
<p class="arab" style="text-align: right;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>Semua manusia sepakat, meskipun secara tidak tertulis, bahwa target  mereka dalam setiap usaha yang mereka lakukan adalah meraih kesuksesan,  mendapat untung dan terhindar dari kerugiaan.</p>
<p>Ironisnya, kebanyakan manusia hanya menerapkan hal ini dalam usaha  dan urusan yang bersifat duniawi belaka, sedangkan untuk urusan akhirat  mereka hanya merasa cukup dengan ‘hasil’ yang pas-pasan dan seadanya.  Ini merupakan refleksi dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan  terhadapa dunia dalam diri mereka.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengisyaratkan keadaan mayoritas manusia ini dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ</p>
<p>“<em>Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.</em>” (QS. ar-Ruum: 7).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir berkata, “Arti (ayat ini): mayoritas manusia tidak  memiliki ilmu pengetahuan kecuali dalam (perkara-perkara yang berkaitan  dengan) dunia, keuntungan-keuntungannya, urusan-urusan dan semua hal  yang berhubungan dengannya. Mereka sangat mahir dan pandai dalam usaha  meraih (keberhasilan) dan cara-cara mengusahakan keuntungan duniawi,  sedangkan untuk kemanfaatan (keberuntungan) di negeri akhirat mereka  lalai (dan tidak paham sama sekali), seolah-seolah mereka seperti orang  bodoh yang tidak punya akal dan pikiran (sama sekali).” (Kitab <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 3/560).</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Perniagaan Akhirat</strong></span></p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menamakan amalan-amalan shalih,  lahir dan batin, yang disyariatkan-Nya untuk mencapai keridhaan-Nya dan  meraih balasan kebaikan yang kekal di akhirat nanti sebagai “<em>tijaarah</em>” (perniagaan) dalam banyak ayat al-Qur’an.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa orang yang menyibukkan diri dengan hal tersebut berarti dia telah melakukan ‘perniagaan’ bersama Allah <em>Ta’ala</em>,  sebagaimana orang yang mengambil bagian terbesar dari perniagaan  tersebut maka dialah yang paling berpeluang mendapatkan keuntungan yang  besar.</p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ  تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ  وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ  ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ  ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ  وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu  perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu)  kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan  harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu  mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan  kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan  (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah  keberuntungan yang besar.</em>” (QS. ash-Shaff: 10-12).</p>
<p>Imam asy-Syaukani berkata, “Allah menjadikan amalan-amalan (shalih)  tersebut kedudukannya seperti ‘perniagaan’, karena orang-orang yang  melakukannya akan meraih keuntungan (besar) sebagaimana mereka meraih  keuntungan dalam perniagaan (duniawi), keuntungan (besar) itu adalah  masuknya mereka ke dalam surga dan selamat dari (siksa) neraka.” (Kitab <em>Fathul Qadiir</em>, 5/311).</p>
<p>Inilah ‘perniagaan’ yang paling agung, karena menghasilkan keuntungan  yang paling besar dan kekal abadi selamanya, inilah ‘perniagaan’ yang  dengannya akan diraih semua harapan kebaikan dan terhindar dari semua  keburukan yang ditakutkan, inilah perniagaan yang jelas lebih mulia dan  lebih besar keuntungannya daripada perdagangan duniawi yang dikejar oleh  mayoritas manusia. (Lihat kitab <em>Tafsir Ibnu Katsi</em>r, 4/463).</p>
<p>Oleh karena itu, Allah <em>Ta’ala</em> menyifati ‘perniagaan’ mulia ini sebagai perniagaan yang pasti beruntung dan tidak akan merugi. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ  وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ  تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ  فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah  (al-Qur’an), mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki  yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan diam-diam maupun  terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan  merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan  menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha  Pengampun lagi Maha Mensyukuri.</em>” (QS. Faathir: 30).</p>
<p>Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “(Inilah) perniagaan yang  tidak akan merugi dan binasa, bahkan (inilah) perniagaan yang paling  agung, paling tinggi dan paling utama, (yaitu) perniagaan (untuk  mencari) ridha Allah, meraih balasan pahala-Nya yang besar, serta  keselamatan dari kemurkaan dan sisaan-Nya. Ini mereka (raih) dengan  mengikhlaskan (niat mereka) dalam mengerjakan amal-amal (shalih) serta  tidak mengharapkan tujuan-tujuan yang buruk dan rusak sedikitpun.”  (Kitab <em>Taisiirul Kariimir Rahmaan</em>, hal. 689).</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Barang Dagangan/ Perniagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Adalah Surga</span></strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Ketahuilah, bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah sangat mahal, dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah adalah surga</em>.”  (HR. at-Tirmidzi (no. 2450) dan al-Hakim (4/343), dinyatakan shahih  oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, serta  dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Ash-Shahiihah</em>, no. 954 dan 2335).</p>
<p>Barang dagangan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang mahal dan mulia ini harganya adalah amalan shalih dan berkorban di jalan-Nya, sebagaimana yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> isyaratkan dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا</p>
<p>“<em>Dan amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.</em>” (QS. al-Kahfi: 46).</p>
<p>Juga dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ  بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ  وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ  وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا  بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri  dan harta mereka dengan memberikan surga (sebagai balasan) untuk mereka.  Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.  (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil  dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain)  daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu  lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.</em>” (QS. at-Taubah: 111) (Lihat kitab <em>Tauhfatul Ahwadzi</em>, 7/124 dan <em>Fathul Qadiir</em>, 6/123).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengabarkan (dalam ayat ini), bahwa Dia telah mengganti (membeli) dari  hamba-hamba-Nya yang beriman jiwa dan harta mereka yang mereka curahkan  di jalan-Nya dengan Surga (sebagai harganya). Ini merupakan (bagian)  dari karunia, kebaikan dan kedermawanan-Nya, karena Dia menerima (untuk  memberikan) ganti (harga) dari apa yang merupakan milik-Nya, dengan  (ganti yang berupa) anugerah yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya  yang (selalu) taat kepada-Nya. Oleh karena itu, (Imam) Hasan al-Bashri  dan Qatadah berkata (tetntang ayat ini), ‘Demi Allah, Dia telah  berjual-beli dengan mereka, lalu Dia menjadikan sangat mahal harga (yang  mereka terima, yaitu surga).’” (Kitab <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 2/515).</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Barang Dagangan yang Mahal Hanya untuk Pedagang dan Pembeli Kelas Tinggi</strong></span></p>
<p>Barang dagangan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang sangat mulia  dan mahal ini, yaitu Surga, hanya pantas ‘diperdagangkan’ dan ‘dibeli’  oleh para pedagang dan pembeli ‘kelas tinggi’, yaitu mereka yang siap  mencurahkan segenap kesungguhan dan perjuangan mereka, dengan jiwa, raga  dan harta, untuk meraih kesempurnaan iman dan keridhaan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Merekalah orang-orang ‘kelas tinggi’ dalam arti yang sebenarnya,  karena mereka siap berjuang dan mengorbankan segala yang mereka miliki  untuk memenuhi ‘selera mereka yang tinggi’, yaitu selera untuk  mendapatkan balasan yang tinggi, yaitu Surga.</p>
<p>Bukankah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menyifati Surga dalam al-Qur’an dengan firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ</p>
<p>“<em>Di dalam Surga yang sangat tinggi.</em>” (QS. al-Ghaasyiah: 10).</p>
<p>Demikian juga Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyifati Surga Firdaus dalam sabda beliau, “<em>Jika  kalian memohon (Surga) kepada Allah, maka mintalah (Surga Firdaus),  itulah Surga yang paling di tengah dan paling tinggi, dan atapnya adalah  Arsy (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Pemurah</em>.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 2637 dan 6987).</p>
<p>Bukankah dengan ini mereka pantas disebut sebagai orang-orang yang memiliki ‘selera tinggi’?</p>
<p>Sebagaimana orang-orang yang menjadikan dunia sebagai target utama  dalam hidup mereka, pantas disebut sebagai orang-orang yang memiliki  ‘selera rendah’ sesuai dengan kerendahan dan kehinaan dunia itu sendiri.</p>
<p>Imam ‘Abdur Rauf al-Munawi berkata, “Dunia itu dinamakan ‘dunia’  (secara bahasa berarti yang rendah/ dekat), karena kedekatannya (cepat  berakhirnya) dan kerendahannya (kehinaannya).” (Kitab <em>Faidhul Qadiir</em>, 3/544).</p>
<p>Oleh karena itu, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>menyebutkan sifat utama yang ada pada penghuni Neraka yaitu selalu memprioritaskan kehidupan dunia yang rendah. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ  هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ  عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى</p>
<p>“<em>Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan  kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun  orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari  keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)</em>.” (QS. An-Naazi’aat: 37-41).</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berlindung kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dari ‘selera yang rendah’ ini, sebagaimana dalam doa beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ولا تَجْعَلِ الدُّنْيا أَكْبَرَ هَمِِّنا ولا مَبْلَغَ عِلْمِنَا</p>
<p>“<em>(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan dunia (harta dan kedudukan  [lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 9/334]) sebagai target utama kami dan  puncak dari pengetahuan kami</em>.” (HR. at-Tirmidzi (no. 3502), dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani).</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim berkata, “Barangsiapa yang bercita-cita untuk  (meraih) perkara-perkara yang tinggi, maka wajib baginya untuk menekan  kuat kecintaan kepada perkara-perkara yang rendah (dunia).” (Kitab <em>Miftaahu Daaris Sa’aadah</em>, 1/108).</p>
<p>Sikap inilah yang ditunjukkan oleh shahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan <em>radhiallahu ‘anhu</em>,  ketika beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah, yang untuk itu beliau  harus menyerahkan harta dan emas berlimpah yang beliau miliki kepada  orang-orang kafir Quraisy, agar mereka tidak menghalangi hijrah beliau  ke Madinah. Sehingga ketika beliau telah sampai kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang telah mengetahui kejadian tersebut berdasarkan berita dari Malaikat Jibril<em> ’alaihis salam</em>, waktu itu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyampaikan kabar gembira kepadanya dengan bersabda, “<em>Wahai  Abu Yahya, (sungguh) telah beruntung perniagaanmu”, beliau shallallahu  ‘alaihi wa sallam mengucapkannya sebanyak tiga kali.</em>” (HR.al-Hakim (8/31) dan ath-Thabrani dalam <em>Al-Mu’jamul Kabir</em>, no. 7296, dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi).</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kemuliaan dan Keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala Sesuai dengan Kesungguhan Manusia</strong></span></p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk  (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami berikan hidayah kepada  mereka (dalam menempuh) jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah  benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik</em>.” (QS. al- ‘Ankabuut: 69).</p>
<p>Imam Ibnu Qayyim ketika mengomentari ayat di atas, beliau berkata, “(Dalam ayat ini), Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan  (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari  Allah <em>Ta’ala</em>) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya.” (Kitab <em>Al-Fawa-id,</em> hal. 59).</p>
<p>Tidak terkecuali dalam hal ini, untuk meraih keuntungan besar dalam  perdagangan akhirat tentu sangat dibutuhkan perjuangan dan kesungguhan.  Kesungguhan dalam memahami petunjuk Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan  mengamalkannya untuk mencapai ridha-Nya. Inilah jalan untuk mencapai  keuntungan yang tinggi dan mulia dalam perdagangan akhirat, yaitu surga  yang penuh dengan berbagai macam kenikmatan besar yang “belum pernah  dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah  terlintas dalam benak manusia.” (Sebagaimana dalam hadits <em>qudsi </em>riwayat Imam al-Bukhari, no. 4501 dan Muslim, no. 2824).</p>
<p>Seorang penyair mengungkapkan hal ini dalam bait syairnya,</p>
<p><em>Maka katakanlah kepada mereka yang mengharapkan perkara-perkara (balasan) yang tinggi<br> Tanpa kesungguhan/perjuangan (berarti) kamu mengharapkan sesuatu yang mustahil (kamu dapatkan)<br> </em><br> Inilah makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “<em>Orang  yang berjihad/ berjuang dengan sungguh-sungguh (yang sebenarnya) –dalam  riwayat lain: jihad/ perjuangan yang paling utama– adalah orang yang  berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsunya di jalan  Allah Subhanahu wa Ta’ala</em><em> –dalam riwayat lain: dalam ketaatan kepada Allah –</em>.”  (HR. at-Tirmidzi (no. 1621), Ahmad (6/21,22), Ibnu Hibban (no. 4862),  dinyatakan shahih oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh  al-Albani).</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Nasihat dan Penutup</strong></span></p>
<p>Inilah perniagaan akhirat dan perniagaan dunia, dan inilah perbandingan antara keduanya, manakah yang akan anda pilih?</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاها قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا</p>
<p>“<em>Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah  mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan,  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (dengan  ketakwaan), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan  kefasikan).</em>”  (QS. asy-Syams: 7-10).</p>
<p>Kehidupan dunia yang kita jalani, hakekatnya adalah pertaruhan diri kita untuk membawanya kepada jalan kebaikan atau kebinasaan.</p>
<p>Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Setiap  manusia menjalankan (kehidupannya) dan menjual (mempertaruhkan) dirinya,  maka (ada orang) yang membebaskan (menyelamatkan) dirinya dan (ada  pula) yang membinasakannya.</em>” (Hadits shahih riwayat Muslim, no. 223).</p>
<p>Imam an-Nawawi berkata, “Makna hadits ini adalah setiap manusia  mengusahakan (mempertaruhkan) dirinya, di antara mereka ada yang  menjualnya untuk Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan (menetapi)  ketaatan kepada-Nya, maka dialah yang membebaskan (menyelamatkan)  dirinya dari siksa (neraka yang sangat pedih), dan di antara mereka ada  yang menjualnya untuk syaitan dan hawa nafsunya dengan menuruti (ajakan)  keduanya, maka dialah yang membinasakan dirinya.” (Kitab <em>Syarhu Shahiihi Muslim</em>, 3/102).</p>
<p>Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menjadikan tulisan ini  bermanfaat untuk memotivasi kita agar semangat dan bersungguh-sungguh  mengejar keuntungan mulia dalam perdagangan akhirat yang tidak akan  merugi.</p>
<p>Dan semoga Dia senantiasa memudahkan taufik-Nya bagi kita untuk  meraih keridhaan-Nya dan semua kedudukan yang mulia dalam agama-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Dekat, Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 8 Muharram 1431 H</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.<br> Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 