
<h4><span style="color: #ff0000;">Muqaddimah</span></h4>
<p>Bagi seorang Muslim, hukum yang paling adil adalah hukum Allah yang Maha Penyayang dan Bijaksana. Tidak ada hukum yang lebih baik dan lebih adil daripada hukum Allah.</p>
<p style="text-align: right;">أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ</p>
<p>“<em>Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?</em>” (QS. Al Maidah: 50).</p>
<p>Seorang Muslim juga yakin bahwa penerapan hukum Allah akan membawa kepada kebaikan bagi individu, masyarakat dan negara. Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">حَدٌّ يُعْمَلُ به في الأرضِ خيرٌ لأهلِ الأرضِ مِن أن يُمْطَروا أربعين صباحًا</p>
<p>“<em>Suatu hukum yang ditegakkan di bumi lebih baik baginya daripada diberi hujan selama empat puluh hari</em>” <sup class="footnote"><a id="fnref-26767-1" href="#fn-26767-1">1</a></sup></p>
<p>Tatkala Allah memerintahkan kita untuk menegakkan hukum bagi orang yang melakukan kriminal, pasti di sana ada manfaat dan tujuan di dalamnya. Di antaranya:</p>
<p><strong>1. Menjaga kemaslahatan pokok manusia</strong></p>
<p>Islam menjaga kebutuhan pokok manusia berupa agama, jiwa, akal, nasab dan harta manusia. Adanya hukum tersebut adalah untuk menjaga kebutuhan pokok manusia. Hukum bagi murtad untuk menjaga agama, hukum qishash untuk menjaga nyawa, hukum rajam untuk menjaga nasab, hukum potong tangan untuk menjaga harta, dan hukum cambuk untuk peminum khamr untuk menjaga akal.</p>
<p><strong>2. Menegakkan keadilan di antara manusia</strong></p>
<p>Keadilan adalah pokok syariat yang harus ditegakkan. Dan termasuk keadilah apabila orang yang bersalah dan melalukan kriminal harus di hukum, sebab bila pelaku dibirkan saja maka akan menyebabkan suburnya kejahatan.</p>
<p><strong>3. Kasih sayang kepada pelaku dan masyarakat</strong></p>
<p>Adanya hukuman dapat mengerem pelakunya dan tindak kejahatan dan menyadarkan dari kekeliruannya selama ini. Semua itu merupakan kasih sayang Islam baginya, sebagaimana penegakkan hukum ini dapat menyebabkan keamanan semakin tersebar di masyarakat. Alangkah bagusnya ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em>, “Hukum itu adalah obat yang mujarab untuk mengobati orang-orang yang sakit hatinya. Dan ini termasuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya”<sup class="footnote"><a id="fnref-26767-2" href="#fn-26767-2">2</a></sup>.</p>
<p><strong>4. Peringatan bagi masyarakat</strong></p>
<p>Hikmah lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai peringatan bagi masyarakat agar tidak meniru perbuatan tersebut sehingga setiap kali mereka akan melakukan kriminal tersebut maka harus berpikir seribu kali. Oleh karena itu, Islam mensyariatkan agar penegakkan hukum itu disaksikan oleh masyarakat luas.</p>
<p><strong>5. Pelebur dosa bagi pelaku kriminal</strong></p>
<p>Sesungguhnya penegakkan hukum itu bisa melebur dosa pelaku kejahatan. Adapun bagi orang yang tidak menyusikan dirinya dari dosa dengan taubat atau penegakkan hukum maka dia akan mendapat hukuman yang lebih berat dan lebih pedih pada hari kiamat<sup class="footnote"><a id="fnref-26767-3" href="#fn-26767-3">3</a></sup>.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Teks Hadits</span></h4>
<p style="text-align: right;">عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ</p>
<p>Dari ‘Aisyah <i>radhiallahu’anha, </i>istri Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda<i>: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. </i>Usamah berkata: “mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”. Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda:<i> “Amma ba’du. Sesungguhnya faktor penyebab kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah bintu Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya”. </i>Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. .. Aisyah berkata<i>:”setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam” </i></p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Mutiara Hadits</span></h4>
<p>Hadits ini menyimpan beberapa pelajaran berharga sekali, terutama bagi mereka yang mendapatkan amanat kepemimpinan di pundak mereka. Di antara pelajaran berharga tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Sesungguhnya kabilah dari suku Quraisy yang paling mulia adalah 2 macam: Kabilah Bani Makhzum dan Kabilah Bani Abdu Manaf. Nah, sekalipun wanita tersebut dari kabilah ternama dan tersohor, ditambah lagi oleh lobi kekasih Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, semua itu tidak menjadikan Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>lemah dari menegakkan hukum Allah. Bahkan beliau marah kepada Usamah hingga beliau menegaskan, “<i>seandainya Fatimah bintu Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya</i>“<sup class="footnote"><a id="fnref-26767-4" href="#fn-26767-4">4</a></sup>.</li>
<li>Hukuman bagi pencuri adalah dipotong tangannya apabila telah memenuhi syarat-syaratnya berdasarkan dalil Al Qur’an, hadits dan ijma. Allah berfirman:
<p style="text-align: right;">وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ</p>
<p>“<em>Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana</em>” (QS. Al Maidah: 38).<br>
Adapun dalil hadits maka banyak sekali, di antaranya adalah hadits pembahasan di atas. Adapun dalil ijma maka para fuqaha telah menukil ijma tentang wajibnya memotong tangan pencuri<sup class="footnote"><a id="fnref-26767-5" href="#fn-26767-5">5</a></sup>.<br>
Hikmah dari potong tangan ini adalah untuk melemahkan alat yang dijadikan untuk melakukan tindak kriminal<sup class="footnote"><a id="fnref-26767-6" href="#fn-26767-6">6</a></sup>. Sebab tangan bagi pencuri adalah ibarat sayap bagi burung, Maka memotong tangan pencuri dapat meruntuhkan sayapnya dan memudahkan penangkapannya bila dia mengulang mencuri lagi<sup class="footnote"><a id="fnref-26767-7" href="#fn-26767-7">7</a></sup>. Jadi, hukuman ini adalah untuk menjaga keamanan dan harta manusia.</p>
</li>
<li>Kecintaan Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> terhadap Usamah <em>radhiallahu’anhu</em> tidak menjadikan beliau menerima lobinya. Karena ini bersangkutan dengan hukum hak Allah yang tidak bisa dibatalkan oleh lobi seseorang. Padahal biasanya dalam permasalahan yang tidak berkaitan dengan hukum Allah, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam selalu menerima lobi sahabatnya sekalipun mungkin lebih rendah dari Usamah <em>radhiallahu’anhu</em>.</li>
<li>Seorang yang biasa terkadang dapat mengungguli kedudukan orang yang kaya. Perhatikanlah Usamah bin Zaid <em>radhiallahu’anhu,</em> beliau adalah budak sebab ayahnya, Zaib bin Haritsah <em>radhiallahu’anhu</em>, adalah budak yang diberikan Khadijah <em>radhiallahu’anha</em> kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Namun demikian, beliau memiliki kedudukan yang begitu tinggi dalam hati Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>.</li>
<li>Peringatan bagi orang yang melobi untuk gugurnya hukum Allah. Sebab Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> memberikan peringatan kepada Usamah <em>radhiallahu’anhu</em> yang telah melakukan hal itu. Tidak cukup hanya ditolak lobinya. Bahkan lebih dari itu, hendaknya dia diberi peringatan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi di waktu mendatang.</li>
<li>Bolehnya membuat perumpamaan dan permisalan. Di sini Nabi membuat permisalan dengan Bani Israil, beliau bersabda: “<i>Sesungguhnya faktor penyebab kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana</i>“.<br>
Sungguh ini termasuk keterbalikan Bani Israil. Karena justru seharusnya para bangsawan itu mendapatkan hukuman yang lebih berat sebab mereka seharusnya lebih harus menjauhi kriminal dari pada rakyat biasa. Oleh karena itu, lihatlah ketajaman pikiran Khalifah Umar bin Khathab <em>radhiallahu’anhu</em>. Beliau apabila melarang manusia dari sesuatu maka beliau mengumpulkan keluarganya seraya mengatakan kepada mereka, “Saya telah melarang manusia dari begini dan begitu, dan manusia sekarang akan melihat kepada tingkah laku kalian layaknya melihat burung kepada daging. Karena itu siapa pun seorang di antara kalian yang melanggarnya maka saya akan lipat gandakan hukumannya”<sup class="footnote"><a id="fnref-26767-8" href="#fn-26767-8">8</a></sup>.<br>
Kenapa Umar <em>radhiallahu’anhu</em> melipat-gandakan hukuman bagi mereka? Bukankah seharusnya sama saja hukumannya? Ya. Memang asal hukumnya sama, tetapi Umar <em>radhiallahu’anhu</em> melipat-gandakannya agar mereka tidak meremehkan hukum hanya karena kedekatan mereka dengan Umar <em>radhiallahu’anhu</em>.</li>
<li>Barangsiapa dari kalangan pemerintah melakukan seperti ini yaitu tidak menegakkan hukum kecuali kepada rakyat biasa maka ini adalah faktor kehancuran negara dan bangsanya. Sebagaimana Bani Israil hancur karena hal tersebut. Kita pun tidak ada bedanya dengan Bani Israil kalau kita melakukan hal yang sama. Apa yang menimpa Bani Israel dikarenakan tidak menerapkan hukum Allah akan menimpa kita juga apa bila kita tidak menerapkan hukum Allah. Lihatlah fakta sekarang! Adakah kehinaan yang lebih dari pada apa yang dirasakan oleh umat Islam sekarang? Walaupun jumlah mereka milyaran, memiliki kekuatan militer dan persenjataan, karena mereka melalaikan agama Allah maka Allah melalaikan mereka.</li>
<li>Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> memiliki hikmah dan kata-kata yang mendalam dalam ucapan dan perbuatannya, beliau bersumpah padahal tidak diminta bersumpah, bersumpah dengan Fathimah <em>radhiallahu’anha</em> yang juga dari kabilah Quraisy dan wanita yang paling dekat dan paling dicintai Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Sekalipun demikian, Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> mengatakan, “<i>seandainya Fatimah bintu Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya</i>“. Allahu Akbar, demikianlah hendaknya hukum Allah ditegakkan. Tanpa pilih kasih kepada siapa pun orangnya yang melalukan tindak kriminal dan pelanggaran. Semoga Allah memberikan taufiq kepada para pemerintah kita agar meniru apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em><sup class="footnote"><a id="fnref-26767-9" href="#fn-26767-9">9</a></sup>.</li>
</ol>
<p>Demikian beberapa mutiara ilmu yang dapat kita petik dari hadits ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi, diambil dari <em>Majalah Al Furqon</em> edisi 2 tahun ke 11, Syawal 1432H, hal.13-15</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
<h5>Catatan kaki</h5>
<div id="footnotes-26767" class="footnotes">
<div class="footnotedivider"></div>
<ol>
<li id="fn-26767-1">HR. Nasai: 4904, Ibnu Majah: 2538. Lihat <em>Shahihul Jami</em>‘: 3130 <span class="footnotereverse"><a href="#fnref-26767-1"><img class="emoji" draggable="false" src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/21a9.png" alt="↩"></a></span>
</li>
<li id="fn-26767-2">
<em>Majmu’ Fatawa</em> 15/290 <span class="footnotereverse"><a href="#fnref-26767-2"><img class="emoji" draggable="false" src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/21a9.png" alt="↩"></a></span>
</li>
<li id="fn-26767-3">Lihat <em>Al Maqashid Syar’iyyah lil Uqubat fil Islam</em> hal. 65-73 oleh Dr. Rawiyah Ahmad Abdul Karim <span class="footnotereverse"><a href="#fnref-26767-3"><img class="emoji" draggable="false" src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/21a9.png" alt="↩"></a></span>
</li>
<li id="fn-26767-4">
<em>As Siyasah Asy Syar’iyyah</em> hal, 193 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <span class="footnotereverse"><a href="#fnref-26767-4"><img class="emoji" draggable="false" src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/21a9.png" alt="↩"></a></span>
</li>
<li id="fn-26767-5">
<em>Maratibul Ijma’</em> hal. 135 oleh Ibnu Hazm <span class="footnotereverse"><a href="#fnref-26767-5"><img class="emoji" draggable="false" src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/21a9.png" alt="↩"></a></span>
</li>
<li id="fn-26767-6">
<em>Ahkamu Sariqah fi Syari’ah wa Qanun</em> hal. 233 <span class="footnotereverse"><a href="#fnref-26767-6"><img class="emoji" draggable="false" src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/21a9.png" alt="↩"></a></span>
</li>
<li id="fn-26767-7">
<em>I’lamul Muwaqqi’in</em> 2/126 oleh Ibnul Qayyim <span class="footnotereverse"><a href="#fnref-26767-7"><img class="emoji" draggable="false" src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/21a9.png" alt="↩"></a></span>
</li>
<li id="fn-26767-8">Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Al Mushannaf</em> 6/199 <span class="footnotereverse"><a href="#fnref-26767-8"><img class="emoji" draggable="false" src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/21a9.png" alt="↩"></a></span>
</li>
<li id="fn-26767-9">Tulisan ini banyak mengambil faedah dari <em>Ta’liq Siyasah As Syar’iyyah</em> hal. 193-197 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <span class="footnotereverse"><a href="#fnref-26767-9"><img class="emoji" draggable="false" src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/21a9.png" alt="↩"></a></span>
</li>
</ol>
</div>
 