
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Teladan para Salaf dalam Melakukan Perjalanan Menuntut Ilmu</b></span></h4>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">Renungkanlah beberapa kisah berikut ini, kemudian bandingkanlah dengan keadaan diri kita sekarang ini. Niscaya akan kita dapatkan perbedaan yang sangat jauh.</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Sa’id bin Musayyib </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Aku terbiasa bepergian selama berhari-hari demi mencari satu hadits</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID"><b>[</b></span><span lang=""><b>1] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Abul ‘Aliyah </span><span lang="id-ID"><i>r</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>himahull</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>h</i></span><span lang="id-ID"> berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Kami mendengar suatu hadits dari shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Kami tinggal di Bashrah (daerah di Irak, pent). Tidaklah kami ridh</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i> sehingga kami bepergian ke Madinah dan mendengar hadits itu langsung dari mereka</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang=""><b>[2] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah </span><span lang="id-ID"><i>r</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>himahull</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>h </i></span><span lang="id-ID">bepergian demi </span><span lang="id-ID"><i>tholabul ‘ilmi </i></span><span lang="id-ID">ketika berumur 20 tahun. Beliau kembali ke negerinya ketika berumur 65 tahun. Sehingga beliau bepergian selama 45 tahun. Beliau kembali ke daerah asalnya ketika beliau sudah tua. Kemudian beliau menikah dan dikaruniai beberapa orang putra. Beliau banyak mengajarkan hadits. </span><span lang=""><b>[3] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Masruq bin Ajda’ </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Aku mengelilingi dunia seluruhnya demi mencari ilmu</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>”</i></span><i> </i><span lang=""><b>[4]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Al</span><span lang="">–</span><span lang="id-ID">Hafidz Abul ‘Ala Al</span><span lang="">–</span><span lang="id-ID">Hamdani </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">berjalan 30 </span><span lang="id-ID"><i>farsakh</i></span><span lang="id-ID"> dalam satu hari (kurang lebih 150 kilometer). Beliau berulang kali bepergian menuju Baghdad dan Ashbahan dengan berjalan kaki dan memikul kitab-kitabnya di punggungnya. </span><span lang="id-ID"><b>[</b></span><span lang=""><b>5]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Yang menakjubkan bukanlah semata-mata karena lama perjalanannya dan keterasingan mereka demi menuntut ilmu. Akan tetapi, yang lebih menakjubkan lagi adalah bahwa perjalanan itu seluruhnya ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagaimana yang diceritakan oleh Baqi’</span><span lang="id-ID"><i> rahimahullah, ”Setiap orang yang ingin aku temui</i></span><span lang=""><i>, </i></span><span lang="id-ID"><i>maka aku lakukan dengan berjalan kaki. Dan setiap orang yang aku ingin belajar darinya</i></span><span lang=""><i>,</i></span><span lang="id-ID"><i> maka aku lakukan dengan berjalan kaki</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>”</i></span><i> </i><span lang=""><b>[6]</b></span></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">Inilah perjuangan mereka, sampai-sampai mereka menanggung berbagai penderitaan ketika berjalan demi menuntut ilmu. Karena memang pohon ilmu syar’i yang penuh berkah ini tidaklah tumbuh dan berbuah kecuali jika diairi dengan air kesungguhan dan pengorbanan demi meraih ilmu.</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Ibnu Kh</span><span lang="">a</span><span lang="id-ID">lkan berkata dalam biografi seorang ahli tafsir yang masyhur, Mahmud bin ‘Umar Az-Zamakhsari Al</span><span lang="">–</span><span lang="id-ID">Kh</span><span lang="">a</span><span lang="id-ID">warizmi </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah</i></span><span lang="id-ID">, </span><span lang="id-ID"><i>“Salah satu kaki Az-Zamakhsari diamputasi. Beliau berjalan dengan kaki palsu terbuat dari kayu. Sebab diamputasinya kaki beliau adalah ketika di sebagian safar beliau untuk menuntut ilmu ke negeri Kh</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>warizmi, turun salju lebat dan udara sangat dingin. Beliau terjatuh karena karena udara yang sangat dingin. Bersama beliau ada seorang saksi bahwa kakinya diamputasi karena sebab ini. Supaya tidak ada persangkaan bahwa sebabnya adalah kejahatan yang menimpanya. Salju dan udara yang sangat dingin di negara itu sering membuat orang terjatuh. Orang yang tidak mengetahuinya tidak bisa menghindarinya</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID"><b>[</b></span><span lang=""><b>7]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Khuzaimah bin Ali berkata,</span><span lang="id-ID"><i>“Jari tangan Umar bin Abdul Karim Ar-R</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>wwaasi rahimahullah harus diamputasi di perjalanan menuntut ilmu karena udara yang sangat dingin</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>“</i></span><i> </i><span lang=""><b>[8]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Melihat teladan para salaf di atas</span><span lang="id-ID">, kita harus mempunyai semangat dan motivasi yang tinggi untuk bepergian demi mencari ilmu. Seorang </span><span lang="id-ID"><i>th</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>libul ‘ilmi </i></span><span lang="id-ID">hendaklah memiliki cita-cita yang tinggi di dalam menuntut ilmu.</span> <span lang="id-ID">Cita-cita </span><span lang="">itu </span><span lang="id-ID">harus kita arahkan pada idealisme tertinggi demi meraih ilmu. Inilah salah satu adab yang harus dimiliki oleh seorang </span><span lang="id-ID"><i>th</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>libul ‘ilmi </i></span><span lang="id-ID">dalam kehidupan ilmiahnya. Syaikh Bakr bin Abdull</span><span lang="">a</span><span lang="id-ID">h Abu Zaid </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Di antara akhlak Islam adalah berhias diri dengan cita-cita tinggi, yang menjadi titik sentral dalam dirimu baik untuk maju ataupun mundur, juga yang mengawasi gerak-gerik badanmu. Cita-cita yang tinggi bisa mendatangkan kebaikan yang tidak terputus dengan izin All</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>h, agar </i></span><span lang=""><i>E</i></span><span lang="id-ID"><i>ngkau bisa mencapai derajat yang sempurna. Sehingga cita-cita itu akan mengalirkan darah kesatriaan dalam urat nadimu dan mengayunkan langkah untuk menjalani dunia ilmu dan amal</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang=""><b>[9] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Oleh karena itu, janganlah cepat merasa puas dengan apa yang telah kita raih dari ilmu yang telah kita dapatkan di sekeliling kita saat ini. Jangan pernah merasa ragu untuk mendatangi suatu </span><span lang="">daerah atau suatu negeri</span><span lang="id-ID">, jika kita bisa mendapatkan lebih banyak ilmu melebihi dari apa yang telah kita raih saat ini. </span><span lang="">Tentunya hal ini disesuaikan dengan kondisi kita masing-masing. </span><span lang="id-ID">Jika di sana </span><span lang="">terdapat</span><span lang="id-ID"> suatu daerah atau negeri yang merupakan gudangnya ilmu dan ulama, maka hendaknya kita bersemangat mendatanginya. Mengerahkan seluruh daya dan kemampuan yang ada pada diri kita dengan segala keterbatasan kita sebagai seorang manusia biasa. Apalagi jika negeri tersebut memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh negeri yang lainnya. Sungguh, kita akan mendapatkan keutamaan di atas keutamaan. </span><span lang=""><b>[Selesai]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p lang="" align="LEFT">Selesai disusun di pagi hari, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 14 Jumadil Akhir 1436</p>
<p lang="" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Penulis:</span><b> </b><span lang="id-ID"><b>M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p align="JUSTIFY"><b>[1]</b> <i>Al-</i><span lang="id-ID"><i>Bidaayah wan Nihaayah</i></span><span lang=""><i>,</i></span><i> </i><span lang="id-ID">9/100</span><span lang="">. Dikutip dari </span><span lang="id-ID"><i>Kaifa Tatahammasu li Th</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>labil ‘Ilmi Syar’i, </i></span><span lang="id-ID">hal</span><span lang="">.</span><span lang="id-ID"> 22</span><span lang="">5.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><b>[2]</b> <span lang="id-ID"><i>Al</i></span><span lang=""><i>–</i></span><span lang="id-ID"><i>Kifaayah fii ‘Ilmi Riwaayah, </i></span><span lang="">karya </span><span lang="id-ID">Imam Al</span><span lang="">-B</span><span lang="id-ID">aghdadi</span><span lang="id-ID"><i> r</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>himahull</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>h</i></span><span lang="">. Dikutip dari </span><span lang="id-ID"><i>Kaifa Tatahammasu li Th</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>labil ‘Ilmi Syar’i, </i></span><span lang="id-ID">hal</span><span lang="">.</span><span lang="id-ID"> 22</span><span lang="">5.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[3]</b></span> <span lang="id-ID"><i>Tadzkir</i></span><span lang=""><i>atul</i></span><span lang="id-ID"><i> Khuffaadz </i></span><span lang="id-ID">3/1032, </span><span lang="">karya </span><span lang="id-ID">Imam Adz-Dzahabi</span><span lang="id-ID"><i> r</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>himahull</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>h</i></span><span lang="">. Dikutip dari </span><span lang="id-ID"><i>Kaifa Tatahammasu li Th</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>labil ‘Ilmi Syar’i, </i></span><span lang="id-ID">hal</span><span lang="">.</span><span lang="id-ID"> 22</span><span lang="">5.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[4]</b></span> <span lang="id-ID"><i>Tadzkir</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>tul Khuffaadz</i></span><span lang=""><i>,</i></span><span lang="id-ID"> 1/108</span><span lang="">. Dikutip dari </span><span lang="id-ID"><i>Kaifa Tatahammasu li Th</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>labil ‘Ilmi Syar’i, </i></span><span lang="id-ID">hal</span><span lang="">.</span><span lang="id-ID"> 22</span><span lang="">6.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[5]</b></span> <span lang="id-ID"><i>Th</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>baq</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>t Al</i></span><span lang=""><i>–</i></span><span lang="id-ID"><i>Hanabilah </i></span><span lang="id-ID">1/326, </span><span lang="">karya </span><span lang="id-ID">Ibnu Abi Ya’la</span><span lang="id-ID"><i> rahimahullah</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang=""> Dikutip dari </span><span lang="id-ID"><i>Kaifa Tatahammasu li Th</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>labil ‘Ilmi Syar’i, </i></span><span lang="id-ID">hal</span><span lang="">.</span><span lang="id-ID"> 22</span><span lang="">6.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[6]</b></span> <span lang="id-ID"><i>Tadzkir</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>tul Khuffaadz</i></span><span lang=""><i>,</i></span><span lang="id-ID"> 2/630</span><span lang="">. Dikutip dari </span><span lang="id-ID"><i>Kaifa Tatahammasu li Th</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>labil ‘Ilmi Syar’i, </i></span><span lang="id-ID">hal</span><span lang="">.</span><span lang="id-ID"> 22</span><span lang="">8.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[7]</b></span> <span lang="id-ID">Diringkas dari </span><span lang="id-ID"><i>Wafiyaatul A’yaan </i></span><span lang="id-ID">2/82, </span><span lang="">karya </span><span lang="id-ID">Ibnu Kh</span><span lang="">a</span><span lang="id-ID">lkan</span><span lang="id-ID"><i> rahimahullah</i></span><span lang="">.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[8]</b></span> <span lang="id-ID"><i>Tadzkir</i></span><span lang=""><i>a</i></span><span lang="id-ID"><i>tul Khuffaadz</i></span><span lang=""><i>,</i></span><span lang="id-ID"> 4/1237</span><span lang="">.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[9]</b></span> <span lang="id-ID"><i>Hilyah Th</i></span><span lang=""><i>aa</i></span><span lang="id-ID"><i>libil ‘Ilmi</i></span><span lang="">.</span></p>
 