
<p>Syaikh Muhammad Hamud An Najdi <em>hafizhahullah</em> ditanya, “Syaikh, apakah wanita yang <em>tabarruj </em>(menampakan aurat, atau perhiasan atau kecantikannya kepada lelaki yang bukan mahram) di tengah hari bulan Ramadhan itu mempengaruhi puasanya?”.</p>
<p>Beliau menjelaskan:</p>
<p><em>Tabarruj</em> adalah termasuk maksiat dan termasuk dosa besar. Dan yang di maksud <em>tabarruj</em> adalah seorang wanita perhiasan (aurat dan kecantikannya) atau hal-hal yang tidak boleh ia tampakkan lainnya di luar rumah. Dan <em>tabarruj </em>itu memiliki banyak bentuk, misalnya menggunakan kosmetik di wajah atau menggunakan perhiasan di tangan, atau menggunakan parfum ketika keluar rumah, dll. Ini semua diharamkan, tiap muslimah tidak boleh melakukannya.</p>
<p>Dan ada hadits shahih dalam Shahih Al Bukhari, Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَن لَم يدَع قَولَ الزُّورِ والعمَلَ بِه والجَهلَ ، فليسَ للَّهِ حاجَةٌ أن يدَعَ طعامَه وشرابَهُ</p>
<p>“<em>barangsiapa yang tidak meninggalkan qauluz zuur atau mengamalkannya dan kejahilan, maka Allah tidak butuh kepada amalannya meninggalkan makan dan minum</em>” (HR. Al Bukhari 6057)</p>
<p>Dan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>menjelaskan bahwa <em>qauluz zuur </em>adalah dusta, fitnah, persaksian palsu, demikian juga kejahilan, demikian juga mengamalkannya berupa berdusta, mencurangi orang, dan semua perbuatan haram lainnya (termasuk tabarruj, pent.) maka Allah <em>Ta’ala </em>tidak butuh pada puasanya.</p>
<p>Karena Allah <em>Ta’ala </em>menginginkan anda ketika anda berpuasa dari makan dan minum, anda juga mempuasakan pendengaran anda dari mendengarkan musik, mendengarkan <em>ghibah</em>, <em>namimah</em>, dan juga mempuasakan penglihatan anda dari melihat yang tidak halal untuk dilihat, juga mempuasakan lisan dari mencela, melaknat, menuduh secara dusta, menghina, dll.</p>
<p>Dan terkadang orang yang melakukan ini (termasuk wanita yang ber-tabarruj) tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari puasanya. Namun tidak kita katakan kepada orang yang bermaksiat ketika puasa, “<em>ya sudah silakan berbuka saja</em>..”. Atau kita mengatakan kepada pelaku maksiat, “<em>kamu ini sudah batal (karena maksiatmu), dan wajib bagimu untuk meng-qadha di hari lain</em>“, tidak kita katakan demikian.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=bav00xQHPDc">http://www.youtube.com/watch?v=bav00xQHPDc</a></p>
<p>Penerjemah: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 