bukan-berarti-memvonis-neraka.html" data-darkreader-inline-color="">Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis Neraka</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 20 Dzulhijjah 1440/21 Agustus 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 