
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/630739818&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h2>Tidak Puasa Syawal karena ada uzur</h2>
<p>Bagaimana kalau seseorang tidak bisa melakukan <strong>puasa Syawal</strong> karena ada udzur seperti sakit, nifas atau melunasi hutang puasanya sebanyak sebulan, sehingga keluar bulan Syawal. Apakah dia boleh menggantinya pada bulan-bulan lainnya dan meraih keutamaannya, ataukah tidak perlu karena waktunya telah keluar? Masalah ini diperselisihkan oleh ulama:<br>
<!--more--><br>
Boleh men-qadha-nya karena ada udzur. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di (Al-Fatawa Sa’diyyah, hal. 230) dan Syaikh Ibnul Utsaimin (Syarhul Mumti’, 7/467). Alasannya adalah men-qiyas-kan dengan ibadah-ibadah lain yang bisa di-qadha apabila ada udzur seperti shalat.</p>
<p>Tidak disyariatkan untuk men-qadha <span style="text-decoration: underline;">puasa syawal</span> apabila telah keluar bulan Syawal, baik karena ada udzur atau tidak, karena waktunya telah lewat. Pandapat ini dipilih oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 3/270, Al-Fatawa Ibnu Baz -Kitab Da’wah- 2/172, Fatawa Shiyam, 2/695-695, kumpulan Asyraf ‘Abdul Maqshud).</p>
<h3>Kesimpulan qadha puasa syawal karena uzur</h3>
<p>Pendapat kedua inilah yang tentram dalam hati penulis, karena qadha <a title="Qadha Puasa Ramadan atau Puasa Syawal" href="https://konsultasisyariah.com/qadha-puasa-ramadan-atau-puasa-syawal" target="_blank"><span style="color: #ff0000;">puasa syawal</span></a> membutuhkan dalil khusus dan tidak ada dalil dalam masalah ini. Wallahu A’lam (Simak kaset Fatawa Jeddah, oleh Syaikh al-Albani, no. 7 dan Ahkamul Adzkar, Zakariya al-Bakistani, hal. 51).</p>
<p>Alhamdulillah, kalau memang dia benar-benar jujur dalam niatnya yang seandainya bukan karena udzur tersebut dia akan melakukan puasa Syawal, maka Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan memberikan pahala baginya, sebagaimana dalam hadits:</p>
<p class="arab">إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا</p>
<p><em>“Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dia ditulis seperti apa yang dia lakukan dalam muqim sehat.”</em> (HR. al-Bukhari, 2996)</p>
<p><strong>Sumber: </strong><em>Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyah, Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi, Abu Abdillah Syahrul Fatwa,</em> Pustaka Darul Ilmi</p>
<p><strong>Artikel konsultasisyariah.com</strong></p>
 